Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
  • visibility 89
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda.

Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang saya unggah di Mataleza.com. Komentar itu datang dari seorang perempuan yang bercerita tentang hidupnya. Kisahnya sederhana, tetapi menyimpan banyak kesedihan yang mungkin juga dialami oleh banyak perempuan lainnya.

Ia harus merelakan beberapa kesempatan baik dalam hidupnya demi kepentingan saudara-saudaranya. Kesempatan untuk berkembang, belajar, atau mengejar cita-cita perlahan ia lepaskan bukan karena tidak mampu, tetapi karena keadaan memaksanya untuk mengalah.

Dalam situasi seperti itu, ia merasa hanya memiliki dua pilihan: menerima atau pergi. Menerima berarti tetap tinggal dan memendam segala rasa kecewa. Pergi berarti meninggalkan rumah untuk mencari kehidupan yang lebih baik di tempat lain.

Namun, pilihan itu tidak semudah yang dibayangkan.

Di dalam hatinya, ia sebenarnya ingin tetap berada di rumah. Ia ingin menemani kedua orang tuanya yang mulai menua. Ia ingin hadir saat mereka membutuhkan bantuan. Ia ingin menjadi anak yang selalu ada untuk keluarganya. Tetapi keinginan itu harus berhadapan dengan kenyataan yang membuatnya merasa tidak memiliki ruang untuk berkembang.

Pada akhirnya, keputusan harus segera diambil sebelum keadaan menjadi semakin rumit. Dan seperti banyak orang lainnya, ia harus memilih jalan yang paling mungkin meskipun bukan jalan yang paling ia inginkan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa hingga hari ini masih ada banyak keluarga dan lingkungan masyarakat yang membedakan kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan. Dalam beberapa budaya, anak laki-laki masih sering dianggap sebagai penerus utama keluarga, sementara anak perempuan dipandang sebagai pelengkap yang suatu saat akan pergi meninggalkan rumah.

Cara pandang seperti ini telah berlangsung sangat lama dan sering kali diterima begitu saja tanpa dipertanyakan. Akibatnya, banyak perempuan yang harus mengorbankan mimpi, pendidikan, bahkan masa depan mereka demi memenuhi harapan yang dibangun oleh lingkungan sekitar.

Budaya patriarki yang kuat memang tidak terjadi di semua tempat. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak perempuan yang mengalami perlakuan tidak adil dalam kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, bahkan dalam keluarga mereka sendiri.

Meski demikian, dari kisah perempuan ini saya belajar satu hal penting: kekuatan tidak selalu terlihat dari keberanian melawan. Kadang-kadang, kekuatan justru terlihat dari kemampuan seseorang untuk tetap bertahan, tetap berbuat baik, dan tetap menjaga kasih sayang kepada keluarganya meskipun ia sering terluka.

Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa kecewa. Menjadi kuat adalah kemampuan untuk terus melangkah ketika hidup tidak memberikan perlakuan yang sama kepada kita.

Dan bagi siapa pun yang saat ini sedang berjuang menghadapi keadaan serupa, percayalah bahwa nilai dirimu tidak ditentukan oleh bagaimana orang lain memperlakukanmu. Nilai dirimu lahir dari keberanian untuk tetap berdiri, tetap bermimpi, dan tetap percaya bahwa masa depan yang lebih baik selalu mungkin untuk diperjuangkan.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Fian N, selain suka menulis juga suka membaca. Sering mendapatkan banyak curahan hati dari teman-teman di media sosial (GB, IG dan WA. Beberapa tulisan lahir dari cerita-cerita tersebut. Saat ini menjadi teman belajar di SMPSK Kotagoa Boawae. Selain itu, sejak tahun 2020 menjadi tukang masak di Pondok baca Mataleza Olakile.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Ketika seorang bayi perempuan lahir, kalimat pertama yang paling sering terdengar bukan “Semoga ia tumbuh berani.” Bukan pula, “Semoga ia menjadi manusia yang bijaksana.” Yang keluar justru, “Cantik sekali .” Lalu waktu berjalan, dan masyarakat melanjutkan pelajarannya. Perempuan cenderung diajari memakai bedak sebelum diajari berdebat, diajari bagaimana cara duduk anggun sebelum diajari menyampaikan pendapat. Diajari […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 77
    • 0Komentar

    SMPSK Kotagoa Sport Area tidak hanya dipadati sorak-sorai para pendukung pada ajang Kotagoa Diamond Competition antar Sekolah Dasar yang berlangsung setiap sore hingga malam hari. Ketika matahari kembali menyinari lapangan di pagi dan siang hari, suasana yang sama meriah kembali tercipta. Kali ini, para pelakunya adalah siswa-siswi SMPSK Kotagoa Boawae sendiri melalui kegiatan rutin yang […]

  • Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

    Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Halo, teman-teman. Apa kabar? Salam jumpa lagi bersama saya di Ruang Rasa. Pada kesempatan ini saya akan berbagi sebuah tulisan yang saya kembangkan dari salah satu postingan di Facebook. Sebelum teman-teman membaca tulisan di bawah ini lebih lanjut, perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini murni hanyalah respon atas postingan tersebut. Mungkin saja di luar sana […]

  • Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Oleh: Filemon Pandu Wimastha (Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende)  Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. […]

  • Sudut Pandang: KASUS NADIEM: BUKAN AYAM BERKOKOK

    Sudut Pandang: KASUS NADIEM: BUKAN AYAM BERKOKOK

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Agustinus Edy Kristanto
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Oleh: Agustinus Edy Kristanto Setelah rekaman ILC yang membahas kasus Nadiem Makarim, saya dan Bang Rocky Gerung (RG) salaman sambil tertawa. Ia bilang sebaiknya saya lebih detail lagi menjelaskan hubungan sebab-akibat. Sebelumnya kami terlibat sedikit debat tentang korelasi temporal dan analogi ayam-matahari. Ada baiknya saya jelaskan begini. Saya bukannya tidak menangkap analogi dimaksud. Tapi saya […]

  • MONIKA DI UJUNG NASIB

    MONIKA DI UJUNG NASIB

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Ando Sola
    • visibility 394
    • 2Komentar

    “Semua mereka melihatku seperti selembar rupiah yang bisa ditukar dengan kehormatan” Pada simpang tiga ujung desa Watu Ngadha, sekelompok anak kompleks duduk lingkar memainkan gitar tua. Mereka menyayikan lagu-lagu nostalgia, sambil menepuk dada dan mengerutkan dahinya. Mereka tenggelam pada setiap syair yang dinyanyikan. Aku tahu mereka sedang bernostalgia dengan masa lalunya. Terdengar beberapa lagu yang […]

expand_less