Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pau Cubarsí dan Seni Bertahan yang Nyaris Terlupakan

  • account_circle Redaksi Mataleza
  • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
  • visibility 98
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sepak bola selalu jatuh cinta kepada pencetak gol. Kita mengingat Diego Maradona karena menggiring bola melewati setengah lapangan. Kita mengenang Lionel Messi karena ribuan sentuhan yang membuat hukum gravitasi seolah kehilangan kuasa. Kita memuja Cristiano Ronaldo karena gol-gol yang lahir dari lompatan yang mustahil dilakukan manusia biasa.

Jarang sekali kita pulang dari stadion sambil berkata, “Hari ini bek tengah itu luar biasa.”

Barangkali karena bertahan memang tidak pernah semegah mencetak gol. Seorang penyerang bisa menjadi pahlawan hanya dalam satu sentuhan. Seorang bek harus sempurna selama sembilan puluh menit. Satu kesalahan kecil, seluruh pertandingan akan mengingatnya.

Di Piala Dunia 2026, ketika dunia sibuk mencari siapa penyerang terbaik, seorang anak berusia 19 tahun diam-diam sedang mengubah cara kita memandang posisi bek tengah. Namanya Pau Cubarsí.

Ia bukan pemain yang berlari sambil mengepalkan tangan setiap kali memotong bola. Ia juga bukan bek yang gemar melakukan tekel-tekel keras demi mendapat sorotan kamera. Bahkan, sering kali kita hampir lupa bahwa ia sedang bermain.

Dan justru di sanalah letak keistimewaannya.

Cubarsí bermain dengan cara yang membuat pekerjaan seorang bek terlihat mudah. Padahal sesungguhnya sangat sulit.

Ia tidak menunggu lawan datang. Ia membaca ke mana bola akan bergerak. Ia tidak mengejar penyerang. Ia sudah berada di tempat yang seharusnya bahkan sebelum penyerang memutuskan berlari. Ketika banyak bek mengandalkan kekuatan fisik, Cubarsí lebih dahulu memenangkan duel melalui pikirannya.

Setiap intersep yang ia lakukan seperti hasil dari sebuah percakapan sunyi dengan permainan itu sendiri. Seolah sepak bola membisikkan lebih dulu ke mana arah serangan akan berlangsung.

Spanyol pun menemukan fondasi yang nyaris sempurna. Mereka memang memiliki lini tengah yang anggun. Mereka memiliki pemain-pemain depan yang efisien. Namun semua itu berdiri di atas satu keyakinan sederhana: selama Pau Cubarsí berada di belakang, tidak ada alasan untuk panik.

Sepanjang turnamen, pertahanan Spanyol menjelma menjadi benteng yang sulit ditembus. Lawan boleh menguasai bola, tetapi jarang benar-benar mampu menguasai ruang. Cubarsí membuat setiap meter lapangan terasa sempit bagi siapa pun yang mencoba menembusnya.

Yang paling mengagumkan adalah usianya. Sembilan belas tahun adalah usia ketika banyak pemain masih belajar mengendalikan emosi. Masih sesekali kehilangan konsentrasi. Masih membuat keputusan yang tergesa-gesa.

Cubarsí justru tampil seperti seseorang yang telah memainkan ratusan pertandingan internasional. Tidak ada kepanikan saat ditekan. Tidak ada umpan sembrono. Tidak ada tekel putus asa. Yang ada hanyalah ketenangan demi ketenangan.

Dalam sepak bola modern, ketenangan adalah kemewahan. Ketika semua tim bermain cepat, melakukan pressing tanpa henti, dan memaksa lawan mengambil keputusan dalam hitungan detik, Cubarsí memilih menjadi pemain yang memperlambat kekacauan. Bola yang datang kepadanya tidak pernah tampak terburu-buru. Ia seolah memberi waktu bagi permainan untuk bernapas.

Final melawan Argentina menjadi panggung pembuktiannya. Menghadapi barisan pemain yang dipenuhi kreativitas dan pengalaman, Cubarsí tidak mencoba menjadi tokoh utama. Ia hanya melakukan apa yang telah dilakukannya sejak pertandingan pertama: menjaga garis pertahanan tetap hidup, membaca ruang, mematahkan serangan, lalu mengalirkan bola kembali kepada rekan-rekannya.

Terkadang, penampilan terbaik seorang bek justru ketika namanya jarang disebut komentator. Karena itu berarti lawan tidak pernah benar-benar berhasil membuat masalah.

Ketika Spanyol akhirnya mengangkat trofi Piala Dunia, penghargaan Pemain Muda Terbaik terasa seperti konsekuensi yang tidak terhindarkan. Dunia akhirnya menyadari bahwa sepak bola tidak hanya dimenangkan oleh mereka yang mencetak gol, tetapi juga oleh mereka yang memastikan gol tidak terjadi.

Pau Cubarsí mengingatkan kita pada sebuah pelajaran lama yang mulai terlupakan: bertahan adalah seni. Seni membaca sebelum melihat. Seni bergerak sebelum lawan berpikir. Seni membuat sesuatu yang sangat rumit tampak sangat sederhana.

Mungkin beberapa tahun lagi, ketika orang-orang membicarakan Piala Dunia 2026, mereka akan mengingat trofi Spanyol atau gol penentu di partai final.

Namun mereka yang benar-benar mencintai sepak bola akan mengingat sesuatu yang lain. Mereka akan mengingat seorang anak dari Barcelona yang mengajarkan bahwa seorang bek tengah tidak selalu harus menjadi yang paling keras. Cukup menjadi yang paling cerdas.

Dan di musim panas 2026, tak ada bek yang lebih cerdas daripada Pau Cubarsí.

Mbay, 2026

  • Penulis: Redaksi Mataleza
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Jomlo Bukan Aib, yang Aib Itu Memaksa Semua Orang Hidup dengan Cara yang Sama

    Ruang Rasa: Jomlo Bukan Aib, yang Aib Itu Memaksa Semua Orang Hidup dengan Cara yang Sama

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 182
    • 3Komentar

    Ada satu pertanyaan yang diam-diam sering berkeliaran di kepala saya. Mengapa menjadi jomlo terasa seperti sedang memikul dosa yang tidak pernah dilakukan? Entah sejak kapan masyarakat menyepakati sebuah aturan tak tertulis bahwa seseorang dianggap “terlambat” ketika belum memiliki pasangan. Setiap pesta keluarga berubah menjadi ruang interogasi. Setiap reuni terasa seperti sidang terbuka. Bahkan, senyum yang […]

  • Ruang Rasa: Suara Anak yang Tak Pernah Didengar

    Ruang Rasa: Suara Anak yang Tak Pernah Didengar

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Katharina Tasik Busa
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Aku tidak ingat bagaimana rasanya tumbuh dalam pelukan ayah dan ibu setiap hari. Sejak kecil, aku dibesarkan oleh opa dan oma dari pihak ayah. Dari merekalah aku mengenal arti rumah, kasih sayang, dan perjuangan. Mereka memberiku makan, menyekolahkanku, dan berusaha memenuhi kebutuhanku. Untuk semua itu, aku sungguh bersyukur. Namun, di balik rasa syukur itu, ada […]

  • Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Ermelinda Evelyn Ndelo
    • visibility 76
    • 8Komentar

    Sebuah cerita tentang tradisi, masyarakat, dan janji para leluhur Kalau mendengar tentang kata Sumba, hal yang mungkin langsung terbayangkan adalah tentang sebuah pulau yang berisi padang rumbut, rumah adat, kuda, dan berbagai tradisi yang masih dijaga oleh masyarat setempat hingga saat ini. Sumba memang memiliki banyak sekali kebudayaan yang nenarik, dan salah satunya adalah Pasola. […]

  • Meremehkan PSN Ngada di Babak 8 Besar adalah Kesalahan Sejarah

    Meremehkan PSN Ngada di Babak 8 Besar adalah Kesalahan Sejarah

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Keberhasilan PSN Ngada menahan imbang Persibangga Purbalingga dengan skor 1:1, sekaligus memastikan tiket lolos ke babak 8 besar, merupakan penegasan tentang identitas asli Laskar Jaramasi. Mereka adalah tim dengan mentalitas baja yang menolak menyerah sebelum peluit panjang berbunyi. Hasil ini sekaligus menggagalkan upaya Persibangga untuk mengambil alih posisi puncak klasemen dari genggaman PSN Ngada. Mencetak […]

  • Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Maxi L. Sawung
    • visibility 330
    • 0Komentar

    Redup Aku akhirnya memilih agar tu(h)an ataupun siapa saja tidak merenggut luka milikku. Beberapa tangan datang mengetuk, beberapa tangan mencoba memeluk tapi tetap aku tutup pintu makam batu itu. Kau pernah sekali atau bahkan berkali-kali dengan buru-buru berlari agar lekas sampai ketika datang melayat lukaku. Sekadar menanyakan perihal masa penyembuhan atau bagaimana dengan bekas luka-luka […]

  • Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Ada orang yang mencintai sebuah tim karena sedang menjadi juara. Ada yang memilih karena mengikuti teman. Ada pula yang mencintainya karena semua orang di kampung melakukan hal yang sama. Saya tidak. Cinta saya kepada Spanyol lahir dari sebuah kebetulan yang sederhana. Tahun 2006, ketika informasi sepak bola belum semudah hari ini, saya melihat sebuah poster […]

expand_less