Breaking News
light_mode
Trending Tags

Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

  • account_circle Sella Suhardi
  • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
  • visibility 219
  • comment 3 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Duka Pernikahan (I)

Aku pernah, pernah sekali mencintaimu

Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar

Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar

 

Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam

Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam

Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan

Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap

 

Kini aku hidup bersama kenangan

Mengumpulkan serpihan hati dan

Sibuk menyulamnya kembali pada ujung usia kita

 

Benar, aku sendiri bersama senja yang pernah kau kenalkan

dan dua butir mutiara yang kau suguhkan selepas janji suci itu.

Merauke, 4 Desember 2018

 

Duka Pernikahan (II)

Rindu yang terus memercik

Dan langkahmu yang semakin jauh

 

Aku yang gugup dan bibir yang kaku

Menahan kenangan ini pergi berlalu

Berkali-kali kusangkal kesedihan yang datang

Lalu menyebut hati yang patah ini sebagai bahagia yang jalang

Memang benar yang tuan katakan

Masa lalu selalu punya caranya sendiri

Sekadar menarik kau pada suatu rasa bernama rindu

Dan kemudian mutiara ini akan kubawa pergi.

Merauke, 7 Desember 2018

 

Aku, Kau dan Hujan

Aku,

Mata ini tak mampu menjangkaumu

Malamku tak seredup itu hingga kaupun berlalu

 

Kau,

Berlalu begitu saja, aku, kau tinggalkan seorang diri

Derap langkah yang kian syahdu, kau pun jauh.

 

Hujan,

Beberapa tetes pecah pada kelopak mataku

Untuk kesekiankalinya aku dialiri rindu yang begitu deras

Hujan ini mengutuk aku pada malam tanpamu

Banjiri hatiku dengan rindu padamu.

 

Aku, Kau dan Hujan

Aku masih di sini, di jendela ini

Kau terus berlalu pada jalan-jalanmu

Hujan terus menderas, tumpahkan rindu pada malamku

Dan aku, kau, tak lagi bersua pada hujan malam ini.

Merauke, April 2018

 

Kembali

Kau belum jauh

Belum banyak langkah yang percuma

Pagimu baru beranak mentari

Embun pada daunmu ingin kau kembali.

 

Tungku dapur baru dinyalakan

Kau tak perlu tergesa pergi.

 

Ini masih subuh

Sekacu cita baru dikemas,

Ada wasiat yang harus kau dengar

Agar pedih perih tak banjiri hatimu.

 

Kau harus kembali

Dan kita akan berbincang

Tentang dunia yang tak selalu manis

 

Secangkirku memang tak menarik,

Pahit getirnya menggelikan harimu:

Tetapi kau hanya perlu memilih

Teguk hitamku atau pergi bersama dahagamu.

Merauke, 25 April 2018

 

Tertanda Lukamu

Teruntuk kau yang tak bisa kusebut namamu

Aku adalah kesunyian yang enggan kau kunjungi

Dalam setiap kilap kemilau, aku adalah noda hitam bayanganmu

 

Kita adalah jiwa-jiwa yang kosong

Memelihara keegoisan, kita telah rela melepaskan.

Hati yang gunda telah terlukis indah pada raut wajah penuh seluruh

 

Aku inikah yang kau sebut kebencian hingga tak kembali?

 

Jika mencintaimu adalah suatu kesalahan

Maka pergilah dengan langkah bersih tanpa sebercak kenangan

Bebaskan aku dari satu kata pisah,

Bukan diam dan menghilang.

Merauke, 12 Juli 2019

 

Kiasan Cinta

Pagi dan malam terus berganti

Tak ada yang abadi

Dahan-dahan ditingkap

Lorong-lorong menyepi

 

Sementara ia,

Menertawakan luka hatimu.

Begitulah cinta,

Memeluk erat kaktus, kau yang berdarah.

Merauke, Agustus 2019

 

Senja

Meredup petang

Hariku hampir usai

Langit menelan separuh mataku dan haripun berlalu

Tak ada pesan selepas senja

 

Aku masih saja bingung dan kau tetap memilih diam

Sekarang sudah seperempat hari dan kita masih tak saling melirik

Merakit hati yang kian lelap pada malam yang sendu

 

Aku masih di sini

Seruput habis dinginnya malam,

membalut luka-luka yang tak kunjung pulih

 

Aku tahu kau tak peduli, pun aku masih tetap di sini

Menanti pagi dengan sejuta harap yang enggan kau semogakan.

Merauke, 15 Juli 2019

 

Suatu Hari

Suatu hari nanti

Akan ada satu dua kenangan

Yang mencengkram hatimu

 

Suatu hari nanti kau merasa rindu tetapi enggan bertemu

Sangat lihai kau sembunyikan rindu itu rapat-rapat di balik lidahmu

 

Suatu hari nanti pada sebuah kertas merah

Kau menulis namanya

Mengukir mawar merah di sampingnya

Lalu teteskan air mata.

Merauke, Suatu Hari di 2019

 

Kita yang Telah Usai

Aku menemukan huruf-huruf pada namamu

Menggantung pada tiap sisi duri mawar itu.

 

Menghitam legam

Menusuk langit malam,

Menggenggam erat enggan lepas

Tak berdarah tetapi hitamnya, kelam.

 

Perihal hati,

Aku melukisnya dengan tinta hitam dan tangan lebam

Oleh sebuah kenyataan.

Merauke, Tengah malam di 2019

 

Sella Suhardi, berasal dari Manggarai, sering menulis puisi tetapi juga sering menghilang. namun percaya bahwa puisi adalah jalan pulang menuju kata-kata untuk merawat yang hilang. Saat ini menetap di Merauke.

 

  • Penulis: Sella Suhardi
  • Editor: Fian N

Komentar (3)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Aku ingin pamerkan setiap aktivitasku, sejak subuh hingga petang. Supaya mereka tidak mempermainkanku soal waktu, membuatku menunggu, tanpa rasa bersalah, tanpa usaha untuk berbenah. (Ia dan Mereka yang Berisik) Saya membuka tulisan sederhana ini dengan mengutip sebuah pernyataan dalam buku yang berjudul Ambivert. Dan persis buku inlah yang akan saya ulas seringkas mungkin sesuai kapasitas […]

  • Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Yeremias Laba Lein
    • visibility 233
    • 4Komentar

    TAK INGIN SEDANGKAL ITU Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sedangkan mencintaimu saja aku harus menyelam sedalam-dalamnya lautan asmaramu, berenang seluas-luasnya samudra di hatimu, dan melewati pasang surutnya air matamu   Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sebab aku ingin berlayar sejauh mungkin di lautan asmaramu, menjala cinta dan kasih sayang sebanyak mungkin […]

  • Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 138
    • 0Komentar

    “Kamu galak seperti macan betina / Barangkali kamu akan gila / Tapi tak akan mati.” Sepenggal dialog tersebut menjadi pembuka yang menggugah dari pertunjukan Maria Zaitun yang dibawakan oleh Bengkel Seni Milenial (BSM), sebuah kelompok teater dari SMK Sura Dewa. Kelompok kecil ini secara konsisten menghidupkan ruang-ruang seni pertunjukan yang kerap sepi apresiasi. Namun, teater […]

  • SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 164
    • 0Komentar

    John Holt dalam bukunya yang berjudul, Mengapa Siswa gagal, menulis demikian: “Kita semua sepakat bahwa semua siswa harus berhasil, tetapi apakah kita memiliki pengertian yang sama mengenai keberhasilan itu? Saya sendiri berpendapat bahwa kesuksesan itu sebaiknya tidak diperoleh dengan gampang ataupun cepat dan mestinya tidak terjadi setiap saat. Sukses dalam pandanganku, menyiratkan keberhasilan seseorang mengulangi […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 350
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

  • KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mataleza
    • visibility 256
    • 0Komentar

    Begitu tenang, membaca sastra adalah menakar keikhlasan. Ikhlas menimbang keadaan berdasakan elemen bahasa yang harus dipahami melalui ruang analisis itu. Hal ini jelas terlihat dan terdengar, ketika orang-orang begitu tabah melipat bahasa sastra ke dalam ruang teduh yang selalu menguji pemahaman. Hal ini senada dengan hasil proses kreatif yang ditunjukkan penulis sastra dan sastrawan Nusa […]

expand_less