Breaking News
light_mode
Trending Tags

EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

  • account_circle Yohanes Jawang
  • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
  • visibility 527
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Budaya merupakan bagian dari aspek kehidupan manusia yang tidak terpisahkan. Budaya juga merupakan bagian dari kreativitas akal budi manusia, yang dijaga terus-menerus, dan bahkan diperbarui seiring berjalannya waktu.  Budaya menjadi suatu aspek yang sangat penting dan bahkan mendapat tempat yang sangat penting. Oleh karena itu, budaya tanpa manusia adalah mustahil, sebaliknya manusia tanpa budaya akan menimbulkan berbagai persoalan dalam kehidupan bersama. Seperti juga yang diungkapkan oleh Habermas bahwa “sebuah masyarakat akan kehilangan identitas apabila generasi berikutnya tidak mengenali dirinya dalam tradisi hakiki masyarakat” (Suseno, 2015). Budaya menjadi salah satu aset yang sangat istimewah, sehingga dipelihara hingga saat ini. Meskipun demikian, perkembangan dunia yang semakin kompleks dan hadirnya berbagai teknologi; menjadi satu tantangan tersendiri bagi keberadaan budaya saat ini. Budaya yang pada masa-masa awal mempunyai peran yang begitu penting, kini seakan dikesampingkan dengan hadirnya teknologi yang sangat menjanjikan. Persoalan ini akan menjadi serius, bilamana generasi masa depan tidak mendapatkan kesempatan untuk bisa mempelajari budaya-budaya yang ada, sehingga sebisa mungkin dapat dilestarikan.  Oleh karena itu, di tengah perkembangan dunia yang semakin canggih dengan hadirnya teknologi mesin yang menjanjikan, ada suatu harapan bahwa pengetahuan tentang budaya dapat dihidupkan kembali; terutama bagi generasi masa depan. Dengan demikian, diharapkan dapat membangun suatu kesadaran baru dan sikap peduli budaya; dengan berani mengambil sikap dan langkah yang tepat untuk terus menjaga dan melestarikan budaya; sebagai bagian dari diri dan eksistensi manusia dan membentuk kepribadian menjadi semakin manusiawi.

Istilah “budaya” (culture) didefinisikan sebagai ‘keseluruhan cara hidup (way of life) dalam suatu masyarakat tertentu’. Yang juga tersirat adalah bahwa budaya itu “dipelajari” (learned) dan “dibagi” atau dipakai bersama (shared) oleh para anggota suatu masyarakat (Rahmaniah, 2012) Keseluruhan hidup manusia tidak terlepas dari budaya setempat. Budaya menjadi suatu aspek yang mempunyai nilai tertentu yang dapat menjadi identitas, sehingga orang akan lebih mudah dikenal melalui kebiasaan-kebiasaan setempat. Dalam persoalan ini, budaya dapat diidentikan sebagai simbol yang mewakili seseorang. Hal ini senada dengan apa yang diuraikan oleh Christopher Jencks yakni, budaya sebagai simbol yang terus-menerus dipelajari oleh manusia pada umumnya. Dalam artian bahwa, budaya sebagai hasil dari kreativitas intelektual manusia, dipelajari secara terus-menerus, dan dijadikan sebagai “norma” yang dapat juga bersifat mengikat; tetapi masih dalam konteks yang sangat sederhana. “Budaya juga adalah pola tindakan dan pemikiran yang terbentuk dari praksis kebebasan dan kreativitas manusia” (Kira, 2012) Pengertian ini mau menunjukkan bahwa budaya adalah suatu kebiasaan yang sudah dilakukan secara terus-menerus.

Sebagai misal, gaya bahasa atau bahkan karakter, merupakan bagian dari budaya yang dapat dilihat sebagai identitas. Bahasa atau pun karakter boleh dikatakan sebagai bagian dari simbol yang pada kenyataannya selalu dipelajari secara terus-menerus. Seseorang yang hidup baru dalam kelompok daerah tertentu, pertama-tama adalah mempelajari bahasa dan karakter serta situasi orang-orang di daerah tersebut. Hal ini menunjukan bahwa budaya yang mungkin terlihat sederhana, tetapi memberikan dampak yang besar pada kehidupan bersama dan kehidupan secara individu. Budaya menjadi bagian yang sangat fundamental dan mempunya peran yang sangat penting dalam perkembangan hidup manusia. Meskipun pada kenyataannya bahwa budaya merupakan hasil dari pemikiran manusia, tidak berarti bahwa budaya dapat disingkirkan begitu saja; karena harus diakui bahwa budaya yang ada tidak berasal dari hanya satu pemikiran saja, tetapi merupakan hasil dari pemikiran bersama serta kesepakatan bersama. Dan sudah tentu bahwa hal-hal yang dianggap sebagai yang baik dan dapat membangun manusia, menjadi budaya yang senantiasa terus-menerus dipertahankan.

Budaya merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia pada umumnya. Seperti halnya contoh di atas, budaya juga merupakan bagian dari identitas diri seseorang. Seseorang tidak hanya dikenal melalui KTP, tetapi dapat melalui bahasa dan juga karakter. “Konsep identitas sangat eratkaitannya dengan gagasan budaya. Identitas dapat dibentuk melalui budaya atau sub budaya tempat seseorang menjadi bagian atau berpartisipasi. Harus diakui bahwa terdapat juga perbedaan teori mengenai identitas yang melihat hubungan antara identitas dan budaya dengan cara yang berbeda pula. Teori yang dipengaruhi oleh teori-teori modern tentang budaya dan identitas cenderung melihat identitas sebagai terlahir dalam cara yang cukup langsung akibat keterlibatan dalam budaya atau sub budaya tertentu” (Rahmaniah, 2012) Hal ini jelas seperti apa yang telah dikatakan di atas. Pada kenyataannya bahwa budaya itu luas, tidak hanya mencakup bahasa dan karakter, tetapi juga aspek-aspek lainnya, yang tidak terlepas dari kehidupan moralitas seseorang.

Eksistensi Budaya dalam Peradaban Manusia dan Tantangan Modernisasi

Perkembangan dunia yang semakin menjanjikan dengan adanya, mesin-mesin dan berbagai tren baru, di satu sisi telah mempermudah segala aktivitas lainnya; tetapi sekaligus menjadi suatu tantangan bagi eksistensi budaya. Budaya yang menjadi ciri khas serta aset yang telah dijaga turun-temurun, pada kenyataannya harus kehilangan tempat karena pengaruh budaya global. “Globalisasi menjadi sebuah fenomena yang tak terelakkan (Scholte, 2001). Semua golongan, suka atau tidak suka, harus menerima kenyataan bahwa globalisasi merupakan sebuah virus mematikan yang bisa berpengaruh buruk pada pudarnya eksistensi budaya-budaya lokal atau sebuah obat mujarab yang dapat menyembuhkan penyakit-penyakit tradisional yang berakar pada kemalasan, kejumudan, dan ketertinggalan. Karena globalisasi diusung oleh negara-negara maju (baca: Barat) yang memiliki budaya berbeda dengan negara-negara berkembang, maka nilai-nilai Barat bisa menjadi ancaman bagi kelestarian nilai-nilai lokal di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia” (Mubah, 2011) Perkembangan globalisasi merupakan bagian dari realitas yang tidak dapat dielakkan. Artinya bahwa perkembangan yang ada harus selalu diterima; namun sudah tentu bahwa ada kekhawatiran-kekhawatiran tentang keberadaan budaya-budaya lokal yang ada. Bahwasanya modernisasi yang ada bila tidak memanfaatkan dengan baik, maka akan timbul kontradiksi dengan tersingkirnya budaya. Adanya pertentangan antara budaya dan modernisasi, yang berimbas pada peradaban manusia yang secara perlahan meninggalkan nilai-nilai kebudayaan yang ada.

“Dalam Culture and Environment (1977, ed. pertama 1930- an) F. R. Leavis dan Denys Thompson: kita telah kehilangan komunitas organis dengan budaya yang hidup, yang dikandungnya. Nyanyian rakyat tarian rakyat, Cotswold cottages dan produk-produk kerajinan tangan adalah tanda dan ekspresi mengenai sesuatu yang lebih luas: seni kehidupan, cara hidup, yang tertata dan terpola yang melibatkan seni-seni sosial, kode-kode pergaulan dan penyesuaian yang responsif terhadap lingkungan alamiah dan irama tahun, yang tumbuh di atas pengalaman masa lampau (immemorial experience) (dalam Storey, 1993: 32)” (Rahmaniah, 2012) Budaya sebagai aspek yang membentuk kepribadian menjadi sangat penting dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hidup manusia. Meninggalkan budaya berarti manusia bisa dikatakan telah hilang identitas dan norma-norma baik yang sudah ada. Seperti yang dilukiskan oleh Leavis dan Denys Thompson merupakan gambaran dari fenomena-fenomena yang sedang terjadi; dan hal ini memang tidak dapat dipungkiri.

Sebagai misal, budaya saling menyapa ketika bertemu, atau budaya sosial. Dalam konteks masa kini, budaya saling menyapa hampir pudar. Faktanya bahwa orang zaman ini lebih fokus pada diri sendiri, sehingga tidak terlalu peduli dengan orang-orang sekitar. “Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai tersingkir dan kehilangan fungsinya. Kemudian, cepatnya arus informasi dan komunikasi menciptakan satu kecenderungan yang memudarkan kebudayaan asli. Kemajuan dibidang transportasi, telekomunikasi, juga teknologi dapat mengurangi semangat untuk melestarikan kebudayaan lokal yang memiliki nilai-nilai kearifan sebagai warisan” (Suparno, 2018) Perkembangan teknologi yang canggih dengan berbagai kemajuan menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi masa kini; sehingga pudarnya budaya karena kurangnya pelestarian. Zaman yang semakin maju dengan berbagai tawaran-tawaran yang menarik, membuat manusia cenderung untuk meninggalkan yang lama dan memilih yang lebih baru. Sebagai misal budaya kebersamaan. Sebelum adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat, manusia lebih cenderung untuk hidup dan menjalin relasi dengan baik, melalui diskusi. Namun karena kemajuan teknologi dan media; yang membuat manusia cenderung untuk mencari jalan pintas. Fenomena ini hanya mau menunjukan bahwa kebiasaan-kebiasaan yang telah membudaya perlahan mulai luntur dan mulai didominasi oleh cara-cara yang dianggap lebih modern.

Perbedaan cara hidup dan bahkan cara berpikir menjadi salah satu pemicu terutama bagi generasi masa kini. Munculnya budaya instan dengan menggunakan kemajuan teknologi yang ada, membuat manusia kadang-kadang menjadi pribadi yang ambigu. Artinya bahwa tenggelam dalam modernitas, hingga bisa kehilangan jati diri. “Pola hidup masyarakat masa kini dengan masa dahulu sangatlah berbeda hal ini juga dampak arus globalisasi sehingga perlu penanganan yang lebih baik.  Dampak lain dari globalisasi   yaitu   berkembangnya   teknologi-teknologi   canggih   yang   sangat membantu manusia namun juga dapat merusak mental dan moral generasi muda” (Nahak, 2019). Kemajuan teknologi yang begitu pesat mempunyai dampak yang sangat kuat terhadap perkembangan generasi masa kini, sehingga tidak heran bila generasi masa kini lebih kental dengan budaya instan. Pengaruh budaya instan ini membuat budaya-budaya yang pernah ada seperti kebersamaan, gotong-royong, dll, kehilangan tempat; karena menjadi fokus adalah situasi sekarang ini.

Merawat Budaya dan Menghidupkan Peradaban bagi Generasi Masa Depan

Budaya menjadi aspek yang sangat penting dalam membentuk peradaban manusia. Memang pada kenyataannya bahwa budaya merupakan hasil dari kreativitas cara berpikir manusia. Meskipun demikian, budaya bukanlah suatu teori atau pemahaman yang teoritis, tetapi lebih merupakan praksis hidup sehari-hari. Apa yang dianggap baik akan selalu dilestarikan dan selalu dijadikan sebagai patokan hidup.  Budaya merupakan aspek dan bahkan aset penting yang harus dirawat dari generasi ke generasi. Namun apa yang diharapkan rupanya masih jauh dari harapan. Berbagai persoalan yang terjadi khususnya berkaitan dengan budaya. Ketidakpedulian dan sikap instan untuk lebih memilih apa yang menjanjikan, membuat setiap budaya-budaya lokal hampir kehilangan tempat. “Kesadaran   masyarakat   untuk   menjaga   budaya   lokal   sekarang ini   terbilang masih sangat minim. Masyarakat lebih memilih budaya asing yang lebih praktis dan sesuai dengan   perkembangan   zaman” (Nahak, 2019) Pengaruh modernitas yang kuat, menjadi salah satu faktor melemahkan tingkat kesadaran akan keberadaan budaya.

Peradaban manusia tidak terlepas dari pengaruh budaya, yang secara terus-menerus membentuk pola pikir masyarakat untuk membangun sebuah kehidupan yang lebih baik. mungkin secara kasat mata, budaya-budaya yang ada, hanya terlihat sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, tetapi pada hakikatnya bahwa budaya mempunya sumbangan dalam membentuk peradaban manusia. “Tugas utama yang harus dibenahi adalah mempertahankan, melestarikan, menjaga, serta mewarisi nilai-nilai budaya adat dengan sebaik-baiknya agar memperkukuh budaya adat” ((editor) Anyan, 2018) Perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memang menjadi bagian dari realitas, dan sekaligus mempermudah aktivitas. Namun harus disadari juga bahwa pengaruh kuat dari modernisasi, sehingga ada kecenderungan bahwa budaya yang mungkin dianggap sebagai aspek yang tidak relevan untuk masa kini. Oleh karena itu, perlunya kesadaran akan kebudayaan sebagai aspek yang urgen dalam kehidupan bersama; terutama dalam pembentukan karakter dan identitas diri.

Dalam persoalan ini, bukan berarti budaya harus dipisahkan dari realitas perkembangan yang ada; tetapi lebih dari itu, manusia mampu untuk menghadirkan budaya dalam dunia kontemporer ini tanpa harus meninggalkan keasliannya. “Budaya lokal juga dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman, selagi tidak meninggalkan ciri khas dari budaya aslinya” (Nahak, 2019) Perkembangan kemajuan yang pesat masa kini, tidak menutup kemungkinan bahwa budaya harus ditinggalkan begitu saja. Sebaliknya, meskipun dalam situasi yang penuh dengan berbagai kemajuan kompleks, budaya dapat disesuaikan dengan situasi yang ada tanpa harus meninggalkan keaslian.

Kesimpulan

Budaya merupakan cara hidup yang oleh sekumpulan orang dijaga terus-menerus dan bahkan dijadikan sebagai suatu norma. Budaya itu sendiri merupakan hasil dari kreativitas berpikir manusia, yang punya kesadaran dan satu tujuan yang sama yakni demi membangun kehidupan yang lebih baik. Tentunya bahwa, ketika bebicara budaya ada kecenderungan yang menganggap tentang sesuatu yang sudah lama, sehingga untuk konteks masa kini tidak dapat berlaku lagi. Pandangan ini yang pada akhirnya membuat eksistensi budaya semakin kabur. Pasalnya, perkembangan yang ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai daya tarik yang lebih kuat dengan berbagai tawaran-tawaran yang menarik. Adapun dampak dari persoalan, lunturnya budaya yang berimbas pada generasi yang akan datang yakni, timbulnya budaya konsumerisme dan bahkan munculnya sikap individualistis. Hal ini memang tidak dapat dimungkiri dengan kemajuan yang semakin pesat. Dengan demikian, hal yang paling penting untuk tetap melestarikan budaya adalah, tetap memberikan ruang pada budaya dalam konteks dunia kontemporer ini tanpa menghilangkan keasliannya. “Berbagai cara dapat dilakukan untuk melestarikan budaya, namun yang paling penting yang harus pertama dimiliki adalah menumbuhkan kesadaran serta rasa memiliki akan budaya tersebut, sehingga dengan rasa memiliki serta mencintai budaya sendiri” (Fidhea A, -) Situasi masa kini tentunya sudah terlalu berbeda dengan situasi pada masa-masa sebelumnya. Mencegah dengan cara menghindari situasi masa kini tentu bukanlah cara yang tepat untuk memberikan ruang bagi budaya agar tetap terjaga, tetapi dapat membangun kesadaran bagi generasi masa kini akan peran dan pentingnya budaya dalam hidup. Budaya akan tetap terjaga bila terus dikembangkan dan disesuaikan dengan zaman, tanpa harus meninggalkan keaslian dari budaya itu sendiri. Di tengah kompleksitas dengan berbagai kemajuan, budaya mendapat tempat agar terus berkembang dan mampu untuk memberi warna yang berbeda, sehingga mampu untuk memberikan dampak yang positif bagi perkembangan kehidupan manusia yang lebih baik.

Yohanes Jawang, asal Lembata yang saat ini sedang berkelana ke negeri tetangga

 

  • Penulis: Yohanes Jawang
  • Editor: Fian N

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 382
    • 0Komentar

    01 Mei 2026 Inspirasi: Kis 13:26-33; Yohanes 14:1-6     Penikmat Permen yang berhikmat dalam Tuhan. Dalam nada syukur penuh iman dan harapan, kita ucapkan selamat Hari Buruh Internasional alias May Day. Bersamaan dengan momen ini, umat Katolik merayakan pembukaan bulan Maria. Tidak sampai di situ, Gereja hari ini merenungkan Firman Suci dari penginjil Yohanes sebagai […]

  • NADIEM: Siapa yang Order?

    NADIEM: Siapa yang Order?

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Nury Sybli
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Rabu, 13 Mei 2026. Pengadilan Tipikor Jakarta berubah jadi panggung absurditas hukum. Mantan Mendikbudristek, dituntut 18 tahun penjara, denda Rp.1 miliar, plus uang pengganti Rp5,6 triliun subsider 9 tahun kurungan. Kalau ditotal, hukumannya seperti ingin mengubur seseorang hidup-hidup: 27,5 tahun. “Ini adalah hari yang sangat, sangat, sangat mengecewakan,” kata Nadiem seusai sidang. Dan memang, siapa […]

  • PERMEN: Perjuangan Pengusaha Anggur, Renungan Harian Katolik 06 Mei 2026

    PERMEN: Perjuangan Pengusaha Anggur, Renungan Harian Katolik 06 Mei 2026

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 277
    • 4Komentar

    PERMEN edisi Rabu Paskah ke-5 – 06 MEI 2026 – Perjuangan Pengusaha Anggur Inspirasi: Kis 15:1-6 ; Yohanes 15:1-8 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Penghiburan iman yang mandraguna kita terima dari Yesus sendiri ketika Yesus menggambarkan cinta segitiga antara Manusia, Yesus, dan Bapa-Nya. Allah Bapa digambarkan sebagai pengusaha anggur, Yesus adalah pohon anggur, […]

  • DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 600
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada kesempatan pertama, penulis mengapresiasi tulisan yang berjudul “Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis” karya Agustinus S. Sasmita. Agustinus mencoba membaca situasi yang sedang terjadi di NTT dengan kacamata yang tajam dan cukup menggugah eksistensi budaya belis. Tulisan ini juga menawarkan sebuah potret nyata yang melankolis mengenai “beban laki-laki NTT” dalam menghadapi ritual perkawinan […]

  • Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 300
    • 2Komentar

    “Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.” Lima belas cerpen […]

  • Kamu Sedang Membaca Sebuah Kitab Yang Tak Suci

    Kamu Sedang Membaca Sebuah Kitab Yang Tak Suci

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 248
    • 0Komentar

    Oleh: Fian N Judul: Sebuah Kitab Yang Tak Suci Penulis: Puthut EA Tebal: vi + 88 hlm Penerbit: Mojok Cetakan: IV, 2017 ISBN: 978-602-1318-57-7 Sudah lama tidak ada derit berirama dari ranjang-ranjang kami. Ya, bahkan kami lupa bagaimana berciuman dengan baik. (Seseorang di Sebuah Sudut) Sepuluh kumpulan cerita yang terangkum dalam Sebuah Kitab Yang Tak […]

expand_less