Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik
- account_circle Alvarez Keupung
- calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
- visibility 84
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Alvares Keupung adalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.
TIGA RINDU
Rindu ini tiba – tiba datang
Untuk ayah yang selalu tenang dalam diam
Setelah wajahnya tak pernah kutemukan lagi
Bahkan pada mimpi yang dihembuskan angin sekalipun
Serasa aku kehilangan jejak pencarian ribuan tahun
Rindu ini pun tiba – tiba bersua
Untuk ibu, aku begitu gelisah pada kata miliknya tak bersahutan lagi
Diamnya kali ini begitu lengang melewati hari-hari yang masih berdetak
Tak lagi bersuara seperti yang sudah-sudah
Ibu, biarkan aku sejenak bertanya: alamat mana kita nanti berjumpa ?
Rindu ini pun tiba lagi
Untukmu kakanda, aku hanya ingin memastikan apakah senyum itu masih ada
Entah mengapa sepiku begitu menusuk
Tak ada lagi cerita dan diskusi kita yang begitu mengalir
Kanda, peluk rinduku erat-erat
Agar tak pernah jadi luka abadi yang kutanggung sendiri
Bagimu semua, tiga rindu ini adalah doa yang menggetarkan mata batin Tuhan kita.
Ende, 8 Mei 2026.
ROH
Kalau engkau adalah angin
Berhembuslah saja dengan sepoimu
Kalau engkau adalah api
Menyalahlah saja dengan hangatmu
Kalau engkau adalah merpati
Kepaklah saja dengan sayapmu
Datanglah mengunjungi jiwaku yang bertepi
Tempat merangkul segala darimu.
Ende, 8 Mei 2026.
MENULIS DIRI
Aku tak mau gelisah membeku di ujung sukma
Maka yang semula adalah kata kutulis di sini
Tentang aku : “yang adalah apa yang aku pikirkan”
Mula-mula aku menulis diri di atas helai hati sendiri
Kemudian berjumpa dengan apa yang paling abadi, yang namanya waktu
Aku memburu sepi di ruang-ruang keramaian
Membahasakan tubuhku, membahasakan jiwaku, membahasakan rasaku, membahasakan kehendakku, membahasakan adaku
Sesudah menjelajahi segala dengan kata
Lalu kualamatkan kepada lubuk semesta:
Puisi ini seibarat keromantisan yang paling intim
Lebih mahal dari mentari yang dirindui pada musim hujan.
Ende, 8 Mei 2026.
JEJAK
Tuhan,
Aku bingung di sini
Pada gelapnya hidup ini
Ingin kutuntun diriku
Dengan rupa-rupa langkah, entah berapa hitungan
Jawablah saja Tuhan
Dengan cahaya manakah aku pastikan ada yang sebegitu dekat menemaniku
Mungkinkah Kau, tak berkesudahan menggendong jejakku dalam segala kegembiraanku, pun dalam segala sedihku.
Ende, 8 Mei 2026.
SEPI YANG BERISIK
Angin datang sepagi ini
Merayu dedaunan untuk bercinta sejenak
Mungkin sekadar canda
Agar datangnya tidak sia-sia
Sepi ini pun menjelma berisik
Entahlah mau berkabar kepada siapa
Sedang di balik jendela, aku melihat dedaunan “berdansa” merayakan pesta cinta
Aku pun tak seberuntung mujur
Sepi ini sebegitu berisik.
Ende, 8 Mei 2026.
- Penulis: Alvarez Keupung
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar