Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
  • visibility 79
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda.

Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang saya unggah di Mataleza.com. Komentar itu datang dari seorang perempuan yang bercerita tentang hidupnya. Kisahnya sederhana, tetapi menyimpan banyak kesedihan yang mungkin juga dialami oleh banyak perempuan lainnya.

Ia harus merelakan beberapa kesempatan baik dalam hidupnya demi kepentingan saudara-saudaranya. Kesempatan untuk berkembang, belajar, atau mengejar cita-cita perlahan ia lepaskan bukan karena tidak mampu, tetapi karena keadaan memaksanya untuk mengalah.

Dalam situasi seperti itu, ia merasa hanya memiliki dua pilihan: menerima atau pergi. Menerima berarti tetap tinggal dan memendam segala rasa kecewa. Pergi berarti meninggalkan rumah untuk mencari kehidupan yang lebih baik di tempat lain.

Namun, pilihan itu tidak semudah yang dibayangkan.

Di dalam hatinya, ia sebenarnya ingin tetap berada di rumah. Ia ingin menemani kedua orang tuanya yang mulai menua. Ia ingin hadir saat mereka membutuhkan bantuan. Ia ingin menjadi anak yang selalu ada untuk keluarganya. Tetapi keinginan itu harus berhadapan dengan kenyataan yang membuatnya merasa tidak memiliki ruang untuk berkembang.

Pada akhirnya, keputusan harus segera diambil sebelum keadaan menjadi semakin rumit. Dan seperti banyak orang lainnya, ia harus memilih jalan yang paling mungkin meskipun bukan jalan yang paling ia inginkan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa hingga hari ini masih ada banyak keluarga dan lingkungan masyarakat yang membedakan kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan. Dalam beberapa budaya, anak laki-laki masih sering dianggap sebagai penerus utama keluarga, sementara anak perempuan dipandang sebagai pelengkap yang suatu saat akan pergi meninggalkan rumah.

Cara pandang seperti ini telah berlangsung sangat lama dan sering kali diterima begitu saja tanpa dipertanyakan. Akibatnya, banyak perempuan yang harus mengorbankan mimpi, pendidikan, bahkan masa depan mereka demi memenuhi harapan yang dibangun oleh lingkungan sekitar.

Budaya patriarki yang kuat memang tidak terjadi di semua tempat. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak perempuan yang mengalami perlakuan tidak adil dalam kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, bahkan dalam keluarga mereka sendiri.

Meski demikian, dari kisah perempuan ini saya belajar satu hal penting: kekuatan tidak selalu terlihat dari keberanian melawan. Kadang-kadang, kekuatan justru terlihat dari kemampuan seseorang untuk tetap bertahan, tetap berbuat baik, dan tetap menjaga kasih sayang kepada keluarganya meskipun ia sering terluka.

Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa kecewa. Menjadi kuat adalah kemampuan untuk terus melangkah ketika hidup tidak memberikan perlakuan yang sama kepada kita.

Dan bagi siapa pun yang saat ini sedang berjuang menghadapi keadaan serupa, percayalah bahwa nilai dirimu tidak ditentukan oleh bagaimana orang lain memperlakukanmu. Nilai dirimu lahir dari keberanian untuk tetap berdiri, tetap bermimpi, dan tetap percaya bahwa masa depan yang lebih baik selalu mungkin untuk diperjuangkan.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Fian N, selain suka menulis juga suka membaca. Sering mendapatkan banyak curahan hati dari teman-teman di media sosial (GB, IG dan WA. Beberapa tulisan lahir dari cerita-cerita tersebut. Saat ini menjadi teman belajar di SMPSK Kotagoa Boawae. Selain itu, sejak tahun 2020 menjadi tukang masak di Pondok baca Mataleza Olakile.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan. Manusia […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 443
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.227
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

  • Sudut Pandang: Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

    Sudut Pandang: Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Giorgio Babo Moggi
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Oleh: Giorgio Babo Moggi Kemenangan Argentina atas Swiss dengan skor 3-1 pada babak perempat final Piala Dunia 2026 menghadirkan satu kesimpulan penting. Tim asuhan Lionel Scaloni telah berevolusi menjadi kesebelasan yang mampu memenangkan pertandingan melalui kualitas kolektif, bukan lagi bertumpu sepenuhnya pada kecemerlangan Lionel Messi. Laga di Kansas City menjadi bukti bahwa sang juara bertahan […]

  • Malam Apresiasi Kotagoa Diamond Competition: Merayakan Prestasi, Bakat, dan Semangat Kebersamaan Menuju Intan SMPSK Kotagoa Boawae

    Malam Apresiasi Kotagoa Diamond Competition: Merayakan Prestasi, Bakat, dan Semangat Kebersamaan Menuju Intan SMPSK Kotagoa Boawae

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 208
    • 1Komentar

    SMPSK Kotagoa Boawae – 18 Mei 2026 diguyur hujan tanpa henti. Pada kesempatan yang sama akan dilangsungkan lomba Solo Vokal dan Paduan Suara serta membaca hasil kejuaraan lomba yang sudah dilaksanakan pada minggu-minggu sebelumnya. Para peserta pun berdatangan di tengah hujan yang rintik-rintik manja. Ada pun orang tua juga ikut menyaksikan malam penuh rasa penasaran […]

  • Memelihara Hati di Tengah Arus Digital:  Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    Memelihara Hati di Tengah Arus Digital: Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 406
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba, Frater OCD Dunia saat ini telah mengalami transformasi mendasar dalam cara manusia berinteraksi, berpikir, dan memaknai realitas. Bagi generasi Z dan Aplha, ekosistem digital bukan lagi sekadar alat bantu atau saluran komunikasi tambahan, melainkan lingkungan hidup utama tempat identitas dibentuk, relasi dijalin, dan makna kehidupan dicari. Kemudahan konektivitas yang ditawarkan oleh smartphone dan platform […]

expand_less