Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Sepuluh Gol dalam Pertandingan yang Katanya Tidak Penting

  • account_circle Wicaksono
  • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
  • visibility 124
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pertandingan perebutan tempat ketiga biasanya diperlakukan seperti acara ramah-tamah setelah pemakaman.

Dua tim baru saja gagal mencapai final, lalu diminta kembali memakai seragam, berbaris di lorong stadion, dan menunjukkan semangat untuk memperebutkan medali perunggu. Tidak ada anak kecil yang menempelkan poster di kamar sambil berbisik, “Kelak aku ingin finis ketiga.”

Prancis dan Inggris tampaknya memahami absurditas itu. Maka mereka mengambil keputusan bersama: kalau pertandingan ini dianggap tidak penting, pertahanan juga tidak perlu dianggap penting.

Inggris menang 6–4.

Sepuluh gol.

Itu bukan pertandingan sepak bola. Itu obral diskon Lebaran. Semua jalur dibuka, semua penyerang dipersilakan lewat, dan para bek tampak bekerja berdasarkan sistem kepercayaan.

Tensi mulai naik pada menit ketiga. Declan Rice, pemain yang biasanya bertugas menjaga ketertiban di lini tengah, justru membuka pesta. Ia mencetak gol cepat, lalu mengirim sepak pojok yang disundul Ezri Konsa menjadi gol kedua.

Konsa seorang bek tengah. Secara teori, pekerjaannya mencegah gol. Malam itu ia memperluas portofolio.

Inggris unggul 2–0 sebelum sebagian penonton selesai membeli minuman. Prancis tampak seperti tim yang baru diberi tahu bahwa penerbangan pulang dimajukan dan koper harus segera dikemas.

Lalu Bukayo Saka mulai memasak.

Saka mencetak tiga gol. Ia menyerang ruang di belakang pertahanan Prancis dengan kecepatan dan ketenangan yang membuat para bek tampak seperti sekelompok orang yang baru diperkenalkan lima menit sebelum pertandingan.

Hat-trick itu sekaligus menimbulkan pertanyaan yang tidak nyaman bagi Inggris: mengapa keberanian menyerang seperti ini baru muncul setelah peluang menjadi juara lenyap?

Beberapa hari sebelumnya, mereka menjaga keunggulan 1–0 atas Argentina seolah sedang membawa piring porselen warisan nenek. Sekarang, tanpa trofi utama yang bisa hilang, mereka bermain seperti sekelompok anak yang baru dibebaskan dari ruang les.

Saat jeda, Inggris unggul 4–0.

Mungkin Didier Deschamps tidak memberikan instruksi taktis. Barangkali ia hanya meminta para pemain memastikan bahwa mereka benar-benar mengenakan sepatu sepak bola.

Babak kedua dimulai, dan Prancis mendadak ingat bahwa mereka juga negara besar dalam urusan menendang bola.

Kylian Mbappé mencetak gol. Bradley Barcola menyusul. Mbappé kemudian mencetak gol kedua.

Empat kosong berubah menjadi empat tiga.

Dalam waktu kurang dari 20 menit, pertandingan yang semula menyerupai hukuman publik berubah menjadi pemeriksaan jantung bagi pendukung Inggris. Ini hiburan khas Inggris: membangun keunggulan besar, lalu perlahan meyakinkan rakyatnya bahwa kehancuran nasional masih sangat mungkin terjadi.

Mbappé tampil seperti seseorang yang menolak menutup turnamen hanya dengan ucapan terima kasih. Dua golnya memperlihatkan kekuatan terbaiknya: cepat, dingin, dan sangat tidak peduli terhadap ketenangan hidup para bek.

Michael Olise juga menonjol. Ia menjadi sumber kreativitas Prancis dan terus mengirim peluang kepada rekan-rekannya. Ia menutup turnamen dengan tujuh assist, tanpa perlu sibuk mengejar sorotan. Seperti pegawai kantor paling rajin yang menyelesaikan semua pekerjaan, lalu penghargaan tahunan jatuh kepada orang dari bagian penjualan.

Masalah Prancis tetap berada di belakang. Empat gol dalam satu babak bukan kebetulan. Garis pertahanan mereka terlalu renggang, terlambat turun, dan tampak belum mencapai kesepakatan mengenai siapa menjaga siapa. Inggris sebenarnya mengalami penyakit serupa. Setelah unggul 4–0, mereka kebobolan tiga kali dalam 18 menit.

Pertahanan kedua tim malam itu seperti fasilitas umum yang sedang direnovasi: terbuka, berantakan, dan tidak jelas siapa penanggung jawabnya. Kayak di sini ya?

Saka kemudian mencetak gol kelima Inggris. Ousmane Dembélé membalas pada masa tambahan waktu, membuat skor 5–4. Pertandingan rupanya belum merasa cukup konyol.

Jude Bellingham masuk sebagai pemain pengganti dan mencetak gol keenam Inggris. Ia datang terlambat, melihat semua orang sudah mencetak gol, lalu tampaknya merasa tidak sopan bila pulang tanpa ikut menyumbang.

Inggris akhirnya menang 6–4 dan meraih tempat ketiga, hasil terbaik mereka sejak menjadi juara pada 1966. Namun, kemenangan itu meninggalkan satu pertanyaan besar: mengapa mereka baru bermain lepas ketika tidak ada lagi final yang bisa dikejar?

Mbappé kini berada dalam posisi sangat kuat meraih Sepatu Emas. Dua gol melawan Inggris membuat koleksinya mencapai 10 gol. Lionel Messi memasuki final bersama Argentina dengan delapan gol.

Artinya, Messi harus mencetak setidaknya dua gol melawan Spanyol untuk menyamai Mbappé. Jika membuat hat-trick, ia akan melewatinya. Mudah ditulis. Sulit dilakukan. Pertahanan Spanyol bukan loket pembagian sembako.

Mbappé mungkin tetap pulang membawa Sepatu Emas meski Prancis hanya finis keempat. Ironis, tetapi cocok dengan pertandingan ini.

Inggris menang dalam laga yang katanya tidak penting. Prancis kalah setelah mencetak empat gol. Mbappé mendekati penghargaan individu. Para bek kehilangan harga diri.

Dan penonton mendapat sepuluh gol.

Tidak penting?

Justru itu lucunya.

2026

  • Penulis: Wicaksono
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 32 Siswa Baru SMAN 1 Jerebuu Dibekali Kepemimpinan, Jurnalistik, dan Karya Tulis Ilmiah

    32 Siswa Baru SMAN 1 Jerebuu Dibekali Kepemimpinan, Jurnalistik, dan Karya Tulis Ilmiah

    • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
    • account_circle Mertin Lusi
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Ngada – Sebanyak 32 siswa baru SMAN 1 Jerebuu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung selama dua hari, 16–17 Juli 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan kepemimpinan, jurnalistik, dan penulisan karya tulis ilmiah. MPLS yang berlangsung setiap hari mulai pukul […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 492
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

  • Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 350
    • 2Komentar

    PENGAKUAN Gebby, katakan kita orang berdosa— bukan untuk mengadili, melainkan untuk meletakkan batu-batu luka di altar yang sama. Namamu gugur di kertas sunyi seperti hujan yang menyingkap rahasia tanah; aku menulis, lalu mengakui kebodohanku, mengumpulkan sisa-sisa kata yang terluka. Di matamu, kutemukan langit yang lain, yang merengkuh semua kesalahan, menyulapnya jadi debu yang lambat jatuh […]

  • Sudut Pandang: Melanjutkan Langkah di Bawah Bayang-Bayang Cinta Mereka photo_camera 2

    Sudut Pandang: Melanjutkan Langkah di Bawah Bayang-Bayang Cinta Mereka

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle Maria Sonia Kari Langobelen
    • visibility 71
    • 3Komentar

    Pagi selalu datang seperti biasa. Matahari perlahan masuk melalui celah jendela, mulai terdengar suara yang tidak asing bagiku yang begitu menggema memenuhi kamarku. Suara itu selalu menjadi alarm yang selalu memastikan anak-anaknya tidak terlambat ke sekolah. Di sebuah desa yang terpencil, di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, hiduplah sepasang suami istri yang yang kehidupannya sangat […]

  • Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Oleh: Fian N “Lama bersama belum tentu berakhir di pelaminan.” Kita mungkin pernah mendengar ungkapan itu diucapkan dalam berbagai kesempatan. Ada yang menyampaikannya sebagai nasihat, ada pula yang mengatakannya dengan nada getir setelah mengalami sendiri pahitnya perpisahan. Karena terlalu sering terdengar, kalimat itu terkadang dianggap sebagai ungkapan biasa. Padahal, bagi sebagian orang, ia lahir dari pengalaman […]

  • Cerpen Pastor: I Love You Full!

    Cerpen Pastor: I Love You Full!

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Sr. Auxilia Damanik, SFD
    • visibility 224
    • 4Komentar

    Oleh: Sr. Auxilia Damanik, SFD (Penulis merupakan biarawati pada Kongregasi Suster-Suster Fransiskus Dina atau SFD. Saat ini tengah memasuki tahun yuniorat pertama) Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Deru angin dari perbukitan berembus kencang, menggiring langkah kecilku berlari menapaki tanah berbatu. Langit sore tampak muram, tetapi bukit itu selalu menjadi tempat paling hidup […]

expand_less