Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

  • account_circle John Orlando, S.Fil
  • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
  • visibility 238
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kami terlalu lelah. Kalimat itu tidak lahir dari satu hari yang buruk, melainkan dari bertahun-tahun yang menumpuk dalam diam. Lelah karena harus mengerti sebelum waktunya, lelah karena harus kuat ketika tidak ada pilihan lain, lelah karena tumbuh di antara suara yang selalu lebih keras dari hati kami sendiri. Kami tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana rasanya menjadi anak yang utuh, sebab sejak awal kami sudah dibentuk oleh retakan.

Kami tidak kuat lagi. Bukan karena kami lemah, tetapi karena tidak ada tempat untuk bersandar. Rumah yang seharusnya menjadi ruang pulang, sering kali berubah menjadi ruang bertahan. Kami belajar membaca suasana sebelum belajar membaca buku. Kami belajar menahan tangis sebelum memahami arti bahagia. Setiap hari adalah latihan untuk tetap terlihat baik-baik saja, meskipun di dalam, kami perlahan runtuh tanpa suara.

Kami hanya kisah kelam bapa dan mama. Kami lahir dari cinta, kata orang, tetapi tumbuh di antara luka. Kami menjadi saksi dari hal-hal yang tidak pernah kami pilih untuk lihat. Pertengkaran, kata-kata kasar, diam yang panjang dan dingin, semuanya seperti musim yang tidak pernah berganti. Kami tidak mengerti mengapa dua orang yang dulu saling mencintai bisa berubah menjadi dua orang asing yang saling menyakiti. Tetapi kami merasakan dampaknya, setiap hari, tanpa jeda.

Kami hanya kisah retak yang tidak bisa ditambal. Karena setiap usaha untuk memperbaiki selalu terasa terlambat. Setiap maaf datang setelah luka terlalu dalam. Setiap pelukan terasa asing, seperti sesuatu yang seharusnya dekat tetapi justru menjauh. Kami tumbuh dengan pertanyaan yang tidak pernah dijawab, dengan rasa yang tidak pernah benar-benar dipahami. Dan pada akhirnya, kami berhenti bertanya.

Kami sudah putus asa. Bukan karena kami tidak ingin berharap, tetapi karena harapan terlalu sering dikhianati. Kami pernah percaya bahwa semuanya akan membaik, bahwa suatu hari nanti rumah akan terasa hangat, bahwa bapa dan mama akan tersenyum satu sama lain tanpa luka di baliknya. Tetapi waktu berjalan, dan yang berubah hanya cara kami menyembunyikan rasa sakit itu sendiri.
Terlalu banyak sakit yang kami terima. Sakit yang tidak selalu terlihat, tetapi terasa dalam setiap detak yang berat. Sakit yang membuat kami sulit percaya, sulit membuka diri, sulit merasa aman bahkan di tempat yang seharusnya paling aman. Kami membawa semua itu ke mana pun kami pergi: ke sekolah, ke pertemanan, ke masa depan yang seharusnya bersih dari masa lalu.

Kami menyerah. Kalimat ini bukan akhir, tetapi tanda bahwa kami sudah terlalu lama berjuang sendirian. Kami tidak tahu lagi harus bagaimana. Kami tidak tahu lagi kepada siapa harus berbicara. Dunia terasa luas, tetapi tidak ada satu pun tempat yang benar-benar menjadi milik kami.

Bapa dan mama, kami butuh tidak dikerasi. Kami butuh suara yang lembut, bukan teriakan yang memecah malam. Kami butuh tangan yang menguatkan, bukan yang melukai. Kami butuh kata-kata yang menenangkan, bukan yang menambah luka. Kami tidak meminta banyak, hanya ingin diperlakukan sebagai anak yang layak dicintai tanpa syarat.

Kami butuh sahabat untuk bercerita. Seseorang yang mau mendengar tanpa terburu-buru memberi penilaian. Seseorang yang tidak melihat kami sebagai masalah, tetapi sebagai manusia yang sedang berusaha bertahan. Kami ingin bercerita tentang rasa takut kami, tentang mimpi kami, tentang luka yang kami simpan terlalu lama. Tetapi sering kali, tidak ada yang benar-benar mau mendengar.
Kami butuh guru yang baik dan memeluk. Bukan hanya mengajar pelajaran di papan tulis, tetapi juga memahami apa yang tidak terlihat. Kami butuh seseorang yang bisa melihat bahwa di balik diam kami ada cerita panjang yang tidak pernah kami ucapkan. Kami butuh pelukan, bukan hanya secara fisik, tetapi dalam bentuk perhatian dan kepedulian yang tulus.

Kami butuh teman yang bisa berbagi. Teman yang tidak menertawakan luka kami, yang tidak menjauh ketika kami mulai terbuka. Teman yang bisa duduk bersama tanpa perlu banyak kata, tetapi cukup untuk membuat kami merasa tidak sendirian. Kami ingin percaya bahwa dunia tidak sepenuhnya keras, bahwa masih ada kebaikan yang bisa kami temukan. Dan kami terus bertanya, di manakah kami mendapatkan semua itu. Pertanyaan ini tidak pernah benar-benar kami ucapkan dengan keras, tetapi selalu ada di dalam hati kami. Setiap hari, kami mencarinya dalam hal-hal kecil, dalam senyuman seseorang, dalam perhatian yang sederhana, dalam momen-momen singkat yang memberi sedikit rasa aman. Kadang kami menemukannya, tetapi hanya sebentar. Kadang kami merasa hampir sampai, tetapi kemudian semuanya hilang lagi. Dan kami kembali ke titik awal, membawa harapan yang semakin rapuh.

Kami bukan anak-anak yang sempurna. Kami juga pernah marah, pernah melakukan kesalahan, pernah melukai orang lain tanpa sadar. Tetapi semua itu adalah bagian dari luka yang kami bawa. Kami tidak tahu cara lain untuk menghadapi rasa sakit selain dengan cara yang kami pelajari dari apa yang kami lihat. Namun jauh di dalam, kami masih ingin percaya. Bahwa kami bukan sekadar hasil dari masa lalu yang kelam. Bahwa kami bisa menjadi sesuatu yang berbeda. Bahwa kami tidak harus mengulang cerita yang sama.
Kami ingin tumbuh, bukan sekadar bertahan. Kami ingin hidup, bukan hanya melewati hari. Kami ingin mencintai tanpa takut, mempercayai tanpa ragu, dan merasa aman tanpa syarat. Kami ingin memiliki masa depan yang tidak ditentukan oleh luka masa lalu. Tetapi untuk sampai ke sana, kami tidak bisa sendiri. Kami butuh tangan yang mau meraih kami, suara yang mau memanggil kami, hati yang mau menerima kami apa adanya. Kami butuh dunia yang sedikit lebih peduli, sedikit lebih sabar, sedikit lebih manusiawi.

Kami terlalu lelah, tetapi kami belum sepenuhnya hilang. Di dalam diri kami, masih ada sisa-sisa harapan yang bertahan. Kecil, rapuh, tetapi nyata. Dan mungkin, jika ada satu saja orang yang benar-benar melihat kami, yang benar-benar mendengar kami, yang benar-benar peduli, harapan itu bisa tumbuh kembali.

Kami tidak meminta keajaiban. Kami hanya ingin kesempatan. Kesempatan untuk sembuh, untuk belajar, untuk menjadi lebih baik. Kesempatan untuk membuktikan bahwa kami bukan hanya kisah kelam, bukan hanya retakan yang tidak bisa diperbaiki. Kami adalah anak-anak yang sedang mencari jalan pulang. Dan kami berharap, suatu hari nanti, kami benar-benar menemukannya.

(Tulisan ini adalah rangkuman panjang isi hati dari anak-anak yang kami fasilitasi saat kegiatan di sekolah, di taman bermain dan di ruang-ruang kumpul anak tentang kekerasan, tentang kesehatan mental dan tentang apa yang mereka inginkan)

Tentang penulis, John Orlando, S.Fil, Lulusan Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandira-Kupang, 2006

Sekarang bekerja sebagai Program Koordinator Yayasan Plan International Program implementasi Area Nagekeo

15 tahun bekerja di Plan (6 tahun di kabupaten sikka dan dari 2016 – sekarang bekerja di Kabupaten Nagekeo)
Di Sikka, pernah bekerja di 4 desa wilayah Kecamatan Tanawawo dan 1 desa di Kecamatan Magepanda.
Di Nagekeo, pernah bekerja di 8 desa wilayah Aesesa, 3 desa di wilayah Boawae, menjadi Team Leader untuk wilayah Boawae dan Keo Tengah selama 1 tahun

  • Penulis: John Orlando, S.Fil
  • Editor: Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 207
    • 2Komentar

    Fokus pada satu tujuan. Jangan gegabah dalam memperlakukan sebuah persoalan. Sering kali, manusia terjebak pada rasa ingin lebih akan sesuatu yang masih belum pasti seperti apa akhirnya. Dalam hidup, kita sering tergoda untuk menangani banyak masalah sekaligus. Ada perasaan seolah kita harus selalu produktif, selalu cepat menyelesaikan segalanya, dan selalu tampil prima. Namun, ironisnya, justru […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 429
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

  • PERMEN: Roh Kudus: Bawa Pengetahuan Buka Pintu Komunikasi, Edisi Hari Raya Pentakosta

    PERMEN: Roh Kudus: Bawa Pengetahuan Buka Pintu Komunikasi, Edisi Hari Raya Pentakosta

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Inspirasi: Kis 2:1-11 /// Yoh 20:19-23 Kita buka renungan di Hari Raya ini dengan pantun: Maksud hati mengunjungi Om Strom, apa daya bertemu Veronika. ROH KUDUS menjadikan kita Strong. Di tengah situasi sedih dan terluka. Ketika Roh Kudus turun atas para Rasul, saat itu Gereja lahir. Gereja yang penuh dengan daya Roh Kudus, membuat Gereja […]

  • Puisi-puisi Alvares Keupung: Paket Cinta dari Laut, Whatsapp, Percakapan dengan Angin

    Puisi-puisi Alvares Keupung: Paket Cinta dari Laut, Whatsapp, Percakapan dengan Angin

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Alvares Keupung, dalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende. PAKET CINTA DARI LAUTAN Sewaktu aku mandi di lautan Sungguh, aku merasakan getaran cintanya Dia tak pernah mengingkari jati dirinya, setia memberi asin garamnya Laut memang pergi dan datang menghempas tepian Gelora suaranya bertebaran ke langit Namun tak pernah […]

  • Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda. Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang […]

  • Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Oleh: Filemon Pandu Wimastha (Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende)  Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. […]

expand_less