Breaking News
light_mode
Trending Tags

KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

  • account_circle Stefen B
  • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
  • visibility 243
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Namaku Martina Syukur. Orang biasa memanggilku Tina. Terlahir dari keluarga yang cukup berada dengan penghasilan yang bisa dibilang cukup, membuat aku merasa tak pernah berkekurangan. Semua kebutuhanku selalu terpenuhi.

Aku juga memiliki saudara tetapi bukan sedarah. Namanya Tini. Dia adalah gadis kecil yang diadopsi oleh bapak dan mama dari sebuah panti asuhan setahun sebelum aku dilahirkan. Dari mana asalnya, aku tak tahu karena memang aku tak pernah bertanya atau mencari tahu tentang keluarganya. Walaupun kami bukan sedarah, tetapi kami selalu seperti sedarah. Tini adalah kakak yang baik dan bijaksana. Ya, semuanya itu mungkin karena setiap kebutuhan kami selalu dipenuhi sehingga kami tidak pernah merasa iri antara satu dengan yang lainnya.

Namun kekayaan dan harta benda yang kami miliki tidak menjamin terpenuhnya semua kebutuhan yang lainnya. Saat aku berusia 17 tahun, aku mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku. Aku dibawa ke rumah sakit dan mendapat perawatan selama sebulan. Selama sebulan itu juga aku tak menyadarkan diri. Untunglah malaikat kehidupan masih berada di pihaku. Aku masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan kehidupan di dunia ini.

Semenjak kecelakaan itu terjadi, keluargaku berubah secara drastis. Keluargaku bukan lagi keluarga yang harmoni seperti yang terjadi sebelumnya. Hal ini terlihat jelas dalam diri bapak. Dia menjelma menjadi sosok yang asing bagiku dalam keluargaku. Aku tidak lagi mendapatkan kasih sayangnya karena dia mulai menjauh dariku. Bahkan dia tidak peduli lagi dengan semua kebutuhanku dan juga masa depanku. Aku tak tahu alasan di balik semuanya itu namun satu hal yang pasti bahwa sejak kecelakaan itu terjadi, bapak menjadi orang yang asing bagiku.

Sementara itu, mama dan Tini tetap menjadi sosok yang selalu menyayangiku. Mama selalu mencurahkan kasih sayangnya kepadaku meskipun seringkali pipinya menjadi tempat daratan tangan papa. Dia selalu memberiku semangat agar aku tetap kuat dan tetap tersenyum menghadapi semuanya. Aku pernah mencoba bertanya tentang bapak kepadanya, namun hanya air mata yang bisa diberikannya kepadaku sebagai jawabannya. Kata-kata yang selalu ia berikan kepadaku, kamu harus tetap semangat, jangan memikirkan mama, mama tidak apa-apa.

Sikap yang kontras antara bapak dan mama mengantarkanku pada pertanyaan tentang siapakah diriku yang sebenarnya. Senada dengan pertanyaan itu, aku pun menjadi pribadi yang munafik. Aku selalu tersenyum tatkala aku bergabung dengan teman-temanku. Aku selalu menunjukkan senyumanku kepada mereka seolah tak ada beban yang harus kutanggung dalam kehidupanku. Namun sebenarnya jauh di dalam lubuk hatiku tergores luka yang kian menganga. Aku juga terkadang merasa iri dengan cerita mereka tatkala mereka menghabiskan waktu bersama keluarga mereka. Tanpa terasa, air mataku bercucuran membayangi semuanya itu.

Setahun setelah menyelesaikan kuliah, aku mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah tempat yang membutuhkan keahlianku. Daerah itu cukup jauh dari rumah. Aku meniti karirku di tempat yang asing dan berada di antara orang asing. Aku tahu betapa sulitnya beradaptasi dengan orang -orang asing; cara membangun komunikasi yang baik dengan mereka, menjadi bagian dari kebudayaan mereka dan banyak hal lain lagi yang harus aku lalui. Namun aku berpikir bahwa itulah konsekuensi dari jalan hidup yang aku tempuh.

Di luar dugaanku, ternyata membangun persaudaraan di tempat yang asing tidak sesulit yang aku pikirkan. Tiga bulan pertama aku sudah diterima sebagai anggota keluarga yang baru dalam lingkungan tempat tinggalku. Mereka menganggap aku sebagai bagian dari keluarga mereka. Senyuman dan ramah tamah mereka berhasil menjawab keraguanku bahkan juga prasangkaku yang sedikit negatif tentang mereka.

Pada saat itu juga aku berkenalan dengan Niko, pria yang menjadi pendamping hidupku. Dia adalah pria yang berasal dari daerah yang cukup jauh dari tempat itu dan setahun mendahuluiku mengabdi di daerah itu sebagai guru sekolah menengah atas.

Empat tahun terpisah dari keluarga sungguh menggoreskan rindu dalam hatiku. Walaupun bapak belum kembali seperti dulu, namun aku tetap yakin bahwa di dalam lubuk hatinya, dia masih merindukan diriku. Aku juga merindukan canda ria yang pernah kulewati bersama mama dan Tini. Tentunya mereka sangat merindukan cerita tentang pengalamanku membangun hidup di tempat yang asing.

Aku memutuskan untuk mengambil cuti dari pekerjaanku. Rindu yang kumiliki terlampau berat sehingga aku memutuskan untuk sejenak kembali kepada pangkuan mama. Aku ingin menceritakan semua pengalaman baru yang aku dapatkan di luar rumah dan juga tentang Niko, pria pengusir sepiku.

Perasaan rindu itu seakan sirna tatkala aku mendapatkan kenyataan pilu di balik dinding rumahku. “Itu kubur siapa, ma?” tanyaku. “Itu kubur dari almarhum bapakmu, nak. Kami kecelakaan ketika kami hendak mengunjungimu. Papamu sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan besar dengan berlaku kasar terhadap kamu. Malangnya, Sang Pencipta terlalu cepat mengambilnya sehingga dia tak dapat menemuimu,” jelas mama.

Kenyataan yang begitu pahit. Aku merasa bahwa aku belum sempat mengucapkan terima kasihku kepada papa yang telah menghadirkanku di dunia ini. Aku juga belum sempat menceritakan pengalaman hidupku yang baru serta menunjukkan teman dekatku kepadanya.

Setelah waktu cuti selesai, aku kembali ke tempat kerjaku. Dengan berat hati aku melangkah meninggalkan rumah karena aku harus meninggalkan mama dengan Tini dalam perasaan kehilangan. Aku tahu mama pasti merasa sepi, mama pasti merindukan diriku, tetapi aku juga harus membangun masa depanku dengan meniti karirku.

Kedekatan antara aku dan Niko mencapai puncaknya ketika dia mengutarakan semua isi hatinya kepadaku. Bahkan saat itu juga dia melamarku untuk menjadi pendamping hidupnya. Aku menerima lamarannya dan mulai saat itu kami menjalin hubungan asmara. Aku memberitahukan mama dan Tini tentang kebahagiaanku dan mereka member respon yang positif kepadaku. Mungkin mereka setuju dan ikut bahagia dengan pilihanku, pikirku.

Suatu hari ketika aku baru saja pulang dari kantor kerjaku, aku mendapat kabar dari Tini bahwa mama sedang sakit. Dia berpesan agar aku harus pulang secepatnya demi mama. Tanpa berpikir panjang aku kembali mengambil cuti.

Dalam perjalanan menuju rumah, aku dihadapkan dengan hal yang aneh. Dari balik kaca mobil, aku menatap sosok mama yang memberikan senyuman kepadaku serta melambaikan tangannya seakan mengatakan, selamat tinggal anakku. Perasaanku tak karuan. Tanpa sadar air mataku jatuh.

Benar saja. Sesampainya di rumah aku kembali mendapatkan kenyataan yang pahit. Mama telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Mungkinkah senyuman dan lambaian itu menjadi wajah terakhir mama yang ia tunjukkan kepadaku?

Setelah kepergian mama, aku seringkali merasa sakit pada beberapa bagian tubuhku. Aku mencoba untuk mengecek kondisiku di dokter spesialis penyakit dalam dan dari hasil pemeriksaan, aku mendapatkan luka yang baru lagi. Ginjal yang kumiliki kini tidak lagi cocok denganku. Lebih menyakitkan lagi bahwa aku pernah mendapatkan donor ginjal dan kini tidak cocok lagi denganku. Donor ginjal? Kapan? Mengapa aku tak pernah tahu hal ini?

Aku mulai mencari kebenaran yang tidak aku ketahui. Dalam pencarian itu aku menemukan jawabannya dari Tini. Setelah kecelakaan itu, aku dibawa ke rumah sakit. Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa aku gagal ginjal dan harus segera mendapatkan donor. Bapa dan mama bingung untuk mencari ginjal yang cocok untukku. Karena keadaan yang mendesak, dengan rela papa memberikan ginjalnya kepadaku walaupun dia tahu akibat dari keputusannya itu. Benar saja, setelah pendonoran itu, papa berubah menjadi sosok yang asing bagiku dan keluargaku, jelas Tini kepadaku.

Setelah kepergian kedua orang tuaku, aku memutuskan untuk berpindah tugas demi menjaga rumah dan semua yang bapak dan mama tinggalkan untukku. Aku meninggalkan tempat kerjaku dan kembali ke kampung halaman tempat dulu aku dibesarkan.

Hari berganti, bulan berlalu. Dengan keputusan yang matang, aku dan Niko memutuskan untuk menyatukan cinta kami dalam sakramen perkawinan. Walaupun aku hanya ditemani oleh Tini, aku tetap merasa bahagia. Aku tahu, dari alam sana bapak dan mama ikut bahagia melihat pernikahanku.

Walaupun sudah menikah, aku tetap merahasiakan penyakitku kepada suamiku. Aku tidak memberitahukannya karena aku takut hal itu hanya menjadi beban dalam kehidupannya. Walaupun terkadang aku merasa letih, namun aku menyembunyikan semuanya itu di balik senyumku. Aku berlaku seolah aku baik-baik saja, tidak ada yang terjadi padaku.

Empat tahun setelah menikah, kami dikaruniai seorang putra. Kami menamai bua hati kami Andri. Kebahagiaan kami tentu saja terasa sempurna. Aku sungguh merasakan bahagia karena di tengah penyakit yang melanda tubuhku, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk tersenyum dengan menitipkan buah hati kami melalui kandunganku.

Sebagai karyawan tentunya suamiku sering pulang malam dari kantornya. Sering juga dia meninggalkanku dan juga buah hati kami karena harus menghadiri urusan penting perusahaan di luar daerah. Dia sering menjadi utusan dari perusahaannya untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan lainnya atau dalam urusan lainnya.

Suatu hari, ketika suamiku bertugas ke luar daerah, aku mengajak anakku menghabiskan akhir pekan kami di pantai yang dulu sering aku dan suamiku berkunjung. Aku sengaja mengajak anakku karena aku ingin kembali mengingat masa-masa di mana Niko mengutarakan perasaannya kepadaku.

Aku tersentak ketika melihat sosok yang berdiri di depanku. Dia bukanlah orang yang asing dalam hidupku. Apakah itu benar suamiku? Tapi siapakah wanita di sampingnya? Apakah itu selingkuhannya? Apakah selama ini dia telah mengkhianatiku?

Aku kembali dengan perasaan tak karuan. Ternyata selama ini suamiku telah mengkhianatiku, batinku. Deraian air mata terus membasahi pipiku. Aku tak lagi menghubungnya atau mengirim kabar kepadanya. Aku tak memberikan kabar kepadanya meskipun begitu banyak pesan yang muncul darinya di balik layar telepon genggam.

Seminggu setelah kejadian itu, aku dikunjungi oleh teman-teman kantor suamiku. Mereka membawakan beberapa bunga dan juga sebuah foto dari suamiku. Aku bingung dengan kehadiran mereka. Sesaat kemudian sala satu teman suamiku menceritakan kisah yang sebenarnya yang terjadi dengan suamiku.

Aku menangis mendengar semua cerita itu. Selama ini, suamiku menyembunyikan penyakitnya dariku. Selama ini dia pergi ke luar daerah hanya untuk mengobati penyakitnya. Dan seminggu yang lalu adalah perjumpaan kami yang terakhir. Tapi mengapa dia tidak menceritakan yang sebenarnya kepadaku? Mengapa dia harus berbohong kepadaku?

Setelah kepergian suamiku, kehidupanku tak teratur lagi. Aku selalu keluar malam untuk mencari hiburan yang dibawa pergi oleh suamiku. Aku tak peduli lagi dengan hadiah terindah yang dia tinggalkan padaku yakni putra kami. Bagiku kepergian darinya adalah kehilangan segalanya dalam kehidupanku. Aku menjadi kupu-kupu malam dan bergabung dengan beberapa temanku. Di sana aku menyerahkan seluruh tubuhku kepada orang yang tak aku kenal. Di sana aku mereguk alkohol hingga aku tak sadarkan diri.

Suatu malam sebuah kejadian aneh menimpaku. Ketika aku menyelesaikan tugasku malam itu sebagai seorang pramuria, di tengah perjalanan pulang aku menatap seseorang wanita yang mirip denganku. Mungkinkah dia kembaranku? Aku coba bertanya-tanya. Seketika itu juga aku menyaksikan runtuhnya bangunan yang ada di sekitarku. Deruan suara kendaraan makin lama makin mengecil hingga semuanya hilang dariku. Aku ditarik oleh sebuah kekuatan besar yang membawaku kepada sebuah situasi yang tak pernah aku alami.

Aku menatap ribuan orang yang bertekun dalam panasnya api yang bernyala-nyala. Mereka mendaraskan doa yang pernah aku dengar dan aku ucapkan sebelumnya. Mereka sepertinya menanti sebuah pembebasan dari api yang terus menyala-nyala.

Kemudian aku dihadapkan dengan situasi lain. Situasi ini lebih menyakitkan karena aku sendiri merasakannya. Ribuan orang berteriak meminta pertolongan dari dalam api yang berkobar-kobar itu. Di sana terlihat penderitaan yang begitu dahsyat yang dialami orang yang berada di dalam api itu.

Lalu aku di bawa kepada situasi lainnya. Di sana aku melihat kebahagiaan yang berlimpah. Terdengar canda dan tawa dari ribuan orang yang ada di sana. Mereka sangat menikmatinya. Tidak ada penderitaan di sana.

Sesaat kemudian aku kembali dalam kesendirian. Semuanya menghilang dari padaku.

“Apakah kamu mengerti semuanya?” sebuah suara muncul, entah dari mana datangnya aku tak tahu.

“Aku telah memberikanmu kesempatan untuk berada di dunia sebelum engkau ada di sana. Aku menyiapkan sebuah rencana untuk kehidupanmu dan masa depanmu tetapi engkau menjauh dari jalan yang telah Aku siapkan untukmu. Bahkan engkau tak menghargai tubuhmu yang aku titipkan kepadamu agar engkau mampu mengenal Aku sebagai penciptamu,” lanjut-Nya.

Keheningan kembali menguasai kami.

“Sekarang pulanglah, seseorang menunggumu di sana. Dia sangat membutuhkan kamu,” lanjut suara itu dan seketika itu juga dia menghilang.

Kepalaku terasa berat. Aku tak bisa membuka mataku tetapi aku mendengar suara dari orang-orang yang berada di dekatku. Aku mencoba dan berusaha untuk membuka mataku agar aku dapat melihat semua orang yang berada di sekelilingku khususnya kembali melihat putraku.

“Mama sudah bangun?” sebuah pertanyaan muncul dari pria kecil yang berada di sampingku. Air mata berjatuhan membasahi pipinya.

“Dik Tina sudah sadar?” tanya Tini yang berdiri di samping putraku. Air matanya juga bercucuran membasahi pipinya.

“Bu Tina, kabar baik ini harus dik tahu bahwa secara ajaib ginjal Bu Tina kembali normal seperti dulu. Selamat ya Bu,” kata seorang dokter kepadaku.

“Ma, aku sangat merindukan mama. Aku sayang mama,” kata putraku sembari memeluk diriku dan merebahkan kepalanya di atas tubuhku.

Aku juga sangat menyayangimu nak, kataku dalam hati. kamu adalah harta yang tak tergantikan yang dititipkan kepadaku. Sudah menjadi kewajibanku sebagai orang tua untuk menjaga dan membesarkan kamu. Sudah kewajibanku sebagai ibu untuk selalu berada di sampingmu dan menuntun kamu dalam kehidupan ini menuju kebahagiaan.

Ibu minta maaf ya nak, ibu telah menjadi seorang ibu yang tidak bertanggungjawab. Ibu meninggalkan kamu dalam kesendirian tanpa peduli semua kasih sayang yang kamu butuhkan dariku. Ibu janji nak, ibu akan mencurahkan kasih sayang yang ibu miliki kepadamu, ibu janji nak.

Tak terasa air mataku berjatuhan membasahi pipiku. Air mata tentang cinta yang memberiku arti kehidupan, syukur dan kesempatan yang ada dalam kehidupanku.

 

Maumere, 2019

 

Stef B, seorang calon imam Katolik dari Kongregasi Rogationis Hati Yesus Maumere. Menyukai cerpen dan puisi.

 

 

  • Penulis: Stefen B
  • Editor: Fian N

Komentar (2)

  • Yon

    tulisan menyadarkan saya, apa itu kematian.? Kematian selalu dikaitkan dengan kehilangan sesuatu. tentu, bukan hanya Fr yang selalau menyesal akan kehilangan orang-orang tersayang dipastikan dialami oleh semua orang tak terkecuali sekalipun masa lalu mereka begitu tidak baik dengan kita. kematian itu takdir yang tidak bisa ditolak oleh manusia itu sendiri. bagamana pun seseorang mengerti dan memahami kematian dengan landasan iman yang diyakini, ia tetap merasa kehilangan dan menangis.

    Balas24 April 2026 8:51 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PERMEN: Pesona Roh Kudus Dalam Komitmen Misioner, 11 Mei 2026

    PERMEN: Pesona Roh Kudus Dalam Komitmen Misioner, 11 Mei 2026

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 328
    • 11Komentar

    PERMEN edisi Senin Paskah ke-6 – 11 Mei 2026 – Pesona Roh Kudus dalam Komitmen Misioner Inspirasi: Kis 16:11-15; Yohanes 15:26-16:4a   Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Paulus begitu semangat untuk mencari dan menemui para pengikut Kristus. Hari-hari ini kita mendengar kisahnya bahwa Paulus ke sini-lah, ke sana-lah; ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, Makedonia-lah, […]

  • JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 210
    • 0Komentar

    Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan)  Jangan caci-maki Mama Yasinta Moiwend. Jgn rubah konflik vertikal menjadi konflik horizontal antara sesama kita yang sama-sama terjepit. Siapa Mama Yasinta? Mama Yasinta adalah bagian dari masyarakat kecil. Hidupnya hanya di kampung dan hutan-hutan adat di Merauke. Pagi ke kebun, sore pulang bawa sagu. Tanah bagi Mama bukan sertifikat. […]

  • Puisi: Matahari, Lolong, Purnama, Cermin dan Rembulan

    Puisi: Matahari, Lolong, Purnama, Cermin dan Rembulan

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 157
    • 2Komentar

    oleh: Alvares Keupung, dalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende. (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 )   PURNAMA Jika hanya malam yang selalu membuat hatimu gelisah akan kujadikan diriku purnama bagimu agar kau tahu, aku punya alasan untuk menemanimu. Ende, 15 April 2026.   LOLONG Putih […]

  • Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Roy Wujon
    • visibility 190
    • 0Komentar

    Oleh: Roy Wujon Mahasiswa IFTK Ledalero Dalam sistem negara demokrasi seperti Indonesia, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers merupakan pilar penting yang patut dihargai. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kecenderungan pembatasan kritik publik melalui media, baik media massa konvensional maupun platform digital. Pembatasan tersebut sering kali dilakukan dengan dalih menjaga stabilitas, mencegah hoaks, atau melindungi […]

  • Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 184
    • 2Komentar

    Oleh: Marselus Natar (Rohaniawan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis novel berjudul: Janji Yang Kian Koyak dan Terkoyaklah, dan antologi cerpen berjudul: Usaha Membunuh Tuhan) Setiap cinta selalu punya cerita tentang bagaimana ia dimulai. Ada yang tumbuh dari pertemuan sederhana, dari percakapan singkat, dari perhatian kecil yang perlahan berubah menjadi rasa yang sulit […]

  • AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 238
    • 0Komentar

    Aku ingin pamerkan setiap aktivitasku, sejak subuh hingga petang. Supaya mereka tidak mempermainkanku soal waktu, membuatku menunggu, tanpa rasa bersalah, tanpa usaha untuk berbenah. (Ia dan Mereka yang Berisik) Saya membuka tulisan sederhana ini dengan mengutip sebuah pernyataan dalam buku yang berjudul Ambivert. Dan persis buku inlah yang akan saya ulas seringkas mungkin sesuai kapasitas […]

expand_less