Breaking News
light_mode
Trending Tags

Prihartini

  • account_circle Alvianus Tay
  • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
  • visibility 462
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kunang-kunang beterbangan kian kemari, sesekali hinggap di meja makan tua dari kayu mahoni, sesekali mendarat di kepala Prihartini yang tengah tenggelam dalam lamunan. Kesedihan terukir jelas pada wajah mudanya. Matanya merah, serupa tumpahan air sirih pinang di pelataran teras. Tak ada hujan air mata, hanya perih yang melumat habis kesadarannya. Ia seolah meluruh, tak berdaya di hadapan bayang-bayang tahun lalu, masa di mana ia bak anak kecil yang kehilangan arah namun memahami satu tujuan mutlak: luka atau mati. Ia terkapar lagi dalam ingatan masa itu, masa di mana darah adalah alat tukar dan kehilangan adalah garis finis.

Waktu berderap cepat, namun kenangan lukanya memilih menetap. Ia terhempas ke dasar rasa yang paling sunyi. Setiap kali kisah silam menyilau dalam ingatan, dadanya menyempit; sesak dan perih. Situasi ini telah menjadi bagian dari denyut hidupnya. Ia sadar tak bisa lari, maka ia memilih berpasrah. Namun, pasrahnya justru sering melahirkan luka baru, luka atas kenangan yang membatu, yang enggan tanggal, yang luput dilepaskan. Hanya diam yang menjadi saksi bisu atas duka nestapa itu.

Banyak mulut menasihatinya untuk merelakan masa lalu. Ia hanya mengangguk, terkadang menyunggingkan senyum getir yang dipaksakan, semuanya demi membungkus luka agar tak terlihat. Ia tahu persis siapa dirinya. “Orang lain begitu mudah mengeja kata melepaskan, tanpa pernah tahu rasanya menelan duri kesakitan,” gumamnya dalam hati setiap kali malam menjemputnya pulang ke pelukan mimpi buruk.

Pernah suatu ketika, ia berbincang dengan pak desa, tetangga sebelah rumahnya. Pria itu tampak penuh perhatian, sering menawarkan makanan kiriman luar kota, bahkan mengajaknya tinggal bersama. Maklum, Prihartini adalah jiwa yang sebatang kara. Ayah dan ibunya dirampas maut saat ia masih sangat belia. Ia belum mengerti apa-apa kala itu, hanya mampu menangis, berharap dekapan orang tuanya datang menenangkan. Namun, tangisannya hanyalah kekosongan, sekosong tatapan matanya setiap malam di sudut jendela, tempat mentari biasa datang menjenguknya. Ia kehilangan pelindung saat sedang rapuh-rapuhnya. Ketika ayah dan ibunya dihabisi oleh dua bayangan tak dikenal pada malam kelam itu, ia ada di sana. Mematung. Ia terlalu kecil untuk sebuah tragedi sebesar itu.

Konon, menurut desas-desus tetangga, orang tuanya dibunuh secara keji. Tubuh mereka diseret dan dibuang ke dalam sumur tua di belakang rumah. Hingga detik ini, jejak sang jagal tak pernah terendus. Entah mereka memiliki perisai kuat di birokrasi, atau para penegak hukum yang enggan bergerak tanpa pelicin uang. Prihartini kembali terdiam, bergelut dengan peluh rindu. Ia rindu menatap wajah ayahnya yang katanya gagah dan elegan. Ia ingin melihat paras ibunya yang konon seteduh rimbun pepohonan di perbukitan. Namun, rindunya adalah kesia-siaan yang tak bertuan. Hanya diam dan berharap pada ruang hampa.

“Prihartini, saat ayah dan ibumu dibantai, aku berusaha menyelamatkanmu. Aku memohon agar nyawamu diampuni. Menatap kilat mata mereka yang penuh amarah, aku mendekapmu erat, berharap mereka luluh. Wajah mereka tak terlihat, tertutup topeng hitam,” kenang Ibu Mery, istri Pak Desa, suatu sore. Wanita itu melempar senyum teduh yang menenangkan.

“Terima kasih, Bu, atas pertolongan itu. Tak terbayangkan jika aku tak selamat. Mungkin aku tak akan pernah duduk di sini,” jawab Prihartini singkat. “Namun, mungkin akan lebih indah jika aku ikut pergi bersama mereka.” Belum sempat bibirnya tuntas mengeja pedih, air mata rindu perlahan membasahi pipinya yang tirus. Lingkaran hitam di kelopak matanya terlihat kontras, seolah usianya bukan dua puluh, melainkan empat puluh tahun. Banyak yang bertanya tentang lingkaran hitam itu, namun ia hanya membisu. Diamnya adalah sebuah kegaduhan yang tertahan. Ia adalah kapal karam di tepian pantai yang sunyi. Ia mencari arah, namun bayang-bayang perih masa silam selalu membentang menghalangi jalan.

Setelah diselamatkan, ia sempat tinggal di panti asuhan di bawah asuhan suster Cinta Kasih. Di sana, ia belajar tentang kebesaran hati. “Memaafkan tanpa mencintai adalah kesia-siaan, dan mencintai tanpa memaafkan adalah kemustahilan,” pesan suster yang membuatnya tetap tegar.

Di panti, Prihartini tumbuh menjadi gadis kreatif yang cepat belajar. Meski pintar, ia tetap menjadi sosok yang sunyi, diam-diam ubinya berisi makna kehidupan. Pada usia sembilan belas tahun, ia pamit untuk bertarung dengan dunia luar, ingin lepas dari rutinitas panti dan menjadi manusia baru.

***

“Ah, ternyata dunia luar tidak seramah dugaanku,” gumamnya pelan sembari menjahit pakaian milik pak desa. Keterampilan menjahit yang ia asah di panti menjadi penyambung hidupnya. Dari upah itulah ia menyewa rumah kecil, tepat di seberang “istana” megah pak desa yang kini dijaga pengawal berwajah dingin.

Kehidupan Pak Desa bergelimang kemewahan. Sebagai tetangga, Prihartini menyaksikan bagaimana orang-orang “besar” hilir mudik di sana, mereka yang saking tingginya hingga lupa menunduk pada rakyat kecil. Itulah realitas yang ia telan. Mengeluh terasa konyol, melawan terasa bunuh diri. Diam menjadi satu-satunya alat pertahanan hidup yang paling logis.

Prihartini sering diundang makan malam, namun ia lebih sering menolak dengan alasan kesibukan. Jika terpaksa datang, ia tampil sangat bersahaja, kontras dengan kemilau keluarga pak desa. Ia menghormati pak desa sebagai pemimpin, meski tahu pria itu memerintah dengan tangan besi. Banyak hak warga yang diselewengkan menjadi milik pribadi. Di desa itu, pak desa adalah hukum; kata-katanya adalah titah, dan Tuhan seolah hanya menjadi catatan kaki setelahnya. Warga patuh karena takut, memilih aman di bawah bayang-bayang luka.

“Prihartini, apakah bajuku sudah selesai?” tanya pak desa suatu hari dengan nada yang anehnya selalu rendah. Prihartini merasa ada keganjilan. Apakah penguasa ini takut padaku? Pikirnya. Ah, tidak mungkin. Ia teringat petuah di sebuah poadcast orang kecil jangan sekali-kali menantang raksasa.

Siang itu, terik matahari membakar tanpa ampun. Tanah pecah berkerak, pori-porinya menguapkan aroma kematian. Langkahnya tertatih menuju tempat kerja. Di sana, selain menjahit kain, ia mencoba merajut kembali serpihan lukanya, mencoba menjahit “baju baru” untuk perjamuan nasib yang lebih baik.

Sepulang kerja, langkahnya terhenti di sebuah rumah reot. Di sana, seorang janda tua tengah meratap dalam sunyi. “Ada apa, Bu?” tanya Prihartini. Tak ada jawaban, hanya isak yang menyesakkan. Prihartini paham, terkadang duka tak butuh kata-kata untuk dijelaskan.

***

Keesokan harinya di Balai Desa, Pak Desa berseru lantang, “Tanah-tanah yang tidak digarap kini diambil alih pemerintah! Termasuk milik janda tua itu. Siapa yang berani menolak, angkat tangan!

Darah Prihartini mendidih. Inilah pertama kalinya marahnya meledak melampaui rasa takutnya. Dari tengah kerumunan, ia mengangkat tangan. Tangan pertama yang berani menyangkal dalam sejarah kediktatoran pak desa. “Mati, dia pasti mati,” bisik warga yang didera ketakutan.

Kemarahan pak desa adalah vonis. Tak lama setelah itu, Prihartini ditemukan kaku di meja jahitnya. Pakaian pak desa yang tengah ia kerjakan kini basah, menjadi alas bagi darah yang mengalir dari kepalanya yang ditembus timah panas.

Kebenaran akhirnya terkuak dari sisa-sisa napas sejarah: pembunuh ayahnya adalah orang yang sama yang merenggut nyawanya, pak desa dan istrinya. Ayah Prihartini dulu adalah kepala desa yang dicintai, dibunuh karena dianggap penghalang kekuasaan. Kini, sang putri menyusul demi tegaknya martabat.

Nama mereka kini abadi. “Badan Tiada, Jiwa Kekal Mekar,” begitulah prasasti yang terpahat di gerbang pemakaman. Prihartini, nama yang diberikan suster, kini bukan lagi simbol kesedihan, melainkan monumen kemenangan yang lahir dari luka dan berakhir pada keabadian.

2026

Alvianus Tay, seorang mahasiswa teologi yang saat ini sedang menempuh studi di Divine Word Seminary Tagaytay, Filipina. Sebagai seorang pelajar, saya mendedikasikan waktu saya untuk mengeksplorasi kedalaman etika sosial, hak asasi manusia, serta filosofi pelayanan. Di luar aktivitas akademik, saya adalah seorang penulis prosa dan puisi yang gemar merangkai refleksi menjadi karya tulis.

  • Penulis: Alvianus Tay
  • Editor: Fian N

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

    Sudut Pandang: Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Giorgio Babo Moggi
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Oleh: Giorgio Babo Moggi Kemenangan Argentina atas Swiss dengan skor 3-1 pada babak perempat final Piala Dunia 2026 menghadirkan satu kesimpulan penting. Tim asuhan Lionel Scaloni telah berevolusi menjadi kesebelasan yang mampu memenangkan pertandingan melalui kualitas kolektif, bukan lagi bertumpu sepenuhnya pada kecemerlangan Lionel Messi. Laga di Kansas City menjadi bukti bahwa sang juara bertahan […]

  • Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua

    Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Oleh: Aprianus Jebarus, Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari Rumah Di sudut ini hanya ada gumpalan asap yang menepi tanpa arah menemani ingatan yang perlahan menari di bawah langit yang tak lagi biru suaramu mengalun indah dalam imaji merajut kisah menjelma rindu tak berwujud setiap belaian rambut hitammu adalah inspirasi yang mengalun lembut dalam barisan […]

  • KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Stefen B
    • visibility 242
    • 2Komentar

    Namaku Martina Syukur. Orang biasa memanggilku Tina. Terlahir dari keluarga yang cukup berada dengan penghasilan yang bisa dibilang cukup, membuat aku merasa tak pernah berkekurangan. Semua kebutuhanku selalu terpenuhi. Aku juga memiliki saudara tetapi bukan sedarah. Namanya Tini. Dia adalah gadis kecil yang diadopsi oleh bapak dan mama dari sebuah panti asuhan setahun sebelum aku […]

  • DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 704
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada kesempatan pertama, penulis mengapresiasi tulisan yang berjudul “Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis” karya Agustinus S. Sasmita. Agustinus mencoba membaca situasi yang sedang terjadi di NTT dengan kacamata yang tajam dan cukup menggugah eksistensi budaya belis. Tulisan ini juga menawarkan sebuah potret nyata yang melankolis mengenai “beban laki-laki NTT” dalam menghadapi ritual perkawinan […]

  • Sudut Pandang: Larangan Nobar Pesta Babi dan Perebutan Makna Teknologi di Era Digital: Perspektif Teori Strukturasi Adaptif

    Sudut Pandang: Larangan Nobar Pesta Babi dan Perebutan Makna Teknologi di Era Digital: Perspektif Teori Strukturasi Adaptif

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Wima Wimastha
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Oleh: Frater Wima Wimastha adalah Frater tingkat III di Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret, keuskupan Agung Ende dan mahasiswa semester 6 di Institute Filsafat katolik dan Kreatif ledalero(IFTK).   Di era digital, informasi tidak lagi bergerak seperti arus sungai yang tenang dan searah. Ia menyerupai ombak yang terus memecah, berbalik, dan membentuk pantai-pantai baru […]

  • Buah dari Jalan Panjang Sebuah Proses

    Buah dari Jalan Panjang Sebuah Proses

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Perjalanan SMPSK Kotagoa Boawae dalam mengikuti Turnamen SMATER NDAO CUP merupakan bagian dari proses pembinaan yang panjang, terencana, dan berkesinambungan. Keikutsertaan dalam ajang ini tidak semata-mata dimaknai sebagai upaya untuk meraih kemenangan dalam waktu singkat, melainkan sebagai sarana strategis dalam mengembangkan potensi peserta didik secara utuh, baik dari aspek keterampilan, karakter, maupun mentalitas bertanding. Sekolah […]

expand_less