Breaking News
light_mode
Trending Tags

Proyek Food Estate dalam Nalar The Othering of Nature

  • account_circle Benyamin Chintyano Meo
  • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
  • visibility 186
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Benyamin Chintyano Meo. Mahasiswa IFTK Ledalero

Di tengah kecemasan global terhadap krisis iklim dan ancaman kelangkaan pangan, Indonesia mengambil langkah agresif melalui program Food Estate (Lumbung Pangan Nasional). Kebijakan ini digadang-gadang sebagai strategi hulu-hilir untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penanaman komoditas skala industri seperti padi, singkong, jagung, dan tebu. Namun, di balik narasi megah modernisasi pertanian tersebut, terdapat realitas ekologis yang kelam: pembabatan hutan alam berskala masif yang meicu deforestasi parah di berbagai daerah, mulai dari Sumatra, Kalimantan, hingga ujung timur Papua.

Secara Fundamental, kebijakan yang mengorbankan ekosistem demi target produksi mencerminkan patologi komunikasi lingkungan yang mendalam. Untuk membedah fenomena ini, teori The Othering of Nature (Alam Sebaga yang Lain) yang dicetuskan oleh Profesor Komunikasi Ekokultural, Tema Milstein, menyediakan pisau analisis yang sangat tajam. Milstein berargumen bahwa cara manusia berkomunikasi dengan alam melalui berbagai metode, seringkali mengonstruksikan alam sebagai entitas yang terpisah, inferior, dan sepenuhnya berada di bawah kendali manusia.

Opini ini akan menganalisis bagaimana proyek Food Estate di Indonesia beroperasi di atas fundasi cara berpikir othering tersebit. Melalui pendekatan kualitatif-reflektif yang didukung data empiris terkini, opini ini akan berusaha melihat bagaimana reduksi alam menjadi sekadar komoditas industri berujung pada krisis ekologis dan peminggiran struktural masyarakat adat.

The Othering of Nature: Dokrin Penakluk Ruang Hidup

Teori Teme Miltein berakar pada kritik terhadap dualisme kartesian yang memisahkan manusia dari alam secara dikotomis. Dalam bingkai The Othering of Nature, alam diposisikan sebagai yang lain (the other). Ia kehilangan agensi instruksinya dan tidak lagi diakui sebagai sebuah sistem kehidupan yang utuh (the greater-human world). Sebaliknya, alam diturunkan derajatnya menjadi objek pasif yang menunggu untuk ditaklika, dimodifikasi, dan dieksploitasi demi kenyamanan utilitas manusia.

Dalam implementasi Food Estate, cara pandang othering ini terwujud secara nyata melalui bahasa dan retorika pembangunan. Pemerintah dan korporasi kerap menggunakan pelabelan linguistic seperti lahan tidur, hutan terdegradasi, atau kawasan tidak produktif untuk menjustifikasi pembongkaran hutan tropis. Eufemisme ini secara halus mencuci kesadaran publik, solah-olah hutan yang berdiri tegak adalah ruang kosong yang tidak berguna sebelum disentuh oleh alat berat dan teknologi modern.

Mistein mengingatkan bahwa ketika alam sukses didefinisikan sebagai objek inferior, maka segala tindakan destruktif terhadapnya tidak lagi dianggap sebagai kejahatan ekologis, melainkan sebagai bentuk penyelamatan atau pemberdayaan demi kepentingan manusia. Proyek Food Estate berjalan dengan nalar maskulin: sebuah keyakinan bahwa ketahanan pangan hanya bisa dicapai dengan cara menjinakkan hutan alam yang liar menjadi bentangan monokultur yang seragam.

Deforestasi Masif: Angka Riil Eksploitasi Ekologis

Ketika paradigma othering disuntikanย  ke dalam Proyek Strategis Nasional (PNS), dampak ekologis yang dihasilkan tidak lagi berupa potensi risiko melainkan kerusakan nyata yang terukur. Laporan dari Strategic Enyironmental and Social Assessment (SESA) yang dirilis oleh Bappenas menunjukkan bahwa proyek ekosistem skala besar di kawasan sensitive termasuk Papua selatan, menempati skor penilaian sosial-ekologis terendah karena tingginya potensi destabilitas lingkungan hidup.

Data dari Yayasan Pusaka Bentala Rakyat memaparkan potret yang mencengangkan mengenai pembabatan hutan di wilayah Merauke, khususnya di sekitar Kampung Wanam dan Kampung Sernayab. Proyek lumbung pada pangan dan energi di wilayah ini menargetkan luasan komoditas tebu dan padi nasional hingga mencapai 1 juta hektar, ditambah pengembangan etanol sebesar 500.000 hektar. Jika diakumulasi, total alokasi lahan untuk proyek ini mangonsumsi hampir 25% atau seperempat dari seluruh wilayah administrasi Kabupaten Merauke.

Pembongkaran hutan dalam skala kuantum ini memicu hilangnya keanekaragaman hayati secara permanen, melepaskan cadangan karbon dalam jumlah raksasa ke atmosfer, dan merusak tata air regional. Kasus serupa yang terjadi di Kabupaten Gunung Mas Kalimantan Tengah, menjadi bukti empiris yang fatal. Ribuan hektar hutan tropis dibabat habis untuk proyek Food Estate singkong, namun yang terasa saat ini hanyalah hamparan lahan gundul yang gagal panen, tanah yang mengalami erosi parah, serta peningkatan frekuensi bencana banjir yang merendam pemukiman warga di hilir sungai. Kegagalan ini menunjukkan bahwa ketika alam diperlakukan sebagai objek mekanistik tanpa menghormati hukum ekologisnya, alam akan memberikan umpan balik destruktif kepada manusia.

Gastrokolonialisme dan Pemusnahan kearifan Lokal

Dampak dari nalar the othering of nature tidak hanya memutilasi vegetasi hutan, melainkan juga menghancurkan struktur sosial manusia yang hidup selaras di dalamnya. Bagi komunitas masyarakat adat di Papua (seperti suku Marind) maupun Dayak di Kalimantan, hutan bukanlah komoditas ekonomi belaka. Hutan adalah ruang spiritual, identitas kebudayaan, dan penyedia pangan berdaulat yang telah menghidupi mereka secara turun-temurun.

Ketika negara memaksa masuknya korporasi pertanian monokultur, terjadilah apa yang disebut sebagai gastrokolonialisme: sebuah imperialisme pangan di mana sistem pangan lokal dihancurkan dan digantikan secara paksa oleh standardisasi industry modern. Pembabatan hutan sagu untuk digantikan dengan tanaman padi atau tebu adalah bentuk nyata penindasan ekokultural. Sagu yang merupakan simbol resiliensi pangan lokal dan adaptif terhadap rawa-rawa disingkirkan karena dianggap primitive, sementara padi yang membutuhkan input kimia tinggi dipaksa sebagai standar kemajuan.

Lebih jauh lagi, studi hukum lingkungan menunjukkan bahwa proyek Food Estate di Merauke kerap mengabaikan prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC), hak masyarakat adat untuk memberikan atau menolak persetujuan atas proyek yang menyentuh wilayah adat mereka tanpa paksa. Dengan menabrak hak ulayat ini, negara memosisikan masyarakat adat sebagai perpanjangan tangan dari alam yang liar tadi : sama-sama diposisikan sebagai the other yang harus disingkirkan atau dipaksa tunduk dem jalannya roda pembangunan kapitalistik.

Menuju Komunikasi Ekokultural yang Inklusif

Melanjutkan proyek Food Estate dengan cara pandang yang sama hanya akan mempercepat laju katastrofe ekologis di Indonesia. Diperlukan dekonstruksiradikal terhadap diskursus pwmbangunan kita. Tema Milstein menawarkan alternative berupa ecocultural interconnection (saling keterhubungan ekokultural), sebuah kesadaran bahwa manusia bukanlah entitas terpisah yang menguasai alam, melainkan bagian integral dari jaringan kehidupan itu sendiri.

Ketahanan pangan sejati tidak semestinya dibangun di atas fondasi deforestasi masif yang merusak masa depan planet. Negara harus mulai mendengarkan sains ekologi dan kearifan tradisional. Diversifikasi pangan berbasis agroforestri dan perlindungan terhadap system pangan lokal yang sudah eksis jauh lebih efektif dan minim risiko dibanding memaksakan mega-proyek monokultur terpusat pada yang rentan gagal dan merusak iklim.

Kebijakan Food Estate di Indonesia menjadi preseden buruk bagaimana nalar The Othering of Nature diimplementasikan ke dalam regulasi negara. Pembabatan hutan berskala besar di Papua, Kalimantan, dan wilayah lainnya membuktikan bahwa alam masih dipandang sekedar sebagai ruang kosong dan objek eksploitasi yang inferior. Data dari Bappenas dan lembaga pemantau independen mempertegas bahwa proyek ini memicu krisis ekologis yang parah mulai dari deforestasi massif hingga bencana hidrometeorologi yang diperparah oleh praktik gastrokolonialisme terhadap masyarakat adat. Untuk itu, Indonesia harus segera menghentikan pendekatan penaklukan ekologis ini dan beralih ke paradigma pembangunan yang menempatkan alam sebagai mitra keberlanjutan hidup, bukan sebagai objek yang terus-menerus dikorbankan.

Maumere, 2026

  • Penulis: Benyamin Chintyano Meo
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Sepak bola bukan sekadar soal siapa yang mencetak gol lebih banyak, melainkan tentang menjunjung tinggi spirit fair play. Laga krusial semifinal Liga 4 Nasional yang mempertemukan Pesik Kuningan dan PSN Ngada di Stadion Sriwedari, Solo, pada Rabu (8/7), seharusnya menjadi panggung pembuktian taktik dan talenta. Namun sayang seribu sayang, sorotan utama justru bergeser dari aksi […]

  • Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Rein Lagang
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Oleh: Rein Lagang, Mahasiswa IFTK Ledalero.ย  Komunikasi tak hanya berfungsi menjadi alat penyampaian informasi, tetapi pula sebagai sarana untuk membangun ciri-ciri, menjaga kehormatan, serta mempertahankan korelasi sosial. Dalam setiap interaksi, individu sebenarnya sedang melakukan perundingan terhadap โ€œwajahโ€ (face), yaitu gambaran diri serta harga diri yg ingin dipertahankan di hadapan orang lain. Konsep ini dijelaskan secara […]

  • Saat AI Ikut Makan Bersama:  Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    Saat AI Ikut Makan Bersama: Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 352
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba (Mahasiswa Teologi-Wedabhakti-Sanata Dharma) Pendahuluan Meja makan bukan sekadar tempat untuk menyantap makanan. Dalam banyak budaya, meja makan sering diartikan sebagai ruang yang paling istimewa, tempat di mana keluarga berbagi cerita satu dengan yang lain. Tradisi makan bersama sudah berlangsung ribuan tahun sebagai perekat atau pelekat hubungan. Namun belakangan ada semacam ย perubahan yang kelihatanya […]

  • INDONESIA DARURAT KEKERASAN FISIK: LOGIKA โ€œDI BAWAH TELAPAK KAKIโ€

    INDONESIA DARURAT KEKERASAN FISIK: LOGIKA โ€œDI BAWAH TELAPAK KAKIโ€

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Filmon Hasrin
    • visibility 359
    • 4Komentar

    Sejak Indonesia merdeka pada 1945, harapannya jelas: terbebas dari kekerasan fisik dan konflik bersenjata. Namun, realitas berbicara lain. Kekerasan justru terus hadir dalam berbagai bentuk dan periode. Sejarah mencatat pembunuhan aktivis seperti Tan Malaka, hilangnya Widji Thukul pada era Orde Baru, hingga tragedi kekerasan massal 1965 dan 1998. Peristiwa-peristiwa tersebut bukan sekadar catatan masa lalu, […]

  • Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Oleh: Fianย N “Lama bersama belum tentu berakhir di pelaminan.” Kita mungkin pernah mendengar ungkapan itu diucapkan dalam berbagai kesempatan. Ada yang menyampaikannya sebagai nasihat, ada pula yang mengatakannya dengan nada getir setelah mengalami sendiri pahitnya perpisahan. Karena terlalu sering terdengar, kalimat itu terkadang dianggap sebagai ungkapan biasa. Padahal, bagi sebagian orang, ia lahir dari pengalaman […]

  • Sudut Pandang: Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

    Sudut Pandang: Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Yudi Latif
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Oleh: Yudi Latif Saudaraku, manusia suka menonton pertandingan olahraga, terutama sepak bola, karena di dalamnya orang bisa menemukan kehidupan yang dipadatkan dalam bentuk paling sederhana sekaligus paling intens. Dalam sembilan puluh menit tersaji ikhtiar dan kegagalan, harapan dan kecemasan, keteraturan dan kebetulan. Apa yang dalam hidup berlangsung bertahun-tahun, di lapangan hijau menjelma menjadi kisah yang […]

expand_less