Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ibu di Kota

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • visibility 346
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang?

Sebelum ke kota

Setiap kali pagi bangun dari tidurnya, ibu sudah di dapur. Menanak nasi untuk saya sarapan sebelum ke sekolah. Kalau beras tidak ada, biasanya ibu memasak bhabhu mamu.[1] Bapak sudah lebih dulu ke sawah setelah bangun dari tidur dan membuat kopinya sendiri. Bapak tidak pernah memaksa ibu bangun sepagi dirinya. Kata nenek, bapak sangat peduli terhadap ibu. Bapak tidak akan pernah membangunkan ibu meski jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sedangkan nenek sudah berada di belakang rumah, tepatnya di bawah pohon kemiri yang diapiti beberapa pohon kopi. Nenek memilih biji-biji kemiri yang jatuh ditiup angin malam. Saya memilih untuk mandi sendiri. Tak perlu memanggil ibu menggosok sabun di punggung sebab tangan saya sudah bisa menggapainya. Sebelum saya masuk Sekolah Dasar, kebiasaan kami adalah dengan membuat tangan membentuk setengah lingkaran di atas kepala dan menyentuh salah satu bagian telinga kiri maupun kanan, tergantung tangan mana yang digunakan. Dengan itu, pertanda bahwa kami bisa masuk Sekolah Dasar. Saya bingun dengan cara demikian, seorang anak bisa masuk Sekolah Dasar ketika bisa berbuat demikian. Namun, dengan hal tersebut bisa mengajarkan saya untuk belajar mandiri dan salah satunya adalah mandi sendiri.

Nenek akan kembali ke dalam rumah jika sudah merasa lapar. Di sawah, bapak hanya membakar pisang setelah memeriksa pengairan ke sawah agar padi yang baru ditanam bisa tumbuh dengan baik. Di sekolah, kami belajar menghitung dan menulis. Seringkali kami diuji oleh ibu guru. Ibu guru meminta kami mneyebut nama presiden Indonesia dan apa nama ibu kota negara ini. Terkadang kami salah menyebut nama presiden. Sebab, nama ayah dan ibu kami sendiri bisa kami lupa. Yang kami tahu hanyalah ini Budi, ini ibu Budi, ini ayah Budi, ini kaka Budi, dan ini adik Budi. Waktu itu yang ada di kepala kami hanyalah nama Budi. Nama ayah, ibu, kakak, dan adik Budi, kami tidak tahu.

Sepulang sekolah dan kepala dipenuhi angka-angka yang menjenukan, membuat saya ingin pergi ke sawah untuk membantu bapak. Atau, membantu ibu menjahit pakaian-pakaian kami yang telah lama robek. Juga termasuk pakaian ayah dan nenek. Ibu sangat teliti menjahitnya. Saya sering memperhatikannya diam-diam. Seperti ada percakapan di antara ibu dengan jahitan yang ada di tangannya.      Mungkin ibu menyampaikan permohonan maaf atas tindakan kami yang tidak berhati-hati pada jahitan yang ada di tangannya. Mungkin juga ibu mewakili kami untuk meminta maaf atas segala luka yang tak mampu sembuh secara utuh. Saya, bapak, dan nenek tidak pernah sadar akan hal itu. Naluri seorang ibu atau perempuan kebanyakkan memang beda dari lelaki. Tetapi kami tidak pernah berdebat akan hal itu. Cara ini dilakukan karena tak ingin ada luka di antara kami. Karena kami hanyalah bertiga dan tidak sampai lima.

Menjelang malam, ibu pasti lebih betah di dapur setelah pulang dari kebun memetik daun singkong, bunga pepaya, dan jantung pisang untuk dijadikan sayur. Sedangkan nenek sudah ada dalam rumah sebelum jam enam. Dari dulu nenek tidak pernah berada di luar rumah jika hari sudah mulai malam apalagi jam enam. Kata nenek, jam enam adalah jamnya hantu-hantu berkeliaran di mana-mana. Mencari anak-anak kecil yang masih bermain di luar rumah. Hal ini yang membuat saya tidak pernah berada di luar rumah jika jam hampir pukul enam. Satu jam sebelum itu, adalah waktu yang tepat untuk mandi.

Tetapi bapak akan tiba di rumah sekitar jam tujuh malam. Jarak antara rumah dan sawah tidaklah dekat. Ditambah tak ada kendaraan pada waktu itu. Kuda sudah dijual oleh bapak sebulan yang lalu demi membeli obat untuk ibu serta membayar dukun tradisional. “Rumah sakit bukanlah rumah kesehatan yang menjanjikan kesembuhan. Rumah dukun adalah rumah tuhan kedua,” kata ibu di suatu hari.

Sesampainya di kota

Saya coba mengingat kembali segala cerita yang pernah diceritakan oleh bapak dan nenek. Ibu pergi ke kota sebelum saya pandai menyebut nama Budi dengan benar. Menjelang terima rapor, ibu pergi ke kota. Saya tidak tahu apa-apa tentang kota. Mungkin, waktu itu, saya berpikir bahwa kota adalah rumah bagi segala duka melepas penat dan tangis. Iya, waktu itu. Waktu di mana saya masih polos. Polosnya saya pada waktu itu adalah sering berjalan telanjang. Karena saya berharap ibu akan datang mengenakan pakaian untuk saya. Ternyata tidak. Tidak sama sekali. Apakah ibu terlalu nyaman di kota? Apakah ada sesuatu yang membuat ibu betah di kota? Di kampung, saya bertanya tentang ibu dan kota. Apakah di kota, ibu bertanya tentang saya dan kampung? Ayah dan nenek, pasti bertanya tentang keadaan ibu. Saya memikirkan apa bentuk pertanyaan yang sering ibu tanyakan. Apakah ibu bertanya tentang orang-orang di kampung ini? Kampung yang pernah menjadikan ibu besar. Kampung yang pernah membuat ibu mengenal apa itu kota. Kampung yang menyimpan segala kenangan masa kecil ibu.

Semakin lama-semakin ke sini, ibu tak ada kabar lagi. Bapak telah tiada. Nenek juga telah tiada jauh sebelum ayah tiada. Ibu sendirian di sana. Di antara orang-orang asing. Orang-orang yang tak pernah ada di masa kecil ibu. Orang yang datang dari masa depan dengan sesuatu yang, saya yakin bisa membuat ibu tak betah di sana. Dan, saya di kampung semakin kesepian.

Di mana letak kota ibu tinggal?

Saya menutup cerita ini dengan pertanyaan itu. Semoga ibu segera mengirim surat untuk saya dan saya segera menemuinya sebelum ibu menemui saya di kampung. Agar saya tahu bagaimana rasanya hidup dengan ibu di kota.

Maumere, 2019

Fian N, lahir di bulan Desember. Menerbitkan beberapa buku puisi sejak tahun 2019 sampai tahun 2025. Buku terbarunya adalah Jangan Baca Buku Ini Jika Sudah Bahagia (Detak Pustaka, 2025). Sejak tahun 2020 sampai sekarang dipercayakan menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile.

 

 

[1] Bhabhu mamu adalah jenis makanan tradisional khas dari kabupaten Nagekeo yang dibuat dari jagung, kacang, dan ubi-ubian serta ditambah dengan santan kelapa.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Bruno Rey Pantola

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Di Antara Cinta dan Perjuangan, Kisah Pierre Tandean

    Sudut Pandang: Di Antara Cinta dan Perjuangan, Kisah Pierre Tandean

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle Patricius Aldi
    • visibility 139
    • 2Komentar

    Oleh: Patricius Aldi, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma   “Cinta yang sudah sampai pada tahap paling dekat dengan bahagia, hanya untuk direnggut oleh satu malam kelam dalam sejarah bangsa.” Rencana hidup terkadang tidak sesuai ekspetasi kita. Begitu pula dengan pernikahan, ada yang pernikahannya batal karena hati yang berubah, dan ada yang batal karena maut datang memisahkan seperti kisah Pierre Tendean dan tunangannya. Pierre Andries Tendean lahir di Jakarta, 21 Februari 1939, putra seorang dokter berdarah […]

  • Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 876
    • 32Komentar

    Mbay-22 Mei 2026. Saya tidak tahu apakah pengalaman ini layak disebut menarik atau justru menyakitkan. Mungkin keduanya. Atau mungkin hanya sebuah pengalaman biasa yang kebetulan saya dengar secara langsung sehingga meninggalkan kesan yang lebih dalam di kepala saya. Yang jelas, ada sesuatu yang terasa ganjil sejak awal. Sesuatu yang terus tinggal diam-diam di pikiran saya […]

  • Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 244
    • 2Komentar

    Fokus pada satu tujuan. Jangan gegabah dalam memperlakukan sebuah persoalan. Sering kali, manusia terjebak pada rasa ingin lebih akan sesuatu yang masih belum pasti seperti apa akhirnya. Dalam hidup, kita sering tergoda untuk menangani banyak masalah sekaligus. Ada perasaan seolah kita harus selalu produktif, selalu cepat menyelesaikan segalanya, dan selalu tampil prima. Namun, ironisnya, justru […]

  • Sudut Pandang: Di Balik Manisnya Gula, Ada Bayang-bayang Kekuasaan

    Sudut Pandang: Di Balik Manisnya Gula, Ada Bayang-bayang Kekuasaan

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Irenius Arya Pandya Cetta
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Oleh: Irenius Arya Pandya Cetta Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Wajah Yogyakarta di Persimpangan Zaman   Ketika Yogyakarta Mulai Berubah Yogyakarta hari ini dikenal sebagai kota budaya, kota pelajar, dan salah satu pusat sejarah Jawa. Di balik keraton, jalan-jalan yang ramai, serta kehidupan masyarakat yang terus bergerak, tersimpan sebuah masa ketika kota ini berubah […]

  • Sudut Pandang: ia yang Mengajarkanku Berdiri Sendiri

    Sudut Pandang: ia yang Mengajarkanku Berdiri Sendiri

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Angeliq Fransisca Juanna
    • visibility 154
    • 2Komentar

    Oleh: Angeliq Fransisca Juanna Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Perempuan yang Menjadi Rumah Bagi sebagian orang, keluarga mungkin selalu berarti ayah, ibu, dan anak yang tinggal dalam satu rumah. Namun, kehidupan tidak selalu berjalan dengan bentuk yang sama. Ada kalanya seseorang tumbuh dan menemukan sosok keluarga dalam diri orang lain. Bagi saya, sosok itu adalah tante […]

  • Duka Pernikahan  dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Sella Suhardi
    • visibility 340
    • 5Komentar

    Duka Pernikahan (I) Aku pernah, pernah sekali mencintaimu Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar   Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap […]

expand_less