Breaking News
light_mode
Trending Tags

BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

  • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
  • visibility 383
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

01 Mei 2026

Inspirasi: Kis 13:26-33; Yohanes 14:1-6    

Penikmat Permen yang berhikmat dalam Tuhan.

Dalam nada syukur penuh iman dan harapan, kita ucapkan selamat Hari Buruh Internasional alias May Day. Bersamaan dengan momen ini, umat Katolik merayakan pembukaan bulan Maria. Tidak sampai di situ, Gereja hari ini merenungkan Firman Suci dari penginjil Yohanes sebagai amanat perpisahan Yesus yang berkata kepada murid-murid-Nya yang dibuka dengan kalimat: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Nah, izinkan saya titipkan di sanubari penikmat permen akan pesan Tuhan yang kuat pada hari ini bahwa di Hari Buruh Internasional, kita butuh hati yang profesional.

Hati yang profesional adalah hati yang tidak mudah gelisah, alias GEGANA_Gelisah Galau Merana, yah karena hati yang demikian hanya mungkin dan bisa mungkin kalau percaya kepada Allah, percaya juga kepada Yesus. Untuk orang Katolik ada bonus nya yakni hati yang percaya kepada doa-doa bersama Bunda Maria.

Ini baru hati yang profesional, jelas dan berkelas. Hati yang tahu jalan, kebenaran, dan hidup yang sesungguhnya hanya dalam Tuhan dan bersama Yesus dengan doa Bunda Maria.

Semoga kita tidak menggantungkan hati kita kepada hal-hal duniawi sampai kita mati-matian mengejar sesuatu yang dapat ditinggal mati dari pada mengejar hal surgawi yang bisa dibawa mati.

Ada kisah bahwa penduduk Yerusalem dan pemimpin-pemimpinnya tidak mengakui Yesus. Makanya, Rasul Paulus tegaskan bahwa apa sebab kita tidak menaruh kepercayaan kepada Yesus, karena Allah telah menggenapi janji-Nya atas Yesus dan puncak penggenapan itu nyata dengan Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati.

Makanya dari sinilah Yesus tegaskan bahwa DIA-lah, jalan, kebenaran, dan hidup. Sebagai Anak Allah, Yesus menghantar kita kepada Bapa.

Kata-kata Yesus hari ini seharusnya melegahkan hati penikmat permen dari GEGANA.

Sebagai homo faber, kita pasti bahagia jika dapat bekerja dengan baik dan benar; bila pekerjaan kita menghasilkan cuan apalagi sampai membawa kita dekat dengan Tuhan. Realitas merekam dengan jujur bahwa ada juga hati yang gelisah dengan pekerjaannya. Mari kita spill: upah masih di bawah standar, system kerja yang menindas, pekerja mendapat perlakuan yang tidak baik atau tidak adil di tempat kerja, bahkan pekerjaan bukan sebagai jalan memanusia-kan manusia, eh malah ada pekerjaan yang  menginjak-injak citra Allah. Bahkan, ada manusia pekerja yang dibuat galau dengan hadirnya robot-robot.

Terhadap ini semua, mari, selalu andalkan Tuhan dalam pekerjaan kita. Karena itu, ketika dunia pekerjaan mengecewakan kita, Tuhanlah yang membangkitkan harapan, membesarkan hati. Hidup kita bukan hanya tentang buruh dunia, kita pun butuh surga. Sehingga, berikan budaya surgawi di dalam pekerjaan kita. Kita tidak hanya dimintai oleh Tuhan bekerja keras, bekerja cerdas, tetapi kita perlu bekerja tulus dan bekerja kudus. Yah, Semoga pekerjaan-pekerjaan kita selain mendatangkan cuan tetapi juga semakin mendekatkan kita pada Tuhan. Semoga kita senantiasa doakan apa yang kita kerjakan serentak mengerjakan apa yang kita doakan.

Bulan Maria adalah jalan doa, kebenaran doa, dan hidup doa bagi kita untuk semakin mengandalkan Tuhan, sebagai cara kita meminta ketulusan dan kekudusan yang diteladankan Bunda Maria. Semoga bulan Maria membantu kita untuk mengenal Bunda Maria lebih dalam, agar kita selami hatiNya, resapi nilainya, dan kita tahu bahwa ada hati seorang IBU yang selalu mengalirkan rahmat dan berkat. Karena, pekerja keras pun butuh hati profesional yang terarah ke surga kudus.

PERMEN_PermenunganMasterOyen

Rm. Laurensius Feto, Pr / Master Oyen Feto- Imam Keuskupan Agung Ende, Sedang berkuliah di Binus University, Jakarta. Motto panggilan imamat: Berjalan Sambil Berbuat Baik.

  • Penulis: Rm Laurensius Feto, Pr
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda. Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang […]

  • Cerpen Pastor: I Love You Full!

    Cerpen Pastor: I Love You Full!

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Sr. Auxilia Damanik, SFD
    • visibility 149
    • 4Komentar

    Oleh: Sr. Auxilia Damanik, SFD (Penulis merupakan biarawati pada Kongregasi Suster-Suster Fransiskus Dina atau SFD. Saat ini tengah memasuki tahun yuniorat pertama) Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Deru angin dari perbukitan berembus kencang, menggiring langkah kecilku berlari menapaki tanah berbatu. Langit sore tampak muram, tetapi bukit itu selalu menjadi tempat paling hidup […]

  • Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Hari ini adalah hari yang membahagiakan sekaligus mengharukan. Dengan penuh rasa syukur, saya mengucapkan selamat kepada 207 cucu-cucuku yang cantik dan ganteng, Angkatan ke-72 SMPSK Kotagoa Boawae, yang hari ini dinyatakan lulus. Angka 207 ini terasa istimewa. Jika angka nol di tengah dihilangkan, lalu posisi angka 2 dan 7 ditukar, maka akan menjadi 72, sama […]

  • PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 258
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Selasa Paskah ke-6 – 12 Mei 2026 – Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur Inspirasi: Kis 16:22-34, Yoh 16:5-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kali ini Paulus dan Silas menunjukkan kualitas sebagai orang beriman dan pengikut Kristus. Keduanya di penjara tetapi hati mereka selalu merdeka dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Anggota tubuh […]

  • 𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Novel Mahar Gading telah resmi dipublikasikan pada Kamis (02/07/2026). Novel ini ditulis oleh Pion Ratulolly yang merupakan nama pena dari Muhammad Soleh Kadir. Novel ini berisi kisah asmara antara Arakian Sabon Ama dan Mutiara Belaon Bur’an. Kisah asmara keduanya harus berbenturan dengan tuntutan adat berupa mahar gading. Di sinilah pergulatan kisah keduanya mengalami konflik yang […]

  • Ketika Kamera Menjadi Mimbar: Kritik atas Kecenderungan Propagandis dalam Film seperti Pesta Babi

    Ketika Kamera Menjadi Mimbar: Kritik atas Kecenderungan Propagandis dalam Film seperti Pesta Babi

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle RD. Patris Allegro
    • visibility 225
    • 0Komentar

    Oleh : RD Patris Allegro   Film seperti Pesta Babi tidak boleh dibaca hanya sebagai dokumenter biasa. Ia bukan sekadar rangkaian gambar tentang tanah, masyarakat adat, babi, hutan, proyek negara, dan luka ekologis. Ia adalah sebuah tindakan penafsiran. Kamera tidak pernah hanya melihat; kamera memilih, memotong, mendekatkan, menjauhkan, memberi sunyi, memberi musik, memberi wajah, lalu […]

expand_less