Breaking News
light_mode
Trending Tags

Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

  • account_circle Maxi L. Sawung
  • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
  • visibility 267
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Redup

Aku akhirnya memilih agar tu(h)an

ataupun siapa saja tidak merenggut luka milikku.

Beberapa tangan datang mengetuk,

beberapa tangan mencoba memeluk tapi tetap

aku tutup pintu makam batu itu.

Kau pernah sekali atau bahkan berkali-kali

dengan buru-buru berlari agar lekas sampai

ketika datang melayat lukaku.

Sekadar menanyakan perihal masa penyembuhan atau

bagaimana dengan bekas luka-luka kenangannya.

 

Kau bertanya dengan nada lembut-serius

Aku menjawab penuh nada ketus

 

Redup, semua orang membicarakan kubur, rasa luluh,

rasa lelah dan memiliki yang tak lagi utuh.

Gua Maria 2026

 

Amin

Hari ini kami berdoa

Bunda mendengarkan, seperti biasa tabah

Dalam hati dia ucap

“Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu”

Dari kejauhan seseorang menyahut Amin

Dengan air mata yang ditahan dan mulut yang malu mengucap

Gua Maria, 2026

 

Hanyut

Hari ini orang-orang tertawa diiringi tanya dan jawab

Saya mengikutinya dari belakang

Sambil menebak

apakah air tetap segar di musim kemarau

Apa kita tetap dekat ketika kekeringan tiba

Air terus mengalir

Rasa tetap mengikuti alur

Batu tetap seperti itu

Daun jatuh

Pandangan saling menyahut

 

Berpaut, rasa nyaman itu seperti kau berjalan di depan

tanpa perlu diberitahu bahwa seseorang di belakang

mendoakan langkahmu

Gua Maria, 2026

 

Api

Di tengah hutan aku melihat api bekerja membakar rasa cemburu

yang kaku menjadi abu

 

Di tengah hutan aku melihat api bekerja membakar asuh

menjadi asa

 

Di tengah hutan aku melihat api bekerja membakar malu

menjadi mau

 

Di tengah hutan aku melihat api bekerja membakar tangis

jadi tawa

 

Di tengah hutan aku melihat api bekerja dari lilin yang

dinyalakan sepenuh hati yang berhati-hati

Gua Maria, 2026

 

Paskah

Tidak ada yang menyangka sebelum akhirnya kita terperanjat

bahwa pada masa silam ada sabda yang kini menjelma menjadi nyata

 

Doa-doa yang dilangitkan bersama cahaya lilin oleh dua rupa

kini terucap dari banyak wajah

 

Paskah, jika kebersamaan berarti harus menapaki jalan-jalan Golgota,

maka kita akan meminum anggur dari cawan yang sama

Gua Maria, 2026

 

Masakan Mama

di dapur seorang ibu memasak doa

selepas menyalakan lilin

selepas tidak lagi menyalahkan takdir

Amin, masakan ibu yang kadang kurang garam

tetapi kelebihan kasih sayang

Dapur Ema, 2026

 

Maxi L Sawung, anak Bajawa yang makin betah tinggal di Maumere karena Moke,ย  Buku dan KopRo.

  • Penulis: Maxi L. Sawung
  • Editor: Fian N

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 210
    • 2Komentar

    Fokus pada satu tujuan. Jangan gegabah dalam memperlakukan sebuah persoalan. Sering kali, manusia terjebak pada rasa ingin lebih akan sesuatu yang masih belum pasti seperti apa akhirnya. Dalam hidup, kita sering tergoda untuk menangani banyak masalah sekaligus. Ada perasaan seolah kita harus selalu produktif, selalu cepat menyelesaikan segalanya, dan selalu tampil prima. Namun, ironisnya, justru […]

  • Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan. Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia. Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai. Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang […]

  • Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle ๐™‡๐™š๐™ค๐™ฅ๐™ค๐™ก๐™™ ๐™๐™๐™š๐™ง๐™ž๐™ 
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Oleh: ๐™‡๐™š๐™ค๐™ฅ๐™ค๐™ก๐™™ ๐™๐™๐™š๐™ง๐™ž๐™  Politisi dan Pemerhati Global Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak. Disiplin Pajak Adalah Bentuk Solidaritas Sosial, Bukan Penindasan terhadap Rakyat Kecil .. Perdebatan mengenai Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025 yang mengaitkan akses pembelian BBM bersubsidi dengan kepatuhan membayar Pajak Kendaraan Bermotor […]

  • Siapakah Saya?

    Siapakah Saya?

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tuntutan, banyak orang terjebak dalam rutinitas tanpa sempat berhenti sejenak untuk merenung. Kita sering sibuk mengejar prestasi, memenuhi ekspektasi orang lain, haus akan validasi atau sekadar bertahan dari tekanan sehari-hari, hingga lupa menanyakan hal yang paling mendasar: โ€œSiapakah saya?โ€ Pertanyaan sederhana namun mendalam ini sering kali […]

  • Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

    Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Di Rumah Tuhan Hujan pun turun, lalu aku berteduh di rumah-Nya. Kutatap langit, reda, lalu kupamit pulang. Namun hujan kembali mengguyur, seolah Dia hendakย  berkata: โ€Jangan pulang dulu, Aku masih rindu.โ€ Aku singgah di perhentian terakhir,ย  dan di sana pun, Dia menyambut. Dengan lembut, tanpa suara, tapi hangat seperti peluk yang tak terlihat. Mungkin memang […]

  • Ketika Kamera Menjadi Mimbar: Kritik atas Kecenderungan Propagandis dalam Film seperti Pesta Babi

    Ketika Kamera Menjadi Mimbar: Kritik atas Kecenderungan Propagandis dalam Film seperti Pesta Babi

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle RD. Patris Allegro
    • visibility 231
    • 0Komentar

    Oleh : RD Patris Allegro   Film seperti Pesta Babi tidak boleh dibaca hanya sebagai dokumenter biasa. Ia bukan sekadar rangkaian gambar tentang tanah, masyarakat adat, babi, hutan, proyek negara, dan luka ekologis. Ia adalah sebuah tindakan penafsiran. Kamera tidak pernah hanya melihat; kamera memilih, memotong, mendekatkan, menjauhkan, memberi sunyi, memberi musik, memberi wajah, lalu […]

expand_less