Breaking News
light_mode
Trending Tags

Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

  • account_circle Sella Suhardi
  • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
  • visibility 302
  • comment 5 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Duka Pernikahan (I)

Aku pernah, pernah sekali mencintaimu

Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar

Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar

 

Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam

Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam

Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan

Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap

 

Kini aku hidup bersama kenangan

Mengumpulkan serpihan hati dan

Sibuk menyulamnya kembali pada ujung usia kita

 

Benar, aku sendiri bersama senja yang pernah kau kenalkan

dan dua butir mutiara yang kau suguhkan selepas janji suci itu.

Merauke, 4 Desember 2018

 

Duka Pernikahan (II)

Rindu yang terus memercik

Dan langkahmu yang semakin jauh

 

Aku yang gugup dan bibir yang kaku

Menahan kenangan ini pergi berlalu

Berkali-kali kusangkal kesedihan yang datang

Lalu menyebut hati yang patah ini sebagai bahagia yang jalang

Memang benar yang tuan katakan

Masa lalu selalu punya caranya sendiri

Sekadar menarik kau pada suatu rasa bernama rindu

Dan kemudian mutiara ini akan kubawa pergi.

Merauke, 7 Desember 2018

 

Aku, Kau dan Hujan

Aku,

Mata ini tak mampu menjangkaumu

Malamku tak seredup itu hingga kaupun berlalu

 

Kau,

Berlalu begitu saja, aku, kau tinggalkan seorang diri

Derap langkah yang kian syahdu, kau pun jauh.

 

Hujan,

Beberapa tetes pecah pada kelopak mataku

Untuk kesekiankalinya aku dialiri rindu yang begitu deras

Hujan ini mengutuk aku pada malam tanpamu

Banjiri hatiku dengan rindu padamu.

 

Aku, Kau dan Hujan

Aku masih di sini, di jendela ini

Kau terus berlalu pada jalan-jalanmu

Hujan terus menderas, tumpahkan rindu pada malamku

Dan aku, kau, tak lagi bersua pada hujan malam ini.

Merauke, April 2018

 

Kembali

Kau belum jauh

Belum banyak langkah yang percuma

Pagimu baru beranak mentari

Embun pada daunmu ingin kau kembali.

 

Tungku dapur baru dinyalakan

Kau tak perlu tergesa pergi.

 

Ini masih subuh

Sekacu cita baru dikemas,

Ada wasiat yang harus kau dengar

Agar pedih perih tak banjiri hatimu.

 

Kau harus kembali

Dan kita akan berbincang

Tentang dunia yang tak selalu manis

 

Secangkirku memang tak menarik,

Pahit getirnya menggelikan harimu:

Tetapi kau hanya perlu memilih

Teguk hitamku atau pergi bersama dahagamu.

Merauke, 25 April 2018

 

Tertanda Lukamu

Teruntuk kau yang tak bisa kusebut namamu

Aku adalah kesunyian yang enggan kau kunjungi

Dalam setiap kilap kemilau, aku adalah noda hitam bayanganmu

 

Kita adalah jiwa-jiwa yang kosong

Memelihara keegoisan, kita telah rela melepaskan.

Hati yang gunda telah terlukis indah pada raut wajah penuh seluruh

 

Aku inikah yang kau sebut kebencian hingga tak kembali?

 

Jika mencintaimu adalah suatu kesalahan

Maka pergilah dengan langkah bersih tanpa sebercak kenangan

Bebaskan aku dari satu kata pisah,

Bukan diam dan menghilang.

Merauke, 12 Juli 2019

 

Kiasan Cinta

Pagi dan malam terus berganti

Tak ada yang abadi

Dahan-dahan ditingkap

Lorong-lorong menyepi

 

Sementara ia,

Menertawakan luka hatimu.

Begitulah cinta,

Memeluk erat kaktus, kau yang berdarah.

Merauke, Agustus 2019

 

Senja

Meredup petang

Hariku hampir usai

Langit menelan separuh mataku dan haripun berlalu

Tak ada pesan selepas senja

 

Aku masih saja bingung dan kau tetap memilih diam

Sekarang sudah seperempat hari dan kita masih tak saling melirik

Merakit hati yang kian lelap pada malam yang sendu

 

Aku masih di sini

Seruput habis dinginnya malam,

membalut luka-luka yang tak kunjung pulih

 

Aku tahu kau tak peduli, pun aku masih tetap di sini

Menanti pagi dengan sejuta harap yang enggan kau semogakan.

Merauke, 15 Juli 2019

 

Suatu Hari

Suatu hari nanti

Akan ada satu dua kenangan

Yang mencengkram hatimu

 

Suatu hari nanti kau merasa rindu tetapi enggan bertemu

Sangat lihai kau sembunyikan rindu itu rapat-rapat di balik lidahmu

 

Suatu hari nanti pada sebuah kertas merah

Kau menulis namanya

Mengukir mawar merah di sampingnya

Lalu teteskan air mata.

Merauke, Suatu Hari di 2019

 

Kita yang Telah Usai

Aku menemukan huruf-huruf pada namamu

Menggantung pada tiap sisi duri mawar itu.

 

Menghitam legam

Menusuk langit malam,

Menggenggam erat enggan lepas

Tak berdarah tetapi hitamnya, kelam.

 

Perihal hati,

Aku melukisnya dengan tinta hitam dan tangan lebam

Oleh sebuah kenyataan.

Merauke, Tengah malam di 2019

 

Sella Suhardi, berasal dari Manggarai, sering menulis puisi tetapi juga sering menghilang. namun percaya bahwa puisi adalah jalan pulang menuju kata-kata untuk merawat yang hilang. Saat ini menetap di Merauke.

 

  • Penulis: Sella Suhardi
  • Editor: Fian N

Komentar (5)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 333 Calon Siswa Baru Resmi Ikuti MPLS Ramah Anak, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae: “Kalian adalah Angkatan Bersejarah”

    333 Calon Siswa Baru Resmi Ikuti MPLS Ramah Anak, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae: “Kalian adalah Angkatan Bersejarah”

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Boawae, 14 Juli 2026 – Sebanyak 333 calon peserta didik baru resmi mengikuti Apel Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Anak Tahun Pelajaran 2026/2027 di SMPSK Kotagoa Boawae, Selasa (14/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi momen istimewa karena para peserta didik baru merupakan Angkatan ke-75, bertepatan dengan perayaan Pesta Intan (75 Tahun) SMPSK Kotagoa Boawae yang […]

  • PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 228
    • 3Komentar

    Permen edisi SENIN 5 PASKAH – 04 MEI 2026 – Katanya Sama Dengan Nyatanya Inspirasi: Kis 14:5-18 ; Yohanes 14:21-26 Penikmat permen yang berhikmat dalam Kristus. Mari pada hari ini kita mengalamatkan hati dan doa bagi para petugas pemadam kebakaran atas dedikasi mereka. Karena itu, hari ini dunia memberi perhatian khusus bagi mereka dengan merayakan […]

  • Sudut Pandang: Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

    Sudut Pandang: Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Yudi Latif
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Oleh: Yudi Latif Saudaraku, manusia suka menonton pertandingan olahraga, terutama sepak bola, karena di dalamnya orang bisa menemukan kehidupan yang dipadatkan dalam bentuk paling sederhana sekaligus paling intens. Dalam sembilan puluh menit tersaji ikhtiar dan kegagalan, harapan dan kecemasan, keteraturan dan kebetulan. Apa yang dalam hidup berlangsung bertahun-tahun, di lapangan hijau menjelma menjadi kisah yang […]

  • Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 437
    • 0Komentar

    Di tengah arus modernisasi dan pergeseran nilai-nilai tradisional, masyarakat Manggarai di Nusa Tenggara Timur masih mempertahankan sejumlah kearifan lokal yang sarat makna dan fungsi sosial. Salah satunya adalah konsep turuk empo, sebuah sistem genealogis yang menjadi penanda garis keturunan dalam masyarakat adat Manggarai. Konsep ini bukan sekadar alat penanda asal-usul, tetapi berperan besar dalam menjaga […]

  • MAXI SENO: SEORANG IMAM SVD YANG JUJUR, TULUS DAN PENUH TELADAN

    MAXI SENO: SEORANG IMAM SVD YANG JUJUR, TULUS DAN PENUH TELADAN

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Aurelio Morghan
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Oleh: Aurelio Morghan, SVD TUAN MAXI DI MATA SAYA Entah kenapa semalam saya tak bisa tidur. Bolak-balik, tutup mata tapi tetap tak bisa nyenyak. Saya sedikit gelisah. Tapi saya pikir ini efek karena saya bekerja lama di depan komputer. Ternyata Sabtu pagi waktu saya bangun, pesan dari beberapa umat Waibalun membuat saya harus menangis di […]

  • Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda. Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang […]

expand_less