Breaking News
light_mode
Trending Tags

Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

  • account_circle Agustinus S. Sasmita
  • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
  • visibility 584
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam karyanya “21 Pelajaran untuk Abad ke-21”, Yuval Hoah Harari mengatakan “jika masa depan umat manusia diputuskan tanpa melibatkan anda, kerena anda sibuk memberi makan dan memakaikan pakaian anak anda, tetap saja anda dan anak anda tidak bisa lepas dari konsekuensinya. Ini memang sungguh tidak adil, tetapi siapa bilang sejarah itu adil?” (Harari, 2023). Namun pertanyaannya, mengapa mayoritas umat manusia memilih diam dalam ketidakadilan itu? Mengapa mereka membabi buta memuja masa lalu yang bahkan menindas dan sudah seharusnya direvisi? Seorang pemuda di pedalaman Manggarai Timur misalkan, harus bekerja keras menopang ekonomi keluarganya. Para pemuda di beberapa daerah NTT harus menangguhkan niat memperbaiki nasib karena bencana alam yang datang silih berganti. Para petani di pedalaman kebingungan melihat hasil panen hanya sebagai aset mati karena infrastruktur yang rapuh dan kebijakan yang tumpul. Berhadapan dengan itu, apakah kemajuan memilih berhenti ketika ketimpangan belum diatasi? Jelas tidak. Kemajuan terus berjalan dan menghimpit mereka yang lemah. Bagi mereka, kemajuan tidak lebih dari sebuah peristiwa percepatan penindasan.

Kita tidak bisa menafikan bahwa dampak dari kemajuan peradaban yang dimulai dari revolusi industri membawa wajah baru bagi kehidupan umat manusia. Perubahan ini semakin terasa ketika teknologi berkembang sedemikian pesat. Keberadaan teknologi akan merebut dan menggeser kedudukan manusia, semisal dalam dunia pekerjaan. Konsekuensi lanjutnya, teknologi akan menciptakan penganggur massal dan melahirkan suatu kelas baru, yakni “kelas orang-orang tak berguna” (Harari, 2023). Emile Durkheim, mengambarkan perubahan ini lebih sistematis. Ia mengamati transisi dari masyarakat tradisional yang bersatu karena kesamaan nilai dan kepercayaan (solidaritas mekanik) menuju masyarakat modern yang terikat karena ketergantungan fungsional. Bagi Durkheim, masyarakat organik tidak penting seseorang sebagai pribadi, sebab ia hanya penting sejauh memiliki fungsi. Ketika fungsi itu diambil alih oleh mesin dan algoritma, seseorang akan tersisihkan (Sukmana, 2024).

Di tengah lika-liku problematika perubahan ini, masihkah kita membiarkan budaya belis bertindak seolah buta dan tuli? Masihkah kita memaksakan diri berpegang teguh pada warisan masa lalu yang justru mengekang kita untuk melangkah maju? Perlu diakui, sebagaimana disampaikan Penanggap dalam tulisannya, bahwa melihat belis sebagai “satu-satunya” faktor kemiskinan merupakan sebuah simplifikasi yang terlampau dramatis. Namun mari kita jujur, bukankah mengurangi salah satu faktor –sambil tetap memperlakukan faktor-faktor lain secara setara –merupakan langkah progresif yang nyata? Atau kita terlalu nyaman dengan pembenaran kultural sehingga kritik terhadap tradisi dianggap sebagai tindakan reduksionisme atasnya? Mengutip tokoh yang sangat fenomenal dalam sejarah, Yesus Kristus, yang dengan berani menyatakan “hari sabat dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk hari sabat” (bdk. Markus 2:27). Pernyataan itu berhasil menghancurkan logika konservatif yang cenderung memuja ritus daripada substansinya. Dalam konteks ini, tradisi belis bukan untuk diperlakukan sebagai “benda pusaka” yang membuatnya tidak pantas dinegosiasikan dengan konteks zaman.

Primordialisme Ekstrim yang Menjebak

            Memahami sesuatu tidak cukup hanya bermodalkan niat baik. Ia harus disertai dengan dimensi estetisnya. Memahami (versthen) mengacu pada proses menangkap makna (simbol maupun teks) secara substansial, sedangkan estetika memahami meliputi struktur yang digunakan dalam aktivitas memahami. Tanpa struktur estetis yang utuh, pemahaman hanya menjadi alat pembenaran diri. Schleiermacher berpendapat, seseorang yang mementingkan perspektif sendiri sehingga salah memahami maksud pembicara atau penulis, sesungguhnya ia telah berprasangka terhadapnya. Prasangka (vorurteil) artinya penilaian yang diberikan sebelum gagasan utuhnya diperiksa (Hardiman, 2021). Dalam banyak kasus, prasangka-prasangka semacam ini menjadi gaya utama bagi mereka yang berpegang teguh pada keyakinan tertentu. Dalam konteks ini, primordialisme ekstrim (fanatik buta) bukanlah bentuk cinta pada akar budaya, melainkan jebakan yang membuat seseorang puas dan bangga dengan pemahaman yang dangkal.

Jalan pikiran yang diungkapkan Alvianus tidaklah unik. Ia mewakili kaum ekstrimis lainnya yang merasa terancam ketika narasi korban mulai diucapkan. Hal itu cukup jelas terlihat dalam tanggapannya terhadap tulisan saya, “Dekonstruksi Narasi Korban: Kritik atas Bias Maskulin dan Objektivikasi Perempuan dalam Artikel Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis” beberapa waktu lalu.  Pola pikir kaum ekstrimis cenderung sama, yaitu memaksakan fakta agar sesuai dengan apa yang mereka yakini (Limuria, 2025). Richard Dawkins menggambarkan sikap ini ibarat orang kedinginan yang berusaha merasa nyaman dengan meyakini ia hangat; atau seekor kucing yang merasa selamat di hadapan harimau karena ia meyakini harimau itu secitra dengannya (Dawkins, 2013). Inilah yang disebut sebagai teori pelipur lara –keyakinan yang dipilih bukan karena benar, tetapi karena nyaman. Karena itu, tulisan ini akan mengeksplorasi lebih jauh kegagalan logika Alvianus dan berusaha mengembalikan substansi tulisan pertama saya yang ditanggapi secara tumpang tindih dengan logika yang dangkal. Ini bukan sekadar berbeda pendapat, melainkan kegagalan berpikir yang secara potensial dapat mengakibatkan orang enggan untuk menyatu dengan realitas.

Penanggap menyebut gagasan saya sebagai generalisasi yang gegabah (hasty generalization) dan menempatkan perempuan sebagai objek pasif yang menjadi beban begi laki-laki. Pernyataan itu terlihat meyakinkan, bagi mereka yang tidak membaca dengan saksama. Pada bagian ini, Penanggap sesungguhnya terjebak pada apa yang disebut dengan strawman fallacy (Paralogi Boneka Jerami); sebuah argumentasi yang diciptakan sendiri dan menempatkan itu seolah-olah milik lawan bicara (Nuruddin, 2021). Tidak berhenti di sana, Penanggap masih terjerumus dalam paradigma penghormatan dengan mengatasnamakan etika kesetaraan. Namun, sebenarnya pola pikir itu melanggengkan struktur kekuasaan yang timpang. Perlu diingat bahwa belis yang diberikan kepada perempuan bukan menjadi miliknya, melainkan diserahkan kepada keluarga (Ambung, 2025).

Penanggap berpendapat budaya belis tetap dipertahankan dengan besaran tuntutannya, meski para pelakunya berada dalam era yang serba tidak pasti. Pola pikir inilah yang merupakan proyeksi dari kerapuhan maskulinitas (fragile masculinity) yang ditambah lagi dengan kalkulasi liar yang menyebut pemberian diri pasangan (perempuan) pasca-pernikahan “bila dikonversi” akan menjadi belis yang jauh lebih berharga.

Benevolent sexism (seksisme ramah) merupakan istilah yang tepat untuk menyebut pola pikir di atas. Istilah ini merujuk pada metode yang tampak positif di permukan, seperti memberikan penghargaan kepada perempuan. Namun pada saat yang sama, justru menempatkan perempuan sebagai objek pasif dan lemah, yang nilai keberadaannya ditentukan oleh standar laki-laki. Pada titik ini, belis hanya menjadi pengkristalan keegoisan patriarki. Di sisi lain, belis hampir pasti dapat menciptakan rasa insicure bagi perempuan. Mengapa? Karena ia harus bertindak sebagai “perempuan yang dibelis” sebagaimana dimengerti dalam logika adat. Mengadaptasi apa yang disampaikan Hannah Arendt dengan menyebut setiap orang bebas selama tidak ada yang melarang atau menghalanginya untuk melakukan apa yang diinginkannya, seperti bebas dari rasa takut atau bebas dari penindasan (freedom from). Selain itu, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi tuan atas diri sendiri dan berpartisipasi dalam sesuatu yang bermakna (Freedom for). Namun, belis justru tidak memungkinkan rasa bebas, baik bagi laki-laki sebelum memberi belis maupun bagi perempuan setelah dibelis.

Sikap ekstrim sebagaimana yang terkandung dalam jalan pikiran Penanggap sama halnya melestarikan jebakan yang sama bagi banyak pihak. Pertama, ekstrimisme ini akan bermuara pada jebakan kemiskinan yang struktural. Kita dapat mengamati dalam catatan sejarah, bahwa setiap perubahan peradaban akan selalu menimbulkan masalah baru bagi umat manusia. Sangat ironis mana kalah kita harus menghadapi tantangan baru itu seraya memelihara beban bawaan seperti tuntutan belis yang tidak mampu beradaptasi dengan zaman. Kedua, jebakan humanisme yang terarah pada pasangan muda. Kekejaman struktural tidak dapat didamaikan secara retoris, seimpresif apapun itu. Dalam tulisan pertama saya, maksud utama yang disebut sebagai beban laki-laki bukanlah perempuan. Ketetapan adat yang mempredikatisasi perempuan sebagai beban melalui belis, itulah beban yang sesungguhnya.

Seruan Membumi

“Di masa lalu, mengikuti orang dewasa adalah taruhan yang aman karena mereka cukup memahami dunia, dan dunia berubah perlahan. Namun, abad ke-21 situasinya akan berbeda. Akibat bertambahnya laju perubahan, anda tidak pernah bisa memastikan apakah yang disampaikan orang dewasa itu kebijaksanaan yang abadi atau bias yang sudah ketinggalan zaman” (Harari, 2023). Sistem belis (maupun warisan masa lalu lainnya) merupakan pengetahuan praktis (phronesis) yang diaplikasikan. Ia lahir dari pergumulan nyata masyarakat tradisional untuk menjawab kebutuhan zamannya. Ada setidaknya tiga proses hingga sampai pada tahap aplikatif tersebut, yang dimulai dari reflektif, kemudian dibatinkan yang menjadi karakter atau ciri-khas, hingga melebur dalam proses sosialisasi dan membentuk suatu tradisi (Hardiman, 2021).

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada budaya sebagai sesuatu yang indah yang pernah diciptakan umat manusia, kita tidak bisa berdiam diri mana kala keindahan itu berubah menjadi masalah bagi keberlangsungan hidup para penganutnya. Penghormatan yang tulus diwujudkan dengan menjaga agar budaya tetap relevan, bukan dibiarkan sebagai benda mati dan menjadi beban. Budaya belis, dalam porsi yang wajar, bersifat episodik; ia hanyalah salah satu seremonial dalam keseluruhan perayaan perkawinan. Kita perlu realistis, bahwa perkawinan di zaman sekarang menuntut jauh lebih banyak. Belis hanya menjadi salah satu dari sekian banyak budaya baru dalam pernikahan modern. Kita tidak bisa terus-menerus mempertahankan satu beban lama tanpa perbaikan, sementara beban-beban baru terus menumpuk tanpa kita sadari.

Penanggap menyebut belis bukan beban individu, melainkan urusan kolekrif. Sepintas ungakapan itu sangat bijak, sebab menyebut urusan kolekif artinya beban menjadi lebih ringan. Tetap mari kita jujur, bukankan dengan logika yang sama belis justru menjadi beban yang menjerat secara kolektif? Bagi saya, kita bisa mencintai budaya tanpa harus menjadi budaknya. Kita bisa merayakan perkawinan tanpa harus memulai hidup dengan utang. Kita bisa menghormati leluhur tanpa harus mengorbankan generasi yang akan datang. Sebab pada akhirnya, budaya yang layak diwariskan bukan yang membuat pewarisnya terbebani, melainkan budaya yang memberi ruang bagi mereka untuk hidup lebih baik.

Referensi

Harari, Yuval Noah, 21 Pelajaran untuk Abad ke-21, (terj. Zia Anshor) Jakarta: Gramedia, 2023.

Limuria, Amigali & Cania Citta, Makanya Mikir, Jakarta: Simpul, 2025.

Dawkins, Richard, The God Delusion, (terj. Zaim Rofiqi) Jakarta: Banana, 2013.

Sukmana, Oman dkk., Sosiologi Perubahan Sosial, Yogyakarta: Star Digital Publishing, 2024.

Hardiman, F. Budi, Seni Memahami: Hermeneutika dari Schleiermacher sampai Derrida, Yogyakarta: Kanisius, 2021.

Ambung, Marselina dkk., Penerapan Akuntansi Belis dalam Adat Perkawinan Masyarakat Manggarai Nusa Tenggara Timur, Scientific Journal Of Reflection: Economic, Accounting, Management and Business Vol. 8 No. 1 (2025).

  • Penulis: Agustinus S. Sasmita
  • Editor: Fian N

Komentar (2)

  • Natalia

    Contoh konkretnya seperti apa kak untuk bagian terakhir dari tulisan kakak?. Apakah skip budaya dalam urusan pernikahan?. Ataukah cicil dulu, kalau tangan sampai baru kita urus budaya dalam hal ini belis??

    Balas22 April 2026 8:26 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hanya 19 Persen? Jangan Pernah Meremehkan Tradisi Juara PSN Ngada!

    Hanya 19 Persen? Jangan Pernah Meremehkan Tradisi Juara PSN Ngada!

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Rilis persentase peluang juara Liga 4 Piala Presiden 2026 oleh Bola Nusa memantik diskusi menarik di kalangan pencinta sepak bola nasional. Angka-angka yang tersaji bukan sekadar kalkulasi matematis di atas kertas, melainkan cerminan dari peta persaingan yang luar biasa ketat. Namun, di kasta ini, determinasi, mentalitas, dan konsistensi sering kali jauh lebih menentukan ketimbang hitungan […]

  • 𝗣𝗘𝗥𝗘𝗠𝗣𝗨𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚-𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗧𝗥𝗜𝗔𝗥𝗞𝗜?

    𝗣𝗘𝗥𝗘𝗠𝗣𝗨𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚-𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗧𝗥𝗜𝗔𝗥𝗞𝗜?

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Helena Beraf
    • visibility 521
    • 0Komentar

    Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat tempat saya lahir dan tumbuh yakni; kecenderungan menjaga anak perempuan mereka. Mengapa perempuan? Rupanya atas dasar norma, sopan santun dan budaya, anak perempuan (anak gadis) dipandang sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu dijaga kehormatannya. Perempuan dapat merepresentasikan kehormatan keluarganya. Saya ingat betul ketika saya memasuki masa remaja awal, mama kerapkali […]

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 253
    • 1Komentar

    Lara Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan. Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja. Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan […]

  • Menempa Pemimpin Muda di Tengah Rimba Wolobobo

    Menempa Pemimpin Muda di Tengah Rimba Wolobobo

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle Mertin Lusi
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Di tengah hutan Wolobobo, jauh dari hiruk-pikuk ruang kelas, sebanyak 52 siswa baru SMAK St. Agustinus Langa memulai proses pembentukan diri melalui Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026. Mengusung konsep camping, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Alam menjadi ruang kelas, tenda menjadi tempat belajar kebersamaan, dan setiap tantangan […]

  • Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

    Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Halo, teman-teman. Apa kabar? Salam jumpa lagi bersama saya di Ruang Rasa. Pada kesempatan ini saya akan berbagi sebuah tulisan yang saya kembangkan dari salah satu postingan di Facebook. Sebelum teman-teman membaca tulisan di bawah ini lebih lanjut, perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini murni hanyalah respon atas postingan tersebut. Mungkin saja di luar sana […]

  • PERMEN Kasih: Hati yang “Baku Rapat” Renungan Harian Katolik 8 Mei 2026

    PERMEN Kasih: Hati yang “Baku Rapat” Renungan Harian Katolik 8 Mei 2026

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 151
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Jumat Paskah ke-5 – 08 MEI 2026 – Kasih: Hati yang “Baku Rapat” Inspirasi: Kis 15:22-31 ; Yohanes 15:12-17 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Yesus titip pesan penting ke setiap sanubari kita: “Kasihilah seorang akan yang lain”. Bersamaan dengan itu, dalam bacaan Pertama, tindakan kasih coba diterjemahkan oleh Paulus dan mereka […]

expand_less