Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Di Balik Benteng Senyap: Mengeja Kasih dan Kegigihan yang Tak Terucap

  • account_circle Yumila Yumi
  • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
  • visibility 35
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Yumila Yumi

Nama : Ninoi

Umur : 49 Tahun

Tempat Tanggal Lahir : Desa.Gandrung, 23-04-1977

Domisili : Dambung Raya

Wajah yang Menyembunyikan Semesta

Ada jenis kasih sayang yang tidak lahir dalam wujud kata-kata manis atau dekapan yang hangat. Ia tumbuh dalam bentuk yang keras, mengeras seperti karang, namun berdiri paling kokoh menahan gelombang. Bagi orang-orang yang hanya melihat dari kejauhan, raut itu mungkin tampak tajam, dingin, bahkan menakutkan. Sebuah wajah datar dengan garis bibir yang kaku dan tatapan yang seolah enggan diganggu.

Namun, di balik benteng ketegasan dan wajah yang kerap disalahartikan sebagai amarah itu, tersimpan sebuah denyut tanggung jawab yang teramat besar. Ia adalah tipe insan yang memilih untuk menyembunyikan lelahnya di balik ketajaman tatapannya, serta membungkus ketulusannya dengan sikap yang bersahaja.

Seseorang yang selalu mengusahakan apa pun bagi orang yang amat ia sayangi. Bahkan ketika jarak terentang jauh atau situasi menuntutnya bertarung sendirian, ia tetap amat memikirkannya. Ia rela mengesampingkan kepentingannya sendiri, membelakangkan lelah dan gengsinya, demi mengutamakan satu nama yang telah menjadi poros dari seluruh usahanya.

Lembut di Balik Amarah

Ketika suatu hari pertanyaan itu terucap—sebuah tanya sederhana tentang apa yang sedang ia renungkan—yang terpampang di hadapan hanyalah wajah datar yang sama. Wajah yang selalu terlihat tanpa ekspresi, seakan tak ada kepedulian yang bersisa. Bagi mereka yang tak mengenalnya, ketenangan itu bisa terasa menakutkan atau terkesan acuh tak acuh.

Namun, bagi seorang yang hidup di bawah naungan perlindungannya, raut kaku itu bukanlah penolakan. Ada pemahaman yang melampaui kata-kata. Di balik tatapan tajam dan mimik wajah yang dingin itu, ia tahu persis apa yang sebenarnya tersimpan: sebuah kecemasan akan keselamatan, sebuah doa yang tak pernah putus, dan rasa cinta yang begitu besar hingga tak cukup muat jika hanya disampaikan lewat ucapan.

Kasih sayangnya memang tidak riuh. Ia tidak diumumkan di hadapan keramaian. Ia hadir dalam bentuk tindakan-tindakan sunyi yang sering kali baru disadari ketika hari telah beranjak malam.

Jejak Kegigihan yang Tak Pernah Pudar

Tak ada yang benar-benar tahu seberapa keras ia berjuang di luar sana. Dunia luar kerap menuntutnya menjadi sosok yang tanpa cela dan tanpa lelah. Langkah kakinya yang tak pernah berhenti melangkah, peluh yang kerap ia usap secara diam-diam sebelum melangkah masuk ke dalam rumah, hingga rasa lelah yang selalu disapu bersih hanya agar orang yang disayanginya dapat berdiri tegak dan tersenyum tenang.

Kegigihannya memperjuangkan kehidupan bukan sekadar kewajiban, melainkan wujud paling murni dari janji yang tak pernah ia ikrarkan secara lisan. Ia bertarung dengan waktu, mengorbankan waktu istirahatnya, dan kerap berdiri di garis paling depan ketika badai persoalan datang menerjang. Kasih sayangnya tak pernah menjelma menjadi puisi, melainkan menjadi setiap tetes keringat dan kepalan tangan yang tak pernah menyerah pada keadaan.

Setiap pengorbanan yang ia lakukan tidak pernah ia catat sebagai utang, melainkan sebagai bentuk dedikasi yang utuh.

Gema Rasa Syukur yang Tertahan

Melihat seluruh ketulusan dan kegigihan yang terhampar di sepanjang perjalanan itu, ada rasa syukur yang membuncah dan teramat dalam di dalam dada orang yang diperjuangkannya. Sebuah gema yang kerap tertahan di ujung lidah, terhalang oleh rasa canggung atau keraguan untuk menyapa sosok yang tampak begitu tangguh.

Ingin rasanya mengutarakan betapa berartinya setiap jengkal perjuangan itu. Ingin rasanya menyampaikan bahwa setiap peluh dan letihnya tidak pernah luput dari pengamatan. Betapa besarnya rasa sayang dan terima kasih atas setiap perlindungan yang telah diberikan, atas setiap malam-malam sunyi di mana ia memilih untuk pasang badan demi menjaga kedamaian orang lain.

Sebab di balik sikapnya yang kadang ketus, tegas, dan tak tersenyum, ada kehangatan paling tulus yang selalu menjadi tempat pulang paling aman. Sebuah rumah yang tak berbumbung megah, tetapi selalu mampu melindungi dari dinginnya dunia.

Menatap Karang yang Memeluk

Pada akhirnya, kita belajar bahwa kelembutan tidak selalu berwujud belas kasih yang tampak dari luar. Kadang kala, kelembutan paling nyata tersembunyi di balik ketegasan yang tak goyah.

Menatap sosok itu kini bukan lagi menatap ancaman atau amarah, melainkan menatap sebuah karang di tengah samudera. Ia berdiri kokoh menahan gempuran ombak, bukan untuk menunjukkan kekuatannya sendiri, melainkan agar perahu kecil yang berada di belakangnya tetap tenang dan aman berlayar.

Terima kasih atas segala gigih yang tak pernah surut, dan atas kasih sayang luar biasa yang diajarkan tanpa perlu banyak bersuara, Ayah.

  • Penulis: Yumila Yumi
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bambu Masuk Sekolah: Cara Kreatif Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Rayakan Hari Anak Nasional di Wolowea photo_camera 1

    Bambu Masuk Sekolah: Cara Kreatif Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Rayakan Hari Anak Nasional di Wolowea

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Wolowea, 23 Juli 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) menyelenggarakan Workshop Bamboo Go To School di SDK Bokogo, Desa Wolowea, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang memadukan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan budaya lokal dengan melibatkan anak-anak, guru, orang tua, serta Pemerintah Desa Wolowea. […]

  • Sudut Pandang: Jejak Pengabdian dan Kasih Sayang Felix Japang

    Sudut Pandang: Jejak Pengabdian dan Kasih Sayang Felix Japang

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Yunita
    • visibility 133
    • 4Komentar

    Nama: Drs Felix Japang Tempat Tanggal Lahir: Bekek, 30 Mei 1965 Alamat: Desa tadho, kecamatan riung, kabupaten ngada, nusa tenggara timur Meninggal: Bajawa 16 Februari 2012   Mengenal Sosok Felix Japang Felix Japang adalah seorang putra Desa Tadho, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, yang lahir Pada tanggal 30 mei 1965. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan […]

  • Mau Hidup Oleh Apa Kata Mereka (?)

    Mau Hidup Oleh Apa Kata Mereka (?)

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 298
    • 0Komentar

    Hidup adalah serentetan pengulangan yang kadang memaksa kita harus bertahan pun berserah, bukan menyerah. Entah setelahnya bagaimana manusia bisa melewati semuanya, itu adalah rahasia tersembunyi yang dimiliki oleh masing-masing pribadi. Semesta menawarkan banyak godaan, dilematisme memeluk manusia dengan sungguh. Jatuhkan pilihan sekarang atau kau kehilangan segalanya. Dengan terpaksa, juga buru-buru, tanpa pijak pikir yang matang, […]

  • 𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Novel Mahar Gading telah resmi dipublikasikan pada Kamis (02/07/2026). Novel ini ditulis oleh Pion Ratulolly yang merupakan nama pena dari Muhammad Soleh Kadir. Novel ini berisi kisah asmara antara Arakian Sabon Ama dan Mutiara Belaon Bur’an. Kisah asmara keduanya harus berbenturan dengan tuntutan adat berupa mahar gading. Di sinilah pergulatan kisah keduanya mengalami konflik yang […]

  • Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Sepak bola bukan sekadar soal siapa yang mencetak gol lebih banyak, melainkan tentang menjunjung tinggi spirit fair play. Laga krusial semifinal Liga 4 Nasional yang mempertemukan Pesik Kuningan dan PSN Ngada di Stadion Sriwedari, Solo, pada Rabu (8/7), seharusnya menjadi panggung pembuktian taktik dan talenta. Namun sayang seribu sayang, sorotan utama justru bergeser dari aksi […]

  • BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Zaeni Boli
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Mesti bangga dengan karya sendiri, Produksi sebuah film bukanlah pekerjaan yang mudah dibutuhkan proses yang terkadang membuat kita hampir menyerah namun dengan tekad yang kuat akhirnya mewujud, ya akhirnya di tahun 2026 ini pada Bengkel Seni Milenial ( BSM ) angkatan ke 10 akhirnya mampu memproduksi film pendek yang diberi judul Cinta Jangan Dikejar, Sebuah […]

expand_less