Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mahasiswa MBKM Program Studi Ilmu Pemerintahan Resmi Diterima di Desa Oesena: Wujud Nyata Integrasi Akademik dan Pengabdian Masyarakat

  • account_circle Redaksi Mataleza
  • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
  • visibility 170
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

OESENA, 11 Mei 2026 — Sebanyak 16 mahasiswa/i Program Studi Ilmu Pemerintahan yang mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) secara resmi diterima oleh Kepala Desa Oesena beserta seluruh perangkat desa dalam kegiatan penerimaan dan pemaparan program kerja yang berlangsung di Kantor Desa Oesena pada Senin, 11 Mei 2026. Kegiatan ini menandai awal pelaksanaan program MBKM skema desa binaan yang mewadahi dua jalur partisipasi mahasiswa, yaitu skema pengabdian kepada masyarakat dan skema penelitian ilmiah.

Program MBKM skema desa binaan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengimplementasikan pengetahuan akademik yang telah diperoleh mahasiswa di bangku perkuliahan ke dalam konteks kehidupan masyarakat secara nyata. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar langsung di lapangan, memperluas wawasan mahasiswa terkait tata kelola pemerintahan desa, serta memberikan kontribusi konkret kepada Kepala Desa, perangkat desa, dan masyarakat Desa Oesena. Kehadiran mahasiswa di desa diharapkan mampu memperkuat sinergi antara lembaga perguruan tinggi dan pemerintah desa sebagai unit terkecil dalam sistem pemerintahan Indonesia.

Bertempat di aula Kantor Desa Oesena, kegiatan ini diawali dengan apel pagi di halaman depan kantor desa sebagai simbol kedisiplinan dan kesiapan mahasiswa dalam menjalankan tugas di lapangan. Setelah apel, seluruh peserta diarahkan masuk ke ruang aula untuk mengikuti rangkaian acara resmi penerimaan. Desa Oesena dipilih sebagai lokasi desa binaan dalam program ini sebagai bagian dari upaya institusi pendidikan untuk mendekatkan mahasiswa pada dinamika pemerintahan desa secara langsung.

Kegiatan ini dihadiri oleh dua Dosen Pendamping Lapangan (DPL) dari Program Studi Ilmu Pemerintahan, yaitu Ibu Yohana Fransiska Medho, S.I.P., M.I.P. dan Bapak Bruno Rey Sonby Pantola, S.I.P., M.I.P., yang turut hadir mendampingi dan membimbing mahasiswa selama masa penugasan di desa. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri langsung oleh Kepala Desa Oesena beserta jajaran perangkat desa. Seluruh mahasiswa MBKM, baik yang mengikuti skema pengabdian maupun skema penelitian, turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.

Rangkaian acara penerimaan dibuka dengan sesi perkenalan yang dipandu oleh para Dosen Pendamping Lapangan, diikuti dengan perkenalan dari Kepala Desa, perangkat desa, dan seluruh mahasiswa MBKM yang hadir. Sesi perkenalan ini berfungsi sebagai jembatan komunikasi awal antara mahasiswa dan pemangku kepentingan desa guna membangun relasi kerja yang kondusif dan kolaboratif. Setelah sesi perkenalan berlangsung dengan lancar, acara dilanjutkan dengan pemaparan program kerja kelompok dan individu oleh mahasiswa yang mengikuti skema pengabdian.

Dalam sesi sambutan, Dosen Pendamping Lapangan, Yohana Fransiska Medho, S.I.P., M.I.P., menyampaikan harapannya agar kehadiran mahasiswa di desa tidak hanya bersifat satu arah. Ia menegaskan bahwa “kehadiran mahasiswa di sini bukan hanya mengabdi kepada masyarakat, tetapi juga belajar dengan masyarakat karena kami percaya bahwa bapak/ibu mempunyai pengalaman banyak dan mampu membimbing mereka selayaknya anak sendiri dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan ke depan. Mahasiswa diminta untuk berkolaborasi dengan berbagai stakeholder untuk melaksanakan program-program kerja mereka dengan baik sehingga berdampak positif dan meninggalkan sesuatu yang bisa di kenang dan bermanfaat bagi masyarakat desa Oesena. Ke lapangan bukan hanya formalitas untuk mendapatkan nilai tapi mengenai tindakan sikap karakter di asah dan dibina di tengah masyrkat dengan pengabdian2 yang bisa berkontribusi bagi perubahan, pertumbuhan dan perkembangan dan pemberdayaan  desa ke arah yang lebih baik dan mandiri.

Sambutan hangat juga datang dari Kepala Desa Oesena, Nelson F. Boymaun, yang menyatakan kesiapan pihak desa untuk berkolaborasi dengan para mahasiswa. Ia berharap kehadiran mahasiswa dapat menjawab kebutuhan nyata yang selama ini dirasakan oleh pemerintah desa. “Kedatangan adik-adik mahasiswa diharapkan mampu membantu kami dalam pelayanan kepada masyarakat. Kami masih banyak kekurangan, masih ada perangkat desa yang belum menguasai perangkat lunak, dan dengan kehadiran adik-adik mahasiswa, kami berharap dapat memperoleh pelatihan yang dibutuhkan,” ujar Nelson.

Setelah seluruh rangkaian sesi sambutan dan pemaparan program kerja selesai dilaksanakan, kegiatan penerimaan mahasiswa MBKM di Desa Oesena ditutup dengan sesi dokumentasi berupa foto bersama yang melibatkan seluruh mahasiswa, Dosen Pendamping Lapangan, Kepala Desa, dan perangkat desa. Kegiatan ini diharapkan menjadi pijakan awal yang kuat bagi mahasiswa dalam menjalankan seluruh rangkaian program MBKM secara profesional, bertanggung jawab, dan berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat Desa Oesena.

 

  • Penulis: Redaksi Mataleza
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda. Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang […]

  • Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 318
    • 2Komentar

    “Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.” Lima belas cerpen […]

  • Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Pater Marsel Koka, RCJ
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Marsel Koka, RCJ (Pastor dari Konggregasi Rogasionis Hati Yesus Maumere) Di sela-sela masa akhir liburan, saya berkesempatan mengunjungi kembali sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecil selama enam tahun: SDN Riominsi, yang dahulu kami kenal sebagai SDK Terong Kedong. Sekolah kecil ini berada di Kampung Latung, Desa Benteng Tawa V, Kecamatan […]

  • INDONESIA DARURAT KEKERASAN FISIK: LOGIKA “DI BAWAH TELAPAK KAKI”

    INDONESIA DARURAT KEKERASAN FISIK: LOGIKA “DI BAWAH TELAPAK KAKI”

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Filmon Hasrin
    • visibility 340
    • 4Komentar

    Sejak Indonesia merdeka pada 1945, harapannya jelas: terbebas dari kekerasan fisik dan konflik bersenjata. Namun, realitas berbicara lain. Kekerasan justru terus hadir dalam berbagai bentuk dan periode. Sejarah mencatat pembunuhan aktivis seperti Tan Malaka, hilangnya Widji Thukul pada era Orde Baru, hingga tragedi kekerasan massal 1965 dan 1998. Peristiwa-peristiwa tersebut bukan sekadar catatan masa lalu, […]

  • Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

    Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle John Orlando, S.Fil
    • visibility 242
    • 0Komentar

    Kami terlalu lelah. Kalimat itu tidak lahir dari satu hari yang buruk, melainkan dari bertahun-tahun yang menumpuk dalam diam. Lelah karena harus mengerti sebelum waktunya, lelah karena harus kuat ketika tidak ada pilihan lain, lelah karena tumbuh di antara suara yang selalu lebih keras dari hati kami sendiri. Kami tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana rasanya […]

  • Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Rein Lagang
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Oleh: Rein Lagang, Mahasiswa IFTK Ledalero.  Komunikasi tak hanya berfungsi menjadi alat penyampaian informasi, tetapi pula sebagai sarana untuk membangun ciri-ciri, menjaga kehormatan, serta mempertahankan korelasi sosial. Dalam setiap interaksi, individu sebenarnya sedang melakukan perundingan terhadap “wajah” (face), yaitu gambaran diri serta harga diri yg ingin dipertahankan di hadapan orang lain. Konsep ini dijelaskan secara […]

expand_less