Prihartini
- account_circle Alvianus Tay
- calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
- visibility 292
- comment 2 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kunang-kunang beterbangan kian kemari, sesekali hinggap di meja makan tua dari kayu mahoni, sesekali mendarat di kepala Prihartini yang tengah tenggelam dalam lamunan. Kesedihan terukir jelas pada wajah mudanya. Matanya merah, serupa tumpahan air sirih pinang di pelataran teras. Tak ada hujan air mata, hanya perih yang melumat habis kesadarannya. Ia seolah meluruh, tak berdaya di hadapan bayang-bayang tahun lalu, masa di mana ia bak anak kecil yang kehilangan arah namun memahami satu tujuan mutlak: luka atau mati. Ia terkapar lagi dalam ingatan masa itu, masa di mana darah adalah alat tukar dan kehilangan adalah garis finis.
Waktu berderap cepat, namun kenangan lukanya memilih menetap. Ia terhempas ke dasar rasa yang paling sunyi. Setiap kali kisah silam menyilau dalam ingatan, dadanya menyempit; sesak dan perih. Situasi ini telah menjadi bagian dari denyut hidupnya. Ia sadar tak bisa lari, maka ia memilih berpasrah. Namun, pasrahnya justru sering melahirkan luka baru, luka atas kenangan yang membatu, yang enggan tanggal, yang luput dilepaskan. Hanya diam yang menjadi saksi bisu atas duka nestapa itu.
Banyak mulut menasihatinya untuk merelakan masa lalu. Ia hanya mengangguk, terkadang menyunggingkan senyum getir yang dipaksakan, semuanya demi membungkus luka agar tak terlihat. Ia tahu persis siapa dirinya. “Orang lain begitu mudah mengeja kata melepaskan, tanpa pernah tahu rasanya menelan duri kesakitan,” gumamnya dalam hati setiap kali malam menjemputnya pulang ke pelukan mimpi buruk.
Pernah suatu ketika, ia berbincang dengan pak desa, tetangga sebelah rumahnya. Pria itu tampak penuh perhatian, sering menawarkan makanan kiriman luar kota, bahkan mengajaknya tinggal bersama. Maklum, Prihartini adalah jiwa yang sebatang kara. Ayah dan ibunya dirampas maut saat ia masih sangat belia. Ia belum mengerti apa-apa kala itu, hanya mampu menangis, berharap dekapan orang tuanya datang menenangkan. Namun, tangisannya hanyalah kekosongan, sekosong tatapan matanya setiap malam di sudut jendela, tempat mentari biasa datang menjenguknya. Ia kehilangan pelindung saat sedang rapuh-rapuhnya. Ketika ayah dan ibunya dihabisi oleh dua bayangan tak dikenal pada malam kelam itu, ia ada di sana. Mematung. Ia terlalu kecil untuk sebuah tragedi sebesar itu.
Konon, menurut desas-desus tetangga, orang tuanya dibunuh secara keji. Tubuh mereka diseret dan dibuang ke dalam sumur tua di belakang rumah. Hingga detik ini, jejak sang jagal tak pernah terendus. Entah mereka memiliki perisai kuat di birokrasi, atau para penegak hukum yang enggan bergerak tanpa pelicin uang. Prihartini kembali terdiam, bergelut dengan peluh rindu. Ia rindu menatap wajah ayahnya yang katanya gagah dan elegan. Ia ingin melihat paras ibunya yang konon seteduh rimbun pepohonan di perbukitan. Namun, rindunya adalah kesia-siaan yang tak bertuan. Hanya diam dan berharap pada ruang hampa.
“Prihartini, saat ayah dan ibumu dibantai, aku berusaha menyelamatkanmu. Aku memohon agar nyawamu diampuni. Menatap kilat mata mereka yang penuh amarah, aku mendekapmu erat, berharap mereka luluh. Wajah mereka tak terlihat, tertutup topeng hitam,” kenang Ibu Mery, istri Pak Desa, suatu sore. Wanita itu melempar senyum teduh yang menenangkan.
“Terima kasih, Bu, atas pertolongan itu. Tak terbayangkan jika aku tak selamat. Mungkin aku tak akan pernah duduk di sini,” jawab Prihartini singkat. “Namun, mungkin akan lebih indah jika aku ikut pergi bersama mereka.” Belum sempat bibirnya tuntas mengeja pedih, air mata rindu perlahan membasahi pipinya yang tirus. Lingkaran hitam di kelopak matanya terlihat kontras, seolah usianya bukan dua puluh, melainkan empat puluh tahun. Banyak yang bertanya tentang lingkaran hitam itu, namun ia hanya membisu. Diamnya adalah sebuah kegaduhan yang tertahan. Ia adalah kapal karam di tepian pantai yang sunyi. Ia mencari arah, namun bayang-bayang perih masa silam selalu membentang menghalangi jalan.
Setelah diselamatkan, ia sempat tinggal di panti asuhan di bawah asuhan suster Cinta Kasih. Di sana, ia belajar tentang kebesaran hati. “Memaafkan tanpa mencintai adalah kesia-siaan, dan mencintai tanpa memaafkan adalah kemustahilan,” pesan suster yang membuatnya tetap tegar.
Di panti, Prihartini tumbuh menjadi gadis kreatif yang cepat belajar. Meski pintar, ia tetap menjadi sosok yang sunyi, diam-diam ubinya berisi makna kehidupan. Pada usia sembilan belas tahun, ia pamit untuk bertarung dengan dunia luar, ingin lepas dari rutinitas panti dan menjadi manusia baru.
***
“Ah, ternyata dunia luar tidak seramah dugaanku,” gumamnya pelan sembari menjahit pakaian milik pak desa. Keterampilan menjahit yang ia asah di panti menjadi penyambung hidupnya. Dari upah itulah ia menyewa rumah kecil, tepat di seberang “istana” megah pak desa yang kini dijaga pengawal berwajah dingin.
Kehidupan Pak Desa bergelimang kemewahan. Sebagai tetangga, Prihartini menyaksikan bagaimana orang-orang “besar” hilir mudik di sana, mereka yang saking tingginya hingga lupa menunduk pada rakyat kecil. Itulah realitas yang ia telan. Mengeluh terasa konyol, melawan terasa bunuh diri. Diam menjadi satu-satunya alat pertahanan hidup yang paling logis.
Prihartini sering diundang makan malam, namun ia lebih sering menolak dengan alasan kesibukan. Jika terpaksa datang, ia tampil sangat bersahaja, kontras dengan kemilau keluarga pak desa. Ia menghormati pak desa sebagai pemimpin, meski tahu pria itu memerintah dengan tangan besi. Banyak hak warga yang diselewengkan menjadi milik pribadi. Di desa itu, pak desa adalah hukum; kata-katanya adalah titah, dan Tuhan seolah hanya menjadi catatan kaki setelahnya. Warga patuh karena takut, memilih aman di bawah bayang-bayang luka.
“Prihartini, apakah bajuku sudah selesai?” tanya pak desa suatu hari dengan nada yang anehnya selalu rendah. Prihartini merasa ada keganjilan. Apakah penguasa ini takut padaku? Pikirnya. Ah, tidak mungkin. Ia teringat petuah di sebuah poadcast orang kecil jangan sekali-kali menantang raksasa.
Siang itu, terik matahari membakar tanpa ampun. Tanah pecah berkerak, pori-porinya menguapkan aroma kematian. Langkahnya tertatih menuju tempat kerja. Di sana, selain menjahit kain, ia mencoba merajut kembali serpihan lukanya, mencoba menjahit “baju baru” untuk perjamuan nasib yang lebih baik.
Sepulang kerja, langkahnya terhenti di sebuah rumah reot. Di sana, seorang janda tua tengah meratap dalam sunyi. “Ada apa, Bu?” tanya Prihartini. Tak ada jawaban, hanya isak yang menyesakkan. Prihartini paham, terkadang duka tak butuh kata-kata untuk dijelaskan.
***
Keesokan harinya di Balai Desa, Pak Desa berseru lantang, “Tanah-tanah yang tidak digarap kini diambil alih pemerintah! Termasuk milik janda tua itu. Siapa yang berani menolak, angkat tangan!
Darah Prihartini mendidih. Inilah pertama kalinya marahnya meledak melampaui rasa takutnya. Dari tengah kerumunan, ia mengangkat tangan. Tangan pertama yang berani menyangkal dalam sejarah kediktatoran pak desa. “Mati, dia pasti mati,” bisik warga yang didera ketakutan.
Kemarahan pak desa adalah vonis. Tak lama setelah itu, Prihartini ditemukan kaku di meja jahitnya. Pakaian pak desa yang tengah ia kerjakan kini basah, menjadi alas bagi darah yang mengalir dari kepalanya yang ditembus timah panas.
Kebenaran akhirnya terkuak dari sisa-sisa napas sejarah: pembunuh ayahnya adalah orang yang sama yang merenggut nyawanya, pak desa dan istrinya. Ayah Prihartini dulu adalah kepala desa yang dicintai, dibunuh karena dianggap penghalang kekuasaan. Kini, sang putri menyusul demi tegaknya martabat.
Nama mereka kini abadi. “Badan Tiada, Jiwa Kekal Mekar,” begitulah prasasti yang terpahat di gerbang pemakaman. Prihartini, nama yang diberikan suster, kini bukan lagi simbol kesedihan, melainkan monumen kemenangan yang lahir dari luka dan berakhir pada keabadian.
2026
Alvianus Tay, seorang mahasiswa teologi yang saat ini sedang menempuh studi di Divine Word Seminary Tagaytay, Filipina. Sebagai seorang pelajar, saya mendedikasikan waktu saya untuk mengeksplorasi kedalaman etika sosial, hak asasi manusia, serta filosofi pelayanan. Di luar aktivitas akademik, saya adalah seorang penulis prosa dan puisi yang gemar merangkai refleksi menjadi karya tulis.
- Penulis: Alvianus Tay
- Editor: Fian N

Mantap gaskan boskuh
16 April 2026 1:14 pmTerima kasih, kaka.
17 April 2026 8:15 pm