Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia
- account_circle Rein Lagang
- calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
- visibility 114
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Rein Lagang, Mahasiswa IFTK Ledalero.
Komunikasi tak hanya berfungsi menjadi alat penyampaian informasi, tetapi pula sebagai sarana untuk membangun ciri-ciri, menjaga kehormatan, serta mempertahankan korelasi sosial. Dalam setiap interaksi, individu sebenarnya sedang melakukan perundingan terhadap “wajah” (face), yaitu gambaran diri serta harga diri yg ingin dipertahankan di hadapan orang lain. Konsep ini dijelaskan secara mendalam pada Teori negosiasi wajah yang dikembangkan oleh Stella Ting-Toomey. Teori tadi menekankan bahwa perbedaan budaya sangat memengaruhi cara seorang berbicara, memberikan kritik, menuntaskan permasalahan, dan menjaga keharmonisan sosial. Dalam masyarakat kolektivis seperti Indonesia, komunikasi umumnya dilakukan menggunakan penuh kehati-hatian demi menjaga perasaan serta kehormatan orang lain. oleh karena itu, kritik tak jarang disampaikan secara halus, tidak langsung, serta mempertimbangkan tata cara kesopanan. Tetapi, pada tengah budaya komunikasi mirip itu, timbul figur publik mirip Rocky Gerung yang dikenal memiliki gaya komunikasi lugas, tajam, kritis, serta sering mengakibatkan kontroversi. Kenyataan ini menarik buat dianalisis sebab membagikan adanya benturan antara nilai komunikasi tradisional Indonesia menggunakan pola komunikasi yg lebih terbuka serta individualistik. Menggunakan memakai Teori perundingan wajah Stella Ting-Toomey, goresan pena ini bertujuan buat menganalisis bagaimana style komunikasi Rocky Gerung mencerminkan orientasi paras eksklusif, bagaimana respons rakyat terhadap gaya tersebut, dan apa makna sosial dan budaya yang bisa dipahami asal kenyataan komunikasi publik tadi.
Teori negosiasi wajah Stella Ting -Toomey
Setiap individu memiliki kebutuhan untuk mempertahankan gambaran dirinya dalam hubungan sosial. Stella Ting-Toomey membagi orientasi wajah menjadi 3 bentuk utama, yaitu menjaga gambaran diri sendiri, menjaga gambaran orang lain, serta menjaga keharmonisan. Pada budaya kolektivis, individu cenderung menghindari permasalahan terbuka demi mempertahankan hubungan sosial dan stabilitas kelompok. Sebaliknya, budaya individualis lebih menekankan kebebasan berekspresi serta keberanian memberikan pendapat secara langsung. Indonesia menjadi warga kolektivis umumnya menempatkan kesopanan, penghormatan, dan harmoni sosial menjadi nilai utama dalam komunikasi. Oleh sebab itu, cara berbicara acapkali kali dirancang lebih halus agar tidak mempermalukan pihak lain.
Gaya Komunikasi Rocky Gerung dalam Perspektif teori wajah
Rocky Gerung dikenal menjadi figur publik yg menggunakan bahasa kritis, terbuka, serta argumentatif dalam menyampaikan pendapat. Ia seringkali memberikan kritik secara pribadi pada tokoh politik maupun institusi publik tanpa poly memakai bahasa penghalus. Dalam perspektif teori negosiasi wajah, gaya komunikasi ini memberikan kesamaan bertenaga di orientasi self-face, yaitu penekanan di kebebasan berpikir, ketegasan pendapat, dan integritas eksklusif. Gaya komunikasi tersebut tidak selaras menggunakan pola komunikasi rakyat Indonesia yang cenderung mengutamakan keharmonisan serta menghindari permasalahan terbuka. Sebab itu, pernyataan-pernyataannya seringkali dilihat terlalu keras atau menyerang wajah pihak lain. Tetapi di sisi lain, sebagian masyarakat melihat gaya tersebut menjadi bentuk keberanian intelektual serta kejujuran pada memberikan kritik sosial.
Respons Sosial terhadap Gaya Komunikasi Rocky Gerung
Respons rakyat terhadap Rocky Gerung memberikan adanya perbedaan cara pandang terhadap etika komunikasi. Sebagian masyarakat menduga gaya komunikasinya tak sopan sebab disebut mempermalukan atau menyerang kehormatan pihak lain di ruang publik. Pada teori Stella Ting-Toomey, kondisi ini diklaim menjadi ancaman terhadap wajah, yang dapat memicu perseteruan komunikasi. Tetapi, terdapat juga kelompok warga terutama generasi muda dan kelompok kritis yang justru mendukung gaya komunikasinya. Mereka melihat keterusterangan menjadi simbol keberanian dan kebebasan berekspresi. Kenyataan ini membagikan adanya perubahan budaya komunikasi di Indonesia akibat pengaruh globalisasi, dan berkembangnya nilai individualisme pada rakyat terkini.
Makna Ilmiah serta Relevansi Sosial Persoalan Rocky Gerung
Komunikasi publik tidak bisa dipisahkan dari konteks budaya dan perubahan sosial. Gaya komunikasinya menunjukkan adanya ketegangan antara nilai kolektivisme yang menekankan keharmonisan menggunakan nilai individualisme yang menjunjung keterbukaan serta kebebasan berbicara. Secara ilmiah, fenomena ini menandakan bahwa Teori perundingan wajah tidak hanya menjelaskan perilaku komunikasi, namun pula bisa menjelaskan perubahan orientasi budaya pada rakyat. Komunikasi yg terlalu halus bisa menjaga hubungan sosial tetapi berpotensi menekan kritik, sedangkan komunikasi yg terlalu keras bisa memicu pertarungan meskipun efektif memberikan kebenaran. Oleh karena itu, dibutuhkan ekuilibrium atau keseimbangan antara keberanian menyampaikan pendapat dan kemampuan menjaga etika komunikasi.
Penutup
Sesuai analisis memakai Teori negosiasi wajah Stella Ting-Toomey, dapat dipahami bahwa gaya komunikasi Rocky Gerung adalah representasi asal perubahan budaya komunikasi di Indonesia. Ia membagikan pola komunikasi yang lebih berorientasi di self-face, yaitu menekankan kebebasan berpikir, keterusterangan, dan ketegasan pada memberikan kritik. Gaya tadi tidak sinkron menggunakan pola komunikasi tradisional rakyat Indonesia yang lebih mengutamakan keharmonisan serta perlindungan terhadap wajah orang lain. Perdebatan yang ada terhadap gaya komunikasinya menawarkan adanya benturan antara nilai budaya kolektivis dan nilai komunikasi terkini yang lebih individualistik. Sebagian rakyat memandang keterusterangan menjadi bentuk keberanian intelektual, sementara sebagian lainnya melihatnya sebagai pelanggaran terhadap etika komunikasi. Dengan demikian, kenyataan Rocky Gerung bukan hanya persoalan gaya berbicara eksklusif, tetapi juga cerminan perubahan cara masyarakat Indonesia tahu kritik, kehormatan, dan kebebasan berekspresi pada ruang publik. Melalui kajian ini, bisa disimpulkan bahwa komunikasi yg efektif bukan hanya bergantung di isi pesan, tetapi pula pada kemampuan memahami konteks budaya, menjaga korelasi sosial, serta menyesuaikan cara penyampaian menggunakan situasi komunikasi yg dihadapi.
Maumere, 2026
- Penulis: Rein Lagang
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar