Breaking News
light_mode
Trending Tags

BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

  • account_circle Pater Willy Pala
  • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
  • visibility 53
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Pater Willy Pala

Pagi ini, 9 Juli, alarm clock saya berbunyi. Saya bangun seperti biasa. Sebelum masuk sakristi untuk siap misa pagi, saya membuka WhatsApp. Ada satu pesan dari Pater Kimy sejak tadi malam, sekitar pukul sebelas lebih. Pesannya sangat singkat.
“Malam nduyo, Br. Leko meninggal.”

Saya kaget dan terdiam beberapa saat. Rupanya tadi malam saya sudah tidur, jadi baru membaca kabar itu pagi ini.

Tidak lama kemudian saya membuka grup Redemptoris. Di sana sudah ada pesan dari Pater Doni Kleden, CSsR.

“Para konfrater sekalian, berita duka buat kita semua. Bruder Leko baru saja meninggal. Mohon doa kita semua untuk keselamatan jiwanya.”

Rasanya hati langsung berat dengar berita begini di pagi hari. Ya, kita tidak menghendaki interupsi pagi seperti ini , tapi itu terjadi.

Nah, pikiran saya langsung melayang pada perjumpaan terakhir dengan Bruder Leko pada bulan Maret lalu. Wajahnya tetap seperti yang saya kenal selama ini: sederhana, tenang, murah senyum, dan selalu siap membantu siapa saja.

Nama lengkapnya Bruder Hendrikus Johanes Ronaldus Leko Waso, CSsR. Teman -teman sekolahnya mengenal dia sebagai Herry. Namun bagi kami, para konfraternya, ia cukup dipanggil dengan akrab, Bruder Leko.

Kalau orang hanya mengenalnya beberapa tahun terakhir, mungkin mereka tidak pernah membayangkan jalan hidup yang pernah ia lalui. Kisah hidupnya bukan kisah yang lurus dan mulus. Justru penuh tikungan tajam, jatuh bangun, luka, air mata, dan akhirnya dipenuhi oleh rahmat Tuhan.

Waktu muda, Bruder Leko adalah anak yang berbakat. Ia lulus dari Seminari Menengah Mertoyudan pada tahun 1987. Selain pandai bermain musik, ia juga jago bermain sepak bola. Di seminari, ia menjadi salah satu pemain andalan tim IFO (In Finem Omnia). Teman-temannya mengenalnya sebagai pribadi yang aktif dan penuh semangat. Itu kesaksian Pak Leo di Paroki Cijantung.

Sesudah tamat seminari, ia melamar menjadi calon imam Keuskupan Agung Jakarta. Ia termasuk angkatan pertama yang menjalani Tahun Orientasi Rohani di Wisma Puruhita, kemudian melanjutkan studi filsafat di STF Driyarkara hingga selesai.

Semua tampak berjalan baik.
Namun hidup tidak selalu mengikuti rencana manusia.

Ketika itu keluarganya sedang mengalami luka yang sangat dalam. Ayahnya meninggalkan rumah. Sebagai anak sulung, ia merasa bertanggung jawab terhadap ibu dan adik-adiknya. Ia berusaha mencari ayahnya, berharap dapat menyatukan kembali keluarganya.

Namun pencarian itu justru membawanya ke jalan yang sama sekali berbeda.

Ia masuk ke dunia jalanan. Hidupnya keras. Ia pernah menjadi debt collector, hidup di tengah kelompok-kelompok jalanan, memakai narkoba, terlibat dalam kekerasan, bahkan sempat dipenjara. Tangannya pernah patah. Ia pernah berkelahi dengan polisi. Hidupnya benar-benar berada di titik yang sangat gelap.

Kalau orang melihat hidupnya saat itu, mungkin banyak yang akan berkata, “Orang seperti ini sudah habis.”

Tetapi Tuhan rupanya tidak pernah berkata demikian. Rahmat Tuhan mulai bekerja, bukan lewat peristiwa yang spektakuler, melainkan melalui pengalaman-pengalaman hidup yang sangat manusiawi. Ibunya meninggal dunia.

Beberapa tahun kemudian, ayah yang telah lama meninggalkan keluarga tiba-tiba pulang dalam keadaan stroke.

Saat itu Bruder Leko masih menyimpan luka yang sangat dalam. Ia marah kepada ayahnya. Bertahun-tahun ia merasa ditinggalkan. Bahkan pada awalnya ia tidak mau merawat ayahnya.

Namun kasih pelan-pelan mengalahkan kemarahan.

Hatinya mulai luluh. Ia memilih berhenti dari pekerjaannya dan merawat ayahnya dengan penuh kasih sampai sang ayah meninggal dunia pada tahun 2007.

Di sanalah Tuhan mulai menyembuhkan luka yang selama bertahun-tahun ia simpan.

Setiap pagi ia kembali mengikuti Misa. Ia mulai rajin membaca Kitab Suci. Doa yang sempat hilang perlahan menjadi bagian dari hidupnya lagi.

Lalu Tuhan mengirimkan seseorang.

Suatu hari P. Mateus Mali, CSsR, teman lamanya di Seminari Mertoyudan, datang mengunjungi keluarganya untuk mendoakan ayahnya yang sedang sakit. Sekilas itu hanyalah kunjungan biasa.

Tetapi ternyata dari perjumpaan sederhana itulah Tuhan membuka kembali jalan panggilannya.

Bruder Leko kembali berani bermimpi mengikuti Kristus.

Pada tahun 2011 ia masuk novisiat Redemptoris. Setahun kemudian ia mengikrarkan kaul pertama sebagai Bruder. Dan pada tahun 2017 ia mengikrarkan kaul kekal.

Banyak orang menyebut kisah hidupnya sebagai kisah Saulus yang menjadi Paulus.

Saya kira memang demikian.
Bukan karena hidupnya tanpa dosa atau tanpa kesalahan, melainkan karena rahmat Tuhan ternyata jauh lebih besar daripada masa lalunya.

Sejak menjadi Bruder Redemptoris, ia mengabdikan hidupnya di KPA Ivan Ziatyk, Weetebula. Selama bertahun-tahun ia mendampingi para calon Redemptoris dari berbagai daerah. Sudah banyak angkatan yang dibimbingnya.

Sungguh menarik melihat cara Tuhan bekerja. Ia memakai seseorang yang pernah jatuh begitu dalam untuk membimbing orang lain agar tidak jatuh. Tuhan tidak selalu memilih orang yang paling sempurna. Ia justru sering memakai orang yang pernah hancur, dipulihkan, lalu diutus menjadi tanda harapan bagi sesamanya.

Namun beberapa tahun terakhir, perjalanan hidup Bruder Leko kembali memasuki babak yang berat. Ia terserang stroke yang membuat kondisi fisiknya terus menurun. Lama-kelamaan ia harus menjalani hidup di atas tempat tidur. Bahkan, ia tidak lagi dapat berbicara seperti dahulu.

Meski demikian, semangatnya tidak pernah padam.

Kalau ingin menyampaikan sesuatu, ia akan menuliskannya di secarik kertas atau di telepon genggamnya. Lewat tulisan-tulisan singkat itulah ia tetap berkomunikasi dengan para konfrater, keluarga, dan siapa saja yang datang menjenguknya.

Tubuhnya memang melemah, tetapi imannya tetap berbicara.

Bagi banyak orang yang mengunjunginya, Bruder Leko sedang berkhotbah tanpa mimbar. Ia mengajarkan bahwa mengikut Tuhan bukan hanya ketika kita sehat, kuat, dan penuh tenaga. Mengikut Tuhan juga berarti tetap setia ketika tubuh tidak lagi mampu berbuat banyak, ketika kata-kata tak lagi keluar dari mulut, dan ketika yang tersisa hanyalah penyerahan diri sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan.

Pagi ini Bruder Leko telah menyelesaikan perlombaannya.

Ia telah pulang kepada Tuhan yang sejak awal tidak pernah berhenti mencarinya.

Dan mungkin itulah warisan terindah yang ia tinggalkan bagi kita semua: jangan pernah menutup pintu harapan bagi siapa pun. Selama seseorang masih mau membuka hati kepada Tuhan, selalu ada kesempatan untuk memulai lagi. Tidak ada hidup yang terlalu rusak untuk dipulihkan. Tidak ada masa lalu yang terlalu kelam untuk ditebus.

Rahmat Tuhan selalu lebih besar daripada dosa manusia.

Rahmat Tuhan selalu menemukan jalan pulang.

Selamat jalan, Bruder Leko.
Terima kasih karena hidupmu telah menjadi kesaksian bahwa masa lalu bukanlah akhir dari sebuah kisah. Kata terakhir selalu milik Tuhan. Dan kata terakhir itu adalah kasih.

Beristirahat dalam damai  bersama Sang Penebusmu, Bruder. Doakan kami selalu. Kami mengiringimu dengan doa.

  • Penulis: Pater Willy Pala
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun 6:17 Play Button

    Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 299
    • 0Komentar

    Tiga tahun, bagi sebagian orang, mungkin hanya sepotong waktu yang lewat begitu saja dalam arus kehidupan. Namun bagi Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae, tiga tahun adalah kisah panjang yang penuh warna, tentang tawa yang tumbuh di lorong-lorong sekolah, tentang peluh yang jatuh di lapangan, tentang mimpi yang perlahan menemukan bentuknya. Waktu memang berjalan cepat, apalagi […]

  • Ruang Rasa: Menikah Itu Indah. Sampai Tamu Pulang dan Lampu Pelaminan Dipadamkan.

    Ruang Rasa: Menikah Itu Indah. Sampai Tamu Pulang dan Lampu Pelaminan Dipadamkan.

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Ada satu pertanyaan yang usianya mungkin lebih tua daripada umur sebagian besar jomlo di negeri ini. “Kapan nikah?” Pertanyaan itu aneh. Ia terdengar seperti doa, tetapi sering kali terasa seperti ancaman. Diucapkan sambil tersenyum, tetapi meninggalkan perasaan seperti baru saja gagal memenuhi target hidup yang ditentukan orang lain. Yang lebih lucu lagi, sebagian orang yang […]

  • Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 193
    • 0Komentar

    “Kamu galak seperti macan betina / Barangkali kamu akan gila / Tapi tak akan mati.” Sepenggal dialog tersebut menjadi pembuka yang menggugah dari pertunjukan Maria Zaitun yang dibawakan oleh Bengkel Seni Milenial (BSM), sebuah kelompok teater dari SMK Sura Dewa. Kelompok kecil ini secara konsisten menghidupkan ruang-ruang seni pertunjukan yang kerap sepi apresiasi. Namun, teater […]

  • PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 205
    • 4Komentar

    PERMEN edisi Kamis Paskah ke-5 – 07 MEI 2026 – Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi Inspirasi: Kis 15:7-21 ; Yohanes 15:9-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kurang baik apa lagi Tuhan kita, ajak kita untuk tinggal dalam kasih-Nya, supaya sukacita kita menjadi penuh. Yah, kasih memang menjadi ukuran sejati kematangan rohani. Kasih […]

  • Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan. Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia. Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai. Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang […]

  • Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 216
    • 2Komentar

    ini puisi apa?  ibu bangun tidur. bapak ke sawah. adik menangis cari bapak. saya cari batang pisang. pagi, selalu sibuk di setiap detik kami. ada rindu-dendam yang tak tuntas pada bunga mimpi. rumah yang lain, ayam-ayam berebut makanan. adik ikut tertawa. saya sibuk mengeja suara babi kelaparan. lalu, lewatlah segerombolan masa lalu di kepala saya. […]

expand_less