Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pau Cubarsí dan Seni Bertahan yang Nyaris Terlupakan

  • account_circle Redaksi Mataleza
  • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
  • visibility 46
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sepak bola selalu jatuh cinta kepada pencetak gol. Kita mengingat Diego Maradona karena menggiring bola melewati setengah lapangan. Kita mengenang Lionel Messi karena ribuan sentuhan yang membuat hukum gravitasi seolah kehilangan kuasa. Kita memuja Cristiano Ronaldo karena gol-gol yang lahir dari lompatan yang mustahil dilakukan manusia biasa.

Jarang sekali kita pulang dari stadion sambil berkata, “Hari ini bek tengah itu luar biasa.”

Barangkali karena bertahan memang tidak pernah semegah mencetak gol. Seorang penyerang bisa menjadi pahlawan hanya dalam satu sentuhan. Seorang bek harus sempurna selama sembilan puluh menit. Satu kesalahan kecil, seluruh pertandingan akan mengingatnya.

Di Piala Dunia 2026, ketika dunia sibuk mencari siapa penyerang terbaik, seorang anak berusia 19 tahun diam-diam sedang mengubah cara kita memandang posisi bek tengah. Namanya Pau Cubarsí.

Ia bukan pemain yang berlari sambil mengepalkan tangan setiap kali memotong bola. Ia juga bukan bek yang gemar melakukan tekel-tekel keras demi mendapat sorotan kamera. Bahkan, sering kali kita hampir lupa bahwa ia sedang bermain.

Dan justru di sanalah letak keistimewaannya.

Cubarsí bermain dengan cara yang membuat pekerjaan seorang bek terlihat mudah. Padahal sesungguhnya sangat sulit.

Ia tidak menunggu lawan datang. Ia membaca ke mana bola akan bergerak. Ia tidak mengejar penyerang. Ia sudah berada di tempat yang seharusnya bahkan sebelum penyerang memutuskan berlari. Ketika banyak bek mengandalkan kekuatan fisik, Cubarsí lebih dahulu memenangkan duel melalui pikirannya.

Setiap intersep yang ia lakukan seperti hasil dari sebuah percakapan sunyi dengan permainan itu sendiri. Seolah sepak bola membisikkan lebih dulu ke mana arah serangan akan berlangsung.

Spanyol pun menemukan fondasi yang nyaris sempurna. Mereka memang memiliki lini tengah yang anggun. Mereka memiliki pemain-pemain depan yang efisien. Namun semua itu berdiri di atas satu keyakinan sederhana: selama Pau Cubarsí berada di belakang, tidak ada alasan untuk panik.

Sepanjang turnamen, pertahanan Spanyol menjelma menjadi benteng yang sulit ditembus. Lawan boleh menguasai bola, tetapi jarang benar-benar mampu menguasai ruang. Cubarsí membuat setiap meter lapangan terasa sempit bagi siapa pun yang mencoba menembusnya.

Yang paling mengagumkan adalah usianya. Sembilan belas tahun adalah usia ketika banyak pemain masih belajar mengendalikan emosi. Masih sesekali kehilangan konsentrasi. Masih membuat keputusan yang tergesa-gesa.

Cubarsí justru tampil seperti seseorang yang telah memainkan ratusan pertandingan internasional. Tidak ada kepanikan saat ditekan. Tidak ada umpan sembrono. Tidak ada tekel putus asa. Yang ada hanyalah ketenangan demi ketenangan.

Dalam sepak bola modern, ketenangan adalah kemewahan. Ketika semua tim bermain cepat, melakukan pressing tanpa henti, dan memaksa lawan mengambil keputusan dalam hitungan detik, Cubarsí memilih menjadi pemain yang memperlambat kekacauan. Bola yang datang kepadanya tidak pernah tampak terburu-buru. Ia seolah memberi waktu bagi permainan untuk bernapas.

Final melawan Argentina menjadi panggung pembuktiannya. Menghadapi barisan pemain yang dipenuhi kreativitas dan pengalaman, Cubarsí tidak mencoba menjadi tokoh utama. Ia hanya melakukan apa yang telah dilakukannya sejak pertandingan pertama: menjaga garis pertahanan tetap hidup, membaca ruang, mematahkan serangan, lalu mengalirkan bola kembali kepada rekan-rekannya.

Terkadang, penampilan terbaik seorang bek justru ketika namanya jarang disebut komentator. Karena itu berarti lawan tidak pernah benar-benar berhasil membuat masalah.

Ketika Spanyol akhirnya mengangkat trofi Piala Dunia, penghargaan Pemain Muda Terbaik terasa seperti konsekuensi yang tidak terhindarkan. Dunia akhirnya menyadari bahwa sepak bola tidak hanya dimenangkan oleh mereka yang mencetak gol, tetapi juga oleh mereka yang memastikan gol tidak terjadi.

Pau Cubarsí mengingatkan kita pada sebuah pelajaran lama yang mulai terlupakan: bertahan adalah seni. Seni membaca sebelum melihat. Seni bergerak sebelum lawan berpikir. Seni membuat sesuatu yang sangat rumit tampak sangat sederhana.

Mungkin beberapa tahun lagi, ketika orang-orang membicarakan Piala Dunia 2026, mereka akan mengingat trofi Spanyol atau gol penentu di partai final.

Namun mereka yang benar-benar mencintai sepak bola akan mengingat sesuatu yang lain. Mereka akan mengingat seorang anak dari Barcelona yang mengajarkan bahwa seorang bek tengah tidak selalu harus menjadi yang paling keras. Cukup menjadi yang paling cerdas.

Dan di musim panas 2026, tak ada bek yang lebih cerdas daripada Pau Cubarsí.

Mbay, 2026

  • Penulis: Redaksi Mataleza
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun 6:17 Play Button

    Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 299
    • 0Komentar

    Tiga tahun, bagi sebagian orang, mungkin hanya sepotong waktu yang lewat begitu saja dalam arus kehidupan. Namun bagi Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae, tiga tahun adalah kisah panjang yang penuh warna, tentang tawa yang tumbuh di lorong-lorong sekolah, tentang peluh yang jatuh di lapangan, tentang mimpi yang perlahan menemukan bentuknya. Waktu memang berjalan cepat, apalagi […]

  • 32 Siswa Baru SMAN 1 Jerebuu Dibekali Kepemimpinan, Jurnalistik, dan Karya Tulis Ilmiah

    32 Siswa Baru SMAN 1 Jerebuu Dibekali Kepemimpinan, Jurnalistik, dan Karya Tulis Ilmiah

    • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
    • account_circle Mertin Lusi
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Ngada – Sebanyak 32 siswa baru SMAN 1 Jerebuu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung selama dua hari, 16–17 Juli 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan kepemimpinan, jurnalistik, dan penulisan karya tulis ilmiah. MPLS yang berlangsung setiap hari mulai pukul […]

  • Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 216
    • 2Komentar

    ini puisi apa?  ibu bangun tidur. bapak ke sawah. adik menangis cari bapak. saya cari batang pisang. pagi, selalu sibuk di setiap detik kami. ada rindu-dendam yang tak tuntas pada bunga mimpi. rumah yang lain, ayam-ayam berebut makanan. adik ikut tertawa. saya sibuk mengeja suara babi kelaparan. lalu, lewatlah segerombolan masa lalu di kepala saya. […]

  • Sudut Pandang: Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

    Sudut Pandang: Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Giorgio Babo Moggi
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Oleh: Giorgio Babo Moggi Kemenangan Argentina atas Swiss dengan skor 3-1 pada babak perempat final Piala Dunia 2026 menghadirkan satu kesimpulan penting. Tim asuhan Lionel Scaloni telah berevolusi menjadi kesebelasan yang mampu memenangkan pertandingan melalui kualitas kolektif, bukan lagi bertumpu sepenuhnya pada kecemerlangan Lionel Messi. Laga di Kansas City menjadi bukti bahwa sang juara bertahan […]

  • Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 288
    • 2Komentar

    PENGAKUAN Gebby, katakan kita orang berdosa— bukan untuk mengadili, melainkan untuk meletakkan batu-batu luka di altar yang sama. Namamu gugur di kertas sunyi seperti hujan yang menyingkap rahasia tanah; aku menulis, lalu mengakui kebodohanku, mengumpulkan sisa-sisa kata yang terluka. Di matamu, kutemukan langit yang lain, yang merengkuh semua kesalahan, menyulapnya jadi debu yang lambat jatuh […]

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.249
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

expand_less