Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

  • account_circle Helena Lose Beraf
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • visibility 140
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PENGAKUAN

Gebby,
katakan kita orang berdosa—
bukan untuk mengadili,
melainkan untuk meletakkan batu-batu luka
di altar yang sama.

Namamu gugur di kertas sunyi
seperti hujan yang menyingkap rahasia tanah;
aku menulis, lalu mengakui kebodohanku,
mengumpulkan sisa-sisa kata yang terluka.

Di matamu, kutemukan langit yang lain,
yang merengkuh semua kesalahan,
menyulapnya jadi debu yang lambat jatuh
di antara napas kita yang belum sembuh.

Katakan kita orang berdosa
supaya cinta ini tahu bentuknya
bukan suci, tapi bertahan;
bukan sempurna, namun setia pulang.

Gebb,
katakan kita orang berdosa, lalu tertawalah
karena dosa itu hanya nama untuk manusia yang mencoba.

Di antara noktah dan jeda sajakku,
terdengar bisik yang tak kenal malu
bahwa kita juga pernah tersesat,

Kau dan aku, dua bayang yang memegang tangan,
menyusuri lorong-lorong kesalahan,
menyalakan lilin kecil setiap kali gelap melahap.

Katakan kita orang berdosa;
karena seandainya bukan begitu,
siapa lagi yang akan mengajarkan kita cara berbelas kasih?

BAHASA SUNYI

Puisi memanggilku kembali ke jantung malam
mendengar degup bunyi sunyi yang selalu jujur membahasakan kelembutanya

Kebanyakan manusia terlalu banyak bersuara, sementara mereka tidaklah sadar
“kesunyian sedang menenun puisi”
menjahit kata-kata yang kelak dibaca sebagai pakaiannya.

Puisi memanggilku kembali
pulang merengkuh sepi
dengan telinga dan mata pena
kuamati gerak rahasia angin yang terkunci pada selembar daun

Kudengar getar degup cinta yang diam-diam membunyikan diriku

Kudengar nama-Mu dibisik keheningan
dan pada segala bentuk alasan manusia ingin pulang
seperti suara cinta yang memanggil dari patahan-patahan hati

Puisi memanggilku kembali
membahasakan apa-apa yang dirahasiakan dan sulit diucapkan
seumpama manusia yang berbeda
-tidak akan pernah menjanjikan cinta yang sama

Maka percayalah puisiku
antara kau dan aku
:cinta tak terlahir dari apapun
ia ada sebelum tangis pertama kita
memecah kecemasan manusia

Puisiku
aku pulang,
mendekapmu penuh seluruh

(Telaga Bestari 20 Maret 2025)

KAU YANG BERDENYUT DI JANTUNG PUISIKU

Malam telah menampakkan wajahnya. Sunyi menepi di jantung.
Namun, puisi masih ingin menyentuhmu,..

Mari, berdiamlah di jantungku
yang selalu menyeru namamu lebih sering daripada detaknya.

Puisi masih ingin menyentuhmu.

menyentuhmu

Aku milikmu malam ini, Puisi
lucutilah segala sunyi dari tubuhku
sentuhlah sentuh kesedihan ini hingga lekuk paling rahasia

Kecupkan bahasa di bibir waktu, biarkan malam melepas helai demi helai detik: menelanjangi detak rindu, yang berdenyut di ingatanku.

yang unggun boleh kayu bakar, kekasih. Namun yang menghantarkan hangat itu sekal tubuhmu yang lebih jari dari api; yang lebih jalar dari sunyi dan cemas.

Aku milikmu malam ini, puisi.
lucutilah segala sunyi dari tubuhku

Entah dengan bahasa apa Tuhan mengenalkan cinta,
sesuatu yang tumbuh dari pengasingan manusia,
berpucuk menjuntai hati, berakar tunggang di tubuhku, menjadi degup yang tak mampu diurai waktu

bacalah aku pada pagi embunmu; siang peluhmu; atau malam sepimu
sebagai puisi yang menemukan dirinya; rindu yang bertubuh.
memelukmu dengan seribu satu cara
ia belajar menyelipkan pelukannya dalam bunyi dan katakata
yang tak bisa diterjemahkannya kepada punggung dan bahumu

Helena Lose Beraf– Bidan, Guru, penulis, pecinta Sastra. Di tengah dunia yang terlalu gaduh berbicara, aku memilih tinggal di antara puisi, kesunyian, dan kata-kata yang masih memiliki jiwa.

  • Penulis: Helena Lose Beraf
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • NADIEM: Siapa yang Order?

    NADIEM: Siapa yang Order?

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Nury Sybli
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Rabu, 13 Mei 2026. Pengadilan Tipikor Jakarta berubah jadi panggung absurditas hukum. Mantan Mendikbudristek, dituntut 18 tahun penjara, denda Rp.1 miliar, plus uang pengganti Rp5,6 triliun subsider 9 tahun kurungan. Kalau ditotal, hukumannya seperti ingin mengubur seseorang hidup-hidup: 27,5 tahun. “Ini adalah hari yang sangat, sangat, sangat mengecewakan,” kata Nadiem seusai sidang. Dan memang, siapa […]

  • Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 170
    • 2Komentar

    Fokus pada satu tujuan. Jangan gegabah dalam memperlakukan sebuah persoalan. Sering kali, manusia terjebak pada rasa ingin lebih akan sesuatu yang masih belum pasti seperti apa akhirnya. Dalam hidup, kita sering tergoda untuk menangani banyak masalah sekaligus. Ada perasaan seolah kita harus selalu produktif, selalu cepat menyelesaikan segalanya, dan selalu tampil prima. Namun, ironisnya, justru […]

  • Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Marianus Lako
    • visibility 98
    • 2Komentar

    Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan Perjalanan menuju Rindu dan Kenangan Apa itu sebuah kerinduan? Kalau tentang sakit dan pedih yang menyala paling berkaca-kaca tuk menyumbang luka? Apa itu kerelaan? Kalau tentang melepas tapi masih melekat Kalau tentang ikhlas tapi di dada memberat Kalau tentang mengenang tapi selalu merengkuh ketenangan Meo 2026 Gagasan Kesepian Apa pernah […]

  • Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 219
    • 2Komentar

    “Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.” Lima belas cerpen […]

  • KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mataleza
    • visibility 254
    • 0Komentar

    Begitu tenang, membaca sastra adalah menakar keikhlasan. Ikhlas menimbang keadaan berdasakan elemen bahasa yang harus dipahami melalui ruang analisis itu. Hal ini jelas terlihat dan terdengar, ketika orang-orang begitu tabah melipat bahasa sastra ke dalam ruang teduh yang selalu menguji pemahaman. Hal ini senada dengan hasil proses kreatif yang ditunjukkan penulis sastra dan sastrawan Nusa […]

  • PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 168
    • 3Komentar

    Permen edisi SENIN 5 PASKAH – 04 MEI 2026 – Katanya Sama Dengan Nyatanya Inspirasi: Kis 14:5-18 ; Yohanes 14:21-26 Penikmat permen yang berhikmat dalam Kristus. Mari pada hari ini kita mengalamatkan hati dan doa bagi para petugas pemadam kebakaran atas dedikasi mereka. Karena itu, hari ini dunia memberi perhatian khusus bagi mereka dengan merayakan […]

expand_less