Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Sepuluh Gol dalam Pertandingan yang Katanya Tidak Penting

  • account_circle Wicaksono
  • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
  • visibility 99
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pertandingan perebutan tempat ketiga biasanya diperlakukan seperti acara ramah-tamah setelah pemakaman.

Dua tim baru saja gagal mencapai final, lalu diminta kembali memakai seragam, berbaris di lorong stadion, dan menunjukkan semangat untuk memperebutkan medali perunggu. Tidak ada anak kecil yang menempelkan poster di kamar sambil berbisik, “Kelak aku ingin finis ketiga.”

Prancis dan Inggris tampaknya memahami absurditas itu. Maka mereka mengambil keputusan bersama: kalau pertandingan ini dianggap tidak penting, pertahanan juga tidak perlu dianggap penting.

Inggris menang 6–4.

Sepuluh gol.

Itu bukan pertandingan sepak bola. Itu obral diskon Lebaran. Semua jalur dibuka, semua penyerang dipersilakan lewat, dan para bek tampak bekerja berdasarkan sistem kepercayaan.

Tensi mulai naik pada menit ketiga. Declan Rice, pemain yang biasanya bertugas menjaga ketertiban di lini tengah, justru membuka pesta. Ia mencetak gol cepat, lalu mengirim sepak pojok yang disundul Ezri Konsa menjadi gol kedua.

Konsa seorang bek tengah. Secara teori, pekerjaannya mencegah gol. Malam itu ia memperluas portofolio.

Inggris unggul 2–0 sebelum sebagian penonton selesai membeli minuman. Prancis tampak seperti tim yang baru diberi tahu bahwa penerbangan pulang dimajukan dan koper harus segera dikemas.

Lalu Bukayo Saka mulai memasak.

Saka mencetak tiga gol. Ia menyerang ruang di belakang pertahanan Prancis dengan kecepatan dan ketenangan yang membuat para bek tampak seperti sekelompok orang yang baru diperkenalkan lima menit sebelum pertandingan.

Hat-trick itu sekaligus menimbulkan pertanyaan yang tidak nyaman bagi Inggris: mengapa keberanian menyerang seperti ini baru muncul setelah peluang menjadi juara lenyap?

Beberapa hari sebelumnya, mereka menjaga keunggulan 1–0 atas Argentina seolah sedang membawa piring porselen warisan nenek. Sekarang, tanpa trofi utama yang bisa hilang, mereka bermain seperti sekelompok anak yang baru dibebaskan dari ruang les.

Saat jeda, Inggris unggul 4–0.

Mungkin Didier Deschamps tidak memberikan instruksi taktis. Barangkali ia hanya meminta para pemain memastikan bahwa mereka benar-benar mengenakan sepatu sepak bola.

Babak kedua dimulai, dan Prancis mendadak ingat bahwa mereka juga negara besar dalam urusan menendang bola.

Kylian Mbappé mencetak gol. Bradley Barcola menyusul. Mbappé kemudian mencetak gol kedua.

Empat kosong berubah menjadi empat tiga.

Dalam waktu kurang dari 20 menit, pertandingan yang semula menyerupai hukuman publik berubah menjadi pemeriksaan jantung bagi pendukung Inggris. Ini hiburan khas Inggris: membangun keunggulan besar, lalu perlahan meyakinkan rakyatnya bahwa kehancuran nasional masih sangat mungkin terjadi.

Mbappé tampil seperti seseorang yang menolak menutup turnamen hanya dengan ucapan terima kasih. Dua golnya memperlihatkan kekuatan terbaiknya: cepat, dingin, dan sangat tidak peduli terhadap ketenangan hidup para bek.

Michael Olise juga menonjol. Ia menjadi sumber kreativitas Prancis dan terus mengirim peluang kepada rekan-rekannya. Ia menutup turnamen dengan tujuh assist, tanpa perlu sibuk mengejar sorotan. Seperti pegawai kantor paling rajin yang menyelesaikan semua pekerjaan, lalu penghargaan tahunan jatuh kepada orang dari bagian penjualan.

Masalah Prancis tetap berada di belakang. Empat gol dalam satu babak bukan kebetulan. Garis pertahanan mereka terlalu renggang, terlambat turun, dan tampak belum mencapai kesepakatan mengenai siapa menjaga siapa. Inggris sebenarnya mengalami penyakit serupa. Setelah unggul 4–0, mereka kebobolan tiga kali dalam 18 menit.

Pertahanan kedua tim malam itu seperti fasilitas umum yang sedang direnovasi: terbuka, berantakan, dan tidak jelas siapa penanggung jawabnya. Kayak di sini ya?

Saka kemudian mencetak gol kelima Inggris. Ousmane Dembélé membalas pada masa tambahan waktu, membuat skor 5–4. Pertandingan rupanya belum merasa cukup konyol.

Jude Bellingham masuk sebagai pemain pengganti dan mencetak gol keenam Inggris. Ia datang terlambat, melihat semua orang sudah mencetak gol, lalu tampaknya merasa tidak sopan bila pulang tanpa ikut menyumbang.

Inggris akhirnya menang 6–4 dan meraih tempat ketiga, hasil terbaik mereka sejak menjadi juara pada 1966. Namun, kemenangan itu meninggalkan satu pertanyaan besar: mengapa mereka baru bermain lepas ketika tidak ada lagi final yang bisa dikejar?

Mbappé kini berada dalam posisi sangat kuat meraih Sepatu Emas. Dua gol melawan Inggris membuat koleksinya mencapai 10 gol. Lionel Messi memasuki final bersama Argentina dengan delapan gol.

Artinya, Messi harus mencetak setidaknya dua gol melawan Spanyol untuk menyamai Mbappé. Jika membuat hat-trick, ia akan melewatinya. Mudah ditulis. Sulit dilakukan. Pertahanan Spanyol bukan loket pembagian sembako.

Mbappé mungkin tetap pulang membawa Sepatu Emas meski Prancis hanya finis keempat. Ironis, tetapi cocok dengan pertandingan ini.

Inggris menang dalam laga yang katanya tidak penting. Prancis kalah setelah mencetak empat gol. Mbappé mendekati penghargaan individu. Para bek kehilangan harga diri.

Dan penonton mendapat sepuluh gol.

Tidak penting?

Justru itu lucunya.

2026

  • Penulis: Wicaksono
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 180
    • 6Komentar

    Sebelum teman-teman mataleza.com lanjutkan membaca keseluruhan tulisan berikut ini, perlu saya sampaikan bahwa, tidak semua laki-laki demikian, tetapi pengalaman perempuan yang mengalami manipulasi adalah kenyataan yang tidak boleh diperkecil atau diabaikan. Luka mereka nyata. Selamat membaca! *** Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah pesan dari seorang teman. Ia perempuan, tinggal jauh di seberang. Jarak memisahkan […]

  • Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan. Manusia […]

  • Menempa Pemimpin Muda di Tengah Rimba Wolobobo

    Menempa Pemimpin Muda di Tengah Rimba Wolobobo

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle Mertin Lusi
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Di tengah hutan Wolobobo, jauh dari hiruk-pikuk ruang kelas, sebanyak 52 siswa baru SMAK St. Agustinus Langa memulai proses pembentukan diri melalui Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026. Mengusung konsep camping, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Alam menjadi ruang kelas, tenda menjadi tempat belajar kebersamaan, dan setiap tantangan […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 75
    • 0Komentar

    SMPSK Kotagoa Sport Area tidak hanya dipadati sorak-sorai para pendukung pada ajang Kotagoa Diamond Competition antar Sekolah Dasar yang berlangsung setiap sore hingga malam hari. Ketika matahari kembali menyinari lapangan di pagi dan siang hari, suasana yang sama meriah kembali tercipta. Kali ini, para pelakunya adalah siswa-siswi SMPSK Kotagoa Boawae sendiri melalui kegiatan rutin yang […]

  • AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 233
    • 0Komentar

    Aku ingin pamerkan setiap aktivitasku, sejak subuh hingga petang. Supaya mereka tidak mempermainkanku soal waktu, membuatku menunggu, tanpa rasa bersalah, tanpa usaha untuk berbenah. (Ia dan Mereka yang Berisik) Saya membuka tulisan sederhana ini dengan mengutip sebuah pernyataan dalam buku yang berjudul Ambivert. Dan persis buku inlah yang akan saya ulas seringkas mungkin sesuai kapasitas […]

  • Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 99
    • 0Komentar

    8 Juni 2026 akan menjadi salah satu tanggal yang layak dikenang dalam perjalanan pendidikan di Boawae. Sore itu, Kotagoa Sport Area tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya pertandingan. Lapangan itu berubah menjadi panggung harapan, tempat lahirnya keberanian, kerja keras, dan mimpi-mimpi besar anak-anak. Sebanyak 27 tim dari berbagai Sekolah Dasar siap bertarung dalam cabang olahraga voli […]

expand_less