Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Jomlo Bukan Aib, yang Aib Itu Memaksa Semua Orang Hidup dengan Cara yang Sama

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
  • visibility 76
  • comment 3 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada satu pertanyaan yang diam-diam sering berkeliaran di kepala saya.

Mengapa menjadi jomlo terasa seperti sedang memikul dosa yang tidak pernah dilakukan?

Entah sejak kapan masyarakat menyepakati sebuah aturan tak tertulis bahwa seseorang dianggap “terlambat” ketika belum memiliki pasangan. Setiap pesta keluarga berubah menjadi ruang interogasi. Setiap reuni terasa seperti sidang terbuka. Bahkan, senyum yang seharusnya menjadi sapaan sering berubah menjadi pisau yang dibungkus candaan.

“Kapan nikah?”
“Masih sendiri?”
“Jangan terlalu pilih-pilih.”

Kalimat-kalimat itu terdengar ringan bagi yang mengucapkannya. Padahal, bagi sebagian orang, ia jatuh seperti tetes air yang terus-menerus menimpa batu. Bukan karena sekali ucap langsung melukai, tetapi karena terus diulang hingga perlahan mengikis ketenangan.

Lucunya, masyarakat begitu sibuk mencemaskan orang yang masih sendiri, tetapi sering lupa bertanya kabar kepada mereka yang setiap hari menangis dalam hubungan yang katanya bahagia.

Kita hidup di zaman ketika foto prewedding lebih sering dipamerkan daripada proses saling memahami. Ketika cincin dianggap lebih penting daripada komitmen. Ketika status hubungan lebih dipuji daripada kualitas hubungan itu sendiri.

Seolah-olah hidup hanyalah perlombaan menuju pelaminan.

Padahal, pelaminan bukan garis finis. Ia justru pintu masuk menuju perjalanan yang jauh lebih panjang.

Tidak semua yang berjalan berdua sedang menuju kebahagiaan. Ada yang berjalan sambil memikul luka. Ada yang setiap malam tidur di samping seseorang yang tak lagi menjadi rumah. Ada yang harus menyembunyikan lebam di balik lengan baju panjang, menyembunyikan tangis di balik senyum yang dipaksa tetap ramah kepada tetangga.

Ada pula yang kehilangan dirinya sendiri karena terlalu sibuk menjadi versi yang diinginkan pasangannya.

Ironisnya, mereka jarang disebut gagal.

Sebaliknya, orang yang memilih menunggu justru lebih sering dianggap bermasalah.

Padahal, menunggu bukan berarti tidak laku. Menunggu bisa jadi adalah bentuk penghormatan paling tinggi terhadap hidup. Sebab tidak semua pintu harus dibuka hanya karena sedang kesepian. Tidak semua tangan harus digenggam hanya karena takut berjalan sendirian.

Ada musim ketika pohon tidak berbunga. Bukan karena ia mati, melainkan karena seluruh tenaganya sedang bekerja di akar. Dari luar memang tampak sunyi. Namun, di dalam tanah, kehidupan sedang disiapkan.

Begitulah sebagian orang yang masih sendiri.

Mereka sedang memperdalam akar.

Sedang berdamai dengan masa lalu. Sedang membangun mimpi. Sedang merawat orang tua. Sedang mengejar pendidikan. Sedang menyusun karier. Sedang belajar mencintai dirinya sendiri agar kelak tidak meminta orang lain menambal semua kekosongan yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya.

Kesendirian sering disalahpahami sebagai kehampaan. Padahal, kesendirian bisa menjadi ruang paling subur bagi pertumbuhan. Justru yang patut dikhawatirkan adalah hubungan yang memaksa seseorang berhenti menjadi dirinya sendiri. Hubungan yang menganggap cinta sebagai hak untuk mengendalikan. Hubungan yang menjadikan kekerasan sebagai bahasa, kecemburuan sebagai bukti kasih sayang, dan luka sebagai harga yang harus dibayar demi tetap bersama.

Tidak sedikit orang bertahan hanya karena takut menyandang status “sendiri”. Seolah-olah masyarakat lebih memaafkan hubungan yang penuh penderitaan daripada seseorang yang memilih menjaga kedamaian hidupnya.

Barangkali, kita memang terlalu lama memuja kebersamaan, sampai lupa bahwa tidak semua kesendirian adalah kesepian, dan tidak semua kebersamaan menghadirkan ketenangan.

Jomlo bukanlah aib.

Aib yang sesungguhnya adalah ketika kita merasa berhak menentukan jalan hidup orang lain. Ketika kita mengukur kebahagiaan hanya dari ada atau tidaknya cincin di jari manis. Ketika kita lebih percaya pada status hubungan daripada kesehatan jiwa seseorang.

Sebab hidup bukan soal siapa yang paling cepat menemukan pasangan.

Hidup adalah tentang menemukan diri sendiri terlebih dahulu.

Karena seseorang yang tidak selesai dengan dirinya akan menjadikan cinta sebagai tongkat penyangga. Sementara seseorang yang telah selesai berdamai dengan dirinya akan menjadikan cinta sebagai ruang untuk bertumbuh, bukan tempat saling menyandera.

Maka, jika hari ini masih sendiri, jangan buru-buru merasa tertinggal.

Bunga tidak pernah iri kepada hujan yang datang lebih dulu. Laut tidak pernah memaksa matahari terbit lebih cepat. Bahkan fajar pun selalu menunggu malam benar-benar selesai sebelum memperlihatkan cahayanya.

Barangkali hidup memang bekerja seperti itu.

Ia tidak pernah terlambat. Ia hanya tidak tunduk pada jadwal yang dibuat oleh manusia.

Sebab pada akhirnya, yang akan ditanyakan oleh hidup bukanlah, “Seberapa cepat kamu menemukan pasangan?”

Melainkan, “Apakah ketika akhirnya berjalan bersama seseorang, kamu tetap menjadi dirimu sendiri, atau justru kehilangan seluruh arah hanya agar tidak berjalan sendirian?”

Karena berjalan sendiri mungkin terasa sepi. Tetapi berjalan bersama orang yang salah sering kali jauh lebih sunyi.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Fian NΒ selain suka menulis juga suka membaca. Sejak 2018-sekarang sudah menerbitkan beberapa buku puisi dan pengembangan diri. Tahun 2020-sekarang menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (3)

  • Miaclara

    Terimakasih untuk tulisan ini Kaka.
    Entah kenapa kalau beraktivitas sendirian tanpa pasangan menjadi bahan pembicaraan orangΒ². Padahal Jomblo atau memilih hidup sendiri bukanlah sebuah dosa yang akan dihapus jika punya pasangan. Dunia sekarang yang sudah serba apa – apa viral banyak mempertontonkan hal hal buruk dari orang yang sudah hidup bersama. Perselingkuhan, kekerasan, penghianatan dan Masih banyak lagi hal hal yang sangat menakutkan terjadi ketika memilih untuk bersama pasangan. Kadang bukan hanya orang yang sudah mengalami hal hal tersebut yang trauma, bahkan ada juga orang yang hanya mengamati saja sudah trauma takut deluan dan memilih untuk menyendiri.
    Biarkan kita memilih sendiri dengan lebih cermat dalam hal pasangan, agar hidup bersama benar benar didasari cinta kasih dan benar benar hidup bersama bukan nanti tinggal bersama..

    Balas2 Juli 2026 4:50 pm
    • Mataleza

      Peluklah setiap pilihan dengan penuh kasih. Apa pun itu tetap disyukuri. Jangan dengarkan kata orang jika itu menyakitkan. Belajarlah untuk berkata “tidak” kepada merka yang tidak memberikan andil apa pun dalam kehidupan kita.Terus tumbuh dengan sungguh.

      Balas3 Juli 2026 1:28 am
  • Mariana Liska

    Tulisannya keren kak.. πŸ‘πŸ»β€οΈ

    Banyak orang memaksa setiap orang mengikuti standar mereka dan mengukur kebahagiaan dari “punya pasangan atau tidak”. Padahal, memilih sendiri itu pun adalah sebuah langkah untuk bertumbuh lebih baik, menyiapkan segala hal dengan baik, memperdalam semua sisi dengan baik, sehingga ketika tiba pada waktunya memang kita akan menemukan orang yang tepat ~ yang sepadan, kita memang udah siap ada di tahap itu. Bukan karena paksaan, tetapi karena hati kita sudah terbuka dan diri kita sudah benarΒ² mantap dalam pilihan itu..

    Memiliki pasangan kan bukan hanya asal ada dan membangun hubungan bukan sekadar membangun, tetapi motivasi dan tujuan di dalamnya juga harus ada. ✨️

    Balas2 Juli 2026 11:45 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • NADIEM: Siapa yang Order?

    NADIEM: Siapa yang Order?

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Nury Sybli
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Rabu, 13 Mei 2026. Pengadilan Tipikor Jakarta berubah jadi panggung absurditas hukum. Mantan Mendikbudristek, dituntut 18 tahun penjara, denda Rp.1 miliar, plus uang pengganti Rp5,6 triliun subsider 9 tahun kurungan. Kalau ditotal, hukumannya seperti ingin mengubur seseorang hidup-hidup: 27,5 tahun. β€œIni adalah hari yang sangat, sangat, sangat mengecewakan,” kata Nadiem seusai sidang. Dan memang, siapa […]

  • Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 87
    • 0Komentar

    8 Juni 2026 akan menjadi salah satu tanggal yang layak dikenang dalam perjalanan pendidikan di Boawae. Sore itu, Kotagoa Sport Area tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya pertandingan. Lapangan itu berubah menjadi panggung harapan, tempat lahirnya keberanian, kerja keras, dan mimpi-mimpi besar anak-anak. Sebanyak 27 tim dari berbagai Sekolah Dasar siap bertarung dalam cabang olahraga voli […]

  • Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Hari ini adalah hari yang membahagiakan sekaligus mengharukan. Dengan penuh rasa syukur, saya mengucapkan selamat kepada 207 cucu-cucuku yang cantik dan ganteng, Angkatan ke-72 SMPSK Kotagoa Boawae, yang hari ini dinyatakan lulus. Angka 207 ini terasa istimewa. Jika angka nol di tengah dihilangkan, lalu posisi angka 2 dan 7 ditukar, maka akan menjadi 72, sama […]

  • Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Roy Wujon
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Oleh: Roy Wujon Mahasiswa IFTK Ledalero Dalam sistem negara demokrasi seperti Indonesia, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers merupakan pilar penting yang patut dihargai. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kecenderungan pembatasan kritik publik melalui media, baik media massa konvensional maupun platform digital. Pembatasan tersebut sering kali dilakukan dengan dalih menjaga stabilitas, mencegah hoaks, atau melindungi […]

  • Sudut Pandang: Larangan Nobar Pesta Babi dan Perebutan Makna Teknologi di Era Digital: Perspektif Teori Strukturasi Adaptif

    Sudut Pandang: Larangan Nobar Pesta Babi dan Perebutan Makna Teknologi di Era Digital: Perspektif Teori Strukturasi Adaptif

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Wima Wimastha
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Oleh: Frater Wima Wimastha adalah Frater tingkat III di Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret, keuskupan Agung Ende dan mahasiswa semester 6 di Institute Filsafat katolik dan Kreatif ledalero(IFTK). Β  Di era digital, informasi tidak lagi bergerak seperti arus sungai yang tenang dan searah. Ia menyerupai ombak yang terus memecah, berbalik, dan membentuk pantai-pantai baru […]

  • Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 231
    • 0Komentar

    Boawae, 2 Juni 2026– Suasana penuh haru dan syukur mewarnai acara pengumuman kelulusan siswa kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan orang tua siswa menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada pihak sekolah atas keberhasilan anak-anak mereka menyelesaikan pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Pertama. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa sekolah tidak hanya menjadi […]

expand_less