Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

  • account_circle John Orlando, S.Fil
  • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
  • visibility 252
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kami terlalu lelah. Kalimat itu tidak lahir dari satu hari yang buruk, melainkan dari bertahun-tahun yang menumpuk dalam diam. Lelah karena harus mengerti sebelum waktunya, lelah karena harus kuat ketika tidak ada pilihan lain, lelah karena tumbuh di antara suara yang selalu lebih keras dari hati kami sendiri. Kami tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana rasanya menjadi anak yang utuh, sebab sejak awal kami sudah dibentuk oleh retakan.

Kami tidak kuat lagi. Bukan karena kami lemah, tetapi karena tidak ada tempat untuk bersandar. Rumah yang seharusnya menjadi ruang pulang, sering kali berubah menjadi ruang bertahan. Kami belajar membaca suasana sebelum belajar membaca buku. Kami belajar menahan tangis sebelum memahami arti bahagia. Setiap hari adalah latihan untuk tetap terlihat baik-baik saja, meskipun di dalam, kami perlahan runtuh tanpa suara.

Kami hanya kisah kelam bapa dan mama. Kami lahir dari cinta, kata orang, tetapi tumbuh di antara luka. Kami menjadi saksi dari hal-hal yang tidak pernah kami pilih untuk lihat. Pertengkaran, kata-kata kasar, diam yang panjang dan dingin, semuanya seperti musim yang tidak pernah berganti. Kami tidak mengerti mengapa dua orang yang dulu saling mencintai bisa berubah menjadi dua orang asing yang saling menyakiti. Tetapi kami merasakan dampaknya, setiap hari, tanpa jeda.

Kami hanya kisah retak yang tidak bisa ditambal. Karena setiap usaha untuk memperbaiki selalu terasa terlambat. Setiap maaf datang setelah luka terlalu dalam. Setiap pelukan terasa asing, seperti sesuatu yang seharusnya dekat tetapi justru menjauh. Kami tumbuh dengan pertanyaan yang tidak pernah dijawab, dengan rasa yang tidak pernah benar-benar dipahami. Dan pada akhirnya, kami berhenti bertanya.

Kami sudah putus asa. Bukan karena kami tidak ingin berharap, tetapi karena harapan terlalu sering dikhianati. Kami pernah percaya bahwa semuanya akan membaik, bahwa suatu hari nanti rumah akan terasa hangat, bahwa bapa dan mama akan tersenyum satu sama lain tanpa luka di baliknya. Tetapi waktu berjalan, dan yang berubah hanya cara kami menyembunyikan rasa sakit itu sendiri.
Terlalu banyak sakit yang kami terima. Sakit yang tidak selalu terlihat, tetapi terasa dalam setiap detak yang berat. Sakit yang membuat kami sulit percaya, sulit membuka diri, sulit merasa aman bahkan di tempat yang seharusnya paling aman. Kami membawa semua itu ke mana pun kami pergi: ke sekolah, ke pertemanan, ke masa depan yang seharusnya bersih dari masa lalu.

Kami menyerah. Kalimat ini bukan akhir, tetapi tanda bahwa kami sudah terlalu lama berjuang sendirian. Kami tidak tahu lagi harus bagaimana. Kami tidak tahu lagi kepada siapa harus berbicara. Dunia terasa luas, tetapi tidak ada satu pun tempat yang benar-benar menjadi milik kami.

Bapa dan mama, kami butuh tidak dikerasi. Kami butuh suara yang lembut, bukan teriakan yang memecah malam. Kami butuh tangan yang menguatkan, bukan yang melukai. Kami butuh kata-kata yang menenangkan, bukan yang menambah luka. Kami tidak meminta banyak, hanya ingin diperlakukan sebagai anak yang layak dicintai tanpa syarat.

Kami butuh sahabat untuk bercerita. Seseorang yang mau mendengar tanpa terburu-buru memberi penilaian. Seseorang yang tidak melihat kami sebagai masalah, tetapi sebagai manusia yang sedang berusaha bertahan. Kami ingin bercerita tentang rasa takut kami, tentang mimpi kami, tentang luka yang kami simpan terlalu lama. Tetapi sering kali, tidak ada yang benar-benar mau mendengar.
Kami butuh guru yang baik dan memeluk. Bukan hanya mengajar pelajaran di papan tulis, tetapi juga memahami apa yang tidak terlihat. Kami butuh seseorang yang bisa melihat bahwa di balik diam kami ada cerita panjang yang tidak pernah kami ucapkan. Kami butuh pelukan, bukan hanya secara fisik, tetapi dalam bentuk perhatian dan kepedulian yang tulus.

Kami butuh teman yang bisa berbagi. Teman yang tidak menertawakan luka kami, yang tidak menjauh ketika kami mulai terbuka. Teman yang bisa duduk bersama tanpa perlu banyak kata, tetapi cukup untuk membuat kami merasa tidak sendirian. Kami ingin percaya bahwa dunia tidak sepenuhnya keras, bahwa masih ada kebaikan yang bisa kami temukan. Dan kami terus bertanya, di manakah kami mendapatkan semua itu. Pertanyaan ini tidak pernah benar-benar kami ucapkan dengan keras, tetapi selalu ada di dalam hati kami. Setiap hari, kami mencarinya dalam hal-hal kecil, dalam senyuman seseorang, dalam perhatian yang sederhana, dalam momen-momen singkat yang memberi sedikit rasa aman. Kadang kami menemukannya, tetapi hanya sebentar. Kadang kami merasa hampir sampai, tetapi kemudian semuanya hilang lagi. Dan kami kembali ke titik awal, membawa harapan yang semakin rapuh.

Kami bukan anak-anak yang sempurna. Kami juga pernah marah, pernah melakukan kesalahan, pernah melukai orang lain tanpa sadar. Tetapi semua itu adalah bagian dari luka yang kami bawa. Kami tidak tahu cara lain untuk menghadapi rasa sakit selain dengan cara yang kami pelajari dari apa yang kami lihat. Namun jauh di dalam, kami masih ingin percaya. Bahwa kami bukan sekadar hasil dari masa lalu yang kelam. Bahwa kami bisa menjadi sesuatu yang berbeda. Bahwa kami tidak harus mengulang cerita yang sama.
Kami ingin tumbuh, bukan sekadar bertahan. Kami ingin hidup, bukan hanya melewati hari. Kami ingin mencintai tanpa takut, mempercayai tanpa ragu, dan merasa aman tanpa syarat. Kami ingin memiliki masa depan yang tidak ditentukan oleh luka masa lalu. Tetapi untuk sampai ke sana, kami tidak bisa sendiri. Kami butuh tangan yang mau meraih kami, suara yang mau memanggil kami, hati yang mau menerima kami apa adanya. Kami butuh dunia yang sedikit lebih peduli, sedikit lebih sabar, sedikit lebih manusiawi.

Kami terlalu lelah, tetapi kami belum sepenuhnya hilang. Di dalam diri kami, masih ada sisa-sisa harapan yang bertahan. Kecil, rapuh, tetapi nyata. Dan mungkin, jika ada satu saja orang yang benar-benar melihat kami, yang benar-benar mendengar kami, yang benar-benar peduli, harapan itu bisa tumbuh kembali.

Kami tidak meminta keajaiban. Kami hanya ingin kesempatan. Kesempatan untuk sembuh, untuk belajar, untuk menjadi lebih baik. Kesempatan untuk membuktikan bahwa kami bukan hanya kisah kelam, bukan hanya retakan yang tidak bisa diperbaiki. Kami adalah anak-anak yang sedang mencari jalan pulang. Dan kami berharap, suatu hari nanti, kami benar-benar menemukannya.

(Tulisan ini adalah rangkuman panjang isi hati dari anak-anak yang kami fasilitasi saat kegiatan di sekolah, di taman bermain dan di ruang-ruang kumpul anak tentang kekerasan, tentang kesehatan mental dan tentang apa yang mereka inginkan)

Tentang penulis, John Orlando, S.Fil, Lulusan Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandira-Kupang, 2006

Sekarang bekerja sebagai Program Koordinator Yayasan Plan International Program implementasi Area Nagekeo

15 tahun bekerja di Plan (6 tahun di kabupaten sikka dan dari 2016 – sekarang bekerja di Kabupaten Nagekeo)
Di Sikka, pernah bekerja di 4 desa wilayah Kecamatan Tanawawo dan 1 desa di Kecamatan Magepanda.
Di Nagekeo, pernah bekerja di 8 desa wilayah Aesesa, 3 desa di wilayah Boawae, menjadi Team Leader untuk wilayah Boawae dan Keo Tengah selama 1 tahun

  • Penulis: John Orlando, S.Fil
  • Editor: Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Oleh: 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠 Politisi dan Pemerhati Global Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak. Disiplin Pajak Adalah Bentuk Solidaritas Sosial, Bukan Penindasan terhadap Rakyat Kecil .. Perdebatan mengenai Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025 yang mengaitkan akses pembelian BBM bersubsidi dengan kepatuhan membayar Pajak Kendaraan Bermotor […]

  • SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 230
    • 0Komentar

    John Holt dalam bukunya yang berjudul, Mengapa Siswa gagal, menulis demikian: “Kita semua sepakat bahwa semua siswa harus berhasil, tetapi apakah kita memiliki pengertian yang sama mengenai keberhasilan itu? Saya sendiri berpendapat bahwa kesuksesan itu sebaiknya tidak diperoleh dengan gampang ataupun cepat dan mestinya tidak terjadi setiap saat. Sukses dalam pandanganku, menyiratkan keberhasilan seseorang mengulangi […]

  • Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut:  Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut: Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Kristoforus Mage
    • visibility 220
    • 0Komentar

    Kristoforus Mage, Mahasiswa semester 6, IFTK Ledalero. Undang-undang menjadi landasan konstruktif perpolitikan. Politik tanpa undang-undang dalam sebuah negara tidak lain adalah gejolak untuk menguasai dan dikuasai. Demikian halnya yang terjadi di Indonesia kini: begitu terpampang jelas bahwa undang-undang tidak didefinisikan secara tegas tentang apa yang dilarang, seolah hukum bukan lagi sebagai pagar pelindung, melainkan senjata […]

  • BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Zaeni Boli
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Mesti bangga dengan karya sendiri, Produksi sebuah film bukanlah pekerjaan yang mudah dibutuhkan proses yang terkadang membuat kita hampir menyerah namun dengan tekad yang kuat akhirnya mewujud, ya akhirnya di tahun 2026 ini pada Bengkel Seni Milenial ( BSM ) angkatan ke 10 akhirnya mampu memproduksi film pendek yang diberi judul Cinta Jangan Dikejar, Sebuah […]

  • Ruang Rasa: Jomlo Bukan Aib, yang Aib Itu Memaksa Semua Orang Hidup dengan Cara yang Sama

    Ruang Rasa: Jomlo Bukan Aib, yang Aib Itu Memaksa Semua Orang Hidup dengan Cara yang Sama

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 144
    • 3Komentar

    Ada satu pertanyaan yang diam-diam sering berkeliaran di kepala saya. Mengapa menjadi jomlo terasa seperti sedang memikul dosa yang tidak pernah dilakukan? Entah sejak kapan masyarakat menyepakati sebuah aturan tak tertulis bahwa seseorang dianggap “terlambat” ketika belum memiliki pasangan. Setiap pesta keluarga berubah menjadi ruang interogasi. Setiap reuni terasa seperti sidang terbuka. Bahkan, senyum yang […]

  • Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang  Terancam 

    Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang Terancam 

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Humberto Verbita
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Oleh: Humberto Verbita Diskursus Film Dokumenter PESTA BABI bukan lagi sekedar tayangan tetapi menjadi sebuah movement, suatu gerakan mulai dari para akademisi, talk show saluran TV nasional, lahan edukasi-promosi-monetisasi dari para pegiat sosial media bahkan sampai level masyarakat akar rumput (grass root). Namun semua gerakan massive ini mendadak terguncang dengan video viral yang berisikan kesaksian […]

expand_less