Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ketika Kamera Menjadi Mimbar: Kritik atas Kecenderungan Propagandis dalam Film seperti Pesta Babi

  • account_circle RD. Patris Allegro
  • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
  • visibility 227
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : RD Patris Allegro

 

Film seperti Pesta Babi tidak boleh dibaca hanya sebagai dokumenter biasa. Ia bukan sekadar rangkaian gambar tentang tanah, masyarakat adat, babi, hutan, proyek negara, dan luka ekologis. Ia adalah sebuah tindakan penafsiran. Kamera tidak pernah hanya melihat; kamera memilih, memotong, mendekatkan, menjauhkan, memberi sunyi, memberi musik, memberi wajah, lalu memberi arah batin kepada penonton.

 

Di titik itulah film semacam ini cenderung menjadi propagandis.

Propaganda tidak selalu bekerja dengan kebohongan telanjang. Justru propaganda paling efektif sering memakai fakta yang benar. Ia tidak menciptakan kenyataan dari nol. Ia mengambil bagian-bagian tertentu dari kenyataan, menyusunnya menurut pola tertentu, lalu membuat penonton merasa seolah-olah bagian itu adalah keseluruhan. Di sini persoalannya bukan pertama-tama: “Apakah yang ditampilkan itu nyata?” Melainkan: “Apakah yang nyata itu ditampilkan menurut ukuran keseluruhan yang adil?”

Sebab realitas tidak pernah identik dengan fragmen. Satu luka adalah nyata, tetapi luka bukan seluruh tubuh. Satu peristiwa adalah benar, tetapi peristiwa bukan seluruh struktur kenyataan. Satu suara korban harus didengar, tetapi suara itu belum otomatis menjadi tafsir total atas semua pihak, semua motif, semua sebab, dan semua kemungkinan jalan keluar.

Film seperti Pesta Babi menjadi kuat karena ia menangkap sesuatu yang memang serius: tanah bukan sekadar benda, hutan bukan sekadar cadangan ekonomi, babi bukan sekadar hewan, dan masyarakat adat bukan sekadar populasi administratif dalam peta proyek. Dalam dunia adat, tanah memiliki kedalaman keberadaan. Ia adalah ruang asal, warisan leluhur, tempat ingatan menetap, tempat manusia tidak hanya bekerja, tetapi menjadi diri. Tanah adalah dunia hidup, bukan objek mati yang bisa dipindahkan dengan bahasa teknokratis.

Karena itu, ketika proyek besar masuk dengan bahasa pembangunan, peta konsesi, alat berat, aparat, dan angka statistik, benturan yang terjadi bukan hanya benturan ekonomi. Itu benturan cara memahami realitas. Bagi birokrasi modern, tanah sering tampil sebagai lahan. Bagi masyarakat adat, tanah adalah rumah ontologis. Bagi investor, hutan bisa menjadi sumber daya. Bagi komunitas lokal, hutan adalah tatanan kehidupan. Di sini film menyentuh perkara yang benar: modernitas kerap mereduksi yang hidup menjadi yang terukur, yang diwariskan menjadi yang dapat dikonversi, yang sakral menjadi yang produktif.

Namun di sinilah pula bahaya propagandanya mulai tampak.

Karena setelah menemukan luka yang nyata, film semacam ini sering tergoda menjadikan luka itu sebagai satu-satunya lensa. Masyarakat adat ditempatkan sebagai dunia yang murni, organik, dan suci; negara sebagai mesin dingin; perusahaan sebagai kerakusan; pembangunan sebagai dosa asal; aparat sebagai wajah kekerasan; dan modernitas sebagai pemangsa. Secara sinematik, pola ini kuat. Secara emosional, ia efektif. Tetapi secara intelektual, ia miskin.

Kenyataan manusia tidak sesederhana altar dan penjahat.

Masyarakat adat bukan malaikat museum. Negara bukan iblis metafisik. Tradisi tidak selalu bersih dari konflik internal. Pembangunan tidak selalu identik dengan penjajahan. Modernisasi tidak selalu berarti pembunuhan kebudayaan. Sebaliknya, perusahaan dan negara juga tidak boleh disucikan dengan mantra “kemajuan”. Di sinilah kewarasan intelektual diperlukan: membedakan tanpa memisahkan, mengkritik tanpa menyederhanakan, membela korban tanpa mengubah korban menjadi ikon ideologis.

Film yang propagandis kehilangan kemampuan membedakan itu. Ia bekerja dengan pembekuan makna. Ia memilih satu aspek dari kenyataan, lalu memaksanya menjadi hakikat seluruh persoalan. Jika ada konflik lahan, seluruh pembangunan dicap kolonial. Jika ada penderitaan adat, seluruh proyek negara disebut kekerasan. Jika ada aparat, seluruh kehadiran negara dibaca sebagai represi. Jika ada hutan ditebang, seluruh modernitas dianggap musuh kehidupan.

Inilah cacat dasarnya: sebagian dijadikan keseluruhan.

Padahal akal sehat yang sehat selalu bergerak dari yang tampak menuju yang mendasar, dari gejala menuju sebab, dari peristiwa menuju struktur, dari bagian menuju keseluruhan. Film propaganda justru berhenti pada efek. Ia memamerkan luka, tetapi tidak cukup sabar membedah anatomi. Ia menampilkan air mata, tetapi belum tentu menjelaskan jaringan sebab. Ia menghadirkan korban, tetapi belum tentu memberi peta ontologis tentang relasi manusia, tanah, negara, modal, adat, dan masa depan.

Di situlah kamera berubah menjadi mimbar. Bukan lagi saksi yang sabar, melainkan pengkhotbah yang tergesa-gesa.

Tentu, keberpihakan tidak salah. Bahkan, dalam banyak kasus, keberpihakan kepada yang lemah adalah tuntutan moral. Tetapi keberpihakan tidak boleh membunuh kebenaran. Bila pembelaan terhadap masyarakat adat dilakukan dengan menutup kompleksitas masyarakat adat itu sendiri, maka pembelaan itu menjadi bentuk kekuasaan baru. Ia seolah-olah memuliakan mereka, tetapi sebenarnya mereduksi mereka menjadi lambang. Mereka tidak lagi tampil sebagai pribadi dan komunitas konkret dengan konflik, pilihan, harapan, perpecahan, dosa, kebijaksanaan, dan kebutuhan riil. Mereka berubah menjadi poster.

Dan poster selalu lebih miskin daripada manusia.

Ini kritik yang perlu dikatakan tanpa takut: sebagian film advokasi terlalu menikmati estetika penderitaan. Kampung miskin tampak indah di layar. Wajah tua, tanah basah, hutan gelap, babi adat, suara tangis, ritus kampung, dan tubuh-tubuh yang lelah menjadi komposisi visual yang menggugah. Penonton kota merasa tersentuh. Festival memberi tepuk tangan. Aktivis memperoleh amunisi moral. Tetapi setelah layar padam, masyarakat lokal tetap tinggal di sana: mereka tetap harus makan, menyekolahkan anak, berobat, menjual hasil kebun, menjaga tanah, menghadapi aparat, menghadapi elite lokal, menghadapi janji pemerintah, dan menghadapi tuntutan hidup yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan puisi ekologis.

Maka kritik terhadap film seperti Pesta Babi bukanlah pembelaan buta terhadap negara atau perusahaan. Itu terlalu dangkal. Kritik ini justru mau menjaga agar perkara adat dan tanah tidak dijadikan barang dagangan ideologis. Sebab ada dua bentuk kolonialisme yang sama-sama harus dicurigai. Yang pertama adalah kolonialisme modal dan negara, yang datang dengan alat berat, peta konsesi, bahasa teknokratik, dan janji pembangunan. Yang kedua adalah kolonialisme narasi, yang datang dengan kamera, slogan keadilan, festival, dan romantisasi penderitaan.

Yang satu bisa merampas tanah. Yang lain bisa merampas makna.

Keduanya berbahaya.

Manusia adat tidak boleh direduksi menjadi angka dalam dokumen pembangunan. Tetapi mereka juga tidak boleh direduksi menjadi simbol dalam dokumenter advokasi. Mereka adalah pribadi-pribadi konkret, komunitas historis, subjek yang berpikir, memilih, berbeda pendapat, dan memiliki arah hidup. Mereka bukan sekadar korban. Mereka juga agen. Mereka bukan sekadar penjaga masa lalu. Mereka juga pemilik masa depan.

Karena itu, pertanyaan yang benar bukan: adat atau pembangunan? Itu pertanyaan malas. Pertanyaan yang lebih jujur ialah: pembangunan macam apa, lahir dari cara pandang apa, dengan menghormati tatanan hidup siapa, melalui persetujuan siapa, untuk kebaikan siapa, dan dengan harga ontologis apa?

Harga ontologis ini penting. Sebab tidak semua kerugian bisa dihitung dengan uang ganti rugi. Hilangnya tanah adat bukan sekadar hilangnya properti. Itu bisa berarti hilangnya orientasi hidup, rusaknya relasi antar-generasi, pecahnya memori komunal, terpotongnya hubungan dengan leluhur, dan lenyapnya cara berada yang selama ini menyatukan manusia dengan dunia sekitarnya. Negara yang hanya menghitung hektar, ton, kilometer jalan, dan nilai investasi sedang buta terhadap kedalaman realitas manusia.

Namun, kritik terhadap negara tidak boleh menjadi kultus terhadap masa lalu. Tradisi juga harus diuji. Tidak semua yang tua otomatis benar. Tidak semua yang adat otomatis adil. Tidak semua ritus otomatis membebaskan. Di dalam tradisi pun bisa ada dominasi, manipulasi elite lokal, ketimpangan gender, konflik antarklan, dan kepentingan yang dibungkus bahasa leluhur. Maka membela adat bukan berarti menutup mata terhadap kelemahan adat. Membela adat berarti mengakui kedalaman realitasnya sambil tetap membiarkannya diuji oleh kebenaran, keadilan, dan martabat manusia.

Di sinilah film advokasi sering gagal. Ia begitu sibuk melawan reduksi teknokratis negara sampai tanpa sadar jatuh ke reduksi romantis. Negara mereduksi tanah menjadi lahan. Film mereduksi adat menjadi kesucian. Negara mereduksi warga menjadi objek proyek. Film mereduksi warga menjadi korban murni. Negara memakai statistik. Film memakai air mata. Keduanya, bila tidak hati-hati, sama-sama bisa kehilangan manusia konkret.

Padahal manusia konkret adalah pusat perkara.

Bukan hutan sebagai dekorasi ideologis. Bukan babi sebagai simbol eksotis. Bukan adat sebagai museum. Bukan pembangunan sebagai mantra. Bukan negara sebagai mesin. Bukan aktivisme sebagai agama baru. Yang harus dijaga adalah pribadi manusia dalam jejaring hidupnya: dengan tanah, keluarga, leluhur, komunitas, pekerjaan, iman, ekonomi, dan masa depan.

Maka film seperti Pesta Babi penting sebagai alarm. Ia membangunkan. Ia memukul pintu kesadaran. Ia membuat orang kota, birokrat, akademisi, dan penonton jauh melihat bahwa ada luka di balik kata “proyek strategis” dan “ketahanan pangan”. Dalam fungsi ini, film tersebut punya nilai. Alarm memang perlu berbunyi keras.

Tetapi alarm bukan peta jalan.

Alarm memberitahu bahwa ada bahaya. Ia tidak otomatis menjelaskan seluruh sebab, seluruh pelaku, seluruh kepentingan, dan seluruh solusi. Bila alarm menganggap dirinya sebagai peta lengkap, ia menjadi propaganda. Bila film menganggap kemarahan moral sebagai analisis final, ia menjadi dangkal. Bila dokumenter mengganti pemikiran dengan efek emosional, ia sedang menjual kesadaran instan.

Dan kesadaran instan biasanya cepat busuk.

Sebuah karya yang sungguh jujur harus berani tinggal lebih lama dalam kompleksitas. Ia harus berani mengatakan bahwa masyarakat adat menderita, tetapi tidak semua suara adat sama. Ia harus berani mengkritik negara, tetapi tidak menjadikan negara sebagai setan total. Ia harus berani menunjukkan kerakusan modal, tetapi juga bertanya bagaimana masyarakat lokal dapat hidup layak tanpa dimiskinkan demi estetika “keaslian”. Ia harus berani mencintai hutan, tetapi juga memikirkan sekolah, rumah sakit, jalan, pekerjaan, pasar, dan masa depan anak-anak kampung.

Sebab manusia tidak hidup dari akar pohon saja. Tetapi manusia juga tidak hidup dari beton saja.

Di sinilah letak kritik paling mendasar: film seperti Pesta Babi cenderung propagandis ketika ia mengganti pencarian kebenaran dengan penyusunan efek. Ia tidak sekadar memperlihatkan kenyataan; ia mengatur rasa bersalah penonton. Ia tidak sekadar memberi suara kepada yang lemah; ia membentuk cara kita memahami siapa yang suci dan siapa yang najis. Ia tidak sekadar membuka luka; ia mengarahkan luka itu menuju kemarahan tertentu.

Kemarahan bisa perlu. Tetapi kemarahan bukan ukuran kebenaran.

Kebenaran menuntut lebih dari simpati. Ia menuntut kesabaran melihat seluruh tatanan realitas. Ia menuntut keberanian membedakan tingkat-tingkat persoalan: tanah sebagai benda ekonomi, tanah sebagai warisan adat, tanah sebagai ruang hidup, tanah sebagai simbol kosmologis, tanah sebagai dasar martabat komunitas. Jika semua tingkat itu diratakan, entah oleh negara atau oleh film, manusia akan tetap dikorbankan.

Maka, kritik terhadap Pesta Babi harus berdiri di dua kaki. Di satu sisi, kita menolak pembangunan yang mencabut manusia dari tanahnya dan mengubah komunitas menjadi angka dalam laporan investasi. Pembangunan semacam itu bukan kemajuan; itu pengusiran yang memakai bahasa resmi. Negara yang tidak mendengar kosmologi lokal sedang memperlakukan manusia seperti material proyek.

Tetapi di sisi lain, kita juga menolak film advokasi yang menjadikan penderitaan sebagai komoditas moral. Dokumenter semacam itu mungkin tampak membela rakyat, tetapi bila ia menyederhanakan rakyat menjadi korban suci dan mengabaikan kerumitan hidup mereka, ia tetap melakukan kekerasan simbolik. Ia tidak merampas tanah, tetapi ia merampas ketebalan makna.

Akhirnya, persoalan terbesar film propagandis bukan pada keberpihakannya, melainkan pada kemiskinan ontologisnya. Ia gagal melihat bahwa realitas itu berlapis. Ia gagal membiarkan yang ada tampil dalam kepenuhannya. Ia mencintai satu aspek, lalu mengorbankan aspek lain. Ia menangkap jeritan, tetapi sering kehilangan struktur. Ia menangkap simbol, tetapi kadang kehilangan pribadi. Ia menangkap luka, tetapi belum tentu menangkap kebenaran.

Dan kebenaran tidak boleh disembelih seperti babi pesta untuk merayakan kemenangan ideologi.

Kebenaran adalah tanah tua: keras, berakar, berlapis, menyimpan air mata dan harapan sekaligus. Ia tidak tunduk pada slogan negara. Ia juga tidak tunduk pada slogan aktivisme. Ia meminta mata yang jernih, akal yang sabar, dan hati yang tidak mudah mabuk oleh drama.

Film seperti Pesta Babi layak ditonton sebagai tanda bahaya. Tetapi ia juga harus dibaca dengan curiga. Bukan curiga terhadap penderitaan masyarakat adat, melainkan curiga terhadap setiap narasi yang terlalu mudah, terlalu rapi, terlalu indah, dan terlalu cepat menunjuk musuh.

Sebab ketika realitas yang berlapis dipaksa masuk ke dalam bingkai hitam-putih, seni berhenti menjadi pencarian kebenaran.

Ia menjadi liturgi propaganda.

  • Penulis: RD. Patris Allegro
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Yohanes Jawang
    • visibility 528
    • 0Komentar

    Budaya merupakan bagian dari aspek kehidupan manusia yang tidak terpisahkan. Budaya juga merupakan bagian dari kreativitas akal budi manusia, yang dijaga terus-menerus, dan bahkan diperbarui seiring berjalannya waktu.  Budaya menjadi suatu aspek yang sangat penting dan bahkan mendapat tempat yang sangat penting. Oleh karena itu, budaya tanpa manusia adalah mustahil, sebaliknya manusia tanpa budaya akan […]

  • Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 181
    • 0Komentar

    “Kamu galak seperti macan betina / Barangkali kamu akan gila / Tapi tak akan mati.” Sepenggal dialog tersebut menjadi pembuka yang menggugah dari pertunjukan Maria Zaitun yang dibawakan oleh Bengkel Seni Milenial (BSM), sebuah kelompok teater dari SMK Sura Dewa. Kelompok kecil ini secara konsisten menghidupkan ruang-ruang seni pertunjukan yang kerap sepi apresiasi. Namun, teater […]

  • Puisi-puisi Tuhan dan Puan sedang Online, Tak Semua Harus Tentang Kita, Tentang Jalan

    Puisi-puisi Tuhan dan Puan sedang Online, Tak Semua Harus Tentang Kita, Tentang Jalan

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Tuhan dan Puan Sedang Online Kucumbui minggu dijantung rindu Ada sehelai cemburu yang gugur Di dinding yang tak bercentang biru hanya dua garis abu-abu yang muram yang begitu setia menunggu di bukit setia.   Aku tahu, Mungkin kau sedang memulung harimu Dalam kesibukan Hingga serentetan pesanku kau abaikan. Minggu yang kucumbui kali ini begitu rapuh, […]

  • Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Hari ini adalah hari yang membahagiakan sekaligus mengharukan. Dengan penuh rasa syukur, saya mengucapkan selamat kepada 207 cucu-cucuku yang cantik dan ganteng, Angkatan ke-72 SMPSK Kotagoa Boawae, yang hari ini dinyatakan lulus. Angka 207 ini terasa istimewa. Jika angka nol di tengah dihilangkan, lalu posisi angka 2 dan 7 ditukar, maka akan menjadi 72, sama […]

  • Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 272
    • 2Komentar

    Martha Grimes pernah berkata, “kita tidak tahu siapa diri kita sampai kita melihat apa yang bisa kita lakukan.” Pertama kali membaca kutipan tersebut di sebuah buku yang berjudul Life Lessons yang ditulis oleh para pengarang Chicken Soup For The Soul, ada sesuatu yang mendorong saya untuk segera mengambil tindakan. Tindakan yang dimaksudkan di sini adalah […]

  • Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan) Mama Yosinta itu perempuan yang berdiri tegak menolak Proyek Strategis Nasional. Berkali- kali ia menempuh jarak ribuan kilometer ke Jakarta. Ia masuk ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi bukan untuk dirinya, melainkan untuk tanah adatnya. Di sana ia bicara dengan kalimat yang tidak ragu: PSN mencabut hidup dari hutan, sagu, […]

expand_less