Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

  • account_circle John Orlando, S.Fil
  • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
  • visibility 281
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kami terlalu lelah. Kalimat itu tidak lahir dari satu hari yang buruk, melainkan dari bertahun-tahun yang menumpuk dalam diam. Lelah karena harus mengerti sebelum waktunya, lelah karena harus kuat ketika tidak ada pilihan lain, lelah karena tumbuh di antara suara yang selalu lebih keras dari hati kami sendiri. Kami tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana rasanya menjadi anak yang utuh, sebab sejak awal kami sudah dibentuk oleh retakan.

Kami tidak kuat lagi. Bukan karena kami lemah, tetapi karena tidak ada tempat untuk bersandar. Rumah yang seharusnya menjadi ruang pulang, sering kali berubah menjadi ruang bertahan. Kami belajar membaca suasana sebelum belajar membaca buku. Kami belajar menahan tangis sebelum memahami arti bahagia. Setiap hari adalah latihan untuk tetap terlihat baik-baik saja, meskipun di dalam, kami perlahan runtuh tanpa suara.

Kami hanya kisah kelam bapa dan mama. Kami lahir dari cinta, kata orang, tetapi tumbuh di antara luka. Kami menjadi saksi dari hal-hal yang tidak pernah kami pilih untuk lihat. Pertengkaran, kata-kata kasar, diam yang panjang dan dingin, semuanya seperti musim yang tidak pernah berganti. Kami tidak mengerti mengapa dua orang yang dulu saling mencintai bisa berubah menjadi dua orang asing yang saling menyakiti. Tetapi kami merasakan dampaknya, setiap hari, tanpa jeda.

Kami hanya kisah retak yang tidak bisa ditambal. Karena setiap usaha untuk memperbaiki selalu terasa terlambat. Setiap maaf datang setelah luka terlalu dalam. Setiap pelukan terasa asing, seperti sesuatu yang seharusnya dekat tetapi justru menjauh. Kami tumbuh dengan pertanyaan yang tidak pernah dijawab, dengan rasa yang tidak pernah benar-benar dipahami. Dan pada akhirnya, kami berhenti bertanya.

Kami sudah putus asa. Bukan karena kami tidak ingin berharap, tetapi karena harapan terlalu sering dikhianati. Kami pernah percaya bahwa semuanya akan membaik, bahwa suatu hari nanti rumah akan terasa hangat, bahwa bapa dan mama akan tersenyum satu sama lain tanpa luka di baliknya. Tetapi waktu berjalan, dan yang berubah hanya cara kami menyembunyikan rasa sakit itu sendiri.
Terlalu banyak sakit yang kami terima. Sakit yang tidak selalu terlihat, tetapi terasa dalam setiap detak yang berat. Sakit yang membuat kami sulit percaya, sulit membuka diri, sulit merasa aman bahkan di tempat yang seharusnya paling aman. Kami membawa semua itu ke mana pun kami pergi: ke sekolah, ke pertemanan, ke masa depan yang seharusnya bersih dari masa lalu.

Kami menyerah. Kalimat ini bukan akhir, tetapi tanda bahwa kami sudah terlalu lama berjuang sendirian. Kami tidak tahu lagi harus bagaimana. Kami tidak tahu lagi kepada siapa harus berbicara. Dunia terasa luas, tetapi tidak ada satu pun tempat yang benar-benar menjadi milik kami.

Bapa dan mama, kami butuh tidak dikerasi. Kami butuh suara yang lembut, bukan teriakan yang memecah malam. Kami butuh tangan yang menguatkan, bukan yang melukai. Kami butuh kata-kata yang menenangkan, bukan yang menambah luka. Kami tidak meminta banyak, hanya ingin diperlakukan sebagai anak yang layak dicintai tanpa syarat.

Kami butuh sahabat untuk bercerita. Seseorang yang mau mendengar tanpa terburu-buru memberi penilaian. Seseorang yang tidak melihat kami sebagai masalah, tetapi sebagai manusia yang sedang berusaha bertahan. Kami ingin bercerita tentang rasa takut kami, tentang mimpi kami, tentang luka yang kami simpan terlalu lama. Tetapi sering kali, tidak ada yang benar-benar mau mendengar.
Kami butuh guru yang baik dan memeluk. Bukan hanya mengajar pelajaran di papan tulis, tetapi juga memahami apa yang tidak terlihat. Kami butuh seseorang yang bisa melihat bahwa di balik diam kami ada cerita panjang yang tidak pernah kami ucapkan. Kami butuh pelukan, bukan hanya secara fisik, tetapi dalam bentuk perhatian dan kepedulian yang tulus.

Kami butuh teman yang bisa berbagi. Teman yang tidak menertawakan luka kami, yang tidak menjauh ketika kami mulai terbuka. Teman yang bisa duduk bersama tanpa perlu banyak kata, tetapi cukup untuk membuat kami merasa tidak sendirian. Kami ingin percaya bahwa dunia tidak sepenuhnya keras, bahwa masih ada kebaikan yang bisa kami temukan. Dan kami terus bertanya, di manakah kami mendapatkan semua itu. Pertanyaan ini tidak pernah benar-benar kami ucapkan dengan keras, tetapi selalu ada di dalam hati kami. Setiap hari, kami mencarinya dalam hal-hal kecil, dalam senyuman seseorang, dalam perhatian yang sederhana, dalam momen-momen singkat yang memberi sedikit rasa aman. Kadang kami menemukannya, tetapi hanya sebentar. Kadang kami merasa hampir sampai, tetapi kemudian semuanya hilang lagi. Dan kami kembali ke titik awal, membawa harapan yang semakin rapuh.

Kami bukan anak-anak yang sempurna. Kami juga pernah marah, pernah melakukan kesalahan, pernah melukai orang lain tanpa sadar. Tetapi semua itu adalah bagian dari luka yang kami bawa. Kami tidak tahu cara lain untuk menghadapi rasa sakit selain dengan cara yang kami pelajari dari apa yang kami lihat. Namun jauh di dalam, kami masih ingin percaya. Bahwa kami bukan sekadar hasil dari masa lalu yang kelam. Bahwa kami bisa menjadi sesuatu yang berbeda. Bahwa kami tidak harus mengulang cerita yang sama.
Kami ingin tumbuh, bukan sekadar bertahan. Kami ingin hidup, bukan hanya melewati hari. Kami ingin mencintai tanpa takut, mempercayai tanpa ragu, dan merasa aman tanpa syarat. Kami ingin memiliki masa depan yang tidak ditentukan oleh luka masa lalu. Tetapi untuk sampai ke sana, kami tidak bisa sendiri. Kami butuh tangan yang mau meraih kami, suara yang mau memanggil kami, hati yang mau menerima kami apa adanya. Kami butuh dunia yang sedikit lebih peduli, sedikit lebih sabar, sedikit lebih manusiawi.

Kami terlalu lelah, tetapi kami belum sepenuhnya hilang. Di dalam diri kami, masih ada sisa-sisa harapan yang bertahan. Kecil, rapuh, tetapi nyata. Dan mungkin, jika ada satu saja orang yang benar-benar melihat kami, yang benar-benar mendengar kami, yang benar-benar peduli, harapan itu bisa tumbuh kembali.

Kami tidak meminta keajaiban. Kami hanya ingin kesempatan. Kesempatan untuk sembuh, untuk belajar, untuk menjadi lebih baik. Kesempatan untuk membuktikan bahwa kami bukan hanya kisah kelam, bukan hanya retakan yang tidak bisa diperbaiki. Kami adalah anak-anak yang sedang mencari jalan pulang. Dan kami berharap, suatu hari nanti, kami benar-benar menemukannya.

(Tulisan ini adalah rangkuman panjang isi hati dari anak-anak yang kami fasilitasi saat kegiatan di sekolah, di taman bermain dan di ruang-ruang kumpul anak tentang kekerasan, tentang kesehatan mental dan tentang apa yang mereka inginkan)

Tentang penulis, John Orlando, S.Fil, Lulusan Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandira-Kupang, 2006

Sekarang bekerja sebagai Program Koordinator Yayasan Plan International Program implementasi Area Nagekeo

15 tahun bekerja di Plan (6 tahun di kabupaten sikka dan dari 2016 – sekarang bekerja di Kabupaten Nagekeo)
Di Sikka, pernah bekerja di 4 desa wilayah Kecamatan Tanawawo dan 1 desa di Kecamatan Magepanda.
Di Nagekeo, pernah bekerja di 8 desa wilayah Aesesa, 3 desa di wilayah Boawae, menjadi Team Leader untuk wilayah Boawae dan Keo Tengah selama 1 tahun

  • Penulis: John Orlando, S.Fil
  • Editor: Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Setelah Bertemu, Kami Berteman

    Setelah Bertemu, Kami Berteman

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Ada pertemuan yang sejak awal tidak pernah kita rencanakan. Ia datang begitu saja, seperti sebuah kebetulan kecil yang ternyata diam-diam sedang disiapkan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup. Begitulah saya mengingat pertemuan pertama dengan Abang Ruslan. Siang itu, di sebuah warung makan. Saya sedang duduk seorang diri, menikmati makanan sambil mungkin memikirkan banyak hal yang […]

  • Sudut Pandang: Larangan Nobar Pesta Babi dan Perebutan Makna Teknologi di Era Digital: Perspektif Teori Strukturasi Adaptif

    Sudut Pandang: Larangan Nobar Pesta Babi dan Perebutan Makna Teknologi di Era Digital: Perspektif Teori Strukturasi Adaptif

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Wima Wimastha
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Oleh: Frater Wima Wimastha adalah Frater tingkat III di Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret, keuskupan Agung Ende dan mahasiswa semester 6 di Institute Filsafat katolik dan Kreatif ledalero(IFTK).   Di era digital, informasi tidak lagi bergerak seperti arus sungai yang tenang dan searah. Ia menyerupai ombak yang terus memecah, berbalik, dan membentuk pantai-pantai baru […]

  • Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Singkirkan dulu euforia kemenangan 2-0 Prancis atas Maroko di laga Piala Dunia dini hari tadi. Ada rangkaian peristiwa penting lain yang lebih menyita perhatian masyarakat, yaitu penggeledahan yang dilakukan Polri ke sejumlah tempat, pernyataan Kejaksaan Agung, dan penjelasan TNI. Peristiwa tersebut, meski penting dan menjadi perhatian publik, sebaiknya dibaca dengan hati-hati. Ini bukan […]

  • PESTA INTAN, PORSENI, dan KERJA yang TAK SELALU TERLIHAT

    PESTA INTAN, PORSENI, dan KERJA yang TAK SELALU TERLIHAT

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Pesta Intan 75 Tahun SMPSK Kotagoa Boawae. 1 Agustus 1951 – 1 Agustus 2026 Ada peristiwa yang datang setiap tahun. Ada pula peristiwa yang hanya sekali diberi kesempatan untuk dirayakan dalam perjalanan sebuah lembaga. Pesta Intan 75 tahun SMPSK Kotagoa Boawae adalah salah satunya. Ia bukan sekadar sebuah tanggal yang dicetak dalam kalender. Ia adalah […]

  • Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 190
    • 0Komentar

    Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan. Manusia […]

  • Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Oleh: Fian N “Lama bersama belum tentu berakhir di pelaminan.” Kita mungkin pernah mendengar ungkapan itu diucapkan dalam berbagai kesempatan. Ada yang menyampaikannya sebagai nasihat, ada pula yang mengatakannya dengan nada getir setelah mengalami sendiri pahitnya perpisahan. Karena terlalu sering terdengar, kalimat itu terkadang dianggap sebagai ungkapan biasa. Padahal, bagi sebagian orang, ia lahir dari pengalaman […]

expand_less