Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

  • account_circle Ermelinda Evelyn Ndelo
  • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
  • visibility 74
  • comment 8 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sebuah cerita tentang tradisi, masyarakat, dan janji para leluhur

Kalau mendengar tentang kata Sumba, hal yang mungkin langsung terbayangkan adalah tentang sebuah pulau yang berisi padang rumbut, rumah adat, kuda, dan berbagai tradisi yang masih dijaga oleh masyarat setempat hingga saat ini. Sumba memang memiliki banyak sekali kebudayaan yang nenarik, dan salah satunya adalah Pasola.

Pasola bukan hanya sekadar permainan atau sebuah pertunjukan menggunakan kuda, dibaliknya terdapat sebuah cerita yang cukup panjang dan berkaitan dengan kehidupa masyarakat dipulau Sumba. Ada kepercayaan, adat, hubungan dengan alam, serta cerita tentang leluhur yang membuat tradisi ini tetap dilakukan hingga sekarang.
Sebelum mengetahui lebih jauh tentang pasola, saya awalnya hanya membayangkan Pasola sebagau sebuh tradisi dimana beberapa orang menunggang kuda dan saling melempar lembing (tongkat/kayu yang ujungnya tajam). Namun setelah saya mencari tahu lebih banyak lagi, saya baru menyadari bahwa ternyata ada begitu banyak hal yang tidak terlihat dari Pasola.Ada sebuah kata yang juga sangat menarik perhatian saya, yaitu Nale.

Nale merupakan sejenis cacing laut yang muncul dipesisir pantai Sumba pada waktu tertentu, bagi masyarakat Sumba kemunculan nale bukan hanya sebuah kejadian biasa. Kemunculannya menjadi salah satu tanda penting dalam pelaksaan kegiatan Pasola.

Dari sini saya mulai melihat bahwa Pasola bukan hanya tentang apa yang sedang terjadi dilapangan, ada kalanya cerita yang jauh lebih Panjang sebelum masyarakat sampai melakukan kegiatan pasola.

Cerita yang Bermula dari Sebuah Penantian

Pasola berkaitan erta dnegan tradisi Nyale yaitu tradisi ketika masyarakat menunggu kemunculan nale. Waktu pelaksanaan Pasola seniri tidak ditentukan secara sembarang, tokoh adata atau yang lebuh di kenal sebagai Rato (dalam Bahasa sumba) memiliki peranan dalam menentukan waktu berdasarkan aturan dan perhitungan adat. Menurut saya pada bagian cukup ini cukup menarik.

Ketika nale mulai muncul, masyarakat Sumba kemudian menjalankan rangkaian adat yang menjadi bagian dari pelaksanaan Pasola. Nale juga dipercaya berkaitan dengan kehidupan pertanian dan harapan terhadap hasil panen masyarakat Sumba.

Hal ini juga yang menunjukkan bahwa kehidupan dalam masyarakat Sumba sejak dahulu memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alam dan sekitarnya. Alam bukan hanya tempat manusia hidup, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan dan kepercayaan bagi warga setempat.

Kisah Rabu Kaba dan Awal Mula Pasola

Di balik tradisi Pasola terdapat cerita yang diwariskan secara turun-temurun, salah satu cerita yang cukup dikenal adalah kisah dari Waiwuang, Wanokaka (nama daerah di Sumba Barat).

Dalam sejarah terdapat beberapa tokoh adat, yaitu Ubu Dulla, Ngongo Tau Masusu, dan Yagi Waikareri. Ketiganya diceritakan sebagai pemimpin yang pergi meninggalkan Waiwuang untuk melakukan suatu perjalanan.

Namun mereka tidak kunjung kembali.
Masyarakat setempat akhirnya mengira bahwa mereka telah meninggal, salah satu yang menunggu kepulangan Ubu Dulla adalah sang istrinya, Rabu Kaba
Setelah lama menunggu dan mengira suaminya telah meninggal, Rabu Kaba kemudian bertemu dengan seorang laki-laki dari Kodi bernama Teda Gaiporona
Pertemuan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah hukuman, akan tetapi keadaan menjadi rumit karena Ubu Dulla kembali le Wiwuang.

Bayangkan bagaimana situasinya pada saat itu. Seseorang yang telah dianggap meninggal tiba-tiba saja kembali dan istrinya sudah Bersama dengan orang lain, situasi seperti ini tentu dapat menimbulkan konflik antara kedua belah pihak.

Namun, masyarakat tidak membiarkan persoalan tersebut berubah menjadi pertingkaian tanpa akhir. persoalan diselesaikan melalui aturan adat. Teda Gaiparona kemudian bertanggung jawab secara adat atas hubungannya dengan Rabu Kaba.

Dari kisah inilah kemudian berkembang cerita mengenai hubungan antara nyale dan Pasola.

Bagi saya, cerita ini menarik karena Pasola termasuk tidak hanya mempunyai hubungan dengan keberanian atau ketangkasan. Ada cerita tentang manusia didalamnya, ada pula cerita cinta, kehilangan, konflik, dan pada akhirnya adalah penyesalan

Tokoh-Tokoh dalam Cerita Pasola

Ubu Dulla

Ubu Dulla merupakan salah satu tokoh penting dalam cerita asal-usul Pasola, diceritakan sebagai salah satu pemimpin di Waiwuang.

Ubu Dulla pergi Bersama Ngongo Tau Masusu dan Yagi Wikareri, karena mereka tidak kunjung kembali masyarakat menganggap merela telah meninggal
Kepulangan Ubu Dulla kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam cerita kaarena ia mengetahui bahwa istrinya, Rabu Kaba telah pergi Bersama Teda Gaiparona.

Bagi saya tokoh Ubu Dulla menggambarkan bagaimana sebuah peristiwa yang sebenarnya dapat menjadi konflik besar yang pada akhirnya diselesaikan melalui adat.

Rabu Kaba

Rabu Kaba adalah istri dari Ubu Dulla dalam cerita ini, Rabu Kaba menjadi salah satu tokoh yang cukup penting karena kisahnya menjadi penghubung antara Ubu Dulla dan Teda Gaiparona dan kemudian memilih untuk hidup bersamnya.
Meskipun kisah ini sudang sangat lama, menurut saya cerita Rabu Kaba tetap menarik karena memperlihatkan bahwa masyarakat pada masa lalu juga mungkin hingga saat ini menghadapi persoalan tentang keluarga, cinta, dan pilihan hidup.

Teda Gaiparona

Teda Gaiparona merupakan pemuda dari kodi yang kemudian Bersama dengan Rabu Kaba, ketika Ubu Dulla kembali hubungan tersebut menimbulkan persoalan antara kedua pihak.

Namun persoalan ini akhirnya diselesaikan melalui adat, hal tersebut menunjukkan bahwa dalam kehidupan masyarakt Sumba adat mempunyai peranan paling penting dalam menyelesaikan persoalan yang tengah terjadi dimasyarakat.

Ngongo Tau Masusu dan Waikareri

Selain Ubu Dulla, terdapat juga Ngongo Tau Masusu dan Waikareri, keduanya diceritakan pergi Bersama Ubu Dulla.
Walaupun tidak sebanyak Ubu Dull dan Rabu Kaba dalam cerita, kedua tokoh ini tetap menjadi bagian dari kisah yang menjelaskan asal-usul Pasola.

Rato, Orang yang Menjaga Adat

Selain tokoh-tokoh dalam cerita tersebut ada juga tokoh adat yang hingga saat ini memiliki peranan dalam pelaksanaan tradisi. Mereka menyebutnya Rato

Rato merupakan tokoh adat yang memiliki peranan penting dalam berbagai kegiatan adat masyarakat Sumba, dalam pelaksanaan Pasola Rato berperan dalam rangkaian ritual dan menentukan waktu pelaksanaanya berdasarkan ketentuan adat.
Salah atu tokoh yang perna diberikan dengan Pasola adalah Rato Wigali dari Wawu Hapu Wanokaka. Beliau menjelaskan mengenai hubungan antara tradisi nyale dan Pasola

Ada juga Rato Ubu Bewi yang disebut memiliki peranan dalam menentukan waktu pelaksanaan Pasola bedasarkan perhitungan adat.

Menurut saya keberadaan para Rato ini menunjukkan bahwa sebuah tradisi tidak mungkin berjalan begitu saja tanpa adanya aturan. Orang-orang yang dipercaya untuk menjaga adat dan memastikan tetap dilakukan sesuai dengan ketentuan yang diwariskan.

Jika dipikir-pikir mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa Pasola masih bisa bertahan hingga saat ini.

Tradisi ini tidak hanya diwariskan dalam bentuk cerita, tetapi juga dalam bentuk aturan dan peran yang terrus dijalankan oleh masyarakat.

Ketika Nale Mulai Muncul

Ada sesuatu yang menurut saya paling menarik dari semua tradisi Pasola, yaitu masyarakat harus menunggu.
Mereka menunggu nale.

Nale muncul dilaut pada waktu tertentu dan menjadi salah satu tanda dalam rangkaian adat sebelum Pasola. Masyarakat kemudian mengambil dan memperhatikan kondisi nale sebagian dari proses adat.

Bagi masyarakat Sumba yang masih memengan kepercayaan Marapu, kemunculan nale memiliki makna tersendiri. Nale dikaitkan dengan kesuburan dan harapan terhadap hasil pertanian.

Tentunya hal inilah yang membuat saya melihat hubungan antara manusia dan alam dengan cara yang sangat berbeda.
Saat ini manusia sering kali berusaha mengatur alam sesuai dengan kebutuhan, namun dalam tradisi ini manusia justru menunggu alam memberikan tanda
Ada rasa sabra di dalamnya.

Mereka tidak bisa memaksa nale muncul hanya karena Pasola sudah ingin dilaksanakan. Mereka hanya menunggu waktunya.

Setelah tanda tersebut muncul barulah semua rangkaian adat dilanjutkan.

Ketika Kuda Mulai Berlari

Setelah rangkaian adat dan nyale dilaksanakan, tibalah saatnya pelaksanaan pasola.

Para peserta menaiki kuda khas Sumba san llaing berhadapan di sebuah arena terbuka, mereka membawa lembing kayu dan melakukan permainan ketangkasan dengan menunggang kuda.

Apabila hanya melihat dari luar maka Pasola mungkin hanya terlihat seperti sebuah pertarungan.

Namun sebenarnya terdapat aturan dan makna yang harus di hormati.
Pasola tidak dimaksudkan sebagai pertarungan untuk menimbulkan masalah ataau permusuhan, justru didalamnya lah terdapat nilai kkebersamaa, keberanian, sportivitas, dan persaudaraan.
Hal tersebut membuat saya berpikir bahwa sesuatu yang terlihat seperti pertarungan ternyata dapapt memiliki pesan tentang perdamaian.
Ada dua kelompok yang berhadapan
Ada perbedaan
Ada ketegangan
Tapi setelah itu kehidupan masyarakat harus tetap berjalan
Dengan kata lain bahwa perbedaan tidak haruw membuat orang menjadi musuh selamanya.

Pasola dan Kepercayaan Marapu

Pasola juga tidak dappat dipisahkan dari kepercayaan Marapu, yaitu kepercayaan tradisional masyarakat Sumba yang menempatkan leluhur sebagai bagian penting dalam kehidupan spiritual dan adat.
Bagi masyarakat yang menjalankannya, berbagai kegoatan adat memiliki hubungan dengan leluhur dan alam.

Karena itu Pasola tidak bisa dilihat hanya sebagai sebuah acara tahunan, didalamnya ada penghormatan yang baik.

Ada harapan untuk kehidupan yang baik.
Ada hubungan dengan pertanian.
Ada hubungan dengan alam.
Dan ada hubungan antarmanusia.
Menurut saya justru hal inilah yang membuat Pasola berbeda bukan hanya sekedar pertunjukan biasa.
Kalau Pasola hanya dilihat sebagai pertunjukan kuda dan lembing, kita hanya melihat luarnya saja. Namun apabila kita melihat dan mencoba memahami cerita dan kepercayaan dibaliknya kita akan menemukan bahwa Pasola sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Sumba.

Tradisi yang Berhadapan dengan Zaman

Zaman sekarang ini Pasola sudah dikenal oleh masyarakat luar pulai Sumba, banyak orang yang dataang untuk melihat tradisi tersebut. Foto dan video mengenai Pasola juga dapat dilihat diberbagai media.
Hal tersebut tentu menjadi sesuatu yang posistif karena semakin banyak orang mengenal budaya Sumba. Namun dibalik semunya itu ada satu hal yg perlu diperhatikan.

Jangan sampai Pasola hanya dikenal karena menarik. Jangan sampai orang hanya melihat kuda yang berlari dan peserta yang saling melempar lembing, teapi tidak mengetahui mengapa tradisi tersebut dilakukan. Karena dibalik Pasola ada cerita tentang masyarakat.
Ada Rabu Kaba.
Ada Ubu Dulla.
Ada Teda Gaiparona.
Ada para Rato.
Ada Kepercayaan Marapu

D nada tradisi nyale yang menajdi bagian penting sebelum Pasola dilaksanakan
Ssemua itu adalah bagian dari cerita denga membuat pasola memiliki makna
Oleh karena itu, menjaga budaya bukan hanya dengan terus mengadakan acaranya. Menjaga budaya juga berarti memahami cerita dan nilai yang ada di baliknya.

Janji Leluhur yang Masih Dijaga

Pada akhirnya, Pasola bukan hanya tentang siapa yang paling berani menaiki kuda atau siapa yang paling tepat melempar lembing
Pasola adalah tentang warisan.

Warisan dari orang-orang yang hidup jauh sebelum generasi sekarang ini. Warisan yang mungkin awalnya hanya berupa cerita kemudian disampaikan dari satu orang kepada orang lain, kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Saya mencoba membayangkan bagaimana orang-orang Sumba pada zaman dahulu menunggu munculnya nale
Mungkin mereka tidak memiliki teknologi seperti sekarang ini.

Tidak ada internet untuk mencari tahu kapan nale akan muncul. Tidak ada aplikasi untuk menentukan cuaca. Yang mereka miliki adalah pengetahuan yang diwariskan oleh para leluhur dan hubungan yang dekat dengan alam. Mereka belajar membaca tanda-tanda alam. Mereka belajar menghormati adat daan mereka mengajarkannya kembali kepada anak-anak mereka kelak nanti. Begitulah sebuah budaya dapat terus hidup.

Dari kisah Pasola, saya menyadari bahwa sebuah tradisi sebenarnya tidak hanya berkisar pada masa lalu.

Pasola masih ada hingga sekarang karena komunitas Sumba terus memberi kesempatan bagi warisan nenek moyang untuk bertahan.

Saat nale muncul dari lautan, masyarakat akan kembali mempraktikkan serangkaian upacara. Ketika saatnya tiba, kuda-kuda berlari lagi dan Pasola dilaksanakan kembali.

Mungkin bagi orang luar, Pasola hanya tampak sebagai sebuah tradisi yang khas.

Namun, bagi warga Sumba, Pasola menyimpan makna yang lebih mendalam.
Ia ialah bagian dari jati diri.

Ia adalah cara untuk menghormati para leluhur.

Ia merupakan hubungan dengan alam.
Dan juga menjadi pengingat bahwa hidup kita tidak hanya berkisar pada diri sendiri, melainkan tentang bagaimana kita berbagi kehidupan dengan orang lain.

Saya akhirnya menyadari bahwa melestarikan budaya bukan sekadar menjaga sebuah pertunjukan agar tetap ada. Lebih dari itu, kita harus memahami alasan adanya tradisi itu dan nilai-nilai yang ingin kita wariskan pada generasi selanjutnya.

Sebab ketika generasi muda hanya melihat Pasola sebagai kuda dan lembing, sebagian dari ceritanya dapat saja menghilang seiring waktu.

Tetapi saat mereka memahami cerita di balik Pasola, mengenali tokoh-tokohnya, mengerti peran Rato, mengetahui arti nale, dan memahami hubungannya dengan leluhur, Pasola akan terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dan mungkin, setiap kali masyarakat Sumba menunggu nale, sebenarnya mereka tidak hanya menanti sesuatu yang muncul dari laut.

Mereka sedang menanti sebuah pesan tua dari nenek moyang untuk diingat kembali.
Bahwa warisan yang diberikan kepada kita bukan hanya untuk disimpan, tetapi untuk dilestarikan dan diceritakan kembali.

“Inilah tanah Marapu, tempat adat dijaga dan suara leluhur masih dipercaya yang hadir melalui alam”.

Tentang penulis: Ermelinda Evelyn Ndelo

  • Penulis: Ermelinda Evelyn Ndelo
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (8)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Siapakah Saya?

    Siapakah Saya?

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 249
    • 0Komentar

    Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tuntutan, banyak orang terjebak dalam rutinitas tanpa sempat berhenti sejenak untuk merenung. Kita sering sibuk mengejar prestasi, memenuhi ekspektasi orang lain, haus akan validasi atau sekadar bertahan dari tekanan sehari-hari, hingga lupa menanyakan hal yang paling mendasar: “Siapakah saya?” Pertanyaan sederhana namun mendalam ini sering kali […]

  • MAXI SENO: SEORANG IMAM SVD YANG JUJUR, TULUS DAN PENUH TELADAN

    MAXI SENO: SEORANG IMAM SVD YANG JUJUR, TULUS DAN PENUH TELADAN

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Aurelio Morghan
    • visibility 218
    • 0Komentar

    Oleh: Aurelio Morghan, SVD TUAN MAXI DI MATA SAYA Entah kenapa semalam saya tak bisa tidur. Bolak-balik, tutup mata tapi tetap tak bisa nyenyak. Saya sedikit gelisah. Tapi saya pikir ini efek karena saya bekerja lama di depan komputer. Ternyata Sabtu pagi waktu saya bangun, pesan dari beberapa umat Waibalun membuat saya harus menangis di […]

  • Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 220
    • 2Komentar

    Oleh: Marselus Natar (Rohaniawan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis novel berjudul: Janji Yang Kian Koyak dan Terkoyaklah, dan antologi cerpen berjudul: Usaha Membunuh Tuhan) Setiap cinta selalu punya cerita tentang bagaimana ia dimulai. Ada yang tumbuh dari pertemuan sederhana, dari percakapan singkat, dari perhatian kecil yang perlahan berubah menjadi rasa yang sulit […]

  • Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 122
    • 0Komentar

    8 Juni 2026 akan menjadi salah satu tanggal yang layak dikenang dalam perjalanan pendidikan di Boawae. Sore itu, Kotagoa Sport Area tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya pertandingan. Lapangan itu berubah menjadi panggung harapan, tempat lahirnya keberanian, kerja keras, dan mimpi-mimpi besar anak-anak. Sebanyak 27 tim dari berbagai Sekolah Dasar siap bertarung dalam cabang olahraga voli […]

  • Masalah Pasti Datang, Tetap Tegang

    Masalah Pasti Datang, Tetap Tegang

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Hidup adalah perjalanan panjang yang penuh dengan kejutan. Ada masa di mana kita merasa dunia begitu ramah, memberi ruang lega untuk bernapas. Namun, ada pula saat di mana masalah datang bertubi-tubi, membuat langkah terasa berat dan hati dipenuhi rasa khawatir. Dalam situasi seperti itu, mudah sekali bagi kita untuk merasa tegang, panik, bahkan kehilangan kendali. […]

  • Sudut Pandang: 𝗔𝗞𝗨 𝗕𝗘𝗕𝗢

    Sudut Pandang: 𝗔𝗞𝗨 𝗕𝗘𝗕𝗢

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Selo Lamatapo
    • visibility 216
    • 0Komentar

    1/ Hari Rabu. Detukeli berkabut dan dingin. Angin bergerak lambat. Jarum jam dinding di ruang makan bergerak menuju pukul 07.30 pagi. Saya sedang meneguk segelas susu di ruang makan ketika pintu depan diketuk dan disusul teriakan ‘selamat pagi.’ Dari dalam ruangan itu, saya membalas ‘halo’, lalu melangkah mendekati pintu. “𝘌𝘮𝘢 𝘛𝘶𝘢 (Pater), selamat pagi.” Mama […]

expand_less