Breaking News
light_mode
Trending Tags

Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

  • account_circle John Orlando, S.Fil
  • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
  • visibility 274
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: JOHN ORLANDO, S.FIL (Alumni FFA UNWIRA)

Bangsa ini seperti cermin retak: memantulkan wajah-wajah yang kadang membuat kita ingin tertawa getir. Keluarga, komunitas, budaya, kerja, negara. semuanya hadir, tapi tidak selalu memberi pelukan hangat. Anak muda berdiri di depan cermin itu, bertanya-tanya: apakah ini wajah masa depan, atau sekadar bayangan masa lalu yang enggan pergi?

Keluarga, katanya, adalah sekolah pertama kasih. Nyatanya, sering jadi arena gladi resik trauma. Ekonomi yang ringkih, konflik yang tak selesai, pola asuh yang lebih mirip komando militer. Fondasi etis? Ah, kadang lebih mirip pondasi rumah kayu yang digerogoti rayap. Anak muda pun belajar: dunia tidak selalu adil, dan keadilan kadang hanya kata indah di buku.

Komunitas, konon, adalah panggung solidaritas. Tapi panggung itu sering berubah jadi arena gladiator. siapa kuat, dia berkuasa; siapa lemah, dia jadi tontonan. Anak muda tumbuh di tengah sorak-sorai diskriminasi, sambil berharap ada tepuk tangan untuk keberanian mereka. Bangsa ini suka bicara tentang β€œgotong royong,” tapi praktiknya lebih sering β€œgotong ego.”

Budaya, katanya, adalah identitas. Tapi identitas kadang terasa seperti rantai emas. Indah, tapi tetap mengikat. Tradisi yang mengekang dibungkus dengan kata β€œwarisan leluhur,” padahal lebih mirip warisan masalah. Anak muda berdiri di tengah pusaka dan paku, mencoba menafsir ulang, mana yang bisa jadi jembatan, mana yang harus ditinggalkan di museum.

Relasi sosial? Sartre bilang eksistensi butuh pengakuan. Tapi di sini, pengakuan sering datang dalam bentuk β€œdiam saja, kamu masih muda.” Anak muda jadi bayangan yang berjalan, bukan suara yang didengar. Ironisnya, bangsa ini suka mengklaim β€œpemuda adalah harapan,” tapi harapan itu sering diperlakukan seperti dekorasi acara resmi. Indah di spanduk, tapi jarang nyata di ruang kebijakan.

Kerja, katanya, adalah aktualisasi diri. Nyatanya, lebih sering aktualisasi stres. Dunia kerja sempit, persaingan ketat, gaji pas-pasan. Anak muda bertanya: apakah hidup hanya soal bertahan? Jawabannya: ya, bertahan sambil berharap startup ajaib atau konten viral bisa menyelamatkan. Kreativitas? Teknologi? Kadang lebih terasa seperti lotre daripada peluang.

Negara, dalam filsafat politik, adalah tatanan etis. Tapi di sini, negara lebih sering jadi tatanan administrative. Sibuk dengan birokrasi, lupa dengan rakyat. Program untuk anak muda? Ada, tapi sering lebih mirip brosur daripada solusi. Kritik pun lahir supaya negara harus kembali pada tujuan dasarnya. Tapi entah kenapa, kritik itu sering dianggap keluhan, padahal justru tanda cinta yang paling jujur.

Pada akhirnya, anak muda sedang belajar. Belajar bertanya, belajar gelisah, belajar menertawakan absurditas bangsa ini. Mereka tahu, perubahan tidak datang dengan menunggu. Harus digerakkan, meski kadang dengan energi yang lebih mirip sarkasme daripada optimisme. Karena di balik setiap krisis, ada peluang refleksi dan di balik setiap refleksi, ada kemungkinan transformasi.

Bangsa ini, seperti hidup, selalu dalam proses menjadi. Pertanyaannya: menjadi apa? Anak muda adalah aktor utama, meski sering dipaksa jadi figuran. Dengan refleksi yang tajam dan tindakan yang berani, mereka bisa membuat bangsa ini bukan hanya lebih adil, tapi juga lebih jujur pada dirinya sendiri.

Tabe.

  • Penulis: John Orlando, S.Fil
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Ketika seorang bayi perempuan lahir, kalimat pertama yang paling sering terdengar bukan “Semoga ia tumbuh berani.” Bukan pula, “Semoga ia menjadi manusia yang bijaksana.” Yang keluar justru, “Cantik sekali .” Lalu waktu berjalan, dan masyarakat melanjutkan pelajarannya. Perempuan cenderung diajari memakai bedak sebelum diajari berdebat, diajari bagaimana cara duduk anggun sebelum diajari menyampaikan pendapat. Diajari […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 97
    • 0Komentar

    SMPSK Kotagoa Sport Area tidak hanya dipadati sorak-sorai para pendukung pada ajang Kotagoa Diamond Competition antar Sekolah Dasar yang berlangsung setiap sore hingga malam hari. Ketika matahari kembali menyinari lapangan di pagi dan siang hari, suasana yang sama meriah kembali tercipta. Kali ini, para pelakunya adalah siswa-siswi SMPSK Kotagoa Boawae sendiri melalui kegiatan rutin yang […]

  • Masalah Pasti Datang, Tetap Tegang

    Masalah Pasti Datang, Tetap Tegang

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Hidup adalah perjalanan panjang yang penuh dengan kejutan. Ada masa di mana kita merasa dunia begitu ramah, memberi ruang lega untuk bernapas. Namun, ada pula saat di mana masalah datang bertubi-tubi, membuat langkah terasa berat dan hati dipenuhi rasa khawatir. Dalam situasi seperti itu, mudah sekali bagi kita untuk merasa tegang, panik, bahkan kehilangan kendali. […]

  • Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 258
    • 2Komentar

    ini puisi apa?Β  ibu bangun tidur. bapak ke sawah. adik menangis cari bapak. saya cari batang pisang. pagi, selalu sibuk di setiap detik kami. ada rindu-dendam yang tak tuntas pada bunga mimpi. rumah yang lain, ayam-ayam berebut makanan. adik ikut tertawa. saya sibuk mengeja suara babi kelaparan. lalu, lewatlah segerombolan masa lalu di kepala saya. […]

  • Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 570
    • 0Komentar

    Di tengah arus modernisasi dan pergeseran nilai-nilai tradisional, masyarakat Manggarai di Nusa Tenggara Timur masih mempertahankan sejumlah kearifan lokal yang sarat makna dan fungsi sosial. Salah satunya adalah konsep turuk empo, sebuah sistem genealogis yang menjadi penanda garis keturunan dalam masyarakat adat Manggarai. Konsep ini bukan sekadar alat penanda asal-usul, tetapi berperan besar dalam menjaga […]

  • Sudut Pandang: Ka Sinta yang Selalu Ada Untukku

    Sudut Pandang: Ka Sinta yang Selalu Ada Untukku

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Yesi Kristiani
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Oleh: Yesi Kristiani Cerita sederhana tentang seorang kakak yang selalu menjadi bagian penting dalam hidupku. Setiap orang pasti mempunyai seseorang yang berarti dalam hidupnya. Seseorang yang mungkin tidak selalu kita sadari kehadirannya, tetapi selalu ada ketika kita membutuhkannya. Bagiku sosok kakak Sinta sangat berarti dalam setiap perjalanan ku, terutama ketika saya dapat dukungan dari kedua […]

expand_less