Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Menyebut Namamu, Lukisan Tak Bernama, Bukan Kita, Aku

  • account_circle Aprianus Jebarus
  • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
  • visibility 315
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Aprianus Jebarus, Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari

Menyebut Namamu
Aku pernah mencoba
mencari celah pada bingkai
senyummu
Namun yang aku dapat hanyalah
rajutan kata yang di bungkus rapi
pada wajah cantikmu
Itulah alasan pasti
mengapa aku tetap di sini
menatap langit tanpa henti
sembari melantunkan doa
di sepertiga malam
menyebutkan namamu
pada puisiku untuk Tuhan.
2026

Lukisan Tak Bernama
Di antara jutaan orang
yang ada di dunia ini
Kau dititipkan Tuhan
untuk datang menjemputku
pulang pada pangkuan
cinta dan kasih,
bersemi, tumbuh
bak fajar menyapa pagi,
menjemput hari.

Ketahuilah
Sebelum kau datang
Aku t’lah lebih dulu ada
bersama bayang yang
kau tinggalkan;
Menemani rasa yang abadi,
terjebak dalam halaman
roman bukan kenyamanan.

Sudahlah
Kau diam saja
Aku tak ingin pulang
Aku hanya ingin damai
bersama nama yang abadi
dalam lukisan tak bernama
pada dinding kamar kecil ini.
2026

Bukan Kita
Pada malam kutitipkan
sajak roman untukmu
Tentang aku yang tak
bisa melupakanmu
dari ingatanku

Pada Malam
Kusulam warna hitam
bercampur cantikmu
yang masih saja
membekas pada
cerita yang tak
dapat kuhapuskan
dari lembaran kisah
aku dan kamu
Bukan kita.
2026

Aku
Aku terlahir untuk menyambut
setiap mimpi yang aku tanam
sebelum aku mengenal dunia
Bukan untuk menghibur sedih
yang dimiliki ribuan mata
di ruangan penuh.

Aku
Hanyalah sepasang rasa
yang tercipta untuk
menciptakan cerita
pada ruang yang aku
ukir dengan tulus
tanpa ragu, hanya;
Cinta
Kasih
Mimpi
dan
keyakinan
dalam diri.
2026

Mencari Cinta Sejati
Sepotong surat masih tersimpan
rapi dengan balutan kenangan
pada cerita tentang kamu
yang dulu
Serpihan ingatan beterbangan
menelusuri samudera yang pernah
kamu lewati
berharap kan menemukan setitik
embun yang akan menghantarkan
langkah kaki yang masih tertatih ini
menuju pada senyum yang di sebut
rumah ternyaman untuk bercerita
tentang cinta.
2026

  • Penulis: Aprianus Jebarus
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kotagoa Diamond Competition: Panggung Kecil yang Menumbuhkan Mimpi Besar photo_camera 1

    Kotagoa Diamond Competition: Panggung Kecil yang Menumbuhkan Mimpi Besar

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 199
    • 0Komentar

    Pada 15–16 Mei 2026, suasana di lingkungan SMPSK Kotagoa Boawae terasa berbeda. Panggung pentas dan halaman tengah sekolah yang biasanya dipenuhi tepuk tangan untuk merayakan prestasi peserta didik, kali ini berubah menjadi ruang kompetisi yang hidup dan penuh semangat. Anak-anak dari berbagai Sekolah Dasar hadir membawa keberanian, bakat, dan harapan mereka. Dalam rangka menyongsong pesta […]

  • Sudut Pandang: RD Chosmas Oswyn Koba:   Menjadi Cahaya di Tengah Perjalanan

    Sudut Pandang: RD Chosmas Oswyn Koba:  Menjadi Cahaya di Tengah Perjalanan

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Anjelina Roslin
    • visibility 147
    • 2Komentar

    “Jangan Takut, Percaya Saja.”  (Markus 5:36). Ada kalanya saya memandang sosok yang berdiri di depan altar itu bukan hanya seorang imam. Bagi umat dan banyak orang ia adalah imam yang memimpin perayaan ekaristi dan menjadi tempat untuk menemukan penguatan. Namun, bagi saya, sosok itu memiliki arti yang jauh lebih dekat. Ia adalah sosok yang telah […]

  • Sudut Pandang: Sosok yang Diam-diam Menjadi Kekuatan

    Sudut Pandang: Sosok yang Diam-diam Menjadi Kekuatan

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Nopianti
    • visibility 31
    • 2Komentar

    Oleh: Maria Nopianti (Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma)  Di sebuah keluarga pasti memiliki sosok untuk tempat pulang, ada seseorang yang selalu hadir dengan kata-katanya yang lembut, ada juga yang menunjukkan kasih sayang pada anaknya melalui tindakan. Bagiku sosok itu iyalah Umak ba opak (bapak dan mamak), mereka adalah seseorang yang bukan hanya mengungkapkan perasaannya melalui […]

  • Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Pater Marsel Koka, RCJ
    • visibility 153
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Marsel Koka, RCJ (Pastor dari Konggregasi Rogasionis Hati Yesus Maumere) Di sela-sela masa akhir liburan, saya berkesempatan mengunjungi kembali sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecil selama enam tahun: SDN Riominsi, yang dahulu kami kenal sebagai SDK Terong Kedong. Sekolah kecil ini berada di Kampung Latung, Desa Benteng Tawa V, Kecamatan […]

  • Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Giorgio Babo Moggi
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Oleh: Giorgio Babo Moggi Di sudut kota Rosario yang riuh dan berdebu, sebuah rumah sederhana berdiri tenang. Rumah itu tidak dibangun oleh arsitek terkenal, melainkan oleh tangan seorang ayah dan kakek yang percaya bahwa keluarga selalu membutuhkan tempat untuk pulang. Di sanalah, pada 24 Juni 1987, lahir seorang bocah bernama Lionel Andrés Messi, anak ketiga […]

  • DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 801
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada kesempatan pertama, penulis mengapresiasi tulisan yang berjudul “Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis” karya Agustinus S. Sasmita. Agustinus mencoba membaca situasi yang sedang terjadi di NTT dengan kacamata yang tajam dan cukup menggugah eksistensi budaya belis. Tulisan ini juga menawarkan sebuah potret nyata yang melankolis mengenai “beban laki-laki NTT” dalam menghadapi ritual perkawinan […]

expand_less