Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

  • account_circle Filemon Pandu Wimastha
  • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
  • visibility 132
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Filemon Pandu Wimastha

(Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende) 

Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. Di Ritapiret, tradisi-tradisi itu hidup dengan caranya sendiri: sederhana, namun penuh makna; biasa, namun menyimpan kedalaman yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.

Di antara sekian banyak tradisi yang tumbuh di komunitas ini, ada dua yang selalu meninggalkan jejak mendalam di hati saya: perayaan ulang tahun dan syukuran atas selesainya ujian skripsi maupun tesis. Dua perayaan ini tampak sederhana di mata orang luar, tetapi bagi kami, ia adalah ruang persaudaraan tempat sukacita dirayakan dengan cara yang khas dan nyaris tak tergantikan.

Perayaan ulang tahun di seminari memiliki wajah yang berbeda dari perayaan ulang tahun pada umumnya. Di luar sana, seseorang yang berulang tahun biasanya menjadi pusat perhatian dirayakan, dilayani, dan diperlakukan bak raja sehari. Namun di Ritapiret, keadaan seolah dibalik secara diam-diam namun indah. Frater yang berulang tahun justru menjadi pelayan bagi sesamanya. Ia sibuk menyiapkan makanan dan minuman, mengatur meja, memanggil teman-teman untuk makan bersama, bahkan tak jarang harus meminjam uang sana-sini demi menjaga sukacita tetap tinggal di tengah komunitas.

Di situlah letak keindahannya.

Ulang tahun tidak dimaknai sebagai hari untuk menerima, melainkan kesempatan untuk memberi. Ada sukacita yang lahir bukan karena dilayani, tetapi karena mampu membahagiakan sesama, walau dengan hidangan sederhana dan tawa yang seadanya.

Saya teringat pada pemikiran Martin Heidegger yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang berjalan menuju kematian. Maka ulang tahun sesungguhnya bukan hanya penanda bertambahnya usia, tetapi juga penegasan bahwa Tuhan masih berkenan menghadiahkan waktu kepada manusia. Setiap lilin usia yang bertambah seakan menjadi bisikan sunyi bahwa hidup adalah rahmat yang belum selesai.

Karena itu, ulang tahun di seminari selalu terasa khidmat dalam kesederhanaannya. Di balik gelak tawa dan bunyi piring di meja makan, tersembunyi rasa syukur yang hening: syukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup, belajar, jatuh, bangkit, dan berjalan bersama saudara-saudara seperjalanan.

Selain ulang tahun, ada pula tradisi lain yang akhir-akhir ini menjadi warna tersendiri dalam kehidupan komunitas: syukuran ujian skripsi dan tesis. Tradisi ini bukan sekadar pesta kecil setelah sidang akademik, melainkan perayaan atas sebuah perjuangan panjang yang penuh air mata, kecemasan, doa, dan harapan.

Skripsi dan tesis bagi seorang frater bukan hanya lembaran ilmiah yang harus diselesaikan. Ia adalah ziarah batin. Ada malam-malam panjang yang ditemani kantuk dan kopi, ada kebingungan yang diam-diam dipikul sendiri, ada rasa putus asa yang kadang disembunyikan di balik senyum. Namun di tengah semua itu, komunitas hadir seperti rumah yang menjaga nyala harapan tetap hidup.

Dukungan itu datang dalam bentuk-bentuk kecil yang sering kali justru paling membekas: sapaan hangat di lorong seminari, guyonan teman-teman yang mencairkan ketegangan, perhatian sederhana dari adik tingkat di meja makan, atau kata-kata motivasi yang terdengar biasa namun mampu menghidupkan kembali semangat yang hampir padam.

Dan ketika ujian itu akhirnya selesai, sukacita pun mekar bersama-sama.

Ada flyer ucapan selamat yang dipasang penuh bangga, ada meja makan yang dihiasi hidangan sederhana namun penuh cinta, ada tawa yang pecah di antara bunyi gelas dan sendok, ada wajah-wajah lelah yang akhirnya bisa tersenyum lega. Keberhasilan satu orang menjadi sukacita seluruh komunitas. Tidak ada yang sungguh berjalan sendiri di Ritapiret; setiap perjuangan selalu menemukan rumahnya dalam persaudaraan.
Tradisi-tradisi kecil seperti inilah yang diam-diam membentuk jiwa para frater. Dari sana kami belajar bahwa hidup bersama bukan sekadar tinggal dalam satu atap, tetapi tentang saling menanggung beban dan merayakan harapan. Kami belajar bahwa sukacita terbesar bukanlah ketika dipuji atau dilayani, melainkan ketika dapat berbagi hidup dengan tulus.
Dan kelak, ketika waktu membawa kami keluar dari tembok seminari menuju jalan panggilan masing-masing, saya percaya bahwa yang paling dirindukan bukanlah gedung-gedungnya, melainkan kenangan-kenangan kecil itu: aroma makanan di kamar makan saat syukuran, tawa persaudaraan yang pecah di malam hari, guyonan sederhana di sela kecemasan skripsi, dan wajah-wajah saudara yang pernah berjalan bersama.

Sebab pada akhirnya, Ritapiret bukan hanya tempat belajar menjadi imam. Ia adalah rumah yang mengajarkan bagaimana menjadi manusia.

Maumere, 2026

  • Penulis: Filemon Pandu Wimastha
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Suara Anak yang Tak Pernah Didengar

    Ruang Rasa: Suara Anak yang Tak Pernah Didengar

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Katharina Tasik Busa
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Aku tidak ingat bagaimana rasanya tumbuh dalam pelukan ayah dan ibu setiap hari. Sejak kecil, aku dibesarkan oleh opa dan oma dari pihak ayah. Dari merekalah aku mengenal arti rumah, kasih sayang, dan perjuangan. Mereka memberiku makan, menyekolahkanku, dan berusaha memenuhi kebutuhanku. Untuk semua itu, aku sungguh bersyukur. Namun, di balik rasa syukur itu, ada […]

  • Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 153
    • 2Komentar

    Oleh: Marselus Natar (Rohaniawan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis novel berjudul: Janji Yang Kian Koyak dan Terkoyaklah, dan antologi cerpen berjudul: Usaha Membunuh Tuhan) Setiap cinta selalu punya cerita tentang bagaimana ia dimulai. Ada yang tumbuh dari pertemuan sederhana, dari percakapan singkat, dari perhatian kecil yang perlahan berubah menjadi rasa yang sulit […]

  • Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Menit ke-67, papan skor menunjukkan Argentina 0, Mesir 2. Lionel Scaloni berdiri kaku di tepi lapangan. Di belakangnya, bangku cadangan Argentina senyap. Di depannya, sebelas pemain Mesir merayakan gol kedua seperti orang yang baru menemukan pintu keluar. Juara bertahan itu sedang dipermalukan oleh tim yang sepanjang laga hanya melepaskan empat tembakan. Kita tahu akhirnya: […]

  • PERMEN: Kenaikan Yesus: Jaminan Bagi Gereja, Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan, Edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan, 14 Mei 2026

    PERMEN: Kenaikan Yesus: Jaminan Bagi Gereja, Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan, Edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan, 14 Mei 2026

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 239
    • 5Komentar

    PERMEN edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan 14 Mei 2026 – Kenaikan Yesus: Jaminan bagi Gereja Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan Inspirasi: Kis 1:1-11, Ef 1:17-23, Matius 28:16-20 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Cerita-cerita tetang Yesus yang bangkit dari antara orang mati telah kita terima selama 40 hari. Yesus bangkit yang selanjutnya menampakkan diri, […]

  • Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 285
    • 2Komentar

    Martha Grimes pernah berkata, “kita tidak tahu siapa diri kita sampai kita melihat apa yang bisa kita lakukan.” Pertama kali membaca kutipan tersebut di sebuah buku yang berjudul Life Lessons yang ditulis oleh para pengarang Chicken Soup For The Soul, ada sesuatu yang mendorong saya untuk segera mengambil tindakan. Tindakan yang dimaksudkan di sini adalah […]

  • Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Dr. Made Supriatma
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Oleh: Dr. Made Supriatma, Peneliti masalah Sosial dan Politik (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Matinya Altruisme? Serangan terhadap film dokumenter Pesta Babi datang dari semua arah. Kemarin, beredar video Mama Yasinta yang mengatakan dia tidak mengijinkan video dirinya dipakai dalam dokumenter ini. Seperti yang dikatakan oleh dua sutradara film ini, kita […]

expand_less