Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: KASUS NADIEM: BUKAN AYAM BERKOKOK

  • account_circle Agustinus Edy Kristanto
  • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
  • visibility 87
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Agustinus Edy Kristanto

Setelah rekaman ILC yang membahas kasus Nadiem Makarim, saya dan Bang Rocky Gerung (RG) salaman sambil tertawa. Ia bilang sebaiknya saya lebih detail lagi menjelaskan hubungan sebab-akibat.

Sebelumnya kami terlibat sedikit debat tentang korelasi temporal dan analogi ayam-matahari.

Ada baiknya saya jelaskan begini.

Saya bukannya tidak menangkap analogi dimaksud. Tapi saya mengukur forum. ILC sedang membahas kasus hukum spesifik, maka saya tidak mau berdebat kata-kata, tetapi fakta dan pembuktian saja.

Fakta-fakta pun saya kualifikasi hanya fakta-fakta hukum yang dipertimbangkan oleh hakim (hlm. 842 dst dalam Putusan 147 PN Tipikor Jakpus).

Hukum tidak bisa analogi. Maksudnya, kasus Nadiem tidak sesederhana analogi “ayam berkokok maka matahari terbit”.

Istilah korelasi temporal adalah istilah yang dipakai hakim dalam putusan Nadiem, dan saya sepakat.

Analogi ayam-matahari mengasumsikan hanya ada korelasi waktu semata. Saya pikir hakim tidak sebodoh itu. Sebab dalam doktrin kausalitas hukum dikenal ajaran kausalitas adekuat (sebab yang secara objektif patut diperhitungkan menimbulkan akibat) dan conditio sine qua non (syarat mutlak). Dua doktrin itu bukan analogi alam, tapi standar hukum resmi.

Analogi ayam-matahari implisit menuding hakim cuma bilang “ada Permendikbud lalu investasi Google di perusahaan Nadiem”. Padahal tidak begitu. Penekanannya bukan hanya pada waktu terbitnya Permendikbud, tapi “korelasi temporal antara investasi Google dan tahap-tahap kebijakan Chromebook menunjukkan keterkaitan yang sistematis (hlm. 883).

“Keterkaitan yang sistematis” itu konteksnya, terutama ketika pembuktian unsur “dengan tujuan menguntungkan suatu korporasi” — dalam hal ini Google. Tujuan tersebut bukan saja terbukti dari pola perbuatan terdakwa Nadiem, tapi juga telah terwujud dalam bentuk rangkaian investasi Google yang sangat substansial ke ekosistem usaha yang sahamnya juga dimiliki Nadiem.

Korelasi temporal juga dianggap hakim sangat erat terjadi pada peristiwa penolakan pejabat lama (terhadap penggunaan Chromebook) dengan pergantian, dan pengarahan kebijakan tegas kepada pejabat baru, yang secara objektif mendukung konstruksi mens rea Nadiem untuk menghilangkan resistensi internal melalui pergantian pejabat (hlm. 902).

Lagipula, korelasi temporal itu didukung fakta-fakta hukum lain yang saling menguatkan, sehingga menunjukkan investasi Google ke ekosistem perusahaan Nadiem itu bukan suatu kebetulan. Ada kesaksian Andre Soelistyo dan Kevin Bryan Aluwi yang menerangkan bahwa dalam menentukan nilai saham bagi investor baru, mereka tetap melaporkan dan meminta persetujuan Nadiem selaku pemegang saham pendiri (directing mind, sehingga keduanya dianggap sebagai nominee yang menjalankan kehendak Nadiem sebagai pemilik manfaat substantif); perintah dan persetujuan Nadiem untuk mengubah status PMDN PT Gojek Indonesia menjadi PMA agar bisa menerima transfer Rp809 miliar dari PT AKAB yang berstatus PMA; pengangkatan Caesar Sengupta (eksekutif Google) sebagai Komisaris PT AKAB tahun 2021 yang disetujui oleh Nadiem; pengakuan Nadiem sendiri bahwa ia masih ingin berbisnis di GOTO, makanya tidak melepaskan sahamnya, melainkan hanya memberikan kuasa untuk hak suara; dan seterusnya.

Korelasi temporal dan serangkaian fakta hukum yang saling menguatkan itulah yang boleh dibilang sebagai sebab yang secara objektif patut diperhitungkan menimbulkan akibat (kausalitas adekuat).

Tapi, jika tetap ngotot meminta fakta hubungan sebab-akibat dalam kasus Nadiem ini, jawaban simpelnya: kebijakan Nadiem mengunci spesifikasi Chromebook adalah sebab yang mengakibatkan Google, sebagai pemegang lisensi, diuntungkan dari proyek itu, sekaligus membuka akses pasar terhadap sekitar 50 juta peserta didik di Indonesia.

Jika masih dipertanyakan: apa hubungan sebab-akibat antara kebijakan Nadiem, investasi Google di ekosistem perusahaan miliknya, dan korupsi?

Itu pertanyaan yang salah! Nadiem divonis korupsi bukan karena masalah sebab-akibat, tapi karena menurut hakim, unsur-unsur tipikornya terpenuhi — dalam hal ini Pasal 3 UU Tipikor (setiap orang, dengan tujuan menguntungkan korporasi, menyalahgunakan wewenang, merugikan keuangan negara).

Bagaimana penjelasan pemenuhan unsur-unsur tersebut, baca saja mulai hlm. 880 Putusan 147.

Majelis hakim itu tidak sedungu yang dikira sebagian orang. Putusan itu tidak lahir dari pertimbangan sekonyol yang dikira sebagian influencer.

Saya pikir kebanyakan dari kita juga cukup punya nalar untuk tidak berpikir serendah bahwa ayam berkokok adalah penyebab matahari terbit.

 

Salam, AEK

  • Penulis: Agustinus Edy Kristanto
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pesta yang tidak Pernah Mengundang Tuan Rumah

    Pesta yang tidak Pernah Mengundang Tuan Rumah

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Aloysius Wudi
    • visibility 211
    • 0Komentar

    Opini atas Film Dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita Oleh: Aloysius Wudi Ada sebuah pesta yang berlangsung sangat meriah di Papua Selatan. Ratusan alat berat datang beriringan seperti tamu agung. Kapal-kapal besar merapat ke dermaga tanpa basa-basi perkenalan. Aparat berdiri tegak mengawal kedatangan mereka bukan menghalangi, melainkan mempersilakan masuk. Proyek pangan dan energi nasional […]

  • Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Giorgio Babo Moggi
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Oleh: Giorgio Babo Moggi Di sudut kota Rosario yang riuh dan berdebu, sebuah rumah sederhana berdiri tenang. Rumah itu tidak dibangun oleh arsitek terkenal, melainkan oleh tangan seorang ayah dan kakek yang percaya bahwa keluarga selalu membutuhkan tempat untuk pulang. Di sanalah, pada 24 Juni 1987, lahir seorang bocah bernama Lionel Andrés Messi, anak ketiga […]

  • BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 466
    • 0Komentar

    01 Mei 2026 Inspirasi: Kis 13:26-33; Yohanes 14:1-6     Penikmat Permen yang berhikmat dalam Tuhan. Dalam nada syukur penuh iman dan harapan, kita ucapkan selamat Hari Buruh Internasional alias May Day. Bersamaan dengan momen ini, umat Katolik merayakan pembukaan bulan Maria. Tidak sampai di situ, Gereja hari ini merenungkan Firman Suci dari penginjil Yohanes sebagai […]

  • Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 153
    • 0Komentar

    Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan) Mama Yosinta itu perempuan yang berdiri tegak menolak Proyek Strategis Nasional. Berkali- kali ia menempuh jarak ribuan kilometer ke Jakarta. Ia masuk ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi bukan untuk dirinya, melainkan untuk tanah adatnya. Di sana ia bicara dengan kalimat yang tidak ragu: PSN mencabut hidup dari hutan, sagu, […]

  • Ruang Rasa: Pohon Mangga

    Ruang Rasa: Pohon Mangga

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Saya belum berjalan lagi ke beberapa sawah yang dulu begitu akrab dengan masa kecil saya: Pomaboa, Lodo Au, Lodo Wawo, dan Balejawa. Entah sudah berapa lama saya tidak menyusuri jalan-jalan kecil itu. Jalan tanah yang dulu saya kenal tanpa perlu berpikir, pematang sawah yang bisa saya lewati dengan langkah-langkah kecil, dan sudut-sudut tempat kami biasa […]

  • Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 278
    • 0Komentar

    Boawae, 2 Juni 2026– Suasana penuh haru dan syukur mewarnai acara pengumuman kelulusan siswa kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan orang tua siswa menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada pihak sekolah atas keberhasilan anak-anak mereka menyelesaikan pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Pertama. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa sekolah tidak hanya menjadi […]

expand_less