Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ibu di Kota

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • visibility 215
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang?

Sebelum ke kota

Setiap kali pagi bangun dari tidurnya, ibu sudah di dapur. Menanak nasi untuk saya sarapan sebelum ke sekolah. Kalau beras tidak ada, biasanya ibu memasak bhabhu mamu.[1] Bapak sudah lebih dulu ke sawah setelah bangun dari tidur dan membuat kopinya sendiri. Bapak tidak pernah memaksa ibu bangun sepagi dirinya. Kata nenek, bapak sangat peduli terhadap ibu. Bapak tidak akan pernah membangunkan ibu meski jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sedangkan nenek sudah berada di belakang rumah, tepatnya di bawah pohon kemiri yang diapiti beberapa pohon kopi. Nenek memilih biji-biji kemiri yang jatuh ditiup angin malam. Saya memilih untuk mandi sendiri. Tak perlu memanggil ibu menggosok sabun di punggung sebab tangan saya sudah bisa menggapainya. Sebelum saya masuk Sekolah Dasar, kebiasaan kami adalah dengan membuat tangan membentuk setengah lingkaran di atas kepala dan menyentuh salah satu bagian telinga kiri maupun kanan, tergantung tangan mana yang digunakan. Dengan itu, pertanda bahwa kami bisa masuk Sekolah Dasar. Saya bingun dengan cara demikian, seorang anak bisa masuk Sekolah Dasar ketika bisa berbuat demikian. Namun, dengan hal tersebut bisa mengajarkan saya untuk belajar mandiri dan salah satunya adalah mandi sendiri.

Nenek akan kembali ke dalam rumah jika sudah merasa lapar. Di sawah, bapak hanya membakar pisang setelah memeriksa pengairan ke sawah agar padi yang baru ditanam bisa tumbuh dengan baik. Di sekolah, kami belajar menghitung dan menulis. Seringkali kami diuji oleh ibu guru. Ibu guru meminta kami mneyebut nama presiden Indonesia dan apa nama ibu kota negara ini. Terkadang kami salah menyebut nama presiden. Sebab, nama ayah dan ibu kami sendiri bisa kami lupa. Yang kami tahu hanyalah ini Budi, ini ibu Budi, ini ayah Budi, ini kaka Budi, dan ini adik Budi. Waktu itu yang ada di kepala kami hanyalah nama Budi. Nama ayah, ibu, kakak, dan adik Budi, kami tidak tahu.

Sepulang sekolah dan kepala dipenuhi angka-angka yang menjenukan, membuat saya ingin pergi ke sawah untuk membantu bapak. Atau, membantu ibu menjahit pakaian-pakaian kami yang telah lama robek. Juga termasuk pakaian ayah dan nenek. Ibu sangat teliti menjahitnya. Saya sering memperhatikannya diam-diam. Seperti ada percakapan di antara ibu dengan jahitan yang ada di tangannya. ย ย ย ย  Mungkin ibu menyampaikan permohonan maaf atas tindakan kami yang tidak berhati-hati pada jahitan yang ada di tangannya. Mungkin juga ibu mewakili kami untuk meminta maaf atas segala luka yang tak mampu sembuh secara utuh. Saya, bapak, dan nenek tidak pernah sadar akan hal itu. Naluri seorang ibu atau perempuan kebanyakkan memang beda dari lelaki. Tetapi kami tidak pernah berdebat akan hal itu. Cara ini dilakukan karena tak ingin ada luka di antara kami. Karena kami hanyalah bertiga dan tidak sampai lima.

Menjelang malam, ibu pasti lebih betah di dapur setelah pulang dari kebun memetik daun singkong, bunga pepaya, dan jantung pisang untuk dijadikan sayur. Sedangkan nenek sudah ada dalam rumah sebelum jam enam. Dari dulu nenek tidak pernah berada di luar rumah jika hari sudah mulai malam apalagi jam enam. Kata nenek, jam enam adalah jamnya hantu-hantu berkeliaran di mana-mana. Mencari anak-anak kecil yang masih bermain di luar rumah. Hal ini yang membuat saya tidak pernah berada di luar rumah jika jam hampir pukul enam. Satu jam sebelum itu, adalah waktu yang tepat untuk mandi.

Tetapi bapak akan tiba di rumah sekitar jam tujuh malam. Jarak antara rumah dan sawah tidaklah dekat. Ditambah tak ada kendaraan pada waktu itu. Kuda sudah dijual oleh bapak sebulan yang lalu demi membeli obat untuk ibu serta membayar dukun tradisional. โ€œRumah sakit bukanlah rumah kesehatan yang menjanjikan kesembuhan. Rumah dukun adalah rumah tuhan kedua,โ€ kata ibu di suatu hari.

Sesampainya di kota

Saya coba mengingat kembali segala cerita yang pernah diceritakan oleh bapak dan nenek. Ibu pergi ke kota sebelum saya pandai menyebut nama Budi dengan benar. Menjelang terima rapor, ibu pergi ke kota. Saya tidak tahu apa-apa tentang kota. Mungkin, waktu itu, saya berpikir bahwa kota adalah rumah bagi segala duka melepas penat dan tangis. Iya, waktu itu. Waktu di mana saya masih polos. Polosnya saya pada waktu itu adalah sering berjalan telanjang. Karena saya berharap ibu akan datang mengenakan pakaian untuk saya. Ternyata tidak. Tidak sama sekali. Apakah ibu terlalu nyaman di kota? Apakah ada sesuatu yang membuat ibu betah di kota? Di kampung, saya bertanya tentang ibu dan kota. Apakah di kota, ibu bertanya tentang saya dan kampung? Ayah dan nenek, pasti bertanya tentang keadaan ibu. Saya memikirkan apa bentuk pertanyaan yang sering ibu tanyakan. Apakah ibu bertanya tentang orang-orang di kampung ini? Kampung yang pernah menjadikan ibu besar. Kampung yang pernah membuat ibu mengenal apa itu kota. Kampung yang menyimpan segala kenangan masa kecil ibu.

Semakin lama-semakin ke sini, ibu tak ada kabar lagi. Bapak telah tiada. Nenek juga telah tiada jauh sebelum ayah tiada. Ibu sendirian di sana. Di antara orang-orang asing. Orang-orang yang tak pernah ada di masa kecil ibu. Orang yang datang dari masa depan dengan sesuatu yang, saya yakin bisa membuat ibu tak betah di sana. Dan, saya di kampung semakin kesepian.

Di mana letak kota ibu tinggal?

Saya menutup cerita ini dengan pertanyaan itu. Semoga ibu segera mengirim surat untuk saya dan saya segera menemuinya sebelum ibu menemui saya di kampung. Agar saya tahu bagaimana rasanya hidup dengan ibu di kota.

Maumere, 2019

Fian N, lahir di bulan Desember. Menerbitkan beberapa buku puisi sejak tahun 2019 sampai tahun 2025. Buku terbarunya adalah Jangan Baca Buku Ini Jika Sudah Bahagia (Detak Pustaka, 2025). Sejak tahun 2020 sampai sekarang dipercayakan menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile.

 

 

[1] Bhabhu mamu adalah jenis makanan tradisional khas dari kabupaten Nagekeo yang dibuat dari jagung, kacang, dan ubi-ubian serta ditambah dengan santan kelapa.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Bruno Rey Pantola

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 219
    • 2Komentar

    โ€œKita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.โ€ Lima belas cerpen […]

  • Puisi-puisi Harsandi Pratama Putra

    Puisi-puisi Harsandi Pratama Putra

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Harsandi Pratama Putra
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Kepada Rindu Bernama Kenangan Gigilnya rindu malam ini adalah dingin yang paling menusuk Hujan kenangan datang, membasahi sela-sela ingatan Setelah tak menemukan temu dan pelukan yang hangat Di dada yang sesak ini, setiap sepi datang mengunjungi tubuhku Aku mati-matian menenangkan nyerinya sendirian. 2026 Setiap Malam Kepalaku Penuh Kecamuk Oleh Peperangan Aku ingin reda Dari luka […]

  • Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Marianus Lako
    • visibility 99
    • 2Komentar

    Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan Perjalanan menuju Rindu dan Kenangan Apa itu sebuah kerinduan? Kalau tentang sakit dan pedih yang menyala paling berkaca-kaca tuk menyumbang luka? Apa itu kerelaan? Kalau tentang melepas tapi masih melekat Kalau tentang ikhlas tapi di dada memberat Kalau tentang mengenang tapi selalu merengkuh ketenangan Meo 2026 Gagasan Kesepian Apa pernah […]

  • EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Yohanes Jawang
    • visibility 443
    • 0Komentar

    Budaya merupakan bagian dari aspek kehidupan manusia yang tidak terpisahkan. Budaya juga merupakan bagian dari kreativitas akal budi manusia, yang dijaga terus-menerus, dan bahkan diperbarui seiring berjalannya waktu.ย  Budaya menjadi suatu aspek yang sangat penting dan bahkan mendapat tempat yang sangat penting. Oleh karena itu, budaya tanpa manusia adalah mustahil, sebaliknya manusia tanpa budaya akan […]

  • Ketika Cinta Menjadi Doa

    Ketika Cinta Menjadi Doa

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD
    • visibility 73
    • 3Komentar

    Minggu pagi selalu datang dengan kesunyian yang suci. Cahaya matahari menembus jendela kaca kapela SanJuan, memantulkan warna-warna lembut yang jatuh di lantai seperti doa yang menjelma menjadi cahaya. Denting lonceng memanggil umat untuk berkumpul, dan di antara bangku-bangku kayu yang tertata rapi, Frater Arda kembali menemukan sosok yang diam-diam mengisi ruang batinnya. Gadis itu selalu […]

  • Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Anto Narasoma
    • visibility 140
    • 0Komentar

    SEJILID BUKU kubuka sejilid buku yang kemarin membawa aku melintasi segala kisah   dari ruang-ruang fisika dan format wajah-Nya yang teduh di atas sajadah kaulah gudang pengisi petak-petak di ruang kosong otakku   lalu kubuka lembaran yang tuntas kubaca karena dari titik ke titik belahan bumi ini adalah buku   maka segala kalimat panjang itu […]

expand_less