Breaking News
light_mode
Trending Tags

JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

  • account_circle Emil E Wakei
  • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
  • visibility 211
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan) 

Jangan caci-maki Mama Yasinta Moiwend. Jgn rubah konflik vertikal menjadi konflik horizontal antara sesama kita yang sama-sama terjepit.

Siapa Mama Yasinta? Mama Yasinta adalah bagian dari masyarakat kecil. Hidupnya hanya di kampung dan hutan-hutan adat di Merauke. Pagi ke kebun, sore pulang bawa sagu. Tanah bagi Mama bukan sertifikat. Tanah adalah dapur, sekolah, apotek, dan kuburan leluhur. Tanah adalah warisan untuk anak cucu. Mama tidak punya uang di ATM. Tidak punya rumah mewah dan mobil mengkilap. Tapi Mama punya tanah. Itu satu-satunya yang tersisa.

Lalu perusahaan datang. Perkebunan tebu dibuka. Cetak sawah dijalankan. Sawit merayap. Ruang hidup Mama Yasinta terpaksa putus. Hutan yang biasa tempat berburu dan meramu berubah jadi blok-blok monokultur. Sumber air mengering. Tanah yang diwariskan tiba-tiba diklaim milik konsesi.

Lantas apa yang Mama Yasinta harus lakukan? Diam berarti mati. Tidak melawan berarti menyaksikan anak cucu jadi kuli di tanahnya sendiri. Hanya anjing kudis yang menyerahkan lehernya ke tiang algojo untuk ditebas. Mama Yasinta adalah manusia. Dalam analisanya yang terakhir, ketika penindasan semakin mendesak, maka Mama pasti melawan.

Dan inilah yang dilakukan Mama Yasinta. Ia berteriak berkali-kali di depan Istana. Ia bicara di forum-forum kerakyatan. Ia terbang ribuan mil dari Papua ke Jakarta, didampingi kawan-kawan Lembaga Swadaya Masyarakat. Ia ke Pengadilan Negeri Jayapura ditemani advokat Papua Wissel Van Nunubado , yang bekerja membela tanpa minta satu peser pun. Keberanian Mama Yasinta bukan rekayasa. Ia lahir dari perut tanah yang dirampas.

Tapi hari ini sikap Mama Yasinta terbalik. Ia muncul dalam wawancara yang janggal, bicara dengan narasi yang berbeda. Ia ke Jakarta lagi, tapi dengan pengawalan lengkap. Ada infrastruktur keamanan. Ada akses advokasi dan bantuan hukum yang rapi. Ada kuasa hukum baru yang tidak dikenal sebelumnya dalam lingkar perlawanan.

Sekarang Siapa yang Salah? 

Pertama, tidak ada yang salah jika kita bicara dengan jujur. Mama Yasinta tidak salah. Dandy Laksono tidak salah. Pusaka tidak salah. Jubi tidak salah. Yang harus ditanyakan bukan siapa yang jahat, tapi kenapa sikap Mama Yasinta bisa berubah. Dari ribuan manusia yang terdampak perkebunan sawit, tebu, dan padi di Merauke, kenapa Mama Yasinta yang dulu terpilih dan pergi ke Jakarta? Karena keberaniannya sendiri untuk memperjuangkan tanah adat. Selain Mama Yasinta ada Bapa Vincent Kwipalo dan banyak nama lain. Mereka subjek, bukan wayang.

Maka pertanyaannya harus dilanjutkan: kenapa sekarang berubah? Tidak cukup dijawab “hanya Tuhan yang tahu”. Kita harus cari sebab-sebabnya secara rasional. Perubahan tidak jatuh dari langit. Apalagi perubahan yang datang bersamaan dengan fasilitas, logistik, dan jaringan media yang tiba-tiba tersedia.

Kalau kita jujur membaca politik, kita tidak boleh lupa reaksi balik dari negara. Ketika film atau advokasi seperti _Pesta Babi_ mengguncang tatanan, negara tidak mungkin diam. Negara punya 1001 cara untuk mengembalikan narasi. Kooptasi adalah cara paling tua. Intimidasi adalah cara paling cepat. Fasilitas adalah cara paling halus.

Karena itu mari kita ajukan pertanyaan yang dingin:

Ada situasi Mama Yasinta tiba-tiba diwawancarai oleh orang tak dikenal dengan sejumlah uang di tangan. Siapa orang tersebut? Mama Yasinta mengaku dia orang miskin dalam wawancara ghaib itu, tapi dalam waktu singkat sudah ada di Jakarta dengan pengawalan. Dari mana semua ini?

Kalau dulu Mama Yasinta ke Jakarta jelas dibiayai oleh kawan-kawan LSM untuk berjuang mempertahankan tanahnya. Kalau keberangkatan sekarang siapa yang membiayai? Siapa yang bantu Mama Yasinta untuk koneksi bantuan hukum, alur pelaporan ke Polda Metro Jaya, nasihat hukum, dan panggung media? Jika kuasa hukum yang mendampingi Mama Yasinta adalah orang yang benar-benar baru, maka siapa yang menghubungkan Mama Yasinta dengannya?

Kalau dulu Mama Yasinta berjuang, ia didampingi pengacara yang berdiri bersama rakyat tanpa bayaran. Kalau pengacara yang sekarang dampingi Mama Yasinta itu pengacara darimana? Bagaimana mereka bisa ketemu? Siapa yang mempertemukan mereka?

Satu hal yang jelas: perubahan sikap Mama Yasinta pasti ada sebab. Dan sebab itu tidak bisa dilepaskan dari reaksi balik negara dan korporasi. Pertanyaan selanjutnya: siapa yang berada di balik Mama Yasinta saat ini dengan koneksi jaringan media yang luas, finansial, dan akses hukum yang kuat? Jika Mama Yasinta dicintai, mengapa tidak dari dulu ada fasilitas semacam itu ketika Mama Yasinta berjuang sendirian? Kenapa justru baru ada sekarang dalam upaya untuk meng-counter narasi _Pesta Babi_?

Inilah titik krusialnya. Kita sedang diseret untuk melihat konflik pada kulitnya, bukan pada isinya. Kita dipancing untuk saling tuduh sesama korban. Musuh kita yang tadinya adalah korporasi, militer, dan negara, sekarang dibelokkan menjadi musuh kepada sikap Mama Yasinta, kepada LSM, kepada Dandy Laksono, kepada Cyipri Dale, kepada Jubi.

Ini namanya pengalihan konflik vertikal menjadi horizontal. Yang diuntungkan dari situasi ini hanya satu: pihak yang sedang merampas tanah. Sementara kita sibuk menghakimi Mama Yasinta, ekskavator tetap jalan. Hutan tetap dibabat. Tanah adat tetap beralih fungsi.

Karena itu, buka mata lebar-lebar. Jangan caci-maki Mama Yasinta. Dia tetap bagian dari masyarakat kecil yang ruang hidupnya terancam. Kalau ada tekanan, tawaran, atau transaksi di balik layar, maka yang harus dibongkar adalah kekuatan di belakang layar. Bukan menghakimi orang yang berdiri di depan kamera.

Mengapa? Siapa? Ada apa? Kalau bukan suatu kekuatan raksasa yang sedang berdiri dan mendikte Mama Yasinta dari belakang, lalu siapa? Apakah ada lembaga swadaya, sekali lagi, SWADAYA, yang berdiri di belakang Mama Yasinta saat ini? Jika tidak ada, lalu siapa yang punya sumber daya untuk semua ini?

Kita harus jujur mengatakan: musuh kita sedang dibelokkan. Tugas kita adalah meluruskan kembali arah panah. Ukurannya hanya satu dan sederhana. Selama tanah adat Mama Yasinta dan ribuan masyarakat Merauke belum kembali, berarti perlawanan belum selesai. Siapapun boleh bicara, tapi tanah yang bicara paling jujur.

Jangan salah alamat. Lawan tetap ke atas, bukan ke samping.

Tanah Terjajah, 30 Mei 2026 || 20:19 WPB00

  • Penulis: Emil E Wakei
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG

    PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Gregorius Nggadung
    • visibility 476
    • 2Komentar

    PERJAMUAN MALAM Tak ada yang kau siapkan lagi Selain roti tawar yang disiram dan mekar Selain sumpah dan kemerdekaan yang kau janjikan Meredam di atas tumpukan buku Lelap di pangkuan tanganmu   Kau tak perlu datang lagi malam ini Cukup menyaksikan perjamuan yang getir ini Di bawah meja perjamuan Kukibarkan kata-kata Sehingga tak ada tulang-tulang […]

  • Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 778
    • 32Komentar

    Mbay-22 Mei 2026. Saya tidak tahu apakah pengalaman ini layak disebut menarik atau justru menyakitkan. Mungkin keduanya. Atau mungkin hanya sebuah pengalaman biasa yang kebetulan saya dengar secara langsung sehingga meninggalkan kesan yang lebih dalam di kepala saya. Yang jelas, ada sesuatu yang terasa ganjil sejak awal. Sesuatu yang terus tinggal diam-diam di pikiran saya […]

  • Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Sepak bola bukan sekadar soal siapa yang mencetak gol lebih banyak, melainkan tentang menjunjung tinggi spirit fair play. Laga krusial semifinal Liga 4 Nasional yang mempertemukan Pesik Kuningan dan PSN Ngada di Stadion Sriwedari, Solo, pada Rabu (8/7), seharusnya menjadi panggung pembuktian taktik dan talenta. Namun sayang seribu sayang, sorotan utama justru bergeser dari aksi […]

  • BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Zaeni Boli
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Mesti bangga dengan karya sendiri, Produksi sebuah film bukanlah pekerjaan yang mudah dibutuhkan proses yang terkadang membuat kita hampir menyerah namun dengan tekad yang kuat akhirnya mewujud, ya akhirnya di tahun 2026 ini pada Bengkel Seni Milenial ( BSM ) angkatan ke 10 akhirnya mampu memproduksi film pendek yang diberi judul Cinta Jangan Dikejar, Sebuah […]

  • BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 430
    • 0Komentar

    01 Mei 2026 Inspirasi: Kis 13:26-33; Yohanes 14:1-6     Penikmat Permen yang berhikmat dalam Tuhan. Dalam nada syukur penuh iman dan harapan, kita ucapkan selamat Hari Buruh Internasional alias May Day. Bersamaan dengan momen ini, umat Katolik merayakan pembukaan bulan Maria. Tidak sampai di situ, Gereja hari ini merenungkan Firman Suci dari penginjil Yohanes sebagai […]

  • 𝗣𝗘𝗥𝗘𝗠𝗣𝗨𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚-𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗧𝗥𝗜𝗔𝗥𝗞𝗜?

    𝗣𝗘𝗥𝗘𝗠𝗣𝗨𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚-𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗧𝗥𝗜𝗔𝗥𝗞𝗜?

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Helena Beraf
    • visibility 522
    • 0Komentar

    Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat tempat saya lahir dan tumbuh yakni; kecenderungan menjaga anak perempuan mereka. Mengapa perempuan? Rupanya atas dasar norma, sopan santun dan budaya, anak perempuan (anak gadis) dipandang sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu dijaga kehormatannya. Perempuan dapat merepresentasikan kehormatan keluarganya. Saya ingat betul ketika saya memasuki masa remaja awal, mama kerapkali […]

expand_less