Breaking News
light_mode
Trending Tags

PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG

  • account_circle Gregorius Nggadung
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • visibility 556
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PERJAMUAN MALAM

Tak ada yang kau siapkan lagi

Selain roti tawar yang disiram dan mekar

Selain sumpah dan kemerdekaan yang kau janjikan

Meredam di atas tumpukan buku

Lelap di pangkuan tanganmu

 

Kau tak perlu datang lagi malam ini

Cukup menyaksikan perjamuan yang getir ini

Di bawah meja perjamuan

Kukibarkan kata-kata

Sehingga tak ada tulang-tulang yang terbuang

dan tak kau temukan lagi mangkuk nasi yang terhimpit

 

TERIAKAN HUJAN

Crak…crak…crak

Tak seperti musim lalu

Ia menulis petang di atas dedaunan

Kini, ia menggulung payung di bukit itu

Pelan-pelan melipat dingin

 

Crak…crak…crak… lagi

Kau melipat tawa itu ke dalam kelam malam

Kau pun teriak lagi

Tak kau hiraukan tawa anak-anak itu

 

Crak…crak…crak

Kau pulang membawa kafan petang

 

DIKTAT DI MEJA MAKAN

“Jangan pernah kau mengambil lebih dari tiga kali”

“Bicaralah secukupnya”

Catatan ini menggores mangkuk putih itu

Lalu mengendap di samping ruang tamu

Sambil menikmati nyanyian pelita yang mulai redup

 

“Janganlah kau bersiul setelah malam tiba”

Tidurmu tak akan lelap

Kau dihasuti dan ditakut-takuti dalam kegelapan

Tidurlah sambil merenung diktat di meja makan

 

“Jangan pernah kau mengambil lebih dari tiga kali”

“Bicaralah secukupnya”

Diktat di meja makan adalah doa sebelum dan setelah makan

 

KU KALUNGKAN LAGI

Tak seperti kata-kata yang kau hunuskan itu

Telinga lebih sekadar jendela

Membuka dan tutup setelah hujan pulang

Aku ingin mengalungimu lagi

Setelah bulan mekar di atas bukit gelap itu

 

Kau pun datang lagi pagi ini

Membawa sepotong kain

Lalu meltakannya di atas kelopak mataku

Kau pun sedekat ini

Ku kalungkan bibirku di dalam hatimu

 

JEJAK DOA-DOA

Kau di antara cahaya lilin

Menimang di bawah dedaunan

Seakan doa itu sedang singah

Kau pun menengadah

 

Tak kau hiraukan lagi

Angin berlarian menepis ujung rambutmu

Sesekali menyentuh sepasang lilin di depan matamu

sambil melipat rintik hujan malam itu

 

 

HARI PERTAMA

Kau menulis surat itu lagi

Tak bisa kau hapus lagi

Tinta hitam itu telah kau tabur

Sesekali tersembunyi di balik firasatmu

 

Mengapa kamu menulis lagi?

Bukankah kau tak akan pernah menjadi penulis?

Kau hanya bisa berdebat

Sampai-sampai suaramu melekat di telingaku

Dan gugup bibirmu selalu bersandar di mataku.

  • Penulis: Gregorius Nggadung
  • Editor: Fian N

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan. Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia. Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai. Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang […]

  • Sudut Pandang: Di Kampung itu, Kani Pernah Menjadi Anak-anak

    Sudut Pandang: Di Kampung itu, Kani Pernah Menjadi Anak-anak

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle Monica Cinderela
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Sebuah Feature tentang Kenangan, Kehilangan, dan Kampung Halaman Ada masa ketika sebuah kampung kecil selalu ramai oleh suara anak-anak sejak subuh belum sepenuhnya pergi. Suara sandal berlarian di jalan tanah, tawa yang berderai di halaman rumah, dan bau embun pagi yang bercampur asap dapur nenek — semua itu dulu adalah bunyi sehari-hari yang begitu biasa, […]

  • Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Beny K. Harman
    • visibility 338
    • 0Komentar

    Oleh: Benny K. Harman Ketika aparat bergerak cepat membubarkan diskusi dan melarang pemutaran film Pesta Babi, Kolonialisme di Jaman Kita, sebuah pesan benderang sedang dikirimkan oleh penguasa kepada rakyatnya: kalian boleh hidup di negara ini, tapi kalian tidak boleh berpikir. Pelarangan massal terhadap film ini bukan sekadar tindakan sensor birokratis yang kolot. Ini adalah ekspresi ketakutan […]

  • PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 354
    • 2Komentar

    PERMEN edisi Selasa 5 Paskah – 05 MEI 2026 –  Bekerja Sama dan Sama-Sama Bekerja Inspirasi: Kis 14:19-28 ; Yohanes 14:27-31a Paulus dan Barnabas buat sesuatu yang membuka mata hati penikmat Permen akan pentingnya bekerja dalam tim. Yah, dalam perjalanan misi pewartaan, keduanya mengangkat para penatua jemaat untuk memimpin jemaat kristiani yang mereka dirikan. Mereka […]

  • Ketika Sabda Tuhan Hidup di Halaman SMPSK Kotagoa Boawae

    Ketika Sabda Tuhan Hidup di Halaman SMPSK Kotagoa Boawae

    • calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Semarak Bulan Kitab Suci Nasional 2026 di SMPSK Kotagoa Boawae Boawae, Nagekeo-NTT — Ada suasana yang berbeda di halaman tengah SMPSK Kotagoa Boawae, Nagekeo, pada Senin hingga Rabu, 28–30 September 2026. Biasanya halaman sekolah menjadi tempat siswa bercanda, bermain, atau sekadar melepas penat di sela-sela kegiatan belajar. Namun selama tiga hari itu, halaman sekolah berubah […]

  • Duka Pernikahan  dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Sella Suhardi
    • visibility 340
    • 5Komentar

    Duka Pernikahan (I) Aku pernah, pernah sekali mencintaimu Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar   Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap […]

expand_less