Breaking News
light_mode
Trending Tags

Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
  • visibility 319
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.”

Lima belas cerpen yang terangkum dalam Penggali Sumur (selanjutnya: PS), sebagai pembaca, saya menemukan sesuatu yang baru, yang belum pernah saya temukan dalam karya-karya Selo Lamatapo sebelumnya. Karena yang saya tahu, Selo Lamatapo lebih banyak menulis puisi. PS dalam jalinan kisahnya penuh kejutan tak terduga. Ada pernyataan yang menghentak dan ada pertanyaan yang menggugah. Pembaca akan digiring dari kisah yang satu ke kisah yang lain. Ada beragam penafsiran yang timbul di sana.

Sejak Penggali Sumur, pertanyaan akan eksistensi manusia pun muncul ke permukaan bagai air yang ditimba dari dasar sumur demi memuaskan setiap dahaga akan kebersamaan dari setiap masyarakat di tempat Selo Lamatapo berasal.

Kenapa om Banus ingin jadi penggali sumur?”

“Om ingin orang-orang di kampung ini bisa hidup. Karena air adalah sumber hidup kita, anak-anakku.”

Sumur selain sebagai sumber pemuas dahaga, juga merupakan tempat merelakan lelah lewat canda tawa, ada persatuan dan ada juga kesepakatan yang tak terduga tercipta di sana.

Keberadaan sumur yang terbuka menghadap langit itu tidak hanya memperpanjang hidup kami di musim kemarau, tetapi menumbuhkan cinta, persaudaraan, keakraban dan kebersamaan warga kampung kami.” Selain itu, “… Siapa pun yang datang ke sumur itu pasti menemukan cinta yang bahagia dan menyaksikan persatuan himpunan manusia yang tak membedakan suku, agama, dan ras di kolong langit ini.”

Selo Lamatapo menjadikan sumur sebagai simbol persatuan dan persekutuan bukan hanya untuk orang-orang di kampungnya tetapi juga untuk masyarakat luas. Sumur menjadi titik temu kehangatan, kedamaian serta kesejahteraan. Berbeda dengan Penggali Sumur, Bale-bale Marianus, Selo Lamatapo menarasikan pengalaman sosial di tengah ekonomi yang lemah-lembut melalui tokoh Marianus dan Ina Peni. “Mereka itu orang kampung, Ina. Sama dengan kita. Susah uangnya. Modal mereka cuma kopra, jambu mete, jagung titi dan kacang tanah. Itu musiman, Ina. Jadi sabar saja. Nanti juga dibayar.” Marianus yang adalah seorang tukang dan pemilik bengkel kayunya sendiri, tentu mengalami kekurangan, tetapi Marianus sadar bahwa di luar sana masih banyak orang-orang yang lebih membutuhkan pertolongan ketimbang keluarganya sendiri. Selain itu, karena Marianus hidup berdua saja dengan istrinya. Di pihak lain, harga komoditi petani seperti yang diungkapkan Marianus ditentukan oleh para pemilik modal yang berada jauh dari masyarakat setempat. Harga yang lebih banyak merugikan para petani. Umur kesusahan kian panjang dan makmur jika terus begitu.

Dalam Dua Cangkir Kopi di Hari Ulang Tahun Pernikahan, sebagai narator, Selo Lamatapo mempertegas kesederhanaan hidup dalam menjalani kehidupan yang kompleks ini. Di tengah kehidupan yang rumit dan serba sulit, manusia harus mampu beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi. “Kopi itu pahit, Jesica. Sama dengan hidup. Terkadang pahit. Makanya ayah meminta kamu membuatnya menjadi manis. Biar nikmat. Hidup itu perlu dinikmati walau ada pahitnya.” Dalam kehidupan rumah tangga, kopi menjadi pilihan utama saat menyambut pagi dan mengantar siang kepada malam. Kopi menjadi media antara keluarga di dalam rumah. Karena berbicara tentang kopi, bukan hanya tentang pahitnya tetapi proses menjadi secangkir kopi, itu yang dijadikan pelajaran.

Kepahitan hidup juga dirasakan Ben Laga karena desakan ekonomi, ia pun harus berdebat dengan ayahnya dan memilih untuk merantau ke Malaysia. “Tak perlulah kau merantau, Ben. Kebun kita sudah sediakan segalanya untuk kita. Garaplah kekayaan tanah kita. Hiduplah dari tanah kita, Ben.”

“Bagaimana kita harus menggarapnya? Tanah semakin kering Dan gersang. Hujan hanya turun sesekali. Sedangkan kita butuh uang tiap waktu.” Uang menjadi persoalan utama bagi masyarakat di kampung, di kota juga merasakan hal demikian. Manusia tak pernah puas dengan apa yang ada. Maunya gampang saja tanpa harus bersusah payah. Yang dialami Ben merupakan representasi masyarakat NTT seluruhnya. Banyak sekali lahan tidur yang tidak digarap. Lebih memilih untuk merantau dan di perantauan, sudah pasti harus bekerja untuk bisa bertahan hidup. Upah yang didapat kadang harus mengorbankan kesehatan. Tidak sedikit para perantau yang pulang kampung karena sakit dan bahkan ada yang meninggal di tanah perantauan karena sakit.

Apa yang manusia cari di tengah kehidupan yang sifatnya sementara saja? Kebahagiaan, kesejahteraan dan kedamaian? “Hidup soal datang dan pergi. Dunia hanya persinggahan sesaat. Namun, manusia memperlakukanmu dalam dua hal: menerima dan mencampakkan. Apa pun itu, tugasmu perbanyaklah kebaikan.” Pesan seorang Ibu kepada anaknya yang akan bepergian jauh meninggalkan kampung halaman, begitu bermakna dan kuat akan pesan yang sudah tentu akan diingat. Hal itu dinarasikan dengan baik di dalam Lelaki yang Ingin Menjadi Laut. Trauma masa lalu yang akhirnya mendorong si tokoh Ibu untuk selalu mengawasi anaknya agar menjauh dari laut. Latar tempat dari cerita ini adalah kampung Waiteba yang pada tahun 1979 Juli pada waktu malam hari, kampung tersebut tersapu gelombang dan longsor akibat meletusnya gunung Hobal, gunung api yang berada di dasar Laut Sawu. Bencana ini menelan banyak korban. Menjadi jelas, Selo Lamatapo sangat pandai meracik kisah dari setiap peristiwa masa lalu yang oleh semua orang tidak menyangka akan menjadi sebuah cerita (seperti yang Anda baca jika memiliki buku ini).

Di sisi lain, Selo Lamatapo melihat perubahan yang begitu pesat di dalam kehidupan masyarakat kita saat ini, terutama di daerah asalnya. “Anak kami tumbuh dalam kepungan kemajuan teknologi. Kemajuan tidak dapat dihindari, perubahan tak bisa dimungkiri. Banyak hal berubah dalam hitungan detik. Dan kami, orang-orang kampung terseret ke dalamnya.” Kemajuan teknologi pun menjadi pemantik terjadinya konflik dalam berumah tangga. Contoh kecil, “heandphone merupakan alat bantu melancarkan proses perselingkuhan. Sungguh memuakkan, namun demikianlah tabiat manusia yang berakal budi. Kian beradab, kian pula biadab.” Kritik Selo Lamatapo terhadap masyarakat pada jaman ini bukan tanpa sebab. Selo Lamatapo sadar, bahwa hampir di semua wilayah dan juga lapisan masyarakat, mengalami perubahan. Dan perubahan sering kali membawa petaka jika tidak bijak dalam pemakaiannya.

Perubahan di sisi lain membantu dan di sisi lain melenyapkan. Ambil contoh tentang tungku api. Kini sudah diganti oleh kompor dan ada yang lebih canggih, tinggal cok, semua masakan untuk makan pagi, siang dan malam pun beres. “Kamu masih harus belajar banyak hal dari tungku api ini. Sebab, tungku api ini adalah tungku kehidupan kita. Jika tiada nyala api di tungku, maka tiadalah kehidupan ini.” Kehangatan dalam rumah seketika lenyap. Canda tawa di dapur kini hampir tiada. Semua pelan-pelan hilang. Masa kecil anak-anak jaman sekarang tidak seperti dulu lagi. Sepulang sekolah, semua ramai-ramai mencari kayu bakar di hutan, mandi di sungai dan pulang penuh keriangan.

Semua sudah dan sedang terjadi. Manusia harus bisa hadapi perubahan dengan sabar. Sebab, kenyataan menimpa manusia tidak sesuai dengan harapannya. Angan manusia boleh lebih panjang dari lengannya, tetapi kenyataan jatuh atas caranya sendiri, bisa lebih panjang bahkan lebih pendek dari umur manusia.

Sampai pada titik ini, Saya sadar bahwa Selo Lamatapo sedang membawa Saya untuk pulang sejenak ke masa lalu. Sekadar bernostalgia dan kembali berbenah. Bahwa segala yang sudah terjadi hanya bisa dikenang ke dalam sebuah kenangan. Untuk pulang, manusia dihadapakan pada sebuah situasi yang sudah jauh berbeda. Dan Saya bersyukur, melalui jalinan kisah-kisah apik yang dibagikan Selo Lamatapo melalui tokoh-tokoh, alur ceritanya, setting tempat dan waktu, membuat Saya bangga menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang betah tinggal di kampung serta berjuang membangun kampung dengan tidak pergi merantau. Berproses dan bersyukur atas semua yang telah Tuhan percayakan.

Terima kasih, Selo Lamatapo. Sebagai pembaca, Saya menyarankan Anda sekalian untuk membaca buku ini. Tidak semua penulis mampu menulis dengan baik tentang kehidupan di kampung halaman. Lokalitas yang diangkat dan menjadi daya tarik tersendiri. Sebuah karya yang cukup luar biasa.

Pogopeo, 2026

 

Alfianus Nggoa yang akrabnya Fian N, lahir di Boawae, Nagekeo-NTT. Tukang masak di Pondok Baca Mataleza. Musafir (Rose Book, 2018) Ada Rumah Dalam Tubuhku (Arashi Group, 2020) dan Kesedihan dan Tawa Terbuat dari Apa? (Guepedia, 2021) adalah tiga buku kumpulan puisi tunggalnya. Bisa dihubungi melalui, IG @kedaikata25 dan email alfianusnggoa@gmail.com

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Stefen B
    • visibility 214
    • 2Komentar

    Namaku Martina Syukur. Orang biasa memanggilku Tina. Terlahir dari keluarga yang cukup berada dengan penghasilan yang bisa dibilang cukup, membuat aku merasa tak pernah berkekurangan. Semua kebutuhanku selalu terpenuhi. Aku juga memiliki saudara tetapi bukan sedarah. Namanya Tini. Dia adalah gadis kecil yang diadopsi oleh bapak dan mama dari sebuah panti asuhan setahun sebelum aku […]

  • PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 190
    • 4Komentar

    PERMEN edisi Kamis Paskah ke-5 – 07 MEI 2026 – Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi Inspirasi: Kis 15:7-21 ; Yohanes 15:9-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kurang baik apa lagi Tuhan kita, ajak kita untuk tinggal dalam kasih-Nya, supaya sukacita kita menjadi penuh. Yah, kasih memang menjadi ukuran sejati kematangan rohani. Kasih […]

  • Hanya 19 Persen? Jangan Pernah Meremehkan Tradisi Juara PSN Ngada!

    Hanya 19 Persen? Jangan Pernah Meremehkan Tradisi Juara PSN Ngada!

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 78
    • 0Komentar

    Rilis persentase peluang juara Liga 4 Piala Presiden 2026 oleh Bola Nusa memantik diskusi menarik di kalangan pencinta sepak bola nasional. Angka-angka yang tersaji bukan sekadar kalkulasi matematis di atas kertas, melainkan cerminan dari peta persaingan yang luar biasa ketat. Namun, di kasta ini, determinasi, mentalitas, dan konsistensi sering kali jauh lebih menentukan ketimbang hitungan […]

  • 𝗣𝗘𝗥𝗘𝗠𝗣𝗨𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚-𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗧𝗥𝗜𝗔𝗥𝗞𝗜?

    𝗣𝗘𝗥𝗘𝗠𝗣𝗨𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚-𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗧𝗥𝗜𝗔𝗥𝗞𝗜?

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Helena Beraf
    • visibility 452
    • 0Komentar

    Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat tempat saya lahir dan tumbuh yakni; kecenderungan menjaga anak perempuan mereka. Mengapa perempuan? Rupanya atas dasar norma, sopan santun dan budaya, anak perempuan (anak gadis) dipandang sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu dijaga kehormatannya. Perempuan dapat merepresentasikan kehormatan keluarganya. Saya ingat betul ketika saya memasuki masa remaja awal, mama kerapkali […]

  • PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 377
    • 8Komentar

    PERMEN edisi Sabtu Paskah ke-5 – 09 MEI 2026 – Tuhan dan Remote Control Inspirasi: Kis 16:1-10 ; Yohanes 15:18-21 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Bacaan pertama menggambarkan Paulus yang di dalam benaknya penuh dengan idealisme dan gagasan-gagasan mengenai kerasulan dan perutusan. Mau ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, pokoknya ide cemerlang dan itu sudah […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 438
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

expand_less