Breaking News
light_mode
Trending Tags

Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

  • account_circle Filemon Pandu Wimastha
  • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
  • visibility 286
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di Rumah Tuhan

Hujan pun turun, lalu aku berteduh di rumah-Nya. Kutatap langit, reda, lalu kupamit pulang. Namun hujan kembali mengguyur, seolah Dia hendak  berkata:

”Jangan pulang dulu, Aku masih rindu.”

Aku singgah di perhentian terakhir,  dan di sana pun, Dia menyambut. Dengan lembut, tanpa suara, tapi hangat seperti peluk yang tak terlihat. Mungkin memang bukan hujan, tapi kasih-Nya yang menahan langkah. Agar tetap tinggal, di rumah-Nya yang tak pernah menutup pintu.

Karena sejatinya, semua bumi ini adalah pangkuan cinta-Nya. Tempat kita kembali, meski sekadar untuk diam dan merindu.

 

Kasih Mama  yang tak sempat diucapkan Kayu kepada Api

Untuk Bastian

Di tanah sunyi ia tinggalkan selembar kertas berisi pamit yang terlalu dini.

“Mama, saya pergi dulu,” tulisnya pelan, meminta direlakan, meminta air mata disimpan.

Ia bilang jangan mencari, jangan merindu, seolah cinta bisa dihentikan dengan kata-kata.

Di akhir surat hanya ada salam perpisahan

Dan sejak saat itu, seorang mama belajar hidup

Dengan rindu yang tak pernah pamit.

 

( Bastian seorang anak SD berusia 10 tahun asal Kab. Ngada kec. Jerebu’u yang mengakhiri hidupnya di pohon cengkeh karena tak mampu membeli Buku Dan Pulpen)

 

Manifesto Cinta Tuhan

Kopi yang tumbuh di tanah petani desa adalah manifestasi cinta dari Tuhan.

Dengan memejamkan mata, ibadah kita pada kopi telah menjadi ritual paling khusyuk untuk menjahit kata-kata perlawanan.

Merawat cinta dari harapan petani-petani tabah yang merelakan keringat mereka berlarian menuju langit dan turun menjadi derasnya hujan.

Doa-doa yang mendiami kesunyian, sepasang suami istri meminta musim menjadi lebih baik. Berharap perayaan kali ini, senyum Tuhan hinggap lebih besar dari biasanya.

 

Rindu yang Kupelajari dari Rumah

Kelak,

Jika Tuhan mengizinkan,

Namamu akan tetap tinggal

Di akhir setiap ceritaku

Tentang pulang

 

Aku jarang bercerita

Betapa sunyinya berjalan sendiri,

Betapa sering namamu

Kusebut pelan

Di sela doa

Yang tak pernah panjang.

 

Ada banyak hal

Yang ingin kusampaikan,

Namun selalu kutunda

Bukan karena lupa,

Melainkan karena rindu

Kadang memilih diam

Agar tak memberatkan.

 

Aku belajar menyimpan rasa

Seperti caramu dulu menyimpan lelah:

Tanpa keluhan,

Tanpa ingin dipahami.

Sebab kini aku tahu,

Mendoakan orang tua

Adalah bentuk cinta

Yang paling sederhana

Dan paling panjang umurnya.

 

Jika suatu hari

Kita bertemu lagi

Atau hanya saling mengenang,

Rindu ini tak akan sia-sia.

Ia telah menjadikanku anak

Yang belajar tabah,

Dan belajar pulang

Meski dari jauh.

 

Filemon Pandu Wimastha, yang akrab disapa Wima Wimastha, lahir di Boawae, Nagekeo, pada 13 Maret 2003. Ia merupakan seorang calon Imam Projo Keuskupan Agung Ende yang sedang menapaki jalan panggilan hidupnya dengan kesetiaan dan ketekunan. Sejak masa pendidikan di Seminari Toda Belu Mataloko, ia telah dibentuk dalam disiplin, doa, dan kehidupan persaudaraan yang menjadi dasar panggilannya.

Saat ini, Wima melanjutkan studi di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, sambil menjalani masa formasi di Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret. Di sana, ia tidak hanya mengembangkan intelektualitasnya melalui filsafat, tetapi juga memperdalam kehidupan batin dan spiritualitasnya.

Selain dunia akademik dan pembinaan, Wima juga aktif dalam bidang seni, khususnya teater dan sastra. Ia dipercaya sebagai Ketua Kelompok Minat Teater Tanya periode 2025/2026, sebuah ruang kreatif yang menjadi wadah ekspresi dan refleksi kehidupan. Ia juga mencintai puisi serta menjadikannya sebagai medium kontemplasi. Di samping itu, ia menikmati olahraga sepak bola sebagai bagian dari keseimbangan hidupnya.

Sebagai pribadi, Wima dikenal sederhana, reflektif, dan mendalam. Ia memadukan kehidupan doa, pemikiran filsafat, dan ekspresi seni sebagai cara untuk memahami makna hidup, manusia, dan panggilan imamat yang sedang ia jalani.

 

  • Penulis: Filemon Pandu Wimastha
  • Editor: Fian N

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

    Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Maiton Gurik
    • visibility 172
    • 2Komentar

    Oleh: Maiton Gurik, Pegiat Literasi Papua (Sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Orang Papua tidak membaca buku, berarti kita membiarkan diri kita hanya berjalan dengan satu kaki. Kita hanya mengandalkan pengetahuan yang terbatas, sementara orang lain berjalan sudah sepuluh langkah dengan pengetahuan yang luas, mendalam, dan lengkap. Membaca buku berarti menemukan ide […]

  • Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 489
    • 2Komentar

    Dalam karyanya “21 Pelajaran untuk Abad ke-21”, Yuval Hoah Harari mengatakan “jika masa depan umat manusia diputuskan tanpa melibatkan anda, kerena anda sibuk memberi makan dan memakaikan pakaian anak anda, tetap saja anda dan anak anda tidak bisa lepas dari konsekuensinya. Ini memang sungguh tidak adil, tetapi siapa bilang sejarah itu adil?” (Harari, 2023). Namun […]

  • PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 377
    • 8Komentar

    PERMEN edisi Sabtu Paskah ke-5 – 09 MEI 2026 – Tuhan dan Remote Control Inspirasi: Kis 16:1-10 ; Yohanes 15:18-21 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Bacaan pertama menggambarkan Paulus yang di dalam benaknya penuh dengan idealisme dan gagasan-gagasan mengenai kerasulan dan perutusan. Mau ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, pokoknya ide cemerlang dan itu sudah […]

  • Ketika “Gamers” Bertemu “Boomers”: Akomodasi Komunikasi yang Retak di Era Digital

    Ketika “Gamers” Bertemu “Boomers”: Akomodasi Komunikasi yang Retak di Era Digital

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Emanuel Boli Manuk
    • visibility 419
    • 0Komentar

    Oleh: Emanuel Boli Manuk, Mahasiswa IFTK Ledalero Dunia terasa semakin sempit, tetapi justru semakin keras. Dalam satu hari, kita bisa menyaksikan seorang cucu di Jakarta berdebat sengit dengan kakeknya di Surabaya tentang harga cabai, lalu sejam kemudian melihat seorang aktivis lingkungan dan eksekutif perusahaan tambang saling serang di kolom komentar Instagram. Yang menarik, tak jarang […]

  • Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Maxi L. Sawung
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Redup Aku akhirnya memilih agar tu(h)an ataupun siapa saja tidak merenggut luka milikku. Beberapa tangan datang mengetuk, beberapa tangan mencoba memeluk tapi tetap aku tutup pintu makam batu itu. Kau pernah sekali atau bahkan berkali-kali dengan buru-buru berlari agar lekas sampai ketika datang melayat lukaku. Sekadar menanyakan perihal masa penyembuhan atau bagaimana dengan bekas luka-luka […]

  • Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Robertus Pitang
    • visibility 85
    • 0Komentar

    Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan […]

expand_less