Sudut Pandang: Di Balik Seragam dan Pintu Kos
- account_circle Regina Alexandria Wulandari
- calendar_month 51 menit yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Regina Alexandria Wulandari
Pagi hari bagi sebagian orang mungkin dimulai dengan secangkir kopi, sarapan, atau persiapan untuk berangkat kuliah dan bekerja. Namun, bagi bapakku yang kini berusia 52 tahun, pagi menjadi waktu untuk kembali menjalankan tanggung jawabnya. Setelah 18 tahun bekerja sebagai satpam, kini ia menjalani pekerjaan berbeda dengan menjaga sebuah rumah kos. Seragam dan tempat kerjanya memang berubah, tetapi semangatnya untuk bekerja tetap sama.
Sebagai anak tunggal, aku melihat perjalanan bapak dari dekat. Bagiku, kegiatan seperti menyapu, mengepel, menerima paket, atau membantu anak kos bukan sekadar pekerjaan. Di balik kegiatan tersebut ada tanggung jawab bapak untuk tetap memenuhi kebutuhan keluarga.
Seragam yang Menjadi Bagian dari Hidup
Selama 18 tahun, bapak bekerja sebagai satpam. Selama itu, ia terbiasa menjalankan tugas dengan disiplin, menjaga keamanan, dan memperhatikan keadaan di sekitar tempat kerja. Pekerjaan tersebut juga membuatnya bertemu dengan banyak orang dan menghadapi berbagai situasi.
Menjadi satpam membutuhkan keberanian, kedisiplinan, ketelitian, dan kesabaran. Ada waktu ketika bapak harus bekerja pada pagi, siang, bahkan malam hari. Ketika sebagian orang sedang beristirahat, ia terkadang masih berada di tempat kerja untuk memastikan lingkungan tetap aman.
Pekerjaan tersebut tentu tidak selalu mudah. Rasa lelah menjadi bagian dari kesehariannya. Namun, bapak tetap menjalankan tugas karena menyadari bahwa pekerjaan tersebut merupakan tanggung jawabnya. Ia tidak selalu menceritakan kesulitan yang dialaminya kepada keluarga.
Pensiun Bukan Akhir dari Perjalanan
Setelah bekerja sebagai satpam selama 18 tahun, bapak memasuki masa pensiun pada akhir tahun 2025. Bagi sebagian orang, pensiun mungkin menjadi waktu untuk beristirahat setelah lama bekerja. Namun, bagi bapak, pensiun bukan berarti berhenti bekerja. Bapak tetap ingin bekerja karena masih memikirkan kebutuhan keluarga. Karena itu, bapak memilih untuk tetap bekerja selama masih mampu.
Setelah pensiun, bapak tidak langsung menjaga kos. Ia sempat bekerja di gereja dengan membantu mengecat tembok. Pekerjaan tersebut menjadi kegiatan yang dilakukannya setelah tidak lagi bekerja sebagai satpam. Meskipun pekerjaannya berbeda, keinginannya untuk tetap bekerja masih sama.
Pada awal tahun 2026, bapak mulai bekerja menjaga sebuah rumah kos. Pekerjaan tersebut menjadi babak baru dalam kehidupannya. Jika dahulu tugas utamanya berkaitan dengan keamanan, sekarang ia juga menjaga kebersihan dan membantu kebutuhan para penghuni.
Dari Seragam Satpam ke Pintu Kos
Para penghuni kos semuanya merupakan mahasiswi. Mereka memiliki kesibukan seperti mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, dan mengikuti kegiatan kampus. Bapak juga tinggal di tempat kos tersebut sehingga ia menjaga lingkungan dari pagi hingga malam.
Pekerjaan baru membuat bapak bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya tidak dikenalnya. Setiap penghuni memiliki karakter dan kebiasaan berbeda. Ada yang ramah dan sering menyapa, ada yang hanya ditemui ketika pulang kuliah, dan ada pula yang datang ketika membutuhkan bantuan.
Perubahan lingkungan kerja tersebut menjadi pengalaman baru bagi bapak. Dahulu ia berinteraksi dengan orang-orang dalam lingkungan kerja sebagai satpam. Sekarang ia lebih banyak berinteraksi dengan mahasiswi yang sedang menjalani kehidupan perkuliahan.
Hari-Hari di Balik Pintu Kos
Rutinitas bapak dimulai sejak pagi. Ia menyapu dan mengepel lantai agar lingkungan kos tetap bersih dan nyaman. Setelah itu, ia memperhatikan keadaan sekitar dan memastikan tidak ada hal yang mengganggu kenyamanan penghuni.
Pada sore hari, bapak kembali menyapu lingkungan kos. Debu dan kotoran yang muncul sepanjang hari perlu dibersihkan. Kegiatan tersebut dilakukan berulang setiap hari, tetapi tetap membutuhkan tenaga dan ketekunan.
Bapak menjaga kos dari pagi hingga malam. Karena tinggal di tempat yang sama, ia dapat membantu ketika penghuni membutuhkan sesuatu. Pekerjaannya tidak hanya duduk dan menunggu, tetapi juga memperhatikan keadaan lingkungan serta memastikan kos tetap nyaman.
Menjadi Orang yang Bisa Diandalkan
Selain menjaga kebersihan, bapak sering membantu menerima paket milik anak kos. Ketika mahasiswi sedang mengikuti perkuliahan atau tidak berada di kos, ia menerima barang yang datang dan menyimpannya sampai pemiliknya kembali.
Bapak juga menerima makanan yang dipesan secara online. Makanan biasanya datang ketika mahasiswi sedang berada di kampus atau memiliki kegiatan lain. Bantuan tersebut membuat penghuni tidak perlu khawatir ketika pesanan datang saat mereka tidak berada di kos.
Bapak juga membantu ketika anak kos mengalami masalah di tempat tinggalnya. Salah satunya ketika toilet tersumbat. Ia membantu mengatasi masalah tersebut atau mencari cara agar toilet dapat segera digunakan kembali. Karena tinggal di tempat kos, bapak dapat lebih cepat membantu ketika masalah muncul.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi keberadaan bapak cukup berarti bagi penghuni kos. Ia bukan hanya menjaga kebersihan, tetapi juga menjadi orang yang dapat dimintai bantuan ketika mereka menghadapi masalah sehari-hari.
Pekerjaan yang Menjadi Bentuk Kasih Sayang
Sebagai anak, aku melihat bahwa pekerjaan bapak setelah pensiun tidaklah mudah. Ia masih harus menggunakan tenaga untuk membersihkan lingkungan dan membantu ketika ada masalah. Walaupun usianya sudah 52 tahun, bapak tetap berusaha menjalankan tugasnya dengan baik.
Keputusan bapak untuk tetap bekerja setelah pensiun membuatku memahami arti tanggung jawab. Pensiun bukan berarti semua kebutuhan keluarga langsung selesai. Masih ada kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga bapak memilih untuk tetap bekerja.
Bapak mungkin tidak selalu menceritakan rasa lelah yang dialaminya. Ia juga tidak banyak membicarakan pengorbanan yang dilakukan. Namun, melalui rutinitasnya setiap hari, aku dapat melihat bahwa bekerja menjadi salah satu bentuk kasih sayangnya kepada keluarga.
Selama 18 tahun, ia menjaga keamanan sebagai satpam. Setelah pensiun pada akhir 2025, ia sempat mengecat tembok di gereja. Kemudian, pada awal 2026, ia mulai menjaga kos hingga sekarang. Tempat dan jenis pekerjaannya berubah, tetapi tanggung jawabnya terhadap keluarga tetap sama.
Di Balik Seragam dan Pintu Kos
Seragam satpam yang dahulu dikenakan bapak kini sudah tidak lagi menjadi bagian dari kesehariannya. Ia lebih sering terlihat membawa sapu, alat pel, menerima paket, atau membantu kebutuhan anak kos. Namun, perubahan pekerjaan tersebut tidak menghilangkan semangatnya untuk bekerja.
Pada akhirnya, kisah bapak bukan hanya tentang seorang mantan satpam yang kini menjaga rumah kos. Kisah ini adalah seseorang yang tetap bekerja setelah pensiun demi memenuhi kebutuhan keluarga. Ia menjalani pekerjaan yang sederhana, tetapi memberikan menfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Di balik seragam dan pintu kos, terdapat sosok bapak yang terus berusaha menjaga. Ia menjaga kebersihan, mengawasi lingkungan dari pagi hingga malam, membantu mahasiswi, menerima paket dan makanan, serta menolong ketika ada masalah. Lebih dari itu, ia juga menjaga tanggung jawabnya terhadap keluarga.
Sebagai anak, aku belajar bahwa kasih sayang tidak selalu disampaikan melalui kata-kata. Terkadang, kasih sayang hadir melalui hal-hal sederhana: sapu yang digerakkan, lantai yang dipel, paket yang diterima, dan kesediaan membantu ketika orang lain mengalami kesulitan.
- Penulis: Regina Alexandria Wulandari
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar