Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

  • account_circle Alvarez Keupung
  • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
  • visibility 158
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Alvares Keupung adalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.

 

TIGA RINDU

Rindu ini tiba – tiba datang
Untuk ayah yang selalu tenang dalam diam
Setelah wajahnya tak pernah kutemukan lagi
Bahkan pada mimpi yang dihembuskan angin sekalipun
Serasa aku kehilangan jejak pencarian ribuan tahun

Rindu ini pun tiba – tiba bersua
Untuk ibu, aku begitu gelisah pada kata miliknya tak bersahutan lagi
Diamnya kali ini begitu lengang melewati hari-hari yang masih berdetak
Tak lagi bersuara seperti yang sudah-sudah
Ibu, biarkan aku sejenak bertanya: alamat mana kita nanti berjumpa ?

Rindu ini pun tiba lagi
Untukmu kakanda, aku hanya ingin memastikan apakah senyum itu masih ada
Entah mengapa sepiku begitu menusuk
Tak ada lagi cerita dan diskusi kita yang begitu mengalir
Kanda, peluk rinduku erat-erat
Agar tak pernah jadi luka abadi yang kutanggung sendiri

Bagimu semua, tiga rindu ini adalah doa yang menggetarkan mata batin Tuhan kita.

Ende, 8 Mei 2026.

ROH

Kalau engkau adalah angin
Berhembuslah saja dengan sepoimu

Kalau engkau adalah api
Menyalahlah saja dengan hangatmu

Kalau engkau adalah merpati
Kepaklah saja dengan sayapmu

Datanglah mengunjungi jiwaku yang bertepi
Tempat merangkul segala darimu.

Ende, 8 Mei 2026.

MENULIS DIRI

Aku tak mau gelisah membeku di ujung sukma
Maka yang semula adalah kata kutulis di sini
Tentang aku : “yang adalah apa yang aku pikirkan”

Mula-mula aku menulis diri di atas helai hati sendiri
Kemudian berjumpa dengan apa yang paling abadi, yang namanya waktu

Aku memburu sepi di ruang-ruang keramaian
Membahasakan tubuhku, membahasakan jiwaku, membahasakan rasaku, membahasakan kehendakku, membahasakan adaku

Sesudah menjelajahi segala dengan kata
Lalu kualamatkan kepada lubuk semesta:
Puisi ini seibarat keromantisan yang paling intim
Lebih mahal dari mentari yang dirindui pada musim hujan.

Ende, 8 Mei 2026.

JEJAK

Tuhan,
Aku bingung di sini
Pada gelapnya hidup ini

Ingin kutuntun diriku
Dengan rupa-rupa langkah, entah berapa hitungan

Jawablah saja Tuhan
Dengan cahaya manakah aku pastikan ada yang sebegitu dekat menemaniku

Mungkinkah Kau, tak berkesudahan menggendong jejakku dalam segala kegembiraanku, pun dalam segala sedihku.

Ende, 8 Mei 2026.

SEPI YANG BERISIK

Angin datang sepagi ini
Merayu dedaunan untuk bercinta sejenak
Mungkin sekadar canda
Agar datangnya tidak sia-sia

Sepi ini pun menjelma berisik
Entahlah mau berkabar kepada siapa
Sedang di balik jendela, aku melihat dedaunan “berdansa” merayakan pesta cinta

Aku pun tak seberuntung mujur
Sepi ini sebegitu berisik.

Ende, 8 Mei 2026.

  • Penulis: Alvarez Keupung
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Duka Pernikahan  dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Sella Suhardi
    • visibility 263
    • 5Komentar

    Duka Pernikahan (I) Aku pernah, pernah sekali mencintaimu Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar   Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap […]

  • Ruang Rasa: Kepekaan dan Rasa Peduli-Jalan Menjadi Manusia yang Lebih Utuh

    Ruang Rasa: Kepekaan dan Rasa Peduli-Jalan Menjadi Manusia yang Lebih Utuh

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 171
    • 7Komentar

    Hallo, teman-teman pembaca setia mataleza.com Senang kita bisa bertemu lagi di sini, di #Ruangrasa yang sudah cukup lama saya tidak bagikan. Saya yakin, di luar sana ada penantian penuh penasaran. Dan saya perlu meminta maaf jika tidak sering update secara berkala. Ya, maklum, bapak satu anak ini kadang sering menyibukkan diri dengan hal-hal remeh, misalnya […]

  • Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Marianus Lako
    • visibility 144
    • 2Komentar

    Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan Perjalanan menuju Rindu dan Kenangan Apa itu sebuah kerinduan? Kalau tentang sakit dan pedih yang menyala paling berkaca-kaca tuk menyumbang luka? Apa itu kerelaan? Kalau tentang melepas tapi masih melekat Kalau tentang ikhlas tapi di dada memberat Kalau tentang mengenang tapi selalu merengkuh ketenangan Meo 2026 Gagasan Kesepian Apa pernah […]

  • 4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 144
    • 4Komentar

    Apa yang paling kau takuti saat bertemu teman-teman lama? Ini pertanyaan pembuka yang saya coba ajukan untuk diri sendiri sebagai pemberi stimulus. Tujuannya adalah agar saya bisa menulisnya sampai tuntas! Tepatnya tidak ke luar dari ide besar yang sudah didapatakan melalui judul di atas. Senin, 09 Desember 2024 tepat di jam 17:27 saya ditelepon oleh […]

  • Prihartini

    Prihartini

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 366
    • 2Komentar

    Kunang-kunang beterbangan kian kemari, sesekali hinggap di meja makan tua dari kayu mahoni, sesekali mendarat di kepala Prihartini yang tengah tenggelam dalam lamunan. Kesedihan terukir jelas pada wajah mudanya. Matanya merah, serupa tumpahan air sirih pinang di pelataran teras. Tak ada hujan air mata, hanya perih yang melumat habis kesadarannya. Ia seolah meluruh, tak berdaya […]

  • Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 87
    • 0Komentar

    8 Juni 2026 akan menjadi salah satu tanggal yang layak dikenang dalam perjalanan pendidikan di Boawae. Sore itu, Kotagoa Sport Area tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya pertandingan. Lapangan itu berubah menjadi panggung harapan, tempat lahirnya keberanian, kerja keras, dan mimpi-mimpi besar anak-anak. Sebanyak 27 tim dari berbagai Sekolah Dasar siap bertarung dalam cabang olahraga voli […]

expand_less