Breaking News
light_mode
Trending Tags

Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

  • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
  • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
  • visibility 551
  • comment 6 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026
Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

Inspirasi: Kis 6:1-7; I Ptr 2:4-9 ; Yohanes 14:1-12

Malu bertanya sesat di jalan, Rajin bertanya disangka wartawan // Selamat wahai umat beriman. Mari beri senyuman yang menawan.

Sakramen Pembaptisan sudah buat kita sejalan dan searah dengan Tuhan.

Tor monitor penikmat permen yang adalah domba-dombaku, gembala mau lapor kalau Yesus hari ini katakan: di tempat Aku berada, kamu pun berada. Tuhan mau kita searah dan sejalan. Atau bahasa anak muda, Tuhan ingin kita tetap se-frekuensi. Kalau arah kita kepada keselamatan, maka jalan kekatolikkan yang telah kita tempuh jangan sampai putus apalagi buntu. Kita tidak adil dengan Tuhan kalau sampai kita tidak sejalan, tidak searah dengan Tuhan. Apalagi mengeluh: Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke sana? Semoga kita dijauhkan dari mentalitas searah tetapi beda jalan. Contohnya, mereka yang nikah beda agama. Ini searah tapi beda jalan. Parahnya lagi, kita sudah sejalan tiba-tiba dia beda arah – tidur di tempat tidur yang sama tetapi dengan mimpi yang berbeda.

Makanya dari sinilah Yesus bilang tegas bahwa DIAlah, jalan kebenaran dan hidup.
Yesus amati cara beriman para murid yang meresahkan bahkan sampai ada murid yang bicara terbuka bagaimana mereka kehilangan jejak Kristus, jalan iman mereka sudah tidak sejalan, arah iman mereka sudah tidak jelas. “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi, bagaimana kami tahu jalan ke sana? Ini gambaran para murid yang jelas-jelas tidak bergerak bersama Yesus, tidak sejalan dengan Yesus dan kehilangan gairah untuk menemukan kebenaran dan hidup surgawi dalam Tuhan.

Pernyataan Thomas juga sebetulnya mewakili realitas zaman sekarang yang mana kita umat yang katanya pengikut Kristus, di tiktok katanya Katolikku keren, katanya 100% Indonesia -100% Katolik, yang katanya bangga dengan Katolik yang adem, tetapi itu baru katanya, karena nyata-nya kita dengan sengaja, dengan tahu dan mau, kita sudah tidak sejalan dengan Yesus, kita meragukan kebenaran dari Yesus dan tidak menjadikan Yesus sumber dan tujuan hidup kita. Memang, nyatanya tak seindah katanya.
Ada yang katanya Katolik sejak lahir, tetapi nyatanya: sungguh-sungguh menghayati Kekatolikkan ketika hidup mau berakhir. Selama sehat, masih hebat, masih punya jabatan, masih punya kekayaan: jalan kepada Tuhan dan Gereja itu macam tertutup. Aneh bin ajaib bahwa ketika hendak “game over” (wafat) mulai menuntut paling banyak dari Gereja dan Tuhan.

Ada yang katanya beriman kepada Tuhan, tetapi perilaku macam orang pakai susuk, masuk Gereja tidak nyaman, ikut ekaristi masuk keluar tidak tenang, gelisah kalau berada di tempat doa, tetapi betah di tempat dosa. Alasan doa dan pembacaan Firman Tuhan di rumah ibadat terlalu bertele-tele. Saya mau tanya: apakah doa kita terlalu panjang alias bertele-tele atau cinta kita kepada Tuhan terlalu singkat? Misa nikah nyaris tidak ada orang, tapi pas pesta, waduh, itu biar acara orang belum buka dia sudah datang.  Pas acara bebas ketemu kita baru ajak: Ayo shu Romo, goyang! Hmmm, kalau saya ajak kau sembayang, itu baru pucat!

Masih banyak gambaran bagaimana, manusia zaman sekarang sudah banyak yang salah jalan. Kebenaran sudah ditafsir sendiri-sendiri, tidak gubris dengan kebenaran bersama, dalam hal ini aturan dan kesepakatan bersama. Orang lebih pilih kesenangan sendiri sambil abaikan yang lainnya. Healing bareng bestie elit, Ekaristi sulit. Kalau dia rasa suka buka musik, dia tidak gubris, biar di sebelah tetangga ada doa rosario.

Ini merupakan gambaran bagaimana orang hidup tidak sejalan dengan Tuhan, tidak searah dengan iman Katolik sehingga sulit berjalan dalam kekompakan iman dan hidup tanpa kebenaran iman.
Marilah, jadikan Yesus jalan kebenaran dan hidup. Yesus itu Sabda yang telah menjadi manusia. Makanya, jadikan Sabda Allah itu jalan, kebenaran dan hidup. Rajin baca Kitab Suci, jangan mata hanya melotot lihat hape. Rajin dengar Firman Suci, jangan telinga hanya mau dengar gosipin tetangga. Mulut pakai untuk membawa kabar sukacita dari Tuhan, jangan hanya mau gunakan istilah dan anjay-anjay kan sesama, bicara hanya mau buat orang punya hati tabola bale. At least, senyum lah kalau tidak bisa bicara yang baik.
Sehingga, katanya dan nyatanya itu sejalan, searah dan se-frekuanesi dengan kehendak Tuhan dan panggilan imamiah kita sebagai murid Yesus.

Rm. Laurensius Feto, Pr

  • Penulis: Rm. Laurensius Feto, P.r
  • Editor: Mataleza

Komentar (6)

  • Sr.Lena fmm

    Terima kasih sudah membagi resep yang luar biasa, bukannya biasa di luar ya hehe..untuk membangun kehidupan manusia yang lebih bermutu..yang sejati..
    Tentu sangat dibutuhkan semangat kejujuran dan kerendahan hati manusia untuk menggapai tujuan dan arahnya di dalam Tuhan ♥️

    Balas3 Mei 2026 11:03 pm
  • martinafeto@gmail.com

    Mksh renungan Harming Paskah V hr ini Rm🙏👍🥰

    Balas3 Mei 2026 1:04 pm
  • Veromey

    Siaap Romo

    Sabda Allah bukan sekadar untuk dibaca, tetapi dihidupi: lewat apa yang kita lihat, dengar, dan ucapkan. Tantangannya jelas—di tengah kebiasaan duniawi, kita diajak untuk lebih peka pada suara Tuhan dan menjadi pembawa sukacita bagi sesama. Ketika kata dan tindakan selaras, di situlah kita sungguh menjadi murid Yesus yang autentik.

    Balas3 Mei 2026 12:59 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 571
    • 0Komentar

    Di tengah arus modernisasi dan pergeseran nilai-nilai tradisional, masyarakat Manggarai di Nusa Tenggara Timur masih mempertahankan sejumlah kearifan lokal yang sarat makna dan fungsi sosial. Salah satunya adalah konsep turuk empo, sebuah sistem genealogis yang menjadi penanda garis keturunan dalam masyarakat adat Manggarai. Konsep ini bukan sekadar alat penanda asal-usul, tetapi berperan besar dalam menjaga […]

  • Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua

    Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 351
    • 0Komentar

    Oleh: Aprianus Jebarus, Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari Rumah Di sudut ini hanya ada gumpalan asap yang menepi tanpa arah menemani ingatan yang perlahan menari di bawah langit yang tak lagi biru suaramu mengalun indah dalam imaji merajut kisah menjelma rindu tak berwujud setiap belaian rambut hitammu adalah inspirasi yang mengalun lembut dalam barisan […]

  • Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Ada orang yang mencintai sebuah tim karena sedang menjadi juara. Ada yang memilih karena mengikuti teman. Ada pula yang mencintainya karena semua orang di kampung melakukan hal yang sama. Saya tidak. Cinta saya kepada Spanyol lahir dari sebuah kebetulan yang sederhana. Tahun 2006, ketika informasi sepak bola belum semudah hari ini, saya melihat sebuah poster […]

  • Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 245
    • 2Komentar

    Fokus pada satu tujuan. Jangan gegabah dalam memperlakukan sebuah persoalan. Sering kali, manusia terjebak pada rasa ingin lebih akan sesuatu yang masih belum pasti seperti apa akhirnya. Dalam hidup, kita sering tergoda untuk menangani banyak masalah sekaligus. Ada perasaan seolah kita harus selalu produktif, selalu cepat menyelesaikan segalanya, dan selalu tampil prima. Namun, ironisnya, justru […]

  • Ketika Kamera Menjadi Mimbar: Kritik atas Kecenderungan Propagandis dalam Film seperti Pesta Babi

    Ketika Kamera Menjadi Mimbar: Kritik atas Kecenderungan Propagandis dalam Film seperti Pesta Babi

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle RD. Patris Allegro
    • visibility 273
    • 0Komentar

    Oleh : RD Patris Allegro   Film seperti Pesta Babi tidak boleh dibaca hanya sebagai dokumenter biasa. Ia bukan sekadar rangkaian gambar tentang tanah, masyarakat adat, babi, hutan, proyek negara, dan luka ekologis. Ia adalah sebuah tindakan penafsiran. Kamera tidak pernah hanya melihat; kamera memilih, memotong, mendekatkan, menjauhkan, memberi sunyi, memberi musik, memberi wajah, lalu […]

  • 𝗣𝗘𝗥𝗘𝗠𝗣𝗨𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚-𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗧𝗥𝗜𝗔𝗥𝗞𝗜?

    𝗣𝗘𝗥𝗘𝗠𝗣𝗨𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚-𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗧𝗥𝗜𝗔𝗥𝗞𝗜?

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Helena Beraf
    • visibility 609
    • 0Komentar

    Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat tempat saya lahir dan tumbuh yakni; kecenderungan menjaga anak perempuan mereka. Mengapa perempuan? Rupanya atas dasar norma, sopan santun dan budaya, anak perempuan (anak gadis) dipandang sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu dijaga kehormatannya. Perempuan dapat merepresentasikan kehormatan keluarganya. Saya ingat betul ketika saya memasuki masa remaja awal, mama kerapkali […]

expand_less