Breaking News
light_mode
Trending Tags

Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

  • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
  • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
  • visibility 225
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Kamu galak seperti macan betina / Barangkali kamu akan gila / Tapi tak akan mati.”

Sepenggal dialog tersebut menjadi pembuka yang menggugah dari pertunjukan Maria Zaitun yang dibawakan oleh Bengkel Seni Milenial (BSM), sebuah kelompok teater dari SMK Sura Dewa. Kelompok kecil ini secara konsisten menghidupkan ruang-ruang seni pertunjukan yang kerap sepi apresiasi.

Namun, teater tidak semata-mata hadir untuk mengundang tepuk tangan. Lebih dari itu, teater seharusnya mampu menggugah kesadaran: apakah para penonton hanya menjadi saksi, atau turut tergerak untuk merenungkan kembali makna kehidupan? Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: apakah kita masih memiliki belas kasih, atau justru semakin jauh dari empati?

Pertunjukan ini mengangkat Nyanyian Angsa, karya sastra dari pujangga besar Indonesia, W.S. Rendra. Tokoh utama dalam kisah ini adalah Maria Zaitun, seorang pelacur tua yang kehilangan arah hidup. Ia berkeliling, mengetuk hati manusia, berharap menemukan sedikit kepedulian. Namun, pertanyaannya menjadi tajam: apakah nilai-nilai keimanan hanya berhenti di bibir, dan kebaikan sekadar menjadi narasi tanpa tindakan nyata?

Maria Zaitun hadir sebagai potret ketidakadilan sosial. Ia merepresentasikan bagaimana stigma terhadap “pekerja malam” sering kali menutup ruang empati. Masyarakat cenderung menghakimi tanpa berusaha memahami latar belakang dan keterpaksaan yang melatarbelakangi pilihan hidup tersebut.

Realitas hari ini menunjukkan bahwa manusia semakin mudah menghakimi dan mencela, tetapi kerap abai ketika berhadapan dengan ketidakadilan. Dalam situasi demikian, harapan terakhir seolah hanya tertuju pada Tuhan, satu-satunya yang memeluk tanpa syarat, tanpa memandang latar belakang kehidupan seseorang.

Menariknya, meskipun Nyanyian Angsa ditulis pada akhir 1960-an, relevansinya masih terasa hingga hari ini. Di berbagai daerah, termasuk Nusa Tenggara Timur, persoalan kemiskinan ekstrem dan ketidakberdayaan masih menjadi realitas yang nyata. Kisah Maria Zaitun seakan menjadi cermin yang memantulkan wajah masyarakat kita sendiri.

Melalui refleksinya, tokoh Maria Zaitun mengajak kita untuk bertanya dengan jujur: masih adakah kepedulian yang tersisa dalam diri kita? Pada akhirnya, pertunjukan ini mengingatkan bahwa tempat kembali manusia hanyalah kepada Tuhan, yang menerima dan memeluk setiap insan dengan kasih tanpa batas.

Penampilan Bengkel Seni Milenial (BSM) dalam pertunjukan ini patut diapresiasi. Dengan penghayatan yang kuat, mereka berhasil menyampaikan pesan kemanusiaan yang mendalam di tengah dunia yang kian kehilangan arah.

Pertunjukan ini digelar pada Rabu, 22 April 2026, di SDK Lamenais, dalam momentum kebersamaan perayaan Halal Bihalal dan Paskah bersama SMK Sura Dewa Larantuka.

Moh. Zaini Ratuloli, S.Pd

  • Penulis: Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
  • Editor: Fian N

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Ketika Sunyi Tak Mampu Membisukan

    Sudut Pandang: Ketika Sunyi Tak Mampu Membisukan

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Paulina Bening Puspa Arum
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Oleh: Paulina Bening Puspa Arum Ada orang-orang yang pergi, lalu perlahan dilupakan. Nama mereka pernah disebut, wajah mereka pernah dikenal, tetapi waktu memiliki caranya sendiri untuk menghapus jejak. Ketika semakin sedikit orang yang mengingat kenangan pun perlahan menjadi samar. Bagi Pramoedya Ananta Toer, melupakan bukan perkara sederhana. Di Pulau Buru, tempat ia menjalani penahanan politik […]

  • Ibu di Kota

    Ibu di Kota

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 347
    • 0Komentar

    Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang? Sebelum […]

  • DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 803
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada kesempatan pertama, penulis mengapresiasi tulisan yang berjudul “Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis” karya Agustinus S. Sasmita. Agustinus mencoba membaca situasi yang sedang terjadi di NTT dengan kacamata yang tajam dan cukup menggugah eksistensi budaya belis. Tulisan ini juga menawarkan sebuah potret nyata yang melankolis mengenai “beban laki-laki NTT” dalam menghadapi ritual perkawinan […]

  • Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Roy Wujon
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Oleh: Roy Wujon Mahasiswa IFTK Ledalero Dalam sistem negara demokrasi seperti Indonesia, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers merupakan pilar penting yang patut dihargai. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kecenderungan pembatasan kritik publik melalui media, baik media massa konvensional maupun platform digital. Pembatasan tersebut sering kali dilakukan dengan dalih menjaga stabilitas, mencegah hoaks, atau melindungi […]

  • SKENARIO PARIPURNA OLIGARKI: Menanti Pahlawan Keadilan di Balik Kriminalisasi Nadiem Makarim

    SKENARIO PARIPURNA OLIGARKI: Menanti Pahlawan Keadilan di Balik Kriminalisasi Nadiem Makarim

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Mohammad Sjafie Tama
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Oleh: Mohammad Sjafie Tama Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Ibarat Tubuh, Indonesia sedang disayat-sayat oleh pedang hukum milik kuasa modal. Baru saja dipertontonkan kepada kita, ruang sidang yang seharusnya menjadi altar suci bagi keadilan kini berubah menjadi ruang jagal bagi para inovator dan pengabdi. Tuntutan 18 tahun penjara serta denda Rp 5,6 […]

  • Sudut Pandang: Menyulam Kasih di Atas Benang-benang Keriput photo_camera 3

    Sudut Pandang: Menyulam Kasih di Atas Benang-benang Keriput

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Agustinus Naisoko
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Oleh: Fr Agustinus Naisoko, CMM (Prodi: Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma)  Bunyi Kayu Tenun dan Bau Sopi yang Sederhana Di sebuah sudut desa yang tenang. Setiap kali mengingat masa kecil, hal pertama yang terlintas di ingatan saya bukanlah hal-hal yang indah, melainkan aroma tajam air nira dan bunyi kayu tenun Mama. Bapak tiri saya seorang […]

expand_less