Breaking News
light_mode
Trending Tags

PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG

  • account_circle Gregorius Nggadung
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • visibility 476
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PERJAMUAN MALAM

Tak ada yang kau siapkan lagi

Selain roti tawar yang disiram dan mekar

Selain sumpah dan kemerdekaan yang kau janjikan

Meredam di atas tumpukan buku

Lelap di pangkuan tanganmu

 

Kau tak perlu datang lagi malam ini

Cukup menyaksikan perjamuan yang getir ini

Di bawah meja perjamuan

Kukibarkan kata-kata

Sehingga tak ada tulang-tulang yang terbuang

dan tak kau temukan lagi mangkuk nasi yang terhimpit

 

TERIAKAN HUJAN

Crak…crak…crak

Tak seperti musim lalu

Ia menulis petang di atas dedaunan

Kini, ia menggulung payung di bukit itu

Pelan-pelan melipat dingin

 

Crak…crak…crak… lagi

Kau melipat tawa itu ke dalam kelam malam

Kau pun teriak lagi

Tak kau hiraukan tawa anak-anak itu

 

Crak…crak…crak

Kau pulang membawa kafan petang

 

DIKTAT DI MEJA MAKAN

“Jangan pernah kau mengambil lebih dari tiga kali”

“Bicaralah secukupnya”

Catatan ini menggores mangkuk putih itu

Lalu mengendap di samping ruang tamu

Sambil menikmati nyanyian pelita yang mulai redup

 

“Janganlah kau bersiul setelah malam tiba”

Tidurmu tak akan lelap

Kau dihasuti dan ditakut-takuti dalam kegelapan

Tidurlah sambil merenung diktat di meja makan

 

“Jangan pernah kau mengambil lebih dari tiga kali”

“Bicaralah secukupnya”

Diktat di meja makan adalah doa sebelum dan setelah makan

 

KU KALUNGKAN LAGI

Tak seperti kata-kata yang kau hunuskan itu

Telinga lebih sekadar jendela

Membuka dan tutup setelah hujan pulang

Aku ingin mengalungimu lagi

Setelah bulan mekar di atas bukit gelap itu

 

Kau pun datang lagi pagi ini

Membawa sepotong kain

Lalu meltakannya di atas kelopak mataku

Kau pun sedekat ini

Ku kalungkan bibirku di dalam hatimu

 

JEJAK DOA-DOA

Kau di antara cahaya lilin

Menimang di bawah dedaunan

Seakan doa itu sedang singah

Kau pun menengadah

 

Tak kau hiraukan lagi

Angin berlarian menepis ujung rambutmu

Sesekali menyentuh sepasang lilin di depan matamu

sambil melipat rintik hujan malam itu

 

 

HARI PERTAMA

Kau menulis surat itu lagi

Tak bisa kau hapus lagi

Tinta hitam itu telah kau tabur

Sesekali tersembunyi di balik firasatmu

 

Mengapa kamu menulis lagi?

Bukankah kau tak akan pernah menjadi penulis?

Kau hanya bisa berdebat

Sampai-sampai suaramu melekat di telingaku

Dan gugup bibirmu selalu bersandar di mataku.

  • Penulis: Gregorius Nggadung
  • Editor: Fian N

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Kepekaan dan Rasa Peduli-Jalan Menjadi Manusia yang Lebih Utuh

    Ruang Rasa: Kepekaan dan Rasa Peduli-Jalan Menjadi Manusia yang Lebih Utuh

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 226
    • 7Komentar

    Hallo, teman-teman pembaca setia mataleza.com Senang kita bisa bertemu lagi di sini, di #Ruangrasa yang sudah cukup lama saya tidak bagikan. Saya yakin, di luar sana ada penantian penuh penasaran. Dan saya perlu meminta maaf jika tidak sering update secara berkala. Ya, maklum, bapak satu anak ini kadang sering menyibukkan diri dengan hal-hal remeh, misalnya […]

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.333
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

  • DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Maria Makdalena
    • visibility 266
    • 0Komentar

    Doa Di ujung harap aku berdoa, sembari mengatup penuh khusyuk. Bait demi bait mulai melantun. Seirama deru angin di siang itu. Di perhentian itu aku terdiam, riuhnya alam bergejolak mengiyakan seluruh ucapan yang terhenti di langit. Dalam lantunan doa yang dilafas, di seberang sana ada wanita janda sedang menangis. Ratapan demi ratapan mulai terdengar, adakah […]

  • PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 227
    • 3Komentar

    Permen edisi SENIN 5 PASKAH – 04 MEI 2026 – Katanya Sama Dengan Nyatanya Inspirasi: Kis 14:5-18 ; Yohanes 14:21-26 Penikmat permen yang berhikmat dalam Kristus. Mari pada hari ini kita mengalamatkan hati dan doa bagi para petugas pemadam kebakaran atas dedikasi mereka. Karena itu, hari ini dunia memberi perhatian khusus bagi mereka dengan merayakan […]

  • BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 430
    • 0Komentar

    01 Mei 2026 Inspirasi: Kis 13:26-33; Yohanes 14:1-6     Penikmat Permen yang berhikmat dalam Tuhan. Dalam nada syukur penuh iman dan harapan, kita ucapkan selamat Hari Buruh Internasional alias May Day. Bersamaan dengan momen ini, umat Katolik merayakan pembukaan bulan Maria. Tidak sampai di situ, Gereja hari ini merenungkan Firman Suci dari penginjil Yohanes sebagai […]

  • Aku Ingin Membaca Semua Cerita Tentangmu

    Aku Ingin Membaca Semua Cerita Tentangmu

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Aku mencintaimu bukan hanya karena hal-hal yang mudah kucintai darimu. Bukan hanya karena senyummu, caramu berbicara, atau cara matamu memandangku ketika kita sedang baik-baik saja. Aku ingin mencintai bagian-bagian dirimu yang jarang kauperlihatkan kepada dunia. Ada begitu banyak cerita yang tersimpan di dalam dirimu. Cerita yang mungkin belum pernah selesai kauceritakan. Luka yang mungkin sudah […]

expand_less