Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
  • visibility 752
  • comment 32 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Mbay-22 Mei 2026. Saya tidak tahu apakah pengalaman ini layak disebut menarik atau justru menyakitkan. Mungkin keduanya. Atau mungkin hanya sebuah pengalaman biasa yang kebetulan saya dengar secara langsung sehingga meninggalkan kesan yang lebih dalam di kepala saya.

Yang jelas, ada sesuatu yang terasa ganjil sejak awal. Sesuatu yang terus tinggal diam-diam di pikiran saya bahkan setelah perjalanan pulang selesai.

Pengalaman itu dimulai di Mbay.

Mbay yang panas, gerah, dan membuat saya tidak betah. Setidaknya begitulah yang selalu saya rasakan setiap kali berada di sana. Mungkin karena saya bukan orang yang tinggal di Mbay, sehingga tubuh saya belum benar-benar terbiasa dengan suhu yang terasa menyengat itu. Bukan suasananya yang membuat saya tidak nyaman, sebab Mbay tetap punya keramaiannya sendiri, punya kehidupan yang berjalan seperti biasa. Panasnya seperti menempel di kulit dan sulit hilang.

Jumat, 22 Mei, matahari terasa begitu menyengat sejak siang belum terlalu terik. Jalanan tampak berdebu, kendaraan lalu-lalang, benar-benar ramai, dan angin yang lewat pun tidak cukup membantu mengurangi gerah.

Setelah tugas utama selesai, saya dan teman memutuskan singgah di sebuah rumah makan. Kami memang sudah lapar sejak tadi. Rasanya tubuh benar-benar butuh istirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Kami memesan makan siang dan es campur.

Es campur itu datang dalam mangkuk sedang dengan potongan buah, agar-agar, dan es yang mulai mencair pelan-pelan karena udara yang terlalu panas. Saya menikmatinya perlahan sambil mencoba mengusir rasa gerah yang sejak tadi membuat kepala terasa berat. Kadang-kadang hal sederhana seperti minuman dingin di tengah cuaca panas bisa terasa sangat menenangkan.

Jauh sebelum makan siang, saya sebenarnya sudah memberi kabar kepada Mama Fajar bahwa saya sedang berada di Mbay. Tidak lama setelah itu, masuk sebuah pesan:

โ€œJangan lupa oleh-oleh untuk Fajar kalau lagi di Mbay.โ€

Saya membaca pesan itu sambil tersenyum kecil.

Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang suka berbelanja atau membeli sesuatu untuk dibawa pulang. Kalau bukan makanan atau buah-buahan, biasanya saya malas mencarinya. Saya lebih suka pulang tanpa repot membawa banyak barang. Tetapi kali ini berbeda. Bukan karena terpaksa, melainkan karena saya merasa memang sudah seharusnya memenuhi permintaan itu.

Setelah makan siang selesai, kami menuju sebuah toko.

Saya langsung mencari barang yang dimaksud tanpa terlalu lama melihat-lihat bagian lain. Beruntung, barang itu cukup mudah ditemukan. Saya kemudian memotret beberapa pilihan dan mengirimkannya kepada Mama Fajar. Tidak lama menunggu, pilihannya jatuh pada foto terakhir.

Entah kenapa saya merasa lega karena pilihan itu sama dengan yang sebenarnya saya harapkan sejak awal.

Saya memerhatikan barang itu beberapa saat sebelum membawanya ke kasir. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi harganya cukup membuat saya menarik napas pelan. Untuk ukuran barang seperti itu, harganya terasa cukup โ€œmencekik leherโ€. Namun setelah melihat kualitasnya secara langsung, saya juga tidak bisa menyangkal bahwa harga itu memang sebanding dengan kualitas yang ditawarkan.

Saya akhirnya tetap membelinya.

Di meja kasir, suasana toko tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pembeli lain yang sedang mengantre. Di belakang saya berdiri dua lelaki yang tampaknya sedang berbincang santai sambil menunggu giliran.

Saya mengeluarkan uang dari dalam tas sambil menunggu kasir menghitung total belanja. Kasir itu seorang perempuan muda. Wajahnya terlihat lelah, tetapi ia tetap melayani dengan sopan seperti pekerja toko pada umumnya.

Lalu salah satu lelaki di belakang saya tiba-tiba berbicara.

Awalnya saya tidak terlalu memerhatikan. Sampai akhirnya saya sadar bahwa ia sedang melihat sesuatu di tangan si kasir perempuan. Rupanya ada gambar kecil di sana, mungkin tato kecil, mungkin juga hanya gambar biasa.

Lelaki itu bertanya:

โ€œItu tato asli atau gambar pakai pena tinta hitam?โ€

Nada suaranya terdengar santai, seperti sekadar basa-basi untuk membuka percakapan.

Kasir perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil. Senyum yang sulit saya artikan, apakah malu, tidak nyaman, atau memang memilih untuk tidak menanggapi.

Saat itu saya masih menunggu uang kembalian.

Namun beberapa detik kemudian, lelaki itu kembali berbicara. Kali ini bukan pertanyaan.

โ€œTidak tahu kenapa tubuh saya ini tidak suka ditato. Saya lebih suka โ€˜mainโ€™ perempuan.โ€

Kalimat itu membuat saya spontan menoleh ke arah kasir perempuan tersebut. Saya ingin melihat bagaimana reaksinya setelah mendengar kalimat seperti itu keluar begitu saja dari mulut orang asing.

Tetapi perempuan itu tetap diam.

Saya sendiri tidak tahu pasti apa yang saya rasakan saat mendengarnya. Mungkin kaget. Mungkin juga tidak nyaman. Sebab kalimat itu diucapkan begitu ringan, seolah-olah perempuan hanyalah bahan candaan biasa dalam percakapan antarlelaki.

Saya tidak mendengar percakapan selanjutnya. Di luar toko gerimis mulai turun, dan kami harus segera pulang karena perjalanan menuju Boawae masih cukup jauh.

Namun anehnya, justru setelah meninggalkan tempat itu, kalimat tadi terus terulang di kepala saya.

Saya sebenarnya tidak ingin memikirkannya terlalu jauh. Saya tahu banyak orang mungkin akan menganggap itu hanya candaan biasa. Kalimat spontan yang tidak perlu dibesar-besarkan. Tetapi entah kenapa saya merasa terusik.

Mungkin karena akhir-akhir ini saya juga sedang membaca Re: dan peRempuan karya Maman Suherman. Novel itu berkisah tentang seorang perempuan yang โ€œterpaksaโ€ menjadi pelacur karena tekanan dalam keluarganya sendiri. Ia hidup dalam omelan, kemarahan, dan penghakiman yang terus-menerus. Sampai akhirnya ia memilih kabur setelah ketahuan hamil, entah oleh sahabatnya sendiri atau guru privat Matematikanya.

Novel itu membuat saya berpikir banyak tentang perempuan. Tentang bagaimana perempuan sering kali dipaksa menanggung luka sendirian. Tentang bagaimana tubuh dan hidup perempuan sering dijadikan tempat pelampiasan, tetapi pada saat yang sama juga menjadi sasaran penghakiman.

Dan mungkin karena itulah kalimat di toko tadi terasa mengganggu.

Kalimat:

โ€œSaya lebih suka โ€˜mainโ€™ perempuan.โ€

Bagi sebagian orang mungkin terdengar biasa. Bahkan mungkin dianggap lucu. Tetapi bagi saya, ada sesuatu yang terasa salah ketika perempuan dibicarakan seperti barang hiburan. Seolah perempuan hanyalah objek pemuas yang keberadaannya bisa dipakai sesuka hati.

Kadang saya merasa perempuan begitu sering dijadikan โ€œbudakโ€ bahkan sejak dalam pikiran sebagian lelaki. Belum apa-apa, perempuan sudah ditempatkan sebagai tubuh ‘pelampiasan’. Sebagai objek. Sebagai sesuatu yang bisa dinikmati, disentuh, dimainkan, lalu ditinggalkan tanpa beban.

Yang lebih menyedihkan, cara pandang seperti itu sering dianggap normal.

Diulang terus dalam percakapan sehari-hari. Dalam candaan. Dalam lingkungan pertemanan. Dalam kebiasaan yang diwariskan diam-diam. Sampai akhirnya banyak orang tidak lagi sadar bahwa ada yang salah di sana.

Mungkin apa yang saya pikirkan ini terdengar berlebihan. Saya juga tidak tahu.

Namun saya percaya, banyak hal besar sebenarnya lahir dari sesuatu yang dianggap kecil dan biasa. Termasuk cara memandang perempuan.

Dan mungkin karena terlalu sering dianggap biasa, perempuan akhirnya terbiasa pula menerima luka-luka kecil yang terus datang berulang.

Untuk sementara, sejauh ini dulu yang bisa saya tuliskan.

Saya merasa tulisan ini belum selesai sepenuhnya. Masih ada banyak hal yang ingin saya pahami, banyak pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Mungkin suatu hari nanti, setelah menemukan pengalaman atau pemikiran baru, tulisan ini akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih utuh dan lebih baik lagi.

Pondok Baca Mataleza, 2026

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (32)

  • Guru Kampung

    Mantap om guru. Perlu untuk didiskusikan lebih lanjut, dengan melibatkan tokoh adat, tokoh agama, dan Perempuan.
    Hal seperti ini di kota2 besar sudah sering didiskusikan.
    Dikalangan kita org desa masih belum tersentuh.
    Buat semacam podcast atau reels FB. Agar menjangkau lapisan masyarakat di pedesaan yang notabene main FB pro.

    Balas26 Mei 2026 12:36 pm
  • ristonpili

    Ini pelecehan yang di anggap sebagai candaan.. Ini juga mungkin efek dari lingkungan masyarakat yamg menormalisasikan sesuatu yg sudah tidak normal…..

    Balas25 Mei 2026 12:19 pm
  • Felan Tanis

    Semoga Mbay cukup membakar kulit eh guru jangan sampai membakar martabat ehh guru..:)

    Balas24 Mei 2026 1:37 pm
  • ,Hyasinta Mi

    Terima kasih pa guru secara keseluruhan puisi iini menurut saya baik dimana penyair telah berhasil menggambarkan bagaimana kompleksitas dan daya tarik perempuan tidak hanya dilihat secara fisik semata,melainkan bertransformasi menjadi sebuah gagasan,inspirasi,atau bahkan obsesi yang mendalam didalam pikiran sadar laki-laki.karya yang cerdas karena mampu memotret relasi antar manusia secara mendalam dan estetis.salam sukses Tuhan memberkati๐Ÿ™

    Balas24 Mei 2026 1:21 pm
  • SONY BUU

    Hemat saya kaee, pemikiran seperti itu Mash saja terjadi di era sekarang ini. Ini adalah sebuah pemikiran kolot yang kalau TDK diberikan masukan atau semacam tanggapan secepatnya akan terus dan terus diwariskan. Kenapa demikian, peradaban manusia sekarang ini banyak sekali mengulangi peradaban manusia zaman dulu dimana kita melihat seberapa rasa kepedulian dan kepercayaan kepada kaum hawa sangat minim.memang kaum Adam sekarang secara langsung mulai menemukan jati diri yg sebenarnya, namun bertolak dari itu asumsi bahwa derajat kaum hawa tetap saja di katakan sebagai pelengkapnya. Dan itu nyata di era sekarang. TDK bisa dipikiri lagi asumsi ini akan terus berlanjut sampai kapanpun…

    Balas24 Mei 2026 11:51 am
    • Mataleza

      Iya guru, sebenarnya ini perlu perhatian semua lapisan masyarakat. tentang yang tabu itu dan jangan sampai terus menempatkan perempuan sebagai objel pemuas hasrat berdasarkan penampilan seseorang.

      Balas25 Mei 2026 9:34 am
  • Enno

    terimakasih ka’e atas tulisannya. hal ini sering ditemukan setiap hari bahkan selalu dianggap hal biasa. Oleh karena itu, harus dicegah tindakan tersebut. pentingnya peran dari seluruh elemen masyarakat untuk memberikan pendidikan tentang gender, seks, dan penghargaan martabat manusia.
    ditunggu tulisan-tulisan berikutnya.

    Balas24 Mei 2026 10:15 am
  • Mexes Meze

    Begitulah om, terkadang candaan seperti dianggap hal yang lumrah. Patut disayangkan kalau ini menjadi kebiasaan.

    Balas24 Mei 2026 7:45 am
  • Wilbrodus Seda

    Sepertinya kesetaraan gender masih jadi isu yang memprihatinkan. Wanita masih dapat perlakuan diskriminatif dan lebih parah jika tidak berpendidikan. Semoga semua perempuan lebih waspada sehingga tidak menjadi objek eksploitasi. Salam sehat dan tetap konsisten menulis ame๐Ÿ’ฅ

    Balas24 Mei 2026 7:07 am
    • Mataleza

      Ya, Bapa Guru. Isu ini akan terus nampak ke permukaan jika hal-hal seperti ini masih dianggap tabu.

      Balas24 Mei 2026 7:22 am
  • Efronius Lengi To

    Reaksi ketertarikan terhadap lawan jenis dalam situasi apa pun bisa terjadi dan itu lah kodrat alam tetapi
    Pengendalian diri bisa menjadi pagar supaya moral punya cukup ruang,,
    Kasus sperti ini banyak dan sering kali terjadi di manapun,, jangankan di kota di kampung-kampung juga sering terjadi akibat dari normalisasi yang pada dasarnya tidak normal.
    Kalau saja kaum hawa punya keberanian speak up secara kolektif mungkin bisa jadi diskusi publik yang kemudian jadi rambu2 didalam Kehidupan sosial

    Balas23 Mei 2026 11:55 pm
    • Mataleza

      Apakah boleh kita buat diskusi publik atau mulai dari komunitas, Guru?

      Balas24 Mei 2026 5:38 am
      • Efronius Lengi To

        Dua duanya bisa sekalian jalan guru dng melibatkan kelompok rentan(kaum hawa) lbh banyak,,
        Ada hal menarik kalau kita perhatikan di kampung2.
        Di hampir semua kampung di nagekeo punya satu sistem keakraban yang unik dalam bahasa Boawae kita menyebutnya Ipa weki.
        Didalam status keakraban ini nilainya adalah secara tidak langsung mempertegas hubungan kawin kawin artinya ada orang orang tertentu yang secara budaya direkomendasikan untuk bisa “kelakar” Dalam Bahasa Boawae (Papa momo). kedengarannya agak kasar tetapi sebagai bentuk validasi jalur perkawinan.
        Cuman,,,!!!!!! Ada pergeseran nilai dari sastra ke hastrat.
        Orang dulu kelakar yang dimaksud syarat dengan unsur sastra (subhi sawe,, litu li’u) ada nilai seninya yang kalau boleh dibilang seni sastra.
        Sekarang sdh agak sedikit to the point yang secara sadar atau tidak mengarah ke pelecehan dan sini sastra sdh di abaikan hastrat lebih dominan.

        Balas24 Mei 2026 12:54 pm
        • Mataleza

          Benar guru. Semakin ke sini, semakin tidak tau tempat, kadang salah menempatkan posisi perempuan

          Balas25 Mei 2026 9:33 am
  • Anonim

    Lelaki seperti itu biasanya lelaki yg lahir dari keluarga patriarki.
    Terlalu bnyak standar untuk wanita tanpa melihat kurang dan buruknya diri mreka sendiri.
    lelaki bgtu pada umumnya masuk dalam tipikal lelaki yang sering menuntut wanita nya untuk sempurna dgn menjadikan ibu mrka sbg standar kesempurnaan tnpa lihat seberguna apa diri mereka sendiri.
    Knpa sy bilang patriari karena omongan bgtu biasanya termasuk dalam budaya turun temurun, mungkin di rumah bapanya tidak bisa hargai mamanya jdi imbas nya anak pun tdak mampu menghargai yg lain.

    Balas23 Mei 2026 11:36 pm
    • Mataleza

      Sebuah komentar yang datang karena keresahan dan kenyataan yang sering ditembak di lingkungan sekitar tempat tinggal. Terima kasih, kaka Nia. Salam kenal Mof

      Balas23 Mei 2026 11:44 pm
      • Anonim

        Karena banyak sekali kesalahan dan kekeliruan yang justru di jadikan budaya oleh orang-orang yang tidak paham caranya menghargai, kaka.๐Ÿ™๐Ÿป

        Balas23 Mei 2026 11:47 pm
  • Oyn blolon

    Setidaknya masih ada laki-laki yang berani melihat perempuan sebagai manusia, bukan sekadar tubuh. Karena yang paling dibutuhkan perempuan hari ini bukan pujian tentang fisik, tapi cara pandang yang lebih waras tentang menghargai perempuan..
    Thnks pak guru

    Balas23 Mei 2026 11:19 pm
    • Mataleza

      Terima kasih, kaka Oin. Perempuan dan ketubuhannya sering kali dijadikan objek sebagai pemuas dahaga hasrat lelaki. Dan pelecehan secara fisik dan verbal sudah sering terjadi, baik di medsos maupun dalam kehidupan nyata sehari hari.

      Balas23 Mei 2026 11:33 pm
  • James

    Di lihat dari sudut pandang yang berbeda membuat seseorang merasa hidup paling benar,dan suatu lingkungan entah yg tiap saat candaan nya tidak pernah menjaga perasaan orang lain..
    Perempuan itu mahkota yang harus di lindungi dan harus di jaga bukan kita melihat sisi buruk kita menganggap dirinya tidak baik..

    Balas23 Mei 2026 7:58 pm
  • Inetha Boleng

    Normalisasi candaan mesum dalam pergaulan sehari-hari seperti ini bukti kemunduran etika dan adab sebagai manusia. Miris sekali kalau orang bisa dengan lantang bercanda begitu. Ini cermin betapa rendah isi kepala dan harga diri si oknum.

    Balas23 Mei 2026 6:32 pm
    • Mataleza

      Benar benar sangat memprihatinkan, tubuh perempuan dijadikan objek demi memuas hasrat meskipun itu melalui kata kata. Ada yang dilecehkan di sana, ada dan keberadaan perempuan.

      Balas23 Mei 2026 10:42 pm
  • Alva Ndana

    Seru sih kk, apalagi bnyk skli lakiโ€ yah kadang langsung membangun asumsi sendiri ketika melihat perempuan bertato tu sebagai โ€˜perempuan murahanโ€™ sedangkan ada beberapa orang yang buat tato bukan untuk hal itu tetapi membuat beberapa kenangan yg disatukan dalam satu gambar.

    Cara pandang kita punya orang disini kadang masih seperti itu dan seperti orangโ€ pada umumnya yah perempuan juga bgtu ada yang kadang acuh tak acuh dgn pandangan orang tapi ada yg merasa bahwa itu sebuah pelecehan non verbal. Kk hrus angkat lagi sih karena ini menarik menyuarakan sudut pandang perempuan yg kadang kita tidak pahami oleh orang lain.

    Balas23 Mei 2026 6:19 pm
    • Mataleza

      Cara pandang itu yang diubah. Tapi sayang, yang diucapkan itu sudah melecehkan perempuan dalam konteks ini.

      Balas23 Mei 2026 10:43 pm
  • Teti Filemon

    Kalau saya ada di situ sudah saya isi apapun yg ada depan mata ke mulut laki2 jahanam itu

    Balas23 Mei 2026 6:00 pm
    • Mataleza

      Saya cukup kaget kemarin

      Balas23 Mei 2026 6:16 pm
      • Teti Filemon

        PRnya adalah bagaimna kurikulum tentang tubuh itu jadi hal dasar untuk dibicarakan di dunia pendidikan, Parenting semua spektrum. Tdk bisa bergerak sendiri. Kadang membicarakan soal ketubuhan itu sj masih jadi hal tabuh di dunia ini. Kaka Perempuan itu juga bisa saja tdk sadar bahwa dia sedang di lecehkan, dan laki2 itu juga bisa jadi tidak tahu kalau dia sedang melecehkan.

        Balas23 Mei 2026 6:51 pm
        • Mataleza

          Iya, kak. Mungkin si lelaki itu tidak tahu kalau ada sesuatu yang diucapkan itu melecehkan perempuan yang ada di hadapannya. Dan benar bahwa ketubuhan harus menjadi hal utama dibicarakan, didiskusikan di dalam keluarga.

          Balas23 Mei 2026 10:41 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 249
    • 2Komentar

    “Sekarang, kepalanya sudah pergi.” Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh. “Sebentar lagi, Sempati […]

  • Mau Hidup Oleh Apa Kata Mereka (?)

    Mau Hidup Oleh Apa Kata Mereka (?)

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 254
    • 0Komentar

    Hidup adalah serentetan pengulangan yang kadang memaksa kita harus bertahan pun berserah, bukan menyerah. Entah setelahnya bagaimana manusia bisa melewati semuanya, itu adalah rahasia tersembunyi yang dimiliki oleh masing-masing pribadi. Semesta menawarkan banyak godaan, dilematisme memeluk manusia dengan sungguh. Jatuhkan pilihan sekarang atau kau kehilangan segalanya. Dengan terpaksa, juga buru-buru, tanpa pijak pikir yang matang, […]

  • Puisi-Puisi Hyan Godho

    Puisi-Puisi Hyan Godho

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Hyand Godho
    • visibility 100
    • 0Komentar

    TUA JOSE [P. Yosef Wiese, SVD]   Opa Kumi kasi Tua Jose kuda besar Waktu ia datang ke Boanio Jauh-jauh dari Negeri Kincir Angin.   Nenek Tera kaget (istrinya Opa Kumi). โ€œOrang Belanda, bukannya pegang senjata?โ€ โ€œLalu curi kami pu rempah-rempah di ladang?โ€. โ€œJuga Jagung, juga padi dan kelapaโ€ tambahnya.   Tua Jose diam saja […]

  • Cerpen Pastor: I Love You Full!

    Cerpen Pastor: I Love You Full!

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Sr. Auxilia Damanik, SFD
    • visibility 186
    • 4Komentar

    Oleh: Sr. Auxilia Damanik, SFD (Penulis merupakan biarawati pada Kongregasi Suster-Suster Fransiskus Dina atau SFD. Saat ini tengah memasuki tahun yuniorat pertama) Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Deru angin dari perbukitan berembus kencang, menggiring langkah kecilku berlari menapaki tanah berbatu. Langit sore tampak muram, tetapi bukit itu selalu menjadi tempat paling hidup […]

  • Sudut Pandang: Pasti Salah Hitung, Masaโ€™ Koperasi Merah Putih Untungnya Cuma Rp78 Ribu

    Sudut Pandang: Pasti Salah Hitung, Masaโ€™ Koperasi Merah Putih Untungnya Cuma Rp78 Ribu

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani
    • visibility 85
    • 0Komentar

    Oleh: Rosadi Jamani Ketua Satu Pena Kalbar   Lupakan kekalahan Mesir atas Argentina 3-2. Untung menghibur diri, baca cerita Koperasi Merah Putih yang digadang-gadang bisa mensejahterakan rakyat, ternyata untungnya cuma Rp78 ribu. Ah, yang benar, Bang. Salah hitung kali tu? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Koperasinya ada di Melawai Blok M, Jakarta Selatan. Lokasinya […]

  • Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Rommy Makyn
    • visibility 185
    • 0Komentar

    (Rommy Makyn adalah seorang Frater tingkat 3 di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, keuskupan Larantuka dan mahasiswa prodi Ilmu Filsafat semester 6 di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero-Maumere) Film pada satu sisi berfungsi sebagai media hiburan, dan pada sisi lain sebagai medium refleksi dengan cara sunyi untuk berbicara atas realitas kehidupan manusia dalam […]

expand_less