Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ibu di Kota

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • visibility 292
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang?

Sebelum ke kota

Setiap kali pagi bangun dari tidurnya, ibu sudah di dapur. Menanak nasi untuk saya sarapan sebelum ke sekolah. Kalau beras tidak ada, biasanya ibu memasak bhabhu mamu.[1] Bapak sudah lebih dulu ke sawah setelah bangun dari tidur dan membuat kopinya sendiri. Bapak tidak pernah memaksa ibu bangun sepagi dirinya. Kata nenek, bapak sangat peduli terhadap ibu. Bapak tidak akan pernah membangunkan ibu meski jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sedangkan nenek sudah berada di belakang rumah, tepatnya di bawah pohon kemiri yang diapiti beberapa pohon kopi. Nenek memilih biji-biji kemiri yang jatuh ditiup angin malam. Saya memilih untuk mandi sendiri. Tak perlu memanggil ibu menggosok sabun di punggung sebab tangan saya sudah bisa menggapainya. Sebelum saya masuk Sekolah Dasar, kebiasaan kami adalah dengan membuat tangan membentuk setengah lingkaran di atas kepala dan menyentuh salah satu bagian telinga kiri maupun kanan, tergantung tangan mana yang digunakan. Dengan itu, pertanda bahwa kami bisa masuk Sekolah Dasar. Saya bingun dengan cara demikian, seorang anak bisa masuk Sekolah Dasar ketika bisa berbuat demikian. Namun, dengan hal tersebut bisa mengajarkan saya untuk belajar mandiri dan salah satunya adalah mandi sendiri.

Nenek akan kembali ke dalam rumah jika sudah merasa lapar. Di sawah, bapak hanya membakar pisang setelah memeriksa pengairan ke sawah agar padi yang baru ditanam bisa tumbuh dengan baik. Di sekolah, kami belajar menghitung dan menulis. Seringkali kami diuji oleh ibu guru. Ibu guru meminta kami mneyebut nama presiden Indonesia dan apa nama ibu kota negara ini. Terkadang kami salah menyebut nama presiden. Sebab, nama ayah dan ibu kami sendiri bisa kami lupa. Yang kami tahu hanyalah ini Budi, ini ibu Budi, ini ayah Budi, ini kaka Budi, dan ini adik Budi. Waktu itu yang ada di kepala kami hanyalah nama Budi. Nama ayah, ibu, kakak, dan adik Budi, kami tidak tahu.

Sepulang sekolah dan kepala dipenuhi angka-angka yang menjenukan, membuat saya ingin pergi ke sawah untuk membantu bapak. Atau, membantu ibu menjahit pakaian-pakaian kami yang telah lama robek. Juga termasuk pakaian ayah dan nenek. Ibu sangat teliti menjahitnya. Saya sering memperhatikannya diam-diam. Seperti ada percakapan di antara ibu dengan jahitan yang ada di tangannya.      Mungkin ibu menyampaikan permohonan maaf atas tindakan kami yang tidak berhati-hati pada jahitan yang ada di tangannya. Mungkin juga ibu mewakili kami untuk meminta maaf atas segala luka yang tak mampu sembuh secara utuh. Saya, bapak, dan nenek tidak pernah sadar akan hal itu. Naluri seorang ibu atau perempuan kebanyakkan memang beda dari lelaki. Tetapi kami tidak pernah berdebat akan hal itu. Cara ini dilakukan karena tak ingin ada luka di antara kami. Karena kami hanyalah bertiga dan tidak sampai lima.

Menjelang malam, ibu pasti lebih betah di dapur setelah pulang dari kebun memetik daun singkong, bunga pepaya, dan jantung pisang untuk dijadikan sayur. Sedangkan nenek sudah ada dalam rumah sebelum jam enam. Dari dulu nenek tidak pernah berada di luar rumah jika hari sudah mulai malam apalagi jam enam. Kata nenek, jam enam adalah jamnya hantu-hantu berkeliaran di mana-mana. Mencari anak-anak kecil yang masih bermain di luar rumah. Hal ini yang membuat saya tidak pernah berada di luar rumah jika jam hampir pukul enam. Satu jam sebelum itu, adalah waktu yang tepat untuk mandi.

Tetapi bapak akan tiba di rumah sekitar jam tujuh malam. Jarak antara rumah dan sawah tidaklah dekat. Ditambah tak ada kendaraan pada waktu itu. Kuda sudah dijual oleh bapak sebulan yang lalu demi membeli obat untuk ibu serta membayar dukun tradisional. “Rumah sakit bukanlah rumah kesehatan yang menjanjikan kesembuhan. Rumah dukun adalah rumah tuhan kedua,” kata ibu di suatu hari.

Sesampainya di kota

Saya coba mengingat kembali segala cerita yang pernah diceritakan oleh bapak dan nenek. Ibu pergi ke kota sebelum saya pandai menyebut nama Budi dengan benar. Menjelang terima rapor, ibu pergi ke kota. Saya tidak tahu apa-apa tentang kota. Mungkin, waktu itu, saya berpikir bahwa kota adalah rumah bagi segala duka melepas penat dan tangis. Iya, waktu itu. Waktu di mana saya masih polos. Polosnya saya pada waktu itu adalah sering berjalan telanjang. Karena saya berharap ibu akan datang mengenakan pakaian untuk saya. Ternyata tidak. Tidak sama sekali. Apakah ibu terlalu nyaman di kota? Apakah ada sesuatu yang membuat ibu betah di kota? Di kampung, saya bertanya tentang ibu dan kota. Apakah di kota, ibu bertanya tentang saya dan kampung? Ayah dan nenek, pasti bertanya tentang keadaan ibu. Saya memikirkan apa bentuk pertanyaan yang sering ibu tanyakan. Apakah ibu bertanya tentang orang-orang di kampung ini? Kampung yang pernah menjadikan ibu besar. Kampung yang pernah membuat ibu mengenal apa itu kota. Kampung yang menyimpan segala kenangan masa kecil ibu.

Semakin lama-semakin ke sini, ibu tak ada kabar lagi. Bapak telah tiada. Nenek juga telah tiada jauh sebelum ayah tiada. Ibu sendirian di sana. Di antara orang-orang asing. Orang-orang yang tak pernah ada di masa kecil ibu. Orang yang datang dari masa depan dengan sesuatu yang, saya yakin bisa membuat ibu tak betah di sana. Dan, saya di kampung semakin kesepian.

Di mana letak kota ibu tinggal?

Saya menutup cerita ini dengan pertanyaan itu. Semoga ibu segera mengirim surat untuk saya dan saya segera menemuinya sebelum ibu menemui saya di kampung. Agar saya tahu bagaimana rasanya hidup dengan ibu di kota.

Maumere, 2019

Fian N, lahir di bulan Desember. Menerbitkan beberapa buku puisi sejak tahun 2019 sampai tahun 2025. Buku terbarunya adalah Jangan Baca Buku Ini Jika Sudah Bahagia (Detak Pustaka, 2025). Sejak tahun 2020 sampai sekarang dipercayakan menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile.

 

 

[1] Bhabhu mamu adalah jenis makanan tradisional khas dari kabupaten Nagekeo yang dibuat dari jagung, kacang, dan ubi-ubian serta ditambah dengan santan kelapa.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Bruno Rey Pantola

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 463
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

  • Malam Apresiasi Kotagoa Diamond Competition: Merayakan Prestasi, Bakat, dan Semangat Kebersamaan Menuju Intan SMPSK Kotagoa Boawae

    Malam Apresiasi Kotagoa Diamond Competition: Merayakan Prestasi, Bakat, dan Semangat Kebersamaan Menuju Intan SMPSK Kotagoa Boawae

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 220
    • 1Komentar

    SMPSK Kotagoa Boawae – 18 Mei 2026 diguyur hujan tanpa henti. Pada kesempatan yang sama akan dilangsungkan lomba Solo Vokal dan Paduan Suara serta membaca hasil kejuaraan lomba yang sudah dilaksanakan pada minggu-minggu sebelumnya. Para peserta pun berdatangan di tengah hujan yang rintik-rintik manja. Ada pun orang tua juga ikut menyaksikan malam penuh rasa penasaran […]

  • Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 257
    • 2Komentar

    “Sekarang, kepalanya sudah pergi.” Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh. “Sebentar lagi, Sempati […]

  • 333 Calon Siswa Baru Resmi Ikuti MPLS Ramah Anak, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae: “Kalian adalah Angkatan Bersejarah”

    333 Calon Siswa Baru Resmi Ikuti MPLS Ramah Anak, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae: “Kalian adalah Angkatan Bersejarah”

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Boawae, 14 Juli 2026 – Sebanyak 333 calon peserta didik baru resmi mengikuti Apel Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Anak Tahun Pelajaran 2026/2027 di SMPSK Kotagoa Boawae, Selasa (14/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi momen istimewa karena para peserta didik baru merupakan Angkatan ke-75, bertepatan dengan perayaan Pesta Intan (75 Tahun) SMPSK Kotagoa Boawae yang […]

  • BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Pater Willy Pala
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Willy Pala Pagi ini, 9 Juli, alarm clock saya berbunyi. Saya bangun seperti biasa. Sebelum masuk sakristi untuk siap misa pagi, saya membuka WhatsApp. Ada satu pesan dari Pater Kimy sejak tadi malam, sekitar pukul sebelas lebih. Pesannya sangat singkat. “Malam nduyo, Br. Leko meninggal.” Saya kaget dan terdiam beberapa saat. Rupanya tadi […]

  • Bambu Masuk Sekolah: Cara Kreatif Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Rayakan Hari Anak Nasional di Wolowea photo_camera 1

    Bambu Masuk Sekolah: Cara Kreatif Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Rayakan Hari Anak Nasional di Wolowea

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 58
    • 0Komentar

    Wolowea, 23 Juli 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) menyelenggarakan Workshop Bamboo Go To School di SDK Bokogo, Desa Wolowea, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang memadukan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan budaya lokal dengan melibatkan anak-anak, guru, orang tua, serta Pemerintah Desa Wolowea. […]

expand_less