Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
  • visibility 88
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan.

Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia.

Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai.

Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang ketiga, bukan pula karena cinta telah habis. Ia datang diam-diam melalui prasangka yang dibiarkan tumbuh. Melalui pertanyaan-pertanyaan yang tak lagi lahir dari rasa peduli, melainkan dari rasa takut kehilangan.

Pada awalnya, semuanya tampak biasa.

“Sudah makan?”

“Hati-hati di jalan.”

“Jangan lupa kabari kalau sudah sampai.”

Kalimat-kalimat sederhana itu terasa hangat. Menenangkan.

Tetapi ketika kepercayaan mulai rapuh, kalimat yang sama berubah makna.

“Kenapa baru pulang?”

“Dengan siapa tadi?”

“Kenapa tidak membalas pesan?”

Yang terdengar bukan lagi perhatian, melainkan tuduhan yang dibungkus kekhawatiran.

Begitulah kepercayaan. Ia tidak selalu runtuh karena sebuah kebohongan besar. Kadang ia hancur oleh ribuan prasangka kecil yang dibiarkan hidup setiap hari.

Beberapa waktu lalu seseorang datang membawa sebuah cerita.

Dengan suara yang berusaha tegar, ia bertanya kepada saya,

“Kak, kenapa setiap kali saya pulang kerja selalu ada pertanyaan yang membuat saya merasa sedang diadili? Ketika pekerjaan sedang padat dan saya terlambat memberi kabar, saya dianggap sengaja menghindar. Seolah-olah setiap kesibukan adalah kesalahan.”

Saya tidak segera menjawab.

Ada pertanyaan yang lebih membutuhkan hati daripada jawaban. Saya memilih diam, sebab sering kali diam adalah cara terbaik untuk mendengarkan luka yang sedang berbicara.

Ia kembali melanjutkan,

“Dia selalu curiga dengan kesibukan saya. Padahal saya tidak pernah mempermasalahkan kesibukannya. Saya percaya pada setiap impian yang sedang ia perjuangkan. Mengapa kepercayaan yang saya berikan tidak pernah kembali kepada saya?”

Pertanyaan itu menggantung lama di kepala saya.

Mungkin memang benar, yang paling menyakitkan dalam sebuah hubungan bukanlah pertengkaran. Melainkan ketika seseorang harus terus-menerus membuktikan kesetiaannya kepada orang yang seharusnya sudah percaya.

Saya kemudian menyadari, di antara mereka bukan lagi kekurangan cinta. Yang mulai habis adalah rasa aman.

Ada orang yang begitu takut kehilangan, hingga tanpa sadar justru mendorong orang yang dicintainya semakin menjauh.

Ada pula yang masih percaya bahwa perempuan tidak perlu memiliki banyak ruang untuk bertumbuh. Seolah impian hanya pantas dimiliki laki-laki, sementara perempuan cukup tinggal di rumah menunggu.

Padahal cinta tidak pernah meminta seseorang mengecilkan dirinya agar pas di mata pasangannya.

Cinta yang dewasa justru bertepuk tangan ketika orang yang dicintainya bertumbuh.

Ia tidak mengikat langkah.

Ia tidak membatasi mimpi.

Ia tidak menjadikan kesuksesan pasangan sebagai ancaman.

Sebab dua orang yang saling mencintai bukan sedang berlomba menjadi lebih tinggi satu sama lain. Mereka sedang belajar menjadi akar yang saling menguatkan agar pohon kehidupan mereka tetap berdiri ketika badai datang.

Di penghujung percakapan itu saya hanya berkata pelan,

“Jangan biarkan satu musim yang buruk menghapus seluruh cerita indah yang telah kalian bangun bertahun-tahun. Ingatlah alasan mengapa dahulu kalian memilih saling menggenggam. Rawatlah kepercayaan sebagaimana kalian dahulu merawat cinta. Sebab cinta tanpa kepercayaan hanya akan melahirkan kelelahan, dan kepercayaan tanpa komunikasi perlahan akan berubah menjadi kesunyian.”

Pada akhirnya saya belajar bahwa hubungan bukan tentang siapa yang paling benar.

Bukan pula tentang siapa yang paling banyak berkorban.

Hubungan adalah tentang dua orang yang setiap hari memilih untuk percaya, bahkan ketika hidup sedang sibuk menguji mereka.

Karena cinta tidak selalu berakhir ketika dua hati berhenti saling mencintai.

Sering kali ia berakhir ketika kepercayaan kehilangan rumahnya.

Dan rumah itu, selalu dibangun oleh dua orang yang memilih saling menjaga.

Pondok Baca Mataleza, 2026

 

Fian N, sejak tahun 2020 menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile. Selain suka menulis juga suka membaca. Saat ini menjadi teman belajar di SMPSK KOTAGOA BOAWAE.

 

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Robertus Pitang
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan […]

  • Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 248
    • 2Komentar

    PENGAKUAN Gebby, katakan kita orang berdosa— bukan untuk mengadili, melainkan untuk meletakkan batu-batu luka di altar yang sama. Namamu gugur di kertas sunyi seperti hujan yang menyingkap rahasia tanah; aku menulis, lalu mengakui kebodohanku, mengumpulkan sisa-sisa kata yang terluka. Di matamu, kutemukan langit yang lain, yang merengkuh semua kesalahan, menyulapnya jadi debu yang lambat jatuh […]

  • PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 205
    • 3Komentar

    Permen edisi SENIN 5 PASKAH – 04 MEI 2026 – Katanya Sama Dengan Nyatanya Inspirasi: Kis 14:5-18 ; Yohanes 14:21-26 Penikmat permen yang berhikmat dalam Kristus. Mari pada hari ini kita mengalamatkan hati dan doa bagi para petugas pemadam kebakaran atas dedikasi mereka. Karena itu, hari ini dunia memberi perhatian khusus bagi mereka dengan merayakan […]

  • Siapakah Saya?

    Siapakah Saya?

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tuntutan, banyak orang terjebak dalam rutinitas tanpa sempat berhenti sejenak untuk merenung. Kita sering sibuk mengejar prestasi, memenuhi ekspektasi orang lain, haus akan validasi atau sekadar bertahan dari tekanan sehari-hari, hingga lupa menanyakan hal yang paling mendasar: “Siapakah saya?” Pertanyaan sederhana namun mendalam ini sering kali […]

  • Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle John Orlando, S.Fil
    • visibility 138
    • 0Komentar

    Oleh: JOHN ORLANDO, S.FIL (Alumni FFA UNWIRA) Bangsa ini seperti cermin retak: memantulkan wajah-wajah yang kadang membuat kita ingin tertawa getir. Keluarga, komunitas, budaya, kerja, negara. semuanya hadir, tapi tidak selalu memberi pelukan hangat. Anak muda berdiri di depan cermin itu, bertanya-tanya: apakah ini wajah masa depan, atau sekadar bayangan masa lalu yang enggan pergi? […]

  • Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Anto Narasoma
    • visibility 194
    • 0Komentar

    SEJILID BUKU kubuka sejilid buku yang kemarin membawa aku melintasi segala kisah   dari ruang-ruang fisika dan format wajah-Nya yang teduh di atas sajadah kaulah gudang pengisi petak-petak di ruang kosong otakku   lalu kubuka lembaran yang tuntas kubaca karena dari titik ke titik belahan bumi ini adalah buku   maka segala kalimat panjang itu […]

expand_less