Breaking News
light_mode
Trending Tags

NADIEM: Siapa yang Order?

  • account_circle Nury Sybli
  • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
  • visibility 159
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Rabu, 13 Mei 2026. Pengadilan Tipikor Jakarta berubah jadi panggung absurditas hukum.

Mantan Mendikbudristek, dituntut 18 tahun penjara, denda Rp.1 miliar, plus uang pengganti Rp5,6 triliun subsider 9 tahun kurungan. Kalau ditotal, hukumannya seperti ingin mengubur seseorang hidup-hidup: 27,5 tahun.

“Ini adalah hari yang sangat, sangat, sangat mengecewakan,” kata Nadiem seusai sidang. Dan memang, siapa pun yang masih punya sedikit akal sehat pasti bertanya: ini proses hukum atau eksekusi pesanan?

Saya tidak mengenal Nadiem secara pribadi. Juga tidak mengenal istrinya, Franka Makariem. Tapi saya mengikuti perjalanan mereka. Dua anak muda cerdas, keren dari keluarga yang dikenal menghargai pendidikan dan menjaga nama baik.

Sejak mendirikan “GoTo” atau Gojek saya menghormati Nadiem. Bukan karena statusnya, tapi karena idenya membuka jalan hidup bagi jutaan orang kecil. Banyak keluarga Indonesia bisa makan dengan cara terhormat karena ada ojek online, kurir, UMKM digital, dan ekonomi yang bergerak dari bawah. Saya salah satu yang bahagia dengan adanya gojek.

Saat dia masuk kabinet jadi Menteri Pendidikan, jujur saya sempat underestimate. Saya bahkan beberapa kali mengkritiknya. Saya merasa dia terlalu “Jakarta”, terlalu korporat, kurang menyentuh anak-anak pinggiran dan perbatasan.

Tapi hari ini, melihat dia diperlakukan seperti bandar narkoba kelas kakap, saya justru bertanya: negara ini sedang mencari keadilan atau sedang mencari tumbal? Siapa pemesannya?

Kasus Chromebook ini sejak awal sudah terasa janggal. Ajaib dan Gaib. Angka kerugian berubah-ubah seperti harga cabai di pasar. Dari Rp 2,1 triliun, meloncat ke sana-sini, sampai akhirnya publik bingung: sebenarnya yang kacau kasusnya atau otak para penuntutnya?

Sidang dakwaan dimulai 5 Januari 2026 setelah drama kesehatan Nadiem yang kurang mendukung. Setiap persidangan banyak kalangan professional, wartawan senior, Ojol, kerabat Nadiem, selebritas hadir memberikan dukungan. Tapi tak nampak satupun politisi. Beberapa sidang terakhir pakar pakar Hukum turut membersamai sidang Nadiem yang tergolong kasus ajaib ini.

Dan ternyata makin lama persidangan berjalan, makin terlihat bahwa para JAKSA Penuntut tidak memahami substansi dakwaannya sendiri.

Dua contoh paling fatal:

1. Jaksa tidak memahami aturan lock-up period saat IPO Gojek/”GoTo” pada 11 April 2022. Sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pendiri perusahaan dilarang menjual saham dalam periode tertentu. Tapi Jaksa tetap ngotot membangun narasi bahwa Nadiem menjual saham saat sudah menjadi Menteri.

2. Jaksa juga gagal memahami soal founders tax sebesar 0,5 persen yang dibayar Nadiem. Itu bukan pajak hasil penjualan saham, melainkan kewajiban pendiri perusahaan saat IPO. Bahkan tarif pajak final saham di pasar modal saja cuma 0,1 persen.

Fatal? Sangat. Karena dari kekeliruan dasar itulah dibangun tuduhan bahwa Nadiem mengeruk keuntungan pribadi dari proyek Chromebook.

Pertanyaannya: kalau fondasi logikanya saja runtuh, bagaimana bisa tuntutannya malah dibuat seganas itu?

Ini bukan lagi sekadar salah tafsir hukum. Ini terlihat seperti semangat menghukum mati karakter seseorang.

Jaksa seperti datang bukan membawa semangat “pro justicia”, tapi semangat “pokoknya harus masuk”.

Tidak peduli fakta sidang.
Tidak peduli logika.
Tidak peduli rasa keadilan.

Yang penting: Nadiem harus jatuh dan mampus.

Siapa sebenarnya yang ORDER?
Siapa yang begitu berkepentingan menjadikan Nadiem sebagai simbol pesakitan nasional? Segitu dendamnya pada Nadiem.

Ahli Hukum Todung Mulya Lubis memberikan pernyataan bahkan terdengar sangat keras:

«“Ini tuntutan yang insane. Logika jaksa adalah logika penghukuman, bukan logika keadilan.”»

Dan memang terasa sekali. Asas praduga tak bersalah sekarang tinggal slogan dekorasi ruang sidang. Dipasang untuk dipotret, bukan dijalankan.

Padahal tugas Jaksa bukan sekadar memenangkan perkara. Tugas Jaksa adalah menghadirkan keadilan. Bahkan menuntut bebas jika bukti tidak cukup.

Sedangkan hakim memikul tanggung jawab paling berat: memastikan palu tidak berubah jadi alat balas dendam politik.

Karena ketika hukum mulai dipakai untuk menghabisi orang, negara hukum pelan-pelan berubah jadi negara ketakutan.

Hari ini orang melihat kasus .
Kemarin .
Besok siapa lagi?
Apa yang dialami Nadiem, Franka bisa jadi akan dialami kita.

Kalau semua perkara diproses dengan semangat “punitive”, dengan target menghancurkan, bukan mencari kebenaran, maka yang runtuh bukan cuma kepercayaan pada pengadilan. Yang runtuh adalah cita-cita Indonesia sebagai negara hukum.

Dan mungkin benar seperti judul buku :

“The Indonesian Supreme Court: A Study of Institutional Collapse.”

Bukan hanya Mahkamah Agung yang runtuh. Tapi rasa percaya rakyat bahwa keadilan masih punya rumah di negeri ini. Saya bersama Nadiem dan Ibam.

….

Nury Sybli, Alumni UIN Jakarta. Sosok Perempuan pahlawan literasi bagi Suku Baduy. Memulai karirnya di bidang jurnalistik pada tahun 2001 yakni sebagai reporter di Media Nasional di Jakarta. Lalu, pada taun 2004 hingga 2010 menjadi reporter ekonomi di kantor berita Reuters. Nury dikenal sebagai ibu baca tulis Suku Baduy Luar. Nury selalu meluangkan waktu berkeliling Indonesia mengajak sebanyak mungkin orang mencintai buku dan mencintai lingkungan.

  • Penulis: Nury Sybli
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puisi-puisi Alvares Keupung: Paket Cinta dari Laut, Whatsapp, Percakapan dengan Angin

    Puisi-puisi Alvares Keupung: Paket Cinta dari Laut, Whatsapp, Percakapan dengan Angin

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Alvares Keupung, dalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende. PAKET CINTA DARI LAUTAN Sewaktu aku mandi di lautan Sungguh, aku merasakan getaran cintanya Dia tak pernah mengingkari jati dirinya, setia memberi asin garamnya Laut memang pergi dan datang menghempas tepian Gelora suaranya bertebaran ke langit Namun tak pernah […]

  • Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang  Terancam 

    Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang Terancam 

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Humberto Verbita
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Oleh: Humberto Verbita Diskursus Film Dokumenter PESTA BABI bukan lagi sekedar tayangan tetapi menjadi sebuah movement, suatu gerakan mulai dari para akademisi, talk show saluran TV nasional, lahan edukasi-promosi-monetisasi dari para pegiat sosial media bahkan sampai level masyarakat akar rumput (grass root). Namun semua gerakan massive ini mendadak terguncang dengan video viral yang berisikan kesaksian […]

  • Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

    Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 279
    • 0Komentar

    Di Rumah Tuhan Hujan pun turun, lalu aku berteduh di rumah-Nya. Kutatap langit, reda, lalu kupamit pulang. Namun hujan kembali mengguyur, seolah Dia hendak  berkata: ”Jangan pulang dulu, Aku masih rindu.” Aku singgah di perhentian terakhir,  dan di sana pun, Dia menyambut. Dengan lembut, tanpa suara, tapi hangat seperti peluk yang tak terlihat. Mungkin memang […]

  • PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 182
    • 4Komentar

    PERMEN edisi Kamis Paskah ke-5 – 07 MEI 2026 – Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi Inspirasi: Kis 15:7-21 ; Yohanes 15:9-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kurang baik apa lagi Tuhan kita, ajak kita untuk tinggal dalam kasih-Nya, supaya sukacita kita menjadi penuh. Yah, kasih memang menjadi ukuran sejati kematangan rohani. Kasih […]

  • Siapakah Saya?

    Siapakah Saya?

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tuntutan, banyak orang terjebak dalam rutinitas tanpa sempat berhenti sejenak untuk merenung. Kita sering sibuk mengejar prestasi, memenuhi ekspektasi orang lain, haus akan validasi atau sekadar bertahan dari tekanan sehari-hari, hingga lupa menanyakan hal yang paling mendasar: “Siapakah saya?” Pertanyaan sederhana namun mendalam ini sering kali […]

  • Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 182
    • 1Komentar

    suka sibuk pagi-pagi sekali di hari minggu, kami ke gereja. seperti orang-orang, kami berpakaian rapi. sebelum keluar pintu rumah, pastikan semua dalam keadaan siap, batin maupun pakaian. di pintu masuk gereja, semua mata mencari sumber bunyi kaki. lihat atas-bawah. di dalam gereja, ekaristi sebentar lagi mulai. masih ada yang sibuk menilai. sebentar sambut hosti, bikin […]

expand_less