Breaking News
light_mode
Trending Tags

PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG

  • account_circle Gregorius Nggadung
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • visibility 287
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PERJAMUAN MALAM

Tak ada yang kau siapkan lagi

Selain roti tawar yang disiram dan mekar

Selain sumpah dan kemerdekaan yang kau janjikan

Meredam di atas tumpukan buku

Lelap di pangkuan tanganmu

 

Kau tak perlu datang lagi malam ini

Cukup menyaksikan perjamuan yang getir ini

Di bawah meja perjamuan

Kukibarkan kata-kata

Sehingga tak ada tulang-tulang yang terbuang

dan tak kau temukan lagi mangkuk nasi yang terhimpit

 

TERIAKAN HUJAN

Crak…crak…crak

Tak seperti musim lalu

Ia menulis petang di atas dedaunan

Kini, ia menggulung payung di bukit itu

Pelan-pelan melipat dingin

 

Crak…crak…crak… lagi

Kau melipat tawa itu ke dalam kelam malam

Kau pun teriak lagi

Tak kau hiraukan tawa anak-anak itu

 

Crak…crak…crak

Kau pulang membawa kafan petang

 

DIKTAT DI MEJA MAKAN

“Jangan pernah kau mengambil lebih dari tiga kali”

“Bicaralah secukupnya”

Catatan ini menggores mangkuk putih itu

Lalu mengendap di samping ruang tamu

Sambil menikmati nyanyian pelita yang mulai redup

 

“Janganlah kau bersiul setelah malam tiba”

Tidurmu tak akan lelap

Kau dihasuti dan ditakut-takuti dalam kegelapan

Tidurlah sambil merenung diktat di meja makan

 

“Jangan pernah kau mengambil lebih dari tiga kali”

“Bicaralah secukupnya”

Diktat di meja makan adalah doa sebelum dan setelah makan

 

KU KALUNGKAN LAGI

Tak seperti kata-kata yang kau hunuskan itu

Telinga lebih sekadar jendela

Membuka dan tutup setelah hujan pulang

Aku ingin mengalungimu lagi

Setelah bulan mekar di atas bukit gelap itu

 

Kau pun datang lagi pagi ini

Membawa sepotong kain

Lalu meltakannya di atas kelopak mataku

Kau pun sedekat ini

Ku kalungkan bibirku di dalam hatimu

 

JEJAK DOA-DOA

Kau di antara cahaya lilin

Menimang di bawah dedaunan

Seakan doa itu sedang singah

Kau pun menengadah

 

Tak kau hiraukan lagi

Angin berlarian menepis ujung rambutmu

Sesekali menyentuh sepasang lilin di depan matamu

sambil melipat rintik hujan malam itu

 

 

HARI PERTAMA

Kau menulis surat itu lagi

Tak bisa kau hapus lagi

Tinta hitam itu telah kau tabur

Sesekali tersembunyi di balik firasatmu

 

Mengapa kamu menulis lagi?

Bukankah kau tak akan pernah menjadi penulis?

Kau hanya bisa berdebat

Sampai-sampai suaramu melekat di telingaku

Dan gugup bibirmu selalu bersandar di mataku.

  • Penulis: Gregorius Nggadung
  • Editor: Fian N

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 𝗣𝗘𝗥𝗘𝗠𝗣𝗨𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚-𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗧𝗥𝗜𝗔𝗥𝗞𝗜?

    𝗣𝗘𝗥𝗘𝗠𝗣𝗨𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚-𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗧𝗥𝗜𝗔𝗥𝗞𝗜?

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Helena Beraf
    • visibility 270
    • 0Komentar

    Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat tempat saya lahir dan tumbuh yakni; kecenderungan menjaga anak perempuan mereka. Mengapa perempuan? Rupanya atas dasar norma, sopan santun dan budaya, anak perempuan (anak gadis) dipandang sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu dijaga kehormatannya. Perempuan dapat merepresentasikan kehormatan keluarganya. Saya ingat betul ketika saya memasuki masa remaja awal, mama kerapkali […]

  • Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 191
    • 2Komentar

    “Sekarang, kepalanya sudah pergi.” Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh. “Sebentar lagi, Sempati […]

  • Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 423
    • 6Komentar

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus Inspirasi: Kis 6:1-7; I Ptr 2:4-9 ; Yohanes 14:1-12 Malu bertanya sesat di jalan, Rajin bertanya disangka wartawan // Selamat wahai umat beriman. Mari beri senyuman yang menawan. Sakramen Pembaptisan sudah buat kita sejalan dan searah dengan Tuhan. Tor monitor penikmat […]

  • SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 163
    • 0Komentar

    John Holt dalam bukunya yang berjudul, Mengapa Siswa gagal, menulis demikian: “Kita semua sepakat bahwa semua siswa harus berhasil, tetapi apakah kita memiliki pengertian yang sama mengenai keberhasilan itu? Saya sendiri berpendapat bahwa kesuksesan itu sebaiknya tidak diperoleh dengan gampang ataupun cepat dan mestinya tidak terjadi setiap saat. Sukses dalam pandanganku, menyiratkan keberhasilan seseorang mengulangi […]

  • Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 265
    • 0Komentar

    Di tengah arus modernisasi dan pergeseran nilai-nilai tradisional, masyarakat Manggarai di Nusa Tenggara Timur masih mempertahankan sejumlah kearifan lokal yang sarat makna dan fungsi sosial. Salah satunya adalah konsep turuk empo, sebuah sistem genealogis yang menjadi penanda garis keturunan dalam masyarakat adat Manggarai. Konsep ini bukan sekadar alat penanda asal-usul, tetapi berperan besar dalam menjaga […]

  • Ibu di Kota

    Ibu di Kota

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 214
    • 0Komentar

    Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang? Sebelum […]

expand_less