Breaking News
light_mode
Trending Tags

BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

  • account_circle Pater Willy Pala
  • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
  • visibility 83
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Pater Willy Pala

Pagi ini, 9 Juli, alarm clock saya berbunyi. Saya bangun seperti biasa. Sebelum masuk sakristi untuk siap misa pagi, saya membuka WhatsApp. Ada satu pesan dari Pater Kimy sejak tadi malam, sekitar pukul sebelas lebih. Pesannya sangat singkat.
“Malam nduyo, Br. Leko meninggal.”

Saya kaget dan terdiam beberapa saat. Rupanya tadi malam saya sudah tidur, jadi baru membaca kabar itu pagi ini.

Tidak lama kemudian saya membuka grup Redemptoris. Di sana sudah ada pesan dari Pater Doni Kleden, CSsR.

“Para konfrater sekalian, berita duka buat kita semua. Bruder Leko baru saja meninggal. Mohon doa kita semua untuk keselamatan jiwanya.”

Rasanya hati langsung berat dengar berita begini di pagi hari. Ya, kita tidak menghendaki interupsi pagi seperti ini , tapi itu terjadi.

Nah, pikiran saya langsung melayang pada perjumpaan terakhir dengan Bruder Leko pada bulan Maret lalu. Wajahnya tetap seperti yang saya kenal selama ini: sederhana, tenang, murah senyum, dan selalu siap membantu siapa saja.

Nama lengkapnya Bruder Hendrikus Johanes Ronaldus Leko Waso, CSsR. Teman -teman sekolahnya mengenal dia sebagai Herry. Namun bagi kami, para konfraternya, ia cukup dipanggil dengan akrab, Bruder Leko.

Kalau orang hanya mengenalnya beberapa tahun terakhir, mungkin mereka tidak pernah membayangkan jalan hidup yang pernah ia lalui. Kisah hidupnya bukan kisah yang lurus dan mulus. Justru penuh tikungan tajam, jatuh bangun, luka, air mata, dan akhirnya dipenuhi oleh rahmat Tuhan.

Waktu muda, Bruder Leko adalah anak yang berbakat. Ia lulus dari Seminari Menengah Mertoyudan pada tahun 1987. Selain pandai bermain musik, ia juga jago bermain sepak bola. Di seminari, ia menjadi salah satu pemain andalan tim IFO (In Finem Omnia). Teman-temannya mengenalnya sebagai pribadi yang aktif dan penuh semangat. Itu kesaksian Pak Leo di Paroki Cijantung.

Sesudah tamat seminari, ia melamar menjadi calon imam Keuskupan Agung Jakarta. Ia termasuk angkatan pertama yang menjalani Tahun Orientasi Rohani di Wisma Puruhita, kemudian melanjutkan studi filsafat di STF Driyarkara hingga selesai.

Semua tampak berjalan baik.
Namun hidup tidak selalu mengikuti rencana manusia.

Ketika itu keluarganya sedang mengalami luka yang sangat dalam. Ayahnya meninggalkan rumah. Sebagai anak sulung, ia merasa bertanggung jawab terhadap ibu dan adik-adiknya. Ia berusaha mencari ayahnya, berharap dapat menyatukan kembali keluarganya.

Namun pencarian itu justru membawanya ke jalan yang sama sekali berbeda.

Ia masuk ke dunia jalanan. Hidupnya keras. Ia pernah menjadi debt collector, hidup di tengah kelompok-kelompok jalanan, memakai narkoba, terlibat dalam kekerasan, bahkan sempat dipenjara. Tangannya pernah patah. Ia pernah berkelahi dengan polisi. Hidupnya benar-benar berada di titik yang sangat gelap.

Kalau orang melihat hidupnya saat itu, mungkin banyak yang akan berkata, “Orang seperti ini sudah habis.”

Tetapi Tuhan rupanya tidak pernah berkata demikian. Rahmat Tuhan mulai bekerja, bukan lewat peristiwa yang spektakuler, melainkan melalui pengalaman-pengalaman hidup yang sangat manusiawi. Ibunya meninggal dunia.

Beberapa tahun kemudian, ayah yang telah lama meninggalkan keluarga tiba-tiba pulang dalam keadaan stroke.

Saat itu Bruder Leko masih menyimpan luka yang sangat dalam. Ia marah kepada ayahnya. Bertahun-tahun ia merasa ditinggalkan. Bahkan pada awalnya ia tidak mau merawat ayahnya.

Namun kasih pelan-pelan mengalahkan kemarahan.

Hatinya mulai luluh. Ia memilih berhenti dari pekerjaannya dan merawat ayahnya dengan penuh kasih sampai sang ayah meninggal dunia pada tahun 2007.

Di sanalah Tuhan mulai menyembuhkan luka yang selama bertahun-tahun ia simpan.

Setiap pagi ia kembali mengikuti Misa. Ia mulai rajin membaca Kitab Suci. Doa yang sempat hilang perlahan menjadi bagian dari hidupnya lagi.

Lalu Tuhan mengirimkan seseorang.

Suatu hari P. Mateus Mali, CSsR, teman lamanya di Seminari Mertoyudan, datang mengunjungi keluarganya untuk mendoakan ayahnya yang sedang sakit. Sekilas itu hanyalah kunjungan biasa.

Tetapi ternyata dari perjumpaan sederhana itulah Tuhan membuka kembali jalan panggilannya.

Bruder Leko kembali berani bermimpi mengikuti Kristus.

Pada tahun 2011 ia masuk novisiat Redemptoris. Setahun kemudian ia mengikrarkan kaul pertama sebagai Bruder. Dan pada tahun 2017 ia mengikrarkan kaul kekal.

Banyak orang menyebut kisah hidupnya sebagai kisah Saulus yang menjadi Paulus.

Saya kira memang demikian.
Bukan karena hidupnya tanpa dosa atau tanpa kesalahan, melainkan karena rahmat Tuhan ternyata jauh lebih besar daripada masa lalunya.

Sejak menjadi Bruder Redemptoris, ia mengabdikan hidupnya di KPA Ivan Ziatyk, Weetebula. Selama bertahun-tahun ia mendampingi para calon Redemptoris dari berbagai daerah. Sudah banyak angkatan yang dibimbingnya.

Sungguh menarik melihat cara Tuhan bekerja. Ia memakai seseorang yang pernah jatuh begitu dalam untuk membimbing orang lain agar tidak jatuh. Tuhan tidak selalu memilih orang yang paling sempurna. Ia justru sering memakai orang yang pernah hancur, dipulihkan, lalu diutus menjadi tanda harapan bagi sesamanya.

Namun beberapa tahun terakhir, perjalanan hidup Bruder Leko kembali memasuki babak yang berat. Ia terserang stroke yang membuat kondisi fisiknya terus menurun. Lama-kelamaan ia harus menjalani hidup di atas tempat tidur. Bahkan, ia tidak lagi dapat berbicara seperti dahulu.

Meski demikian, semangatnya tidak pernah padam.

Kalau ingin menyampaikan sesuatu, ia akan menuliskannya di secarik kertas atau di telepon genggamnya. Lewat tulisan-tulisan singkat itulah ia tetap berkomunikasi dengan para konfrater, keluarga, dan siapa saja yang datang menjenguknya.

Tubuhnya memang melemah, tetapi imannya tetap berbicara.

Bagi banyak orang yang mengunjunginya, Bruder Leko sedang berkhotbah tanpa mimbar. Ia mengajarkan bahwa mengikut Tuhan bukan hanya ketika kita sehat, kuat, dan penuh tenaga. Mengikut Tuhan juga berarti tetap setia ketika tubuh tidak lagi mampu berbuat banyak, ketika kata-kata tak lagi keluar dari mulut, dan ketika yang tersisa hanyalah penyerahan diri sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan.

Pagi ini Bruder Leko telah menyelesaikan perlombaannya.

Ia telah pulang kepada Tuhan yang sejak awal tidak pernah berhenti mencarinya.

Dan mungkin itulah warisan terindah yang ia tinggalkan bagi kita semua: jangan pernah menutup pintu harapan bagi siapa pun. Selama seseorang masih mau membuka hati kepada Tuhan, selalu ada kesempatan untuk memulai lagi. Tidak ada hidup yang terlalu rusak untuk dipulihkan. Tidak ada masa lalu yang terlalu kelam untuk ditebus.

Rahmat Tuhan selalu lebih besar daripada dosa manusia.

Rahmat Tuhan selalu menemukan jalan pulang.

Selamat jalan, Bruder Leko.
Terima kasih karena hidupmu telah menjadi kesaksian bahwa masa lalu bukanlah akhir dari sebuah kisah. Kata terakhir selalu milik Tuhan. Dan kata terakhir itu adalah kasih.

Beristirahat dalam damai  bersama Sang Penebusmu, Bruder. Doakan kami selalu. Kami mengiringimu dengan doa.

  • Penulis: Pater Willy Pala
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: ia yang Mengajarkanku Berdiri Sendiri

    Sudut Pandang: ia yang Mengajarkanku Berdiri Sendiri

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Angeliq Fransisca Juanna
    • visibility 160
    • 2Komentar

    Oleh: Angeliq Fransisca Juanna Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Perempuan yang Menjadi Rumah Bagi sebagian orang, keluarga mungkin selalu berarti ayah, ibu, dan anak yang tinggal dalam satu rumah. Namun, kehidupan tidak selalu berjalan dengan bentuk yang sama. Ada kalanya seseorang tumbuh dan menemukan sosok keluarga dalam diri orang lain. Bagi saya, sosok itu adalah tante […]

  • Sudut Pandang: Di Balik Deru Motor Pagi, Ada Lelaki yang Menitipkan Mimpi

    Sudut Pandang: Di Balik Deru Motor Pagi, Ada Lelaki yang Menitipkan Mimpi

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Linus Cahya Firmandika Damaris
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Oleh: Linus Cahya Firmandika Damaris Catatan tentang seorang guru yang pulang sebagai ayah Setiap pagi, sebelum rumah mulai ramai dengan aktivitas, biasanya saya sudah mendengar suara motor ayah. Suara itu sudah menjadi bagian dari keseharian saya sejak kecil. Setelah bersiap, ayah akan berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motornya. Di sekolah, ia menjalankan tugasnya sebagai seorang […]

  • Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan) Mama Yosinta itu perempuan yang berdiri tegak menolak Proyek Strategis Nasional. Berkali- kali ia menempuh jarak ribuan kilometer ke Jakarta. Ia masuk ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi bukan untuk dirinya, melainkan untuk tanah adatnya. Di sana ia bicara dengan kalimat yang tidak ragu: PSN mencabut hidup dari hutan, sagu, […]

  • SKENARIO PARIPURNA OLIGARKI: Menanti Pahlawan Keadilan di Balik Kriminalisasi Nadiem Makarim

    SKENARIO PARIPURNA OLIGARKI: Menanti Pahlawan Keadilan di Balik Kriminalisasi Nadiem Makarim

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Mohammad Sjafie Tama
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Oleh: Mohammad Sjafie Tama Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Ibarat Tubuh, Indonesia sedang disayat-sayat oleh pedang hukum milik kuasa modal. Baru saja dipertontonkan kepada kita, ruang sidang yang seharusnya menjadi altar suci bagi keadilan kini berubah menjadi ruang jagal bagi para inovator dan pengabdi. Tuntutan 18 tahun penjara serta denda Rp 5,6 […]

  • PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 317
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Selasa Paskah ke-6 – 12 Mei 2026 – Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur Inspirasi: Kis 16:22-34, Yoh 16:5-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kali ini Paulus dan Silas menunjukkan kualitas sebagai orang beriman dan pengikut Kristus. Keduanya di penjara tetapi hati mereka selalu merdeka dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Anggota tubuh […]

  • Sudut Pandang: Di Balik Manisnya Gula, Ada Bayang-bayang Kekuasaan

    Sudut Pandang: Di Balik Manisnya Gula, Ada Bayang-bayang Kekuasaan

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Irenius Arya Pandya Cetta
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Oleh: Irenius Arya Pandya Cetta Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Wajah Yogyakarta di Persimpangan Zaman   Ketika Yogyakarta Mulai Berubah Yogyakarta hari ini dikenal sebagai kota budaya, kota pelajar, dan salah satu pusat sejarah Jawa. Di balik keraton, jalan-jalan yang ramai, serta kehidupan masyarakat yang terus bergerak, tersimpan sebuah masa ketika kota ini berubah […]

expand_less