Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

  • account_circle Rein Lagang
  • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
  • visibility 196
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Rein Lagang, Mahasiswa IFTK Ledalero. 

Komunikasi tak hanya berfungsi menjadi alat penyampaian informasi, tetapi pula sebagai sarana untuk membangun ciri-ciri, menjaga kehormatan, serta mempertahankan korelasi sosial. Dalam setiap interaksi, individu sebenarnya sedang melakukan perundingan terhadap “wajah” (face), yaitu gambaran diri serta harga diri yg ingin dipertahankan di hadapan orang lain. Konsep ini dijelaskan secara mendalam pada Teori negosiasi wajah yang dikembangkan oleh Stella Ting-Toomey. Teori tadi menekankan bahwa perbedaan budaya sangat memengaruhi cara seorang berbicara, memberikan kritik, menuntaskan permasalahan, dan menjaga keharmonisan sosial. Dalam masyarakat kolektivis seperti Indonesia, komunikasi umumnya dilakukan menggunakan penuh kehati-hatian demi menjaga perasaan serta kehormatan orang lain. oleh karena itu, kritik tak jarang disampaikan secara halus, tidak langsung, serta mempertimbangkan tata cara kesopanan. Tetapi, pada tengah budaya komunikasi mirip itu, timbul figur publik mirip Rocky Gerung yang dikenal memiliki gaya komunikasi lugas, tajam, kritis, serta sering mengakibatkan kontroversi. Kenyataan ini menarik buat dianalisis sebab membagikan adanya benturan antara nilai komunikasi tradisional Indonesia menggunakan pola komunikasi yg lebih terbuka serta individualistik. Menggunakan memakai Teori perundingan wajah Stella Ting-Toomey, goresan pena ini bertujuan buat menganalisis bagaimana style komunikasi Rocky Gerung mencerminkan orientasi paras eksklusif, bagaimana respons rakyat terhadap gaya tersebut, dan apa makna sosial dan budaya yang bisa dipahami asal kenyataan komunikasi publik tadi.

Teori negosiasi wajah Stella Ting -Toomey

Setiap individu memiliki kebutuhan untuk mempertahankan gambaran dirinya dalam hubungan sosial. Stella Ting-Toomey membagi orientasi wajah menjadi 3 bentuk utama, yaitu menjaga gambaran diri sendiri, menjaga gambaran orang lain, serta menjaga keharmonisan. Pada budaya kolektivis, individu cenderung menghindari permasalahan terbuka demi mempertahankan hubungan sosial dan stabilitas kelompok. Sebaliknya, budaya individualis lebih menekankan kebebasan berekspresi serta keberanian memberikan pendapat secara langsung. Indonesia menjadi warga kolektivis umumnya menempatkan kesopanan, penghormatan, dan harmoni sosial menjadi nilai utama dalam komunikasi. Oleh sebab itu, cara berbicara acapkali kali dirancang lebih halus agar tidak mempermalukan pihak lain.

Gaya Komunikasi Rocky Gerung dalam Perspektif teori wajah

Rocky Gerung dikenal menjadi figur publik yg menggunakan bahasa kritis, terbuka, serta argumentatif dalam menyampaikan pendapat. Ia seringkali memberikan kritik secara pribadi pada tokoh politik maupun institusi publik tanpa poly memakai bahasa penghalus. Dalam perspektif teori negosiasi wajah, gaya komunikasi ini memberikan kesamaan bertenaga di orientasi self-face, yaitu penekanan di kebebasan berpikir, ketegasan pendapat, dan integritas eksklusif. Gaya komunikasi tersebut tidak selaras menggunakan pola komunikasi rakyat Indonesia yang cenderung mengutamakan keharmonisan serta menghindari permasalahan terbuka. Sebab itu, pernyataan-pernyataannya seringkali dilihat terlalu keras atau menyerang wajah pihak lain. Tetapi di sisi lain, sebagian masyarakat melihat gaya tersebut menjadi bentuk keberanian intelektual serta kejujuran pada memberikan kritik sosial.

Respons Sosial terhadap Gaya Komunikasi Rocky Gerung

Respons rakyat terhadap Rocky Gerung memberikan adanya perbedaan cara pandang terhadap etika komunikasi. Sebagian masyarakat menduga gaya komunikasinya tak sopan sebab disebut mempermalukan atau menyerang kehormatan pihak lain di ruang publik. Pada teori Stella Ting-Toomey, kondisi ini diklaim menjadi ancaman terhadap wajah, yang dapat memicu perseteruan komunikasi. Tetapi, terdapat juga kelompok warga terutama generasi muda dan kelompok kritis yang justru mendukung gaya komunikasinya. Mereka melihat keterusterangan menjadi simbol keberanian dan kebebasan berekspresi. Kenyataan ini membagikan adanya perubahan budaya komunikasi di Indonesia akibat pengaruh globalisasi, dan berkembangnya nilai individualisme pada rakyat terkini.

Makna Ilmiah serta Relevansi Sosial Persoalan Rocky Gerung

Komunikasi publik tidak bisa dipisahkan dari konteks budaya dan perubahan sosial. Gaya komunikasinya menunjukkan adanya ketegangan antara nilai kolektivisme yang menekankan keharmonisan menggunakan nilai individualisme yang menjunjung keterbukaan serta kebebasan berbicara. Secara ilmiah, fenomena ini menandakan bahwa Teori perundingan wajah tidak hanya menjelaskan perilaku komunikasi, namun pula bisa menjelaskan perubahan orientasi budaya pada rakyat. Komunikasi yg terlalu halus bisa menjaga hubungan sosial tetapi berpotensi menekan kritik, sedangkan komunikasi yg terlalu keras bisa memicu pertarungan meskipun efektif memberikan kebenaran. Oleh karena itu, dibutuhkan ekuilibrium atau keseimbangan antara keberanian menyampaikan pendapat dan kemampuan menjaga etika komunikasi.

Penutup

Sesuai analisis memakai Teori negosiasi wajah Stella Ting-Toomey, dapat dipahami bahwa gaya komunikasi Rocky Gerung adalah representasi asal perubahan budaya komunikasi di Indonesia. Ia membagikan pola komunikasi yang lebih berorientasi di self-face, yaitu menekankan kebebasan berpikir, keterusterangan, dan ketegasan pada memberikan kritik. Gaya tadi tidak sinkron menggunakan pola komunikasi tradisional rakyat Indonesia yang lebih mengutamakan keharmonisan serta perlindungan terhadap wajah orang lain. Perdebatan yang ada terhadap gaya komunikasinya menawarkan adanya benturan antara nilai budaya kolektivis dan nilai komunikasi terkini yang lebih individualistik. Sebagian rakyat memandang keterusterangan menjadi bentuk keberanian intelektual, sementara sebagian lainnya melihatnya sebagai pelanggaran terhadap etika komunikasi. Dengan demikian, kenyataan Rocky Gerung bukan hanya persoalan gaya berbicara eksklusif, tetapi juga cerminan perubahan cara masyarakat Indonesia tahu kritik, kehormatan, dan kebebasan berekspresi pada ruang publik. Melalui kajian ini, bisa disimpulkan bahwa komunikasi yg efektif bukan hanya bergantung di isi pesan, tetapi pula pada kemampuan memahami konteks budaya, menjaga korelasi sosial, serta menyesuaikan cara penyampaian menggunakan situasi komunikasi yg dihadapi.

Maumere, 2026

  • Penulis: Rein Lagang
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    • calendar_month 1 jam yang lalu
    • account_circle Melinda Kristy Setyarini
    • visibility 10
    • 0Komentar

    Oleh: Melinda Kristy Setyarini Pagi belum sepenuhnya terang ketika bapakku sudah memulai harinya. Saat sebagian orang masih menikmati sisa tidur atau bersiap dengan pakaian rapi sebelum berangkat bekerja, bapak sudah lebih dahulu sibuk di peternakan bebek. Ada bebek-bebek yang harus diurus dan pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Setelah semuanya selesai, langkahnya berlanjut menuju sawah. Dari […]

  • Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 350
    • 2Komentar

    PENGAKUAN Gebby, katakan kita orang berdosa— bukan untuk mengadili, melainkan untuk meletakkan batu-batu luka di altar yang sama. Namamu gugur di kertas sunyi seperti hujan yang menyingkap rahasia tanah; aku menulis, lalu mengakui kebodohanku, mengumpulkan sisa-sisa kata yang terluka. Di matamu, kutemukan langit yang lain, yang merengkuh semua kesalahan, menyulapnya jadi debu yang lambat jatuh […]

  • Saat AI Ikut Makan Bersama:  Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    Saat AI Ikut Makan Bersama: Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 415
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba (Mahasiswa Teologi-Wedabhakti-Sanata Dharma) Pendahuluan Meja makan bukan sekadar tempat untuk menyantap makanan. Dalam banyak budaya, meja makan sering diartikan sebagai ruang yang paling istimewa, tempat di mana keluarga berbagi cerita satu dengan yang lain. Tradisi makan bersama sudah berlangsung ribuan tahun sebagai perekat atau pelekat hubungan. Namun belakangan ada semacam  perubahan yang kelihatanya […]

  • AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 256
    • 0Komentar

    Aku ingin pamerkan setiap aktivitasku, sejak subuh hingga petang. Supaya mereka tidak mempermainkanku soal waktu, membuatku menunggu, tanpa rasa bersalah, tanpa usaha untuk berbenah. (Ia dan Mereka yang Berisik) Saya membuka tulisan sederhana ini dengan mengutip sebuah pernyataan dalam buku yang berjudul Ambivert. Dan persis buku inlah yang akan saya ulas seringkas mungkin sesuai kapasitas […]

  • Cerpen Pastor: I Love You Full!

    Cerpen Pastor: I Love You Full!

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Sr. Auxilia Damanik, SFD
    • visibility 224
    • 4Komentar

    Oleh: Sr. Auxilia Damanik, SFD (Penulis merupakan biarawati pada Kongregasi Suster-Suster Fransiskus Dina atau SFD. Saat ini tengah memasuki tahun yuniorat pertama) Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Deru angin dari perbukitan berembus kencang, menggiring langkah kecilku berlari menapaki tanah berbatu. Langit sore tampak muram, tetapi bukit itu selalu menjadi tempat paling hidup […]

  • Sudut Pandang: Sosok yang Diam-diam Menjadi Kekuatan

    Sudut Pandang: Sosok yang Diam-diam Menjadi Kekuatan

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Nopianti
    • visibility 18
    • 2Komentar

    Oleh: Maria Nopianti (Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma)  Di sebuah keluarga pasti memiliki sosok untuk tempat pulang, ada seseorang yang selalu hadir dengan kata-katanya yang lembut, ada juga yang menunjukkan kasih sayang pada anaknya melalui tindakan. Bagiku sosok itu iyalah Umak ba opak (bapak dan mamak), mereka adalah seseorang yang bukan hanya mengungkapkan perasaannya melalui […]

expand_less