Breaking News
light_mode
Trending Tags

Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
  • visibility 401
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.”

Lima belas cerpen yang terangkum dalam Penggali Sumur (selanjutnya: PS), sebagai pembaca, saya menemukan sesuatu yang baru, yang belum pernah saya temukan dalam karya-karya Selo Lamatapo sebelumnya. Karena yang saya tahu, Selo Lamatapo lebih banyak menulis puisi. PS dalam jalinan kisahnya penuh kejutan tak terduga. Ada pernyataan yang menghentak dan ada pertanyaan yang menggugah. Pembaca akan digiring dari kisah yang satu ke kisah yang lain. Ada beragam penafsiran yang timbul di sana.

Sejak Penggali Sumur, pertanyaan akan eksistensi manusia pun muncul ke permukaan bagai air yang ditimba dari dasar sumur demi memuaskan setiap dahaga akan kebersamaan dari setiap masyarakat di tempat Selo Lamatapo berasal.

Kenapa om Banus ingin jadi penggali sumur?”

“Om ingin orang-orang di kampung ini bisa hidup. Karena air adalah sumber hidup kita, anak-anakku.”

Sumur selain sebagai sumber pemuas dahaga, juga merupakan tempat merelakan lelah lewat canda tawa, ada persatuan dan ada juga kesepakatan yang tak terduga tercipta di sana.

Keberadaan sumur yang terbuka menghadap langit itu tidak hanya memperpanjang hidup kami di musim kemarau, tetapi menumbuhkan cinta, persaudaraan, keakraban dan kebersamaan warga kampung kami.” Selain itu, “… Siapa pun yang datang ke sumur itu pasti menemukan cinta yang bahagia dan menyaksikan persatuan himpunan manusia yang tak membedakan suku, agama, dan ras di kolong langit ini.”

Selo Lamatapo menjadikan sumur sebagai simbol persatuan dan persekutuan bukan hanya untuk orang-orang di kampungnya tetapi juga untuk masyarakat luas. Sumur menjadi titik temu kehangatan, kedamaian serta kesejahteraan. Berbeda dengan Penggali Sumur, Bale-bale Marianus, Selo Lamatapo menarasikan pengalaman sosial di tengah ekonomi yang lemah-lembut melalui tokoh Marianus dan Ina Peni. “Mereka itu orang kampung, Ina. Sama dengan kita. Susah uangnya. Modal mereka cuma kopra, jambu mete, jagung titi dan kacang tanah. Itu musiman, Ina. Jadi sabar saja. Nanti juga dibayar.” Marianus yang adalah seorang tukang dan pemilik bengkel kayunya sendiri, tentu mengalami kekurangan, tetapi Marianus sadar bahwa di luar sana masih banyak orang-orang yang lebih membutuhkan pertolongan ketimbang keluarganya sendiri. Selain itu, karena Marianus hidup berdua saja dengan istrinya. Di pihak lain, harga komoditi petani seperti yang diungkapkan Marianus ditentukan oleh para pemilik modal yang berada jauh dari masyarakat setempat. Harga yang lebih banyak merugikan para petani. Umur kesusahan kian panjang dan makmur jika terus begitu.

Dalam Dua Cangkir Kopi di Hari Ulang Tahun Pernikahan, sebagai narator, Selo Lamatapo mempertegas kesederhanaan hidup dalam menjalani kehidupan yang kompleks ini. Di tengah kehidupan yang rumit dan serba sulit, manusia harus mampu beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi. “Kopi itu pahit, Jesica. Sama dengan hidup. Terkadang pahit. Makanya ayah meminta kamu membuatnya menjadi manis. Biar nikmat. Hidup itu perlu dinikmati walau ada pahitnya.” Dalam kehidupan rumah tangga, kopi menjadi pilihan utama saat menyambut pagi dan mengantar siang kepada malam. Kopi menjadi media antara keluarga di dalam rumah. Karena berbicara tentang kopi, bukan hanya tentang pahitnya tetapi proses menjadi secangkir kopi, itu yang dijadikan pelajaran.

Kepahitan hidup juga dirasakan Ben Laga karena desakan ekonomi, ia pun harus berdebat dengan ayahnya dan memilih untuk merantau ke Malaysia. “Tak perlulah kau merantau, Ben. Kebun kita sudah sediakan segalanya untuk kita. Garaplah kekayaan tanah kita. Hiduplah dari tanah kita, Ben.”

“Bagaimana kita harus menggarapnya? Tanah semakin kering Dan gersang. Hujan hanya turun sesekali. Sedangkan kita butuh uang tiap waktu.” Uang menjadi persoalan utama bagi masyarakat di kampung, di kota juga merasakan hal demikian. Manusia tak pernah puas dengan apa yang ada. Maunya gampang saja tanpa harus bersusah payah. Yang dialami Ben merupakan representasi masyarakat NTT seluruhnya. Banyak sekali lahan tidur yang tidak digarap. Lebih memilih untuk merantau dan di perantauan, sudah pasti harus bekerja untuk bisa bertahan hidup. Upah yang didapat kadang harus mengorbankan kesehatan. Tidak sedikit para perantau yang pulang kampung karena sakit dan bahkan ada yang meninggal di tanah perantauan karena sakit.

Apa yang manusia cari di tengah kehidupan yang sifatnya sementara saja? Kebahagiaan, kesejahteraan dan kedamaian? “Hidup soal datang dan pergi. Dunia hanya persinggahan sesaat. Namun, manusia memperlakukanmu dalam dua hal: menerima dan mencampakkan. Apa pun itu, tugasmu perbanyaklah kebaikan.” Pesan seorang Ibu kepada anaknya yang akan bepergian jauh meninggalkan kampung halaman, begitu bermakna dan kuat akan pesan yang sudah tentu akan diingat. Hal itu dinarasikan dengan baik di dalam Lelaki yang Ingin Menjadi Laut. Trauma masa lalu yang akhirnya mendorong si tokoh Ibu untuk selalu mengawasi anaknya agar menjauh dari laut. Latar tempat dari cerita ini adalah kampung Waiteba yang pada tahun 1979 Juli pada waktu malam hari, kampung tersebut tersapu gelombang dan longsor akibat meletusnya gunung Hobal, gunung api yang berada di dasar Laut Sawu. Bencana ini menelan banyak korban. Menjadi jelas, Selo Lamatapo sangat pandai meracik kisah dari setiap peristiwa masa lalu yang oleh semua orang tidak menyangka akan menjadi sebuah cerita (seperti yang Anda baca jika memiliki buku ini).

Di sisi lain, Selo Lamatapo melihat perubahan yang begitu pesat di dalam kehidupan masyarakat kita saat ini, terutama di daerah asalnya. “Anak kami tumbuh dalam kepungan kemajuan teknologi. Kemajuan tidak dapat dihindari, perubahan tak bisa dimungkiri. Banyak hal berubah dalam hitungan detik. Dan kami, orang-orang kampung terseret ke dalamnya.” Kemajuan teknologi pun menjadi pemantik terjadinya konflik dalam berumah tangga. Contoh kecil, “heandphone merupakan alat bantu melancarkan proses perselingkuhan. Sungguh memuakkan, namun demikianlah tabiat manusia yang berakal budi. Kian beradab, kian pula biadab.” Kritik Selo Lamatapo terhadap masyarakat pada jaman ini bukan tanpa sebab. Selo Lamatapo sadar, bahwa hampir di semua wilayah dan juga lapisan masyarakat, mengalami perubahan. Dan perubahan sering kali membawa petaka jika tidak bijak dalam pemakaiannya.

Perubahan di sisi lain membantu dan di sisi lain melenyapkan. Ambil contoh tentang tungku api. Kini sudah diganti oleh kompor dan ada yang lebih canggih, tinggal cok, semua masakan untuk makan pagi, siang dan malam pun beres. “Kamu masih harus belajar banyak hal dari tungku api ini. Sebab, tungku api ini adalah tungku kehidupan kita. Jika tiada nyala api di tungku, maka tiadalah kehidupan ini.” Kehangatan dalam rumah seketika lenyap. Canda tawa di dapur kini hampir tiada. Semua pelan-pelan hilang. Masa kecil anak-anak jaman sekarang tidak seperti dulu lagi. Sepulang sekolah, semua ramai-ramai mencari kayu bakar di hutan, mandi di sungai dan pulang penuh keriangan.

Semua sudah dan sedang terjadi. Manusia harus bisa hadapi perubahan dengan sabar. Sebab, kenyataan menimpa manusia tidak sesuai dengan harapannya. Angan manusia boleh lebih panjang dari lengannya, tetapi kenyataan jatuh atas caranya sendiri, bisa lebih panjang bahkan lebih pendek dari umur manusia.

Sampai pada titik ini, Saya sadar bahwa Selo Lamatapo sedang membawa Saya untuk pulang sejenak ke masa lalu. Sekadar bernostalgia dan kembali berbenah. Bahwa segala yang sudah terjadi hanya bisa dikenang ke dalam sebuah kenangan. Untuk pulang, manusia dihadapakan pada sebuah situasi yang sudah jauh berbeda. Dan Saya bersyukur, melalui jalinan kisah-kisah apik yang dibagikan Selo Lamatapo melalui tokoh-tokoh, alur ceritanya, setting tempat dan waktu, membuat Saya bangga menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang betah tinggal di kampung serta berjuang membangun kampung dengan tidak pergi merantau. Berproses dan bersyukur atas semua yang telah Tuhan percayakan.

Terima kasih, Selo Lamatapo. Sebagai pembaca, Saya menyarankan Anda sekalian untuk membaca buku ini. Tidak semua penulis mampu menulis dengan baik tentang kehidupan di kampung halaman. Lokalitas yang diangkat dan menjadi daya tarik tersendiri. Sebuah karya yang cukup luar biasa.

Pogopeo, 2026

 

Alfianus Nggoa yang akrabnya Fian N, lahir di Boawae, Nagekeo-NTT. Tukang masak di Pondok Baca Mataleza. Musafir (Rose Book, 2018) Ada Rumah Dalam Tubuhku (Arashi Group, 2020) dan Kesedihan dan Tawa Terbuat dari Apa? (Guepedia, 2021) adalah tiga buku kumpulan puisi tunggalnya. Bisa dihubungi melalui, IG @kedaikata25 dan email alfianusnggoa@gmail.com

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puisi-Puisi Hyan Godho

    Puisi-Puisi Hyan Godho

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Hyand Godho
    • visibility 187
    • 0Komentar

    TUA JOSE [P. Yosef Wiese, SVD]   Opa Kumi kasi Tua Jose kuda besar Waktu ia datang ke Boanio Jauh-jauh dari Negeri Kincir Angin.   Nenek Tera kaget (istrinya Opa Kumi). “Orang Belanda, bukannya pegang senjata?” “Lalu curi kami pu rempah-rempah di ladang?”. “Juga Jagung, juga padi dan kelapa” tambahnya.   Tua Jose diam saja […]

  • Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Dr. Made Supriatma
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Oleh: Dr. Made Supriatma, Peneliti masalah Sosial dan Politik (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Matinya Altruisme? Serangan terhadap film dokumenter Pesta Babi datang dari semua arah. Kemarin, beredar video Mama Yasinta yang mengatakan dia tidak mengijinkan video dirinya dipakai dalam dokumenter ini. Seperti yang dikatakan oleh dua sutradara film ini, kita […]

  • 𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋  (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋 (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Selo Lamatapo
    • visibility 282
    • 0Komentar

    Selasa sampai Jumat yang lalu, saya kunjungi stasi-stasi di pedalaman di paroki kami di Alenquer-Amazon, untuk rayakan misa bersama umat. Pedalaman di sini jauh dari kebisingan, penuh dengan keheningan. Karena itu, saya gunakan kesempatan ini untuk baca karya kedua Kaka Fince Bataona, 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪, ‘istri’ dari 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, karya pertamanya. “Ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, maka harus ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪 supaya […]

  • Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Roy Wujon
    • visibility 190
    • 0Komentar

    Oleh: Roy Wujon Mahasiswa IFTK Ledalero Dalam sistem negara demokrasi seperti Indonesia, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers merupakan pilar penting yang patut dihargai. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kecenderungan pembatasan kritik publik melalui media, baik media massa konvensional maupun platform digital. Pembatasan tersebut sering kali dilakukan dengan dalih menjaga stabilitas, mencegah hoaks, atau melindungi […]

  • Memelihara Hati di Tengah Arus Digital:  Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    Memelihara Hati di Tengah Arus Digital: Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 442
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba, Frater OCD Dunia saat ini telah mengalami transformasi mendasar dalam cara manusia berinteraksi, berpikir, dan memaknai realitas. Bagi generasi Z dan Aplha, ekosistem digital bukan lagi sekadar alat bantu atau saluran komunikasi tambahan, melainkan lingkungan hidup utama tempat identitas dibentuk, relasi dijalin, dan makna kehidupan dicari. Kemudahan konektivitas yang ditawarkan oleh smartphone dan platform […]

  • Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Beny K. Harman
    • visibility 292
    • 0Komentar

    Oleh: Benny K. Harman Ketika aparat bergerak cepat membubarkan diskusi dan melarang pemutaran film Pesta Babi, Kolonialisme di Jaman Kita, sebuah pesan benderang sedang dikirimkan oleh penguasa kepada rakyatnya: kalian boleh hidup di negara ini, tapi kalian tidak boleh berpikir. Pelarangan massal terhadap film ini bukan sekadar tindakan sensor birokratis yang kolot. Ini adalah ekspresi ketakutan […]

expand_less