Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah
- account_circle John Orlando, S.Fil
- calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
- visibility 139
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: JOHN ORLANDO, S.FIL (Alumni FFA UNWIRA)
Bangsa ini seperti cermin retak: memantulkan wajah-wajah yang kadang membuat kita ingin tertawa getir. Keluarga, komunitas, budaya, kerja, negara. semuanya hadir, tapi tidak selalu memberi pelukan hangat. Anak muda berdiri di depan cermin itu, bertanya-tanya: apakah ini wajah masa depan, atau sekadar bayangan masa lalu yang enggan pergi?
Keluarga, katanya, adalah sekolah pertama kasih. Nyatanya, sering jadi arena gladi resik trauma. Ekonomi yang ringkih, konflik yang tak selesai, pola asuh yang lebih mirip komando militer. Fondasi etis? Ah, kadang lebih mirip pondasi rumah kayu yang digerogoti rayap. Anak muda pun belajar: dunia tidak selalu adil, dan keadilan kadang hanya kata indah di buku.
Komunitas, konon, adalah panggung solidaritas. Tapi panggung itu sering berubah jadi arena gladiator. siapa kuat, dia berkuasa; siapa lemah, dia jadi tontonan. Anak muda tumbuh di tengah sorak-sorai diskriminasi, sambil berharap ada tepuk tangan untuk keberanian mereka. Bangsa ini suka bicara tentang “gotong royong,” tapi praktiknya lebih sering “gotong ego.”
Budaya, katanya, adalah identitas. Tapi identitas kadang terasa seperti rantai emas. Indah, tapi tetap mengikat. Tradisi yang mengekang dibungkus dengan kata “warisan leluhur,” padahal lebih mirip warisan masalah. Anak muda berdiri di tengah pusaka dan paku, mencoba menafsir ulang, mana yang bisa jadi jembatan, mana yang harus ditinggalkan di museum.
Relasi sosial? Sartre bilang eksistensi butuh pengakuan. Tapi di sini, pengakuan sering datang dalam bentuk “diam saja, kamu masih muda.” Anak muda jadi bayangan yang berjalan, bukan suara yang didengar. Ironisnya, bangsa ini suka mengklaim “pemuda adalah harapan,” tapi harapan itu sering diperlakukan seperti dekorasi acara resmi. Indah di spanduk, tapi jarang nyata di ruang kebijakan.
Kerja, katanya, adalah aktualisasi diri. Nyatanya, lebih sering aktualisasi stres. Dunia kerja sempit, persaingan ketat, gaji pas-pasan. Anak muda bertanya: apakah hidup hanya soal bertahan? Jawabannya: ya, bertahan sambil berharap startup ajaib atau konten viral bisa menyelamatkan. Kreativitas? Teknologi? Kadang lebih terasa seperti lotre daripada peluang.
Negara, dalam filsafat politik, adalah tatanan etis. Tapi di sini, negara lebih sering jadi tatanan administrative. Sibuk dengan birokrasi, lupa dengan rakyat. Program untuk anak muda? Ada, tapi sering lebih mirip brosur daripada solusi. Kritik pun lahir supaya negara harus kembali pada tujuan dasarnya. Tapi entah kenapa, kritik itu sering dianggap keluhan, padahal justru tanda cinta yang paling jujur.
Pada akhirnya, anak muda sedang belajar. Belajar bertanya, belajar gelisah, belajar menertawakan absurditas bangsa ini. Mereka tahu, perubahan tidak datang dengan menunggu. Harus digerakkan, meski kadang dengan energi yang lebih mirip sarkasme daripada optimisme. Karena di balik setiap krisis, ada peluang refleksi dan di balik setiap refleksi, ada kemungkinan transformasi.
Bangsa ini, seperti hidup, selalu dalam proses menjadi. Pertanyaannya: menjadi apa? Anak muda adalah aktor utama, meski sering dipaksa jadi figuran. Dengan refleksi yang tajam dan tindakan yang berani, mereka bisa membuat bangsa ini bukan hanya lebih adil, tapi juga lebih jujur pada dirinya sendiri.
Tabe.
- Penulis: John Orlando, S.Fil
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar