Breaking News
light_mode
Trending Tags

Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

  • account_circle Sella Suhardi
  • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
  • visibility 341
  • comment 5 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Duka Pernikahan (I)

Aku pernah, pernah sekali mencintaimu

Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar

Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar

 

Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam

Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam

Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan

Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap

 

Kini aku hidup bersama kenangan

Mengumpulkan serpihan hati dan

Sibuk menyulamnya kembali pada ujung usia kita

 

Benar, aku sendiri bersama senja yang pernah kau kenalkan

dan dua butir mutiara yang kau suguhkan selepas janji suci itu.

Merauke, 4 Desember 2018

 

Duka Pernikahan (II)

Rindu yang terus memercik

Dan langkahmu yang semakin jauh

 

Aku yang gugup dan bibir yang kaku

Menahan kenangan ini pergi berlalu

Berkali-kali kusangkal kesedihan yang datang

Lalu menyebut hati yang patah ini sebagai bahagia yang jalang

Memang benar yang tuan katakan

Masa lalu selalu punya caranya sendiri

Sekadar menarik kau pada suatu rasa bernama rindu

Dan kemudian mutiara ini akan kubawa pergi.

Merauke, 7 Desember 2018

 

Aku, Kau dan Hujan

Aku,

Mata ini tak mampu menjangkaumu

Malamku tak seredup itu hingga kaupun berlalu

 

Kau,

Berlalu begitu saja, aku, kau tinggalkan seorang diri

Derap langkah yang kian syahdu, kau pun jauh.

 

Hujan,

Beberapa tetes pecah pada kelopak mataku

Untuk kesekiankalinya aku dialiri rindu yang begitu deras

Hujan ini mengutuk aku pada malam tanpamu

Banjiri hatiku dengan rindu padamu.

 

Aku, Kau dan Hujan

Aku masih di sini, di jendela ini

Kau terus berlalu pada jalan-jalanmu

Hujan terus menderas, tumpahkan rindu pada malamku

Dan aku, kau, tak lagi bersua pada hujan malam ini.

Merauke, April 2018

 

Kembali

Kau belum jauh

Belum banyak langkah yang percuma

Pagimu baru beranak mentari

Embun pada daunmu ingin kau kembali.

 

Tungku dapur baru dinyalakan

Kau tak perlu tergesa pergi.

 

Ini masih subuh

Sekacu cita baru dikemas,

Ada wasiat yang harus kau dengar

Agar pedih perih tak banjiri hatimu.

 

Kau harus kembali

Dan kita akan berbincang

Tentang dunia yang tak selalu manis

 

Secangkirku memang tak menarik,

Pahit getirnya menggelikan harimu:

Tetapi kau hanya perlu memilih

Teguk hitamku atau pergi bersama dahagamu.

Merauke, 25 April 2018

 

Tertanda Lukamu

Teruntuk kau yang tak bisa kusebut namamu

Aku adalah kesunyian yang enggan kau kunjungi

Dalam setiap kilap kemilau, aku adalah noda hitam bayanganmu

 

Kita adalah jiwa-jiwa yang kosong

Memelihara keegoisan, kita telah rela melepaskan.

Hati yang gunda telah terlukis indah pada raut wajah penuh seluruh

 

Aku inikah yang kau sebut kebencian hingga tak kembali?

 

Jika mencintaimu adalah suatu kesalahan

Maka pergilah dengan langkah bersih tanpa sebercak kenangan

Bebaskan aku dari satu kata pisah,

Bukan diam dan menghilang.

Merauke, 12 Juli 2019

 

Kiasan Cinta

Pagi dan malam terus berganti

Tak ada yang abadi

Dahan-dahan ditingkap

Lorong-lorong menyepi

 

Sementara ia,

Menertawakan luka hatimu.

Begitulah cinta,

Memeluk erat kaktus, kau yang berdarah.

Merauke, Agustus 2019

 

Senja

Meredup petang

Hariku hampir usai

Langit menelan separuh mataku dan haripun berlalu

Tak ada pesan selepas senja

 

Aku masih saja bingung dan kau tetap memilih diam

Sekarang sudah seperempat hari dan kita masih tak saling melirik

Merakit hati yang kian lelap pada malam yang sendu

 

Aku masih di sini

Seruput habis dinginnya malam,

membalut luka-luka yang tak kunjung pulih

 

Aku tahu kau tak peduli, pun aku masih tetap di sini

Menanti pagi dengan sejuta harap yang enggan kau semogakan.

Merauke, 15 Juli 2019

 

Suatu Hari

Suatu hari nanti

Akan ada satu dua kenangan

Yang mencengkram hatimu

 

Suatu hari nanti kau merasa rindu tetapi enggan bertemu

Sangat lihai kau sembunyikan rindu itu rapat-rapat di balik lidahmu

 

Suatu hari nanti pada sebuah kertas merah

Kau menulis namanya

Mengukir mawar merah di sampingnya

Lalu teteskan air mata.

Merauke, Suatu Hari di 2019

 

Kita yang Telah Usai

Aku menemukan huruf-huruf pada namamu

Menggantung pada tiap sisi duri mawar itu.

 

Menghitam legam

Menusuk langit malam,

Menggenggam erat enggan lepas

Tak berdarah tetapi hitamnya, kelam.

 

Perihal hati,

Aku melukisnya dengan tinta hitam dan tangan lebam

Oleh sebuah kenyataan.

Merauke, Tengah malam di 2019

 

Sella Suhardi, berasal dari Manggarai, sering menulis puisi tetapi juga sering menghilang. namun percaya bahwa puisi adalah jalan pulang menuju kata-kata untuk merawat yang hilang. Saat ini menetap di Merauke.

 

  • Penulis: Sella Suhardi
  • Editor: Fian N

Komentar (5)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Pasti Salah Hitung, Masa’ Koperasi Merah Putih Untungnya Cuma Rp78 Ribu

    Sudut Pandang: Pasti Salah Hitung, Masa’ Koperasi Merah Putih Untungnya Cuma Rp78 Ribu

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Oleh: Rosadi Jamani Ketua Satu Pena Kalbar   Lupakan kekalahan Mesir atas Argentina 3-2. Untung menghibur diri, baca cerita Koperasi Merah Putih yang digadang-gadang bisa mensejahterakan rakyat, ternyata untungnya cuma Rp78 ribu. Ah, yang benar, Bang. Salah hitung kali tu? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Koperasinya ada di Melawai Blok M, Jakarta Selatan. Lokasinya […]

  • Sudut Pandang: Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

    Sudut Pandang: Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Giorgio Babo Moggi
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Oleh: Giorgio Babo Moggi Kemenangan Argentina atas Swiss dengan skor 3-1 pada babak perempat final Piala Dunia 2026 menghadirkan satu kesimpulan penting. Tim asuhan Lionel Scaloni telah berevolusi menjadi kesebelasan yang mampu memenangkan pertandingan melalui kualitas kolektif, bukan lagi bertumpu sepenuhnya pada kecemerlangan Lionel Messi. Laga di Kansas City menjadi bukti bahwa sang juara bertahan […]

  • Sudut Pandang: Barape Sawa Dan Kehidupan Petani Bengkayang photo_camera 2

    Sudut Pandang: Barape Sawa Dan Kehidupan Petani Bengkayang

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Benedictus De Rode
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Pagi di Bengkayang selalu memiliki suasana tersendiri. Udara masih terasa sejuk, jalanan belum terlalu ramai, dan aktivitas masyarakat mulai terlihat satu per satu. Di tengah suasana tersebut, saya melihat bagaimana masyarakat menjalani aktivitas mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu aktivitas yang menarik perhatian saya adalah kehidupan masyarakat yang masih bergantung padasawah. Bagi saya, sawah […]

  • Kamu Sedang Membaca Sebuah Kitab Yang Tak Suci

    Kamu Sedang Membaca Sebuah Kitab Yang Tak Suci

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 294
    • 0Komentar

    Oleh: Fian N Judul: Sebuah Kitab Yang Tak Suci Penulis: Puthut EA Tebal: vi + 88 hlm Penerbit: Mojok Cetakan: IV, 2017 ISBN: 978-602-1318-57-7 Sudah lama tidak ada derit berirama dari ranjang-ranjang kami. Ya, bahkan kami lupa bagaimana berciuman dengan baik. (Seseorang di Sebuah Sudut) Sepuluh kumpulan cerita yang terangkum dalam Sebuah Kitab Yang Tak […]

  • Ruang Rasa: Pohon Mangga

    Ruang Rasa: Pohon Mangga

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 54
    • 0Komentar

    Saya belum berjalan lagi ke beberapa sawah yang dulu begitu akrab dengan masa kecil saya: Pomaboa, Lodo Au, Lodo Wawo, dan Balejawa. Entah sudah berapa lama saya tidak menyusuri jalan-jalan kecil itu. Jalan tanah yang dulu saya kenal tanpa perlu berpikir, pematang sawah yang bisa saya lewati dengan langkah-langkah kecil, dan sudut-sudut tempat kami biasa […]

  • Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 477
    • 2Komentar

    “Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.” Lima belas cerpen […]

expand_less