Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
  • visibility 176
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan.

Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia.

Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai.

Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang ketiga, bukan pula karena cinta telah habis. Ia datang diam-diam melalui prasangka yang dibiarkan tumbuh. Melalui pertanyaan-pertanyaan yang tak lagi lahir dari rasa peduli, melainkan dari rasa takut kehilangan.

Pada awalnya, semuanya tampak biasa.

“Sudah makan?”

“Hati-hati di jalan.”

“Jangan lupa kabari kalau sudah sampai.”

Kalimat-kalimat sederhana itu terasa hangat. Menenangkan.

Tetapi ketika kepercayaan mulai rapuh, kalimat yang sama berubah makna.

“Kenapa baru pulang?”

“Dengan siapa tadi?”

“Kenapa tidak membalas pesan?”

Yang terdengar bukan lagi perhatian, melainkan tuduhan yang dibungkus kekhawatiran.

Begitulah kepercayaan. Ia tidak selalu runtuh karena sebuah kebohongan besar. Kadang ia hancur oleh ribuan prasangka kecil yang dibiarkan hidup setiap hari.

Beberapa waktu lalu seseorang datang membawa sebuah cerita.

Dengan suara yang berusaha tegar, ia bertanya kepada saya,

“Kak, kenapa setiap kali saya pulang kerja selalu ada pertanyaan yang membuat saya merasa sedang diadili? Ketika pekerjaan sedang padat dan saya terlambat memberi kabar, saya dianggap sengaja menghindar. Seolah-olah setiap kesibukan adalah kesalahan.”

Saya tidak segera menjawab.

Ada pertanyaan yang lebih membutuhkan hati daripada jawaban. Saya memilih diam, sebab sering kali diam adalah cara terbaik untuk mendengarkan luka yang sedang berbicara.

Ia kembali melanjutkan,

“Dia selalu curiga dengan kesibukan saya. Padahal saya tidak pernah mempermasalahkan kesibukannya. Saya percaya pada setiap impian yang sedang ia perjuangkan. Mengapa kepercayaan yang saya berikan tidak pernah kembali kepada saya?”

Pertanyaan itu menggantung lama di kepala saya.

Mungkin memang benar, yang paling menyakitkan dalam sebuah hubungan bukanlah pertengkaran. Melainkan ketika seseorang harus terus-menerus membuktikan kesetiaannya kepada orang yang seharusnya sudah percaya.

Saya kemudian menyadari, di antara mereka bukan lagi kekurangan cinta. Yang mulai habis adalah rasa aman.

Ada orang yang begitu takut kehilangan, hingga tanpa sadar justru mendorong orang yang dicintainya semakin menjauh.

Ada pula yang masih percaya bahwa perempuan tidak perlu memiliki banyak ruang untuk bertumbuh. Seolah impian hanya pantas dimiliki laki-laki, sementara perempuan cukup tinggal di rumah menunggu.

Padahal cinta tidak pernah meminta seseorang mengecilkan dirinya agar pas di mata pasangannya.

Cinta yang dewasa justru bertepuk tangan ketika orang yang dicintainya bertumbuh.

Ia tidak mengikat langkah.

Ia tidak membatasi mimpi.

Ia tidak menjadikan kesuksesan pasangan sebagai ancaman.

Sebab dua orang yang saling mencintai bukan sedang berlomba menjadi lebih tinggi satu sama lain. Mereka sedang belajar menjadi akar yang saling menguatkan agar pohon kehidupan mereka tetap berdiri ketika badai datang.

Di penghujung percakapan itu saya hanya berkata pelan,

“Jangan biarkan satu musim yang buruk menghapus seluruh cerita indah yang telah kalian bangun bertahun-tahun. Ingatlah alasan mengapa dahulu kalian memilih saling menggenggam. Rawatlah kepercayaan sebagaimana kalian dahulu merawat cinta. Sebab cinta tanpa kepercayaan hanya akan melahirkan kelelahan, dan kepercayaan tanpa komunikasi perlahan akan berubah menjadi kesunyian.”

Pada akhirnya saya belajar bahwa hubungan bukan tentang siapa yang paling benar.

Bukan pula tentang siapa yang paling banyak berkorban.

Hubungan adalah tentang dua orang yang setiap hari memilih untuk percaya, bahkan ketika hidup sedang sibuk menguji mereka.

Karena cinta tidak selalu berakhir ketika dua hati berhenti saling mencintai.

Sering kali ia berakhir ketika kepercayaan kehilangan rumahnya.

Dan rumah itu, selalu dibangun oleh dua orang yang memilih saling menjaga.

Pondok Baca Mataleza, 2026

 

Fian N, sejak tahun 2020 menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile. Selain suka menulis juga suka membaca. Saat ini menjadi teman belajar di SMPSK KOTAGOA BOAWAE.

 

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Di Antara Cinta dan Perjuangan, Kisah Pierre Tandean

    Sudut Pandang: Di Antara Cinta dan Perjuangan, Kisah Pierre Tandean

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Patricius Aldi
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Oleh: Patricius Aldi “Cinta yang sudah sampai pada tahap paling dekat dengan bahagia, hanya untuk direnggut oleh satu malam kelam dalam sejarah bangsa.” Rencana hidup terkadang tidak sesuai ekspetasi kita. Begitu pula dengan pernikahan, ada yang pernikahannya batal karena hati yang berubah, dan ada yang batal karena maut datang memisahkan seperti kisah Pierre Tendean dan […]

  • DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 803
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada kesempatan pertama, penulis mengapresiasi tulisan yang berjudul “Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis” karya Agustinus S. Sasmita. Agustinus mencoba membaca situasi yang sedang terjadi di NTT dengan kacamata yang tajam dan cukup menggugah eksistensi budaya belis. Tulisan ini juga menawarkan sebuah potret nyata yang melankolis mengenai “beban laki-laki NTT” dalam menghadapi ritual perkawinan […]

  • CPJF Flores: Red Spurs dari Rigi yang Datang Membawa Mimpi Besar di TURBO CUP 2026

    CPJF Flores: Red Spurs dari Rigi yang Datang Membawa Mimpi Besar di TURBO CUP 2026

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 166
    • 2Komentar

    Dari sebuah desa kecil di Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, lahir sebuah tim yang sedang menulis kisahnya sendiri. Namanya CPJF Flores (PT. Charon Pokphand Jaya Farm). Usianya memang masih sangat muda, tetapi semangat dan keberaniannya telah membuat banyak orang mulai melirik ke arah mereka. Didirikan pada tahun 2025, CPJF Flores bukan sekadar tim sepak bola yang […]

  • JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan)  Jangan caci-maki Mama Yasinta Moiwend. Jgn rubah konflik vertikal menjadi konflik horizontal antara sesama kita yang sama-sama terjepit. Siapa Mama Yasinta? Mama Yasinta adalah bagian dari masyarakat kecil. Hidupnya hanya di kampung dan hutan-hutan adat di Merauke. Pagi ke kebun, sore pulang bawa sagu. Tanah bagi Mama bukan sertifikat. […]

  • Sudut Pandang: Di Bawah Lampu Kos, Mimpi Tetap Menyala

    Sudut Pandang: Di Bawah Lampu Kos, Mimpi Tetap Menyala

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Virginia Dedebupu Hanasbey
    • visibility 46
    • 0Komentar

    Kisah mahasiswa yang belajar tumbuh jauh dari rumah Malam telah turun ketika sebagian besar rumah mulai mematikan lampunya. Namun, di sebuah kamar kos yang tidak terlalu luas, cahaya lampu masih menyala. Di atas meja terdapat laptop yang terbuka, beberapa buku kuliah, dan catatan tugas yang belum selesai. Tidak ada suara keluarga yang memanggil untuk makan […]

  • Ruang Rasa: Suara Anak yang Tak Pernah Didengar

    Ruang Rasa: Suara Anak yang Tak Pernah Didengar

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Katharina Tasik Busa
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Aku tidak ingat bagaimana rasanya tumbuh dalam pelukan ayah dan ibu setiap hari. Sejak kecil, aku dibesarkan oleh opa dan oma dari pihak ayah. Dari merekalah aku mengenal arti rumah, kasih sayang, dan perjuangan. Mereka memberiku makan, menyekolahkanku, dan berusaha memenuhi kebutuhanku. Untuk semua itu, aku sungguh bersyukur. Namun, di balik rasa syukur itu, ada […]

expand_less