Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

  • account_circle Helena Lose Beraf
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • visibility 356
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PENGAKUAN

Gebby,
katakan kita orang berdosa—
bukan untuk mengadili,
melainkan untuk meletakkan batu-batu luka
di altar yang sama.

Namamu gugur di kertas sunyi
seperti hujan yang menyingkap rahasia tanah;
aku menulis, lalu mengakui kebodohanku,
mengumpulkan sisa-sisa kata yang terluka.

Di matamu, kutemukan langit yang lain,
yang merengkuh semua kesalahan,
menyulapnya jadi debu yang lambat jatuh
di antara napas kita yang belum sembuh.

Katakan kita orang berdosa
supaya cinta ini tahu bentuknya
bukan suci, tapi bertahan;
bukan sempurna, namun setia pulang.

Gebb,
katakan kita orang berdosa, lalu tertawalah
karena dosa itu hanya nama untuk manusia yang mencoba.

Di antara noktah dan jeda sajakku,
terdengar bisik yang tak kenal malu
bahwa kita juga pernah tersesat,

Kau dan aku, dua bayang yang memegang tangan,
menyusuri lorong-lorong kesalahan,
menyalakan lilin kecil setiap kali gelap melahap.

Katakan kita orang berdosa;
karena seandainya bukan begitu,
siapa lagi yang akan mengajarkan kita cara berbelas kasih?

BAHASA SUNYI

Puisi memanggilku kembali ke jantung malam
mendengar degup bunyi sunyi yang selalu jujur membahasakan kelembutanya

Kebanyakan manusia terlalu banyak bersuara, sementara mereka tidaklah sadar
“kesunyian sedang menenun puisi”
menjahit kata-kata yang kelak dibaca sebagai pakaiannya.

Puisi memanggilku kembali
pulang merengkuh sepi
dengan telinga dan mata pena
kuamati gerak rahasia angin yang terkunci pada selembar daun

Kudengar getar degup cinta yang diam-diam membunyikan diriku

Kudengar nama-Mu dibisik keheningan
dan pada segala bentuk alasan manusia ingin pulang
seperti suara cinta yang memanggil dari patahan-patahan hati

Puisi memanggilku kembali
membahasakan apa-apa yang dirahasiakan dan sulit diucapkan
seumpama manusia yang berbeda
-tidak akan pernah menjanjikan cinta yang sama

Maka percayalah puisiku
antara kau dan aku
:cinta tak terlahir dari apapun
ia ada sebelum tangis pertama kita
memecah kecemasan manusia

Puisiku
aku pulang,
mendekapmu penuh seluruh

(Telaga Bestari 20 Maret 2025)

KAU YANG BERDENYUT DI JANTUNG PUISIKU

Malam telah menampakkan wajahnya. Sunyi menepi di jantung.
Namun, puisi masih ingin menyentuhmu,..

Mari, berdiamlah di jantungku
yang selalu menyeru namamu lebih sering daripada detaknya.

Puisi masih ingin menyentuhmu.

menyentuhmu

Aku milikmu malam ini, Puisi
lucutilah segala sunyi dari tubuhku
sentuhlah sentuh kesedihan ini hingga lekuk paling rahasia

Kecupkan bahasa di bibir waktu, biarkan malam melepas helai demi helai detik: menelanjangi detak rindu, yang berdenyut di ingatanku.

yang unggun boleh kayu bakar, kekasih. Namun yang menghantarkan hangat itu sekal tubuhmu yang lebih jari dari api; yang lebih jalar dari sunyi dan cemas.

Aku milikmu malam ini, puisi.
lucutilah segala sunyi dari tubuhku

Entah dengan bahasa apa Tuhan mengenalkan cinta,
sesuatu yang tumbuh dari pengasingan manusia,
berpucuk menjuntai hati, berakar tunggang di tubuhku, menjadi degup yang tak mampu diurai waktu

bacalah aku pada pagi embunmu; siang peluhmu; atau malam sepimu
sebagai puisi yang menemukan dirinya; rindu yang bertubuh.
memelukmu dengan seribu satu cara
ia belajar menyelipkan pelukannya dalam bunyi dan katakata
yang tak bisa diterjemahkannya kepada punggung dan bahumu

Helena Lose Beraf– Bidan, Guru, penulis, pecinta Sastra. Di tengah dunia yang terlalu gaduh berbicara, aku memilih tinggal di antara puisi, kesunyian, dan kata-kata yang masih memiliki jiwa.

  • Penulis: Helena Lose Beraf
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 685
    • 2Komentar

    Dalam karyanya “21 Pelajaran untuk Abad ke-21”, Yuval Hoah Harari mengatakan “jika masa depan umat manusia diputuskan tanpa melibatkan anda, kerena anda sibuk memberi makan dan memakaikan pakaian anak anda, tetap saja anda dan anak anda tidak bisa lepas dari konsekuensinya. Ini memang sungguh tidak adil, tetapi siapa bilang sejarah itu adil?” (Harari, 2023). Namun […]

  • Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Giorgio Babo Moggi
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Oleh: Giorgio Babo Moggi Di sudut kota Rosario yang riuh dan berdebu, sebuah rumah sederhana berdiri tenang. Rumah itu tidak dibangun oleh arsitek terkenal, melainkan oleh tangan seorang ayah dan kakek yang percaya bahwa keluarga selalu membutuhkan tempat untuk pulang. Di sanalah, pada 24 Juni 1987, lahir seorang bocah bernama Lionel Andrés Messi, anak ketiga […]

  • DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Maria Makdalena
    • visibility 294
    • 0Komentar

    Doa Di ujung harap aku berdoa, sembari mengatup penuh khusyuk. Bait demi bait mulai melantun. Seirama deru angin di siang itu. Di perhentian itu aku terdiam, riuhnya alam bergejolak mengiyakan seluruh ucapan yang terhenti di langit. Dalam lantunan doa yang dilafas, di seberang sana ada wanita janda sedang menangis. Ratapan demi ratapan mulai terdengar, adakah […]

  • Sudut Pandang: Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara, S. J: Sosok di Balik Perjalanan Sanata Dharma

    Sudut Pandang: Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara, S. J: Sosok di Balik Perjalanan Sanata Dharma

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Novita Din
    • visibility 104
    • 2Komentar

    “Pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda.” Romo Driyarkara: Dari Pendidik hingga Penjaga Martabat Manusia Nama Romo Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara, S.J. tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang pendidikan di Indonesia, khususnya Universitas Sanata Dharma. Lahir di Kedunggubah, Purworejo, pada 13 Juni 1893 dengan nama Djentoe, Driyarkara kemudian memilih jalan hidup sebagai imam Jesuit sekaligus pendidik dan […]

  • Sudut Pandang: Keringat Ayah Adalah Harapan Kami photo_camera 1

    Sudut Pandang: Keringat Ayah Adalah Harapan Kami

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Desan Viktoria Aso
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Perjuangan seorang ayah petani dalam membesarkan tujuh anak, menghadapi kehilangan, dan menjaga harapan keluarganya.    Oleh: Maria Desan Viktoria Aso   Setiap keluarga memiliki cerita perjuangannya masing-masing. Ada keluarga yang hidup dengan segala kemudahan, tetapi ada juga keluarga yang harus melewati banyak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di balik kehidupan sebuah keluarga, biasanya terdapat sosok […]

  • PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 410
    • 8Komentar

    PERMEN edisi Sabtu Paskah ke-5 – 09 MEI 2026 – Tuhan dan Remote Control Inspirasi: Kis 16:1-10 ; Yohanes 15:18-21 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Bacaan pertama menggambarkan Paulus yang di dalam benaknya penuh dengan idealisme dan gagasan-gagasan mengenai kerasulan dan perutusan. Mau ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, pokoknya ide cemerlang dan itu sudah […]

expand_less