Breaking News
light_mode
Trending Tags

Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

  • account_circle Sella Suhardi
  • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
  • visibility 263
  • comment 5 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Duka Pernikahan (I)

Aku pernah, pernah sekali mencintaimu

Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar

Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar

 

Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam

Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam

Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan

Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap

 

Kini aku hidup bersama kenangan

Mengumpulkan serpihan hati dan

Sibuk menyulamnya kembali pada ujung usia kita

 

Benar, aku sendiri bersama senja yang pernah kau kenalkan

dan dua butir mutiara yang kau suguhkan selepas janji suci itu.

Merauke, 4 Desember 2018

 

Duka Pernikahan (II)

Rindu yang terus memercik

Dan langkahmu yang semakin jauh

 

Aku yang gugup dan bibir yang kaku

Menahan kenangan ini pergi berlalu

Berkali-kali kusangkal kesedihan yang datang

Lalu menyebut hati yang patah ini sebagai bahagia yang jalang

Memang benar yang tuan katakan

Masa lalu selalu punya caranya sendiri

Sekadar menarik kau pada suatu rasa bernama rindu

Dan kemudian mutiara ini akan kubawa pergi.

Merauke, 7 Desember 2018

 

Aku, Kau dan Hujan

Aku,

Mata ini tak mampu menjangkaumu

Malamku tak seredup itu hingga kaupun berlalu

 

Kau,

Berlalu begitu saja, aku, kau tinggalkan seorang diri

Derap langkah yang kian syahdu, kau pun jauh.

 

Hujan,

Beberapa tetes pecah pada kelopak mataku

Untuk kesekiankalinya aku dialiri rindu yang begitu deras

Hujan ini mengutuk aku pada malam tanpamu

Banjiri hatiku dengan rindu padamu.

 

Aku, Kau dan Hujan

Aku masih di sini, di jendela ini

Kau terus berlalu pada jalan-jalanmu

Hujan terus menderas, tumpahkan rindu pada malamku

Dan aku, kau, tak lagi bersua pada hujan malam ini.

Merauke, April 2018

Β 

Kembali

Kau belum jauh

Belum banyak langkah yang percuma

Pagimu baru beranak mentari

Embun pada daunmu ingin kau kembali.

 

Tungku dapur baru dinyalakan

Kau tak perlu tergesa pergi.

 

Ini masih subuh

Sekacu cita baru dikemas,

Ada wasiat yang harus kau dengar

Agar pedih perih tak banjiri hatimu.

 

Kau harus kembali

Dan kita akan berbincang

Tentang dunia yang tak selalu manis

 

Secangkirku memang tak menarik,

Pahit getirnya menggelikan harimu:

Tetapi kau hanya perlu memilih

Teguk hitamku atau pergi bersama dahagamu.

Merauke, 25 April 2018

 

Tertanda Lukamu

Teruntuk kau yang tak bisa kusebut namamu

Aku adalah kesunyian yang enggan kau kunjungi

Dalam setiap kilap kemilau, aku adalah noda hitam bayanganmu

 

Kita adalah jiwa-jiwa yang kosong

Memelihara keegoisan, kita telah rela melepaskan.

Hati yang gunda telah terlukis indah pada raut wajah penuh seluruh

Β 

Aku inikah yang kau sebut kebencian hingga tak kembali?

 

Jika mencintaimu adalah suatu kesalahan

Maka pergilah dengan langkah bersih tanpa sebercak kenangan

Bebaskan aku dari satu kata pisah,

Bukan diam dan menghilang.

Merauke, 12 Juli 2019

Β 

Kiasan Cinta

Pagi dan malam terus berganti

Tak ada yang abadi

Dahan-dahan ditingkap

Lorong-lorong menyepi

 

Sementara ia,

Menertawakan luka hatimu.

Begitulah cinta,

Memeluk erat kaktus, kau yang berdarah.

Merauke, Agustus 2019

 

Senja

Meredup petang

Hariku hampir usai

Langit menelan separuh mataku dan haripun berlalu

Tak ada pesan selepas senja

 

Aku masih saja bingung dan kau tetap memilih diam

Sekarang sudah seperempat hari dan kita masih tak saling melirik

Merakit hati yang kian lelap pada malam yang sendu

 

Aku masih di sini

Seruput habis dinginnya malam,

membalut luka-luka yang tak kunjung pulih

 

Aku tahu kau tak peduli, pun aku masih tetap di sini

Menanti pagi dengan sejuta harap yang enggan kau semogakan.

Merauke, 15 Juli 2019

 

Suatu Hari

Suatu hari nanti

Akan ada satu dua kenangan

Yang mencengkram hatimu

 

Suatu hari nanti kau merasa rindu tetapi enggan bertemu

Sangat lihai kau sembunyikan rindu itu rapat-rapat di balik lidahmu

 

Suatu hari nanti pada sebuah kertas merah

Kau menulis namanya

Mengukir mawar merah di sampingnya

Lalu teteskan air mata.

Merauke, Suatu Hari di 2019

Β 

Kita yang Telah Usai

Aku menemukan huruf-huruf pada namamu

Menggantung pada tiap sisi duri mawar itu.

 

Menghitam legam

Menusuk langit malam,

Menggenggam erat enggan lepas

Tak berdarah tetapi hitamnya, kelam.

 

Perihal hati,

Aku melukisnya dengan tinta hitam dan tangan lebam

Oleh sebuah kenyataan.

Merauke, Tengah malam di 2019

 

Sella Suhardi, berasal dari Manggarai, sering menulis puisi tetapi juga sering menghilang. namun percaya bahwa puisi adalah jalan pulang menuju kata-kata untuk merawat yang hilang. Saat ini menetap di Merauke.

 

  • Penulis: Sella Suhardi
  • Editor: Fian N

Komentar (5)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 87
    • 0Komentar

    8 Juni 2026 akan menjadi salah satu tanggal yang layak dikenang dalam perjalanan pendidikan di Boawae. Sore itu, Kotagoa Sport Area tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya pertandingan. Lapangan itu berubah menjadi panggung harapan, tempat lahirnya keberanian, kerja keras, dan mimpi-mimpi besar anak-anak. Sebanyak 27 tim dari berbagai Sekolah Dasar siap bertarung dalam cabang olahraga voli […]

  • Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Pater Marsel Koka, RCJ
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Marsel Koka, RCJ (Pastor dari Konggregasi Rogasionis Hati Yesus Maumere) Di sela-sela masa akhir liburan, saya berkesempatan mengunjungi kembali sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecil selama enam tahun: SDN Riominsi, yang dahulu kami kenal sebagai SDK Terong Kedong. Sekolah kecil ini berada di Kampung Latung, Desa Benteng Tawa V, Kecamatan […]

  • Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan. Manusia […]

  • Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang  TerancamΒ 

    Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang TerancamΒ 

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Humberto Verbita
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Oleh: Humberto Verbita Diskursus Film Dokumenter PESTA BABI bukan lagi sekedar tayangan tetapi menjadi sebuah movement, suatu gerakan mulai dari para akademisi, talk show saluran TV nasional, lahan edukasi-promosi-monetisasi dari para pegiat sosial media bahkan sampai level masyarakat akar rumput (grass root). Namun semua gerakan massive ini mendadak terguncang dengan video viral yang berisikan kesaksian […]

  • Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Oleh: Alvares Keupung adalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.   TIGA RINDU Rindu ini tiba – tiba datang Untuk ayah yang selalu tenang dalam diam Setelah wajahnya tak pernah kutemukan lagi Bahkan pada mimpi yang dihembuskan angin sekalipun Serasa aku kehilangan jejak pencarian ribuan tahun Rindu ini […]

  • Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 357
    • 0Komentar

    Di tengah arus modernisasi dan pergeseran nilai-nilai tradisional, masyarakat Manggarai di Nusa Tenggara Timur masih mempertahankan sejumlah kearifan lokal yang sarat makna dan fungsi sosial. Salah satunya adalah konsep turuk empo, sebuah sistem genealogis yang menjadi penanda garis keturunan dalam masyarakat adat Manggarai. Konsep ini bukan sekadar alat penanda asal-usul, tetapi berperan besar dalam menjaga […]

expand_less