Breaking News
light_mode
Trending Tags

JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

  • account_circle Emil E Wakei
  • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
  • visibility 265
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan)Β 

Jangan caci-maki Mama Yasinta Moiwend. Jgn rubah konflik vertikal menjadi konflik horizontal antara sesama kita yang sama-sama terjepit.

Siapa Mama Yasinta? Mama Yasinta adalah bagian dari masyarakat kecil. Hidupnya hanya di kampung dan hutan-hutan adat di Merauke. Pagi ke kebun, sore pulang bawa sagu. Tanah bagi Mama bukan sertifikat. Tanah adalah dapur, sekolah, apotek, dan kuburan leluhur. Tanah adalah warisan untuk anak cucu. Mama tidak punya uang di ATM. Tidak punya rumah mewah dan mobil mengkilap. Tapi Mama punya tanah. Itu satu-satunya yang tersisa.

Lalu perusahaan datang. Perkebunan tebu dibuka. Cetak sawah dijalankan. Sawit merayap. Ruang hidup Mama Yasinta terpaksa putus. Hutan yang biasa tempat berburu dan meramu berubah jadi blok-blok monokultur. Sumber air mengering. Tanah yang diwariskan tiba-tiba diklaim milik konsesi.

Lantas apa yang Mama Yasinta harus lakukan? Diam berarti mati. Tidak melawan berarti menyaksikan anak cucu jadi kuli di tanahnya sendiri. Hanya anjing kudis yang menyerahkan lehernya ke tiang algojo untuk ditebas. Mama Yasinta adalah manusia. Dalam analisanya yang terakhir, ketika penindasan semakin mendesak, maka Mama pasti melawan.

Dan inilah yang dilakukan Mama Yasinta. Ia berteriak berkali-kali di depan Istana. Ia bicara di forum-forum kerakyatan. Ia terbang ribuan mil dari Papua ke Jakarta, didampingi kawan-kawan Lembaga Swadaya Masyarakat. Ia ke Pengadilan Negeri Jayapura ditemani advokat Papua Wissel Van Nunubado , yang bekerja membela tanpa minta satu peser pun. Keberanian Mama Yasinta bukan rekayasa. Ia lahir dari perut tanah yang dirampas.

Tapi hari ini sikap Mama Yasinta terbalik. Ia muncul dalam wawancara yang janggal, bicara dengan narasi yang berbeda. Ia ke Jakarta lagi, tapi dengan pengawalan lengkap. Ada infrastruktur keamanan. Ada akses advokasi dan bantuan hukum yang rapi. Ada kuasa hukum baru yang tidak dikenal sebelumnya dalam lingkar perlawanan.

Sekarang Siapa yang Salah?Β 

Pertama, tidak ada yang salah jika kita bicara dengan jujur. Mama Yasinta tidak salah. Dandy Laksono tidak salah. Pusaka tidak salah. Jubi tidak salah. Yang harus ditanyakan bukan siapa yang jahat, tapi kenapa sikap Mama Yasinta bisa berubah. Dari ribuan manusia yang terdampak perkebunan sawit, tebu, dan padi di Merauke, kenapa Mama Yasinta yang dulu terpilih dan pergi ke Jakarta? Karena keberaniannya sendiri untuk memperjuangkan tanah adat. Selain Mama Yasinta ada Bapa Vincent Kwipalo dan banyak nama lain. Mereka subjek, bukan wayang.

Maka pertanyaannya harus dilanjutkan: kenapa sekarang berubah? Tidak cukup dijawab “hanya Tuhan yang tahu”. Kita harus cari sebab-sebabnya secara rasional. Perubahan tidak jatuh dari langit. Apalagi perubahan yang datang bersamaan dengan fasilitas, logistik, dan jaringan media yang tiba-tiba tersedia.

Kalau kita jujur membaca politik, kita tidak boleh lupa reaksi balik dari negara. Ketika film atau advokasi seperti _Pesta Babi_ mengguncang tatanan, negara tidak mungkin diam. Negara punya 1001 cara untuk mengembalikan narasi. Kooptasi adalah cara paling tua. Intimidasi adalah cara paling cepat. Fasilitas adalah cara paling halus.

Karena itu mari kita ajukan pertanyaan yang dingin:

Ada situasi Mama Yasinta tiba-tiba diwawancarai oleh orang tak dikenal dengan sejumlah uang di tangan. Siapa orang tersebut? Mama Yasinta mengaku dia orang miskin dalam wawancara ghaib itu, tapi dalam waktu singkat sudah ada di Jakarta dengan pengawalan. Dari mana semua ini?

Kalau dulu Mama Yasinta ke Jakarta jelas dibiayai oleh kawan-kawan LSM untuk berjuang mempertahankan tanahnya. Kalau keberangkatan sekarang siapa yang membiayai? Siapa yang bantu Mama Yasinta untuk koneksi bantuan hukum, alur pelaporan ke Polda Metro Jaya, nasihat hukum, dan panggung media? Jika kuasa hukum yang mendampingi Mama Yasinta adalah orang yang benar-benar baru, maka siapa yang menghubungkan Mama Yasinta dengannya?

Kalau dulu Mama Yasinta berjuang, ia didampingi pengacara yang berdiri bersama rakyat tanpa bayaran. Kalau pengacara yang sekarang dampingi Mama Yasinta itu pengacara darimana? Bagaimana mereka bisa ketemu? Siapa yang mempertemukan mereka?

Satu hal yang jelas: perubahan sikap Mama Yasinta pasti ada sebab. Dan sebab itu tidak bisa dilepaskan dari reaksi balik negara dan korporasi. Pertanyaan selanjutnya: siapa yang berada di balik Mama Yasinta saat ini dengan koneksi jaringan media yang luas, finansial, dan akses hukum yang kuat? Jika Mama Yasinta dicintai, mengapa tidak dari dulu ada fasilitas semacam itu ketika Mama Yasinta berjuang sendirian? Kenapa justru baru ada sekarang dalam upaya untuk meng-counter narasi _Pesta Babi_?

Inilah titik krusialnya. Kita sedang diseret untuk melihat konflik pada kulitnya, bukan pada isinya. Kita dipancing untuk saling tuduh sesama korban. Musuh kita yang tadinya adalah korporasi, militer, dan negara, sekarang dibelokkan menjadi musuh kepada sikap Mama Yasinta, kepada LSM, kepada Dandy Laksono, kepada Cyipri Dale, kepada Jubi.

Ini namanya pengalihan konflik vertikal menjadi horizontal. Yang diuntungkan dari situasi ini hanya satu: pihak yang sedang merampas tanah. Sementara kita sibuk menghakimi Mama Yasinta, ekskavator tetap jalan. Hutan tetap dibabat. Tanah adat tetap beralih fungsi.

Karena itu, buka mata lebar-lebar. Jangan caci-maki Mama Yasinta. Dia tetap bagian dari masyarakat kecil yang ruang hidupnya terancam. Kalau ada tekanan, tawaran, atau transaksi di balik layar, maka yang harus dibongkar adalah kekuatan di belakang layar. Bukan menghakimi orang yang berdiri di depan kamera.

Mengapa? Siapa? Ada apa? Kalau bukan suatu kekuatan raksasa yang sedang berdiri dan mendikte Mama Yasinta dari belakang, lalu siapa? Apakah ada lembaga swadaya, sekali lagi, SWADAYA, yang berdiri di belakang Mama Yasinta saat ini? Jika tidak ada, lalu siapa yang punya sumber daya untuk semua ini?

Kita harus jujur mengatakan: musuh kita sedang dibelokkan. Tugas kita adalah meluruskan kembali arah panah. Ukurannya hanya satu dan sederhana. Selama tanah adat Mama Yasinta dan ribuan masyarakat Merauke belum kembali, berarti perlawanan belum selesai. Siapapun boleh bicara, tapi tanah yang bicara paling jujur.

Jangan salah alamat. Lawan tetap ke atas, bukan ke samping.

Tanah Terjajah, 30 Mei 2026 || 20:19 WPB00

  • Penulis: Emil E Wakei
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 343
    • 2Komentar

    Martha Grimes pernah berkata, β€œkita tidak tahu siapa diri kita sampai kita melihat apa yang bisa kita lakukan.” Pertama kali membaca kutipan tersebut di sebuah buku yang berjudul Life Lessons yang ditulis oleh para pengarang Chicken Soup For The Soul, ada sesuatu yang mendorong saya untuk segera mengambil tindakan. Tindakan yang dimaksudkan di sini adalah […]

  • Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut:  Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut: Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Kristoforus Mage
    • visibility 288
    • 0Komentar

    Kristoforus Mage, Mahasiswa semester 6, IFTK Ledalero. Undang-undang menjadi landasan konstruktif perpolitikan. Politik tanpa undang-undang dalam sebuah negara tidak lain adalah gejolak untuk menguasai dan dikuasai. Demikian halnya yang terjadi di Indonesia kini: begitu terpampang jelas bahwa undang-undang tidak didefinisikan secara tegas tentang apa yang dilarang, seolah hukum bukan lagi sebagai pagar pelindung, melainkan senjata […]

  • PERMEN Kasih: Hati yang β€œBaku Rapat” Renungan Harian Katolik 8 Mei 2026

    PERMEN Kasih: Hati yang β€œBaku Rapat” Renungan Harian Katolik 8 Mei 2026

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 169
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Jumat Paskah ke-5 – 08 MEI 2026 – Kasih: Hati yang β€œBaku Rapat” Inspirasi: Kis 15:22-31 ; Yohanes 15:12-17 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Yesus titip pesan penting ke setiap sanubari kita: β€œKasihilah seorang akan yang lain”. Bersamaan dengan itu, dalam bacaan Pertama, tindakan kasih coba diterjemahkan oleh Paulus dan mereka […]

  • Sudut Pandang: Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

    Sudut Pandang: Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Giorgio Babo Moggi
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Oleh: Giorgio Babo Moggi Kemenangan Argentina atas Swiss dengan skor 3-1 pada babak perempat final Piala Dunia 2026 menghadirkan satu kesimpulan penting. Tim asuhan Lionel Scaloni telah berevolusi menjadi kesebelasan yang mampu memenangkan pertandingan melalui kualitas kolektif, bukan lagi bertumpu sepenuhnya pada kecemerlangan Lionel Messi. Laga di Kansas City menjadi bukti bahwa sang juara bertahan […]

  • Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 224
    • 0Komentar

    β€œKamu galak seperti macan betina / Barangkali kamu akan gila / Tapi tak akan mati.” Sepenggal dialog tersebut menjadi pembuka yang menggugah dari pertunjukan Maria Zaitun yang dibawakan oleh Bengkel Seni Milenial (BSM), sebuah kelompok teater dari SMK Sura Dewa. Kelompok kecil ini secara konsisten menghidupkan ruang-ruang seni pertunjukan yang kerap sepi apresiasi. Namun, teater […]

  • Sudut Pandang: Ita Martadinata Haryono; Sebelum Dunia Mendengar

    Sudut Pandang: Ita Martadinata Haryono; Sebelum Dunia Mendengar

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Stefani Kurnia
    • visibility 56
    • 0Komentar

    β€œSebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.” (Lukas 8:17) Perjalanan hidup dan perjuangan sosok manusia tidak pernah ditentukan oleh berapa lama ia berada di dunia, melainkan seberapa besar nyala api keberanian yang ditinggalkannya. Di tengah gelapnya sejarah bangsa Indonesia pada […]

expand_less