Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya
- account_circle Marianus Lako
- calendar_month Senin, 11 Mei 2026
- visibility 99
- comment 2 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan
Perjalanan menuju Rindu dan Kenangan
Apa itu sebuah kerinduan?
Kalau tentang sakit dan pedih yang menyala paling berkaca-kaca tuk menyumbang luka?
Apa itu kerelaan?
Kalau tentang melepas tapi masih melekat
Kalau tentang ikhlas tapi di dada memberat
Kalau tentang mengenang tapi selalu merengkuh ketenangan
Meo 2026
Gagasan Kesepian
Apa pernah kau menyentuh tubuh hujan dengan dalih ingin demam dan terkapar oleh dia?
Apakah hujan adalah menemukan kehilangan? Ataukah hujan adalah
butiran gagasan-gagasan kesepian?
Lantas begitu, untuk apa ia selalu turun dan airnya mengisi
penuh bak rinduku yang kosong?
Kenangan 2025
Ruang rindu
Lelap meraba kepala
Isinya angan-angan saja
Seperti angin yang dijala melewati jaring laba
Seperti menyaring pudar-pudar rindumu yang
merambat lelah karena rona suara serak-serak saat sepi yang
bertabrakan dengan malam, hujan, dan kenangan sudah tak sama.
15 April 2026
Sarang Napasmu
Di bawah kolong-kolong hutan satwa
Ada riang-riang rindu yang rancu sedang
menghitung laba angin yang menyuruk ke kelam
Dan tinggalkan rusuk bulan yang padam keabuan
dalam keanggunannya.
Mencatatkan pohon-pohon waktu yang dahulu
disorak bau-bau tanah, diejek rumput-rumput liar,
diusir oleh arak-arakan keheningan
Dicacatkan oleh hujan dan panas :
Pada keremangan yang merenta,
Pada kenangan yang merendah,
Pada rendaman rindu yang meleleh di mulutmu,
Lihatlah tunas itu telah tumbuh menjadi ibu untuk sarang napasmu.
Di bawah kolong hutan rimba
Aku mencintai angin di atas bumbungan langit
Walau asalku di bawah tubuh hutan
Walau desirnya tak kudengar, tak kusesap
tak kulepas tuk mendengungkan wanginya yang sempat jatuh
bersama hujan kala itu, serasa berserakan kebahagiaan itu tak ingin
kurapikan dan tak ingin kubangun dari mimpi lelap ini.
Seperti memperkenalkan, dia terbang dalam rinduku,
singgah dalam runtuhku, sungguh dalam sesalku jika aku terbangun.
Mari merawat
Tak ada penawar yang telat
untuk hilangkan karma selain menikmatinya
April 2026
Gelisah
Di bawah kaki harapan
Berjalan tegak angkat dagu
Menyampaikan ragu dalam gelap
Isinya lisan-lisan cahaya
Berjalan jinjit takut tumpah ruah
Sedangkan di atas kepala,
Bintang menggerutu dalam temaram
Berharap lisan itu bergabung bersama anak cahayanya.
//
Menulis diatas debu
Tertiup angin, mengiringi angan
dengan Rindu yang rasanya macam-macam sekali
Seperti bau orang mati,
Tapi dupanya tak jadi
Lilinya mati
Rupanya aneh sekali
Setelah kulihat
Isinya macam-macam sekali
Seperti membatin tapi tak diberi Illahi.
\\
Aku mengais rindu di matamu
Mencari jarum ketenangan
Konon katanya :
” Menjahit takdir di bibir waktu
Dapat membungkam bising napsu”
Semoga menemukanmu dengan cinta
2026
Marianus Lako, penulis yang akrab disapa Anno Lako ini selain suka menulis juga jalan-jalan. Sering menjadi tukang omong dari pinggir lapangan sepak bola dan juga tenda pesta.
- Penulis: Marianus Lako
- Editor: Redaksi Mataleza

hujan adalah butiran gagasan kesepian
12 Mei 2026 12:42 amyang menggenangkan rindu di permukaan hati tanpa pernah masuk di dalamnya.
ah biarlah☺️
Kaka, salam ke Manokwari.
12 Mei 2026 1:26 pm