Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
  • visibility 114
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda.

Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang saya unggah di Mataleza.com. Komentar itu datang dari seorang perempuan yang bercerita tentang hidupnya. Kisahnya sederhana, tetapi menyimpan banyak kesedihan yang mungkin juga dialami oleh banyak perempuan lainnya.

Ia harus merelakan beberapa kesempatan baik dalam hidupnya demi kepentingan saudara-saudaranya. Kesempatan untuk berkembang, belajar, atau mengejar cita-cita perlahan ia lepaskan bukan karena tidak mampu, tetapi karena keadaan memaksanya untuk mengalah.

Dalam situasi seperti itu, ia merasa hanya memiliki dua pilihan: menerima atau pergi. Menerima berarti tetap tinggal dan memendam segala rasa kecewa. Pergi berarti meninggalkan rumah untuk mencari kehidupan yang lebih baik di tempat lain.

Namun, pilihan itu tidak semudah yang dibayangkan.

Di dalam hatinya, ia sebenarnya ingin tetap berada di rumah. Ia ingin menemani kedua orang tuanya yang mulai menua. Ia ingin hadir saat mereka membutuhkan bantuan. Ia ingin menjadi anak yang selalu ada untuk keluarganya. Tetapi keinginan itu harus berhadapan dengan kenyataan yang membuatnya merasa tidak memiliki ruang untuk berkembang.

Pada akhirnya, keputusan harus segera diambil sebelum keadaan menjadi semakin rumit. Dan seperti banyak orang lainnya, ia harus memilih jalan yang paling mungkin meskipun bukan jalan yang paling ia inginkan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa hingga hari ini masih ada banyak keluarga dan lingkungan masyarakat yang membedakan kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan. Dalam beberapa budaya, anak laki-laki masih sering dianggap sebagai penerus utama keluarga, sementara anak perempuan dipandang sebagai pelengkap yang suatu saat akan pergi meninggalkan rumah.

Cara pandang seperti ini telah berlangsung sangat lama dan sering kali diterima begitu saja tanpa dipertanyakan. Akibatnya, banyak perempuan yang harus mengorbankan mimpi, pendidikan, bahkan masa depan mereka demi memenuhi harapan yang dibangun oleh lingkungan sekitar.

Budaya patriarki yang kuat memang tidak terjadi di semua tempat. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak perempuan yang mengalami perlakuan tidak adil dalam kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, bahkan dalam keluarga mereka sendiri.

Meski demikian, dari kisah perempuan ini saya belajar satu hal penting: kekuatan tidak selalu terlihat dari keberanian melawan. Kadang-kadang, kekuatan justru terlihat dari kemampuan seseorang untuk tetap bertahan, tetap berbuat baik, dan tetap menjaga kasih sayang kepada keluarganya meskipun ia sering terluka.

Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa kecewa. Menjadi kuat adalah kemampuan untuk terus melangkah ketika hidup tidak memberikan perlakuan yang sama kepada kita.

Dan bagi siapa pun yang saat ini sedang berjuang menghadapi keadaan serupa, percayalah bahwa nilai dirimu tidak ditentukan oleh bagaimana orang lain memperlakukanmu. Nilai dirimu lahir dari keberanian untuk tetap berdiri, tetap bermimpi, dan tetap percaya bahwa masa depan yang lebih baik selalu mungkin untuk diperjuangkan.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Fian N, selain suka menulis juga suka membaca. Sering mendapatkan banyak curahan hati dari teman-teman di media sosial (GB, IG dan WA. Beberapa tulisan lahir dari cerita-cerita tersebut. Saat ini menjadi teman belajar di SMPSK Kotagoa Boawae. Selain itu, sejak tahun 2020 menjadi tukang masak di Pondok baca Mataleza Olakile.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puisi-puisi Harsandi Pratama Putra

    Puisi-puisi Harsandi Pratama Putra

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Harsandi Pratama Putra
    • visibility 296
    • 0Komentar

    Kepada Rindu Bernama Kenangan Gigilnya rindu malam ini adalah dingin yang paling menusuk Hujan kenangan datang, membasahi sela-sela ingatan Setelah tak menemukan temu dan pelukan yang hangat Di dada yang sesak ini, setiap sepi datang mengunjungi tubuhku Aku mati-matian menenangkan nyerinya sendirian. 2026 Setiap Malam Kepalaku Penuh Kecamuk Oleh Peperangan Aku ingin reda Dari luka […]

  • Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 274
    • 1Komentar

    suka sibuk pagi-pagi sekali di hari minggu, kami ke gereja. seperti orang-orang, kami berpakaian rapi. sebelum keluar pintu rumah, pastikan semua dalam keadaan siap, batin maupun pakaian. di pintu masuk gereja, semua mata mencari sumber bunyi kaki. lihat atas-bawah. di dalam gereja, ekaristi sebentar lagi mulai. masih ada yang sibuk menilai. sebentar sambut hosti, bikin […]

  • Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Robertus Pitang
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan […]

  • Sudut Pandang: Menyulam Kasih di Atas Benang-benang Keriput photo_camera 3

    Sudut Pandang: Menyulam Kasih di Atas Benang-benang Keriput

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Agustinus Naisoko
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Oleh: Fr Agustinus Naisoko, CMM (Prodi: Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma)  Bunyi Kayu Tenun dan Bau Sopi yang Sederhana Di sebuah sudut desa yang tenang. Setiap kali mengingat masa kecil, hal pertama yang terlintas di ingatan saya bukanlah hal-hal yang indah, melainkan aroma tajam air nira dan bunyi kayu tenun Mama. Bapak tiri saya seorang […]

  • Ibu di Kota

    Ibu di Kota

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 347
    • 0Komentar

    Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang? Sebelum […]

  • Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

    Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Halo, teman-teman. Apa kabar? Salam jumpa lagi bersama saya di Ruang Rasa. Pada kesempatan ini saya akan berbagi sebuah tulisan yang saya kembangkan dari salah satu postingan di Facebook. Sebelum teman-teman membaca tulisan di bawah ini lebih lanjut, perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini murni hanyalah respon atas postingan tersebut. Mungkin saja di luar sana […]

expand_less