Sudut Pandang: Di Balik Deru Motor Pagi, Ada Lelaki yang Menitipkan Mimpi
- account_circle Linus Cahya Firmandika Damaris
- calendar_month Senin, 21 Sep 2026
- visibility 26
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Linus Cahya Firmandika Damaris
Catatan tentang seorang guru yang pulang sebagai ayah
Setiap pagi, sebelum rumah mulai ramai dengan aktivitas, biasanya saya sudah mendengar suara motor ayah. Suara itu sudah menjadi bagian dari keseharian saya sejak kecil. Setelah bersiap, ayah akan berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motornya. Di sekolah, ia menjalankan tugasnya sebagai seorang guru. Setelah selesai mengajar dan menyelesaikan pekerjaannya, ia akan pulang dan kembali menjalankan perannya sebagai seorang ayah. Kalau dilihat sekilas, kegiatan tersebut mungkin terlihat biasa saja. Bangun pagi, bersiap, pergi bekerja, lalu pulang. Namun, bagi saya, ada banyak hal yang sebenarnya terjadi di balik rutinitas tersebut. Ayah tidak hanya datang ke sekolah untuk mengajar. Ia juga harus membuat modul dan menyiapkan soal untuk para siswanya. Pekerjaannya sebagai guru tidak selalu selesai ketika kegiatan belajar mengajar berakhir. Setelah itu, masih ada keluarga yang menunggunya di rumah.
Sebelum berangkat ke sekolah, ayah juga biasanya membantu ibu memasak dan membangunkan anak-anaknya. Ia berusaha memastikan kebutuhan keluarga sudah dipersiapkan sebelum dirinya berangkat bekerja. Rutinitas seperti itu sudah menjadi bagian dari kehidupan ayah yang saya lihat hampir setiap hari.
Seorang Guru yang Tegas dan Berwibawa
Ayah saya adalah seorang guru sekolah dasar. Dalam menjalankan pekerjaannya, ia dikenal sebagai orang yang tegas dan disiplin. Sikap tersebut juga terlihat ketika ia berada di rumah. Sejak kecil, saya dan kedua kakak saya sudah terbiasa dengan sikap ayah yang cukup keras. Ada aturan yang harus kami ikuti dan ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan sesuka hati.
Dulu, saya tidak selalu memahami sikap ayah. Sebagai anak, terkadang saya hanya melihatnya sebagai sosok yang terlalu tegas. Ketika melakukan kesalahan dan mendapat teguran, tentu saja saya pernah merasa kesal atau kecewa. Namun, semakin saya bertambah dewasa, saya mulai memahami bahwa ketegasan ayah sebenarnya merupakan salah satu caranya untuk mendidik kami. Ia ingin anak-anaknya belajar bertanggung jawab. Ia juga ingin kami mengerti bahwa setiap tindakan yang dilakukan pasti memiliki akibat. Meskipun cara ayah terkadang terasa keras, sekarang saya mulai memahami bahwa ada maksud baik di balik sikap tersebut.
Sikap yang sama juga terlihat ketika ayah berada di sekolah. Ia tidak hanya datang, mengajar, kemudian pulang. Ada modul yang harus dibuat, soal yang harus disiapkan, dan siswa yang harus diperhatikannya. Ayah memiliki keinginan agar siswa-siswanya bisa berhasil di kemudian hari. Bagi ayah, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan. Ada tanggung jawab untuk mendidik anak-anak yang dipercayakan kepadanya.
Keras kepada Anak, Peduli kepada Orang Lain
Meskipun cukup tegas kepada anak-anaknya, ayah sebenarnya memiliki rasa empati yang besar terhadap orang lain. Hal tersebut membuat saya melihat ayah dari sisi yang berbeda. Di rumah, ia bisa sangat tegas. Namun, ketika melihat orang lain mengalami kesulitan, ia juga bisa menunjukkan kepedulian. Dari situ saya mulai memahami bahwa seseorang tidak bisa dinilai hanya dari satu sisi.
Ayah memang keras dalam mendidik kami. Namun, di balik sikap tersebut, ada kepedulian yang besar. Ia ingin anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bisa bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Ayah juga bukan tipe orang yang sering menunjukkan rasa sayang melalui kata-kata. Ia lebih banyak menunjukkannya melalui tindakan. Ia bangun pagi untuk keluarganya. Ia membantu ibu. Ia pergi mengajar. Ia menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Setelah itu, ia tetap menjalankan tanggung jawabnya di rumah. Semua itu ia lakukan tanpa banyak mengeluh.
Tanggung Jawab Seorang Ayah
Menjadi guru sekaligus kepala keluarga bukanlah tanggung jawab yang ringan. Di sekolah, ayah bertanggung jawab terhadap siswa-siswanya. Di rumah, ia bertanggung jawab terhadap keluarganya. Kedua tanggung jawab tersebut harus ia jalankan setiap hari. Pekerjaan sebagai guru juga tidak berhenti ketika jam mengajar selesai. Membuat modul dan soal merupakan pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Namun, saya jarang mendengar ayah mengeluhkan pekerjaannya. Ia tetap berangkat setiap pagi, mengajar, mengerjakan tugas-tugasnya, lalu pulang dan kembali menjalankan perannya sebagai seorang ayah.
Sebagai anak, saya mungkin tidak selalu menyadari seberapa lelah dirinya. Saya lebih sering melihat semuanya berjalan seperti biasa. Namun, semakin saya memahami kehidupan orang dewasa, saya mulai menyadari bahwa menjalani rutinitas tersebut setiap hari tentu membutuhkan tenaga dan tanggung jawab yang besar. Ada banyak hal yang harus dilakukan, tetapi ayah tetap menjalankannya.
Penghasilan ayah sebagai seorang guru memang tidak besar. Namun, dari penghasilan tersebut, ia tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya. Bagi saya, hal tersebut merupakan salah satu bentuk perjuangan ayah yang paling saya rasakan. Ia mungkin tidak bisa memberikan semua yang kami inginkan, tetapi ia selalu berusaha memberikan apa yang kami butuhkan, terutama dalam hal pendidikan. Saya dan kedua kakak saya bisa terus bersekolah karena ada usaha dari ayah dan ibu. Ada banyak kebutuhan yang harus dipikirkan, biaya pendidikan yang harus dipenuhi, serta masa depan anak-anak yang harus dipersiapkan.
Ayah menjalankan semuanya sesuai dengan kemampuannya. Dari situ saya mulai memahami bahwa perjuangan orang tua tidak selalu terlihat dalam bentuk sesuatu yang besar. Terkadang, perjuangan justru terlihat dari hal-hal sederhana yang dilakukan terus-menerus setiap hari.
Di balik semua pekerjaan dan tanggung jawab yang dijalani ayah, tentu ada harapan yang ia miliki untuk anak-anaknya. Saya pernah bertanya kepada ayah tentang apa yang sebenarnya ia harapkan dari anak-anaknya. Jawabannya cukup membuat saya berpikir.
Ayah berharap kami memiliki masa depan dan tujuan masing-masing. Ia tidak pernah mengharuskan kami untuk menjadi seperti dirinya. Justru, ia ingin kami bisa menentukan pilihan sendiri dan memiliki pekerjaan serta kehidupan yang sesuai dengan tujuan kami. Bagi ayah, keberhasilan anak tidak harus ditentukan dari profesi yang sama dengannya. Ia ingin anak-anaknya memiliki jalan masing-masing. Namun, meskipun ayah tidak pernah memaksa kami mengikuti profesinya, ia tetap merasa senang ketika ada anaknya yang memilih jalan yang sama dengannya.
Puji Tuhan, anak pertama mengikuti jejak ayah dengan menjadi seorang guru. Anak kedua memilih jalan yang berbeda dengan menjadi barista di sebuah kafe. Sementara saya sendiri masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Saat ini saya masih mempersiapkan diri untuk masa depan. Saya juga memiliki keinginan untuk mengikuti jejak ayah dan menjadi seorang guru di kemudian hari. Keinginan tersebut bukan karena ayah memaksa saya untuk menjadi guru. Justru sebaliknya, ayah memberikan kebebasan kepada kami untuk memilih jalan masing-masing. Saya ingin menjadi guru karena selama ini saya melihat sendiri bagaimana ayah menjalani profesinya. Saya melihat bagaimana ia mendidik siswa, membuat modul, menyiapkan soal, dan tetap menjalankan pekerjaannya meskipun di rumah masih memiliki banyak tanggung jawab. Dari situlah keinginan saya untuk menjadi guru mulai tumbuh.
Doa yang Tidak Selalu Kami Dengar
Selain melalui pekerjaannya, harapan ayah kepada anak-anaknya juga terlihat dari doa-doanya. Setiap malam, ayah selalu mendoakan anak-anaknya agar bisa sukses di kemudian hari. Kami mungkin tidak selalu mendengar apa yang ia doakan. Namun, kami tahu bahwa ada harapan yang selalu ia sampaikan kepada Tuhan untuk kami. Sebagai anak, hal tersebut membuat saya dan kedua kakak saya ingin berusaha semaksimal mungkin.
Kami ingin membanggakan ayah.
Kami tidak ingin mengecewakannya.
Bukan karena kami takut kepada ayah, tetapi karena kami tahu ada banyak hal yang sudah ia lakukan untuk kami. Ada perjuangan yang mungkin dulu tidak kami sadari dan ada pengorbanan yang baru bisa kami pahami setelah semakin dewasa. Sekarang, ayah bisa melihat anak-anaknya mulai memiliki jalan masing-masing.
Semakin dewasa, saya semakin menyadari bahwa pekerjaan ayah sebagai guru ternyata memberikan pelajaran yang lebih dari sekadar tentang profesi. Tanpa sadar, ia juga mengajarkan saya tentang tanggung jawab. Saya belajar dari kebiasaannya bangun pagi, membantu ibu, pergi bekerja, dan menyelesaikan tugas-tugasnya. Saya belajar dari sikap tegasnya bahwa kedisiplinan penting dalam kehidupan. Saya juga belajar dari kepeduliannya bahwa seseorang tetap harus memiliki rasa peduli kepada orang lain. Ayah mengajarkan banyak hal tersebut bukan melalui nasihat yang panjang, tetapi melalui apa yang ia lakukan setiap hari. Mungkin justru itulah pelajaran yang paling mudah saya ingat.
Di sekolah, ayah mengajarkan berbagai pelajaran kepada murid-muridnya. Sementara di rumah, ia mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Ia tidak pernah meminta kami menjadi sama seperti dirinya. Ia hanya ingin kami memiliki tujuan dan masa depan sendiri. Namun, dari semua yang ia lakukan selama ini, tanpa pernah memaksa, ia justru membuat salah satu anaknya ingin mengikuti jejaknya.
Di Balik Deru Motor Pagi
Sekarang, ketika mendengar suara motor ayah setiap pagi, saya tidak lagi menganggapnya sebagai suara biasa. Dulu, suara tersebut hanya menjadi tanda bahwa ayah akan pergi bekerja. Sekarang, saya melihatnya sebagai bagian dari perjuangan seorang ayah untuk keluarganya. Di atas motor itu, ayah berangkat sebagai seorang guru. Ia pergi untuk mengajar dan mendidik anak-anak orang lain, sambil tetap memikirkan masa depan anak-anaknya sendiri. Ketika pulang, ia kembali menjadi seorang ayah yang masih memiliki tanggung jawab untuk keluarganya. Saya tidak tahu sampai kapan suara motor itu akan terus terdengar setiap pagi. Suatu saat nanti, mungkin ayah tidak lagi pergi ke sekolah seperti sekarang. Akan ada waktunya ia berhenti mengajar dan memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga. Namun, apa yang sudah ia ajarkan kepada kami tidak akan berhenti hanya karena pekerjaannya sebagai guru selesai. Bagi saya, ayah bukan hanya seorang guru di sekolah. Ia juga menjadi guru dalam kehidupan kami. Dari ayah, saya belajar bahwa keberhasilan tidak harus memiliki bentuk yang sama. Setiap orang boleh memiliki pilihan dan jalan hidupnya sendiri. Dan mungkin, tanpa pernah memaksakan apa pun kepada saya, perjalanan ayah sebagai seorang guru justru membuat saya ingin mengikuti jejaknya. Selama suara motor itu masih terdengar setiap pagi, ayah akan terus berangkat menjalankan tugasnya.
Ada seorang guru di atas motor itu.
Ada seorang ayah yang sedang berjuang.
Dan ada doa yang setiap malam ia titipkan untuk anak-anaknya agar kami bisa sukses, memiliki masa depan sendiri, dan mampu menjalani jalan yang telah kami pilih.
Setelah Pensiun, Ayah Menjadi Petani
Setelah berprofesi sebagai guru, ayah pensiun dan melanjutkan hidupnya sebagai petani biasa di ladang. Ayah bukan petani sawah, melainkan petani penghasil buah, sayur, dan berbagai hasil kebun lainnya. Di masa itu, ayah masih membiayai saya dalam perkuliahan ya meskipun tidak banyak, tetapi ayah tetap berusaha untuk anaknya. Berbeda dengan ketika menjadi guru yang berangkat pagi dan pulang siang, sebagai petani biasa ayah berangkat pagi dan baru pulang sore. Semua itu ia lakukan demi sayur dan buah yang akan diperjualbelikan kepada masyarakat.
Saya sangat bangga memiliki seorang ayah yang kasih sayangnya kepada anak begitu besar. Terima kasih, Ayah.
- Penulis: Linus Cahya Firmandika Damaris
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar