MONIKA DI UJUNG NASIB
- account_circle Ando Sola
- calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
- visibility 285
- comment 2 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Semua mereka melihatku seperti selembar rupiah yang bisa ditukar dengan kehormatan”
Pada simpang tiga ujung desa Watu Ngadha, sekelompok anak kompleks duduk lingkar memainkan gitar tua. Mereka menyayikan lagu-lagu nostalgia, sambil menepuk dada dan mengerutkan dahinya. Mereka tenggelam pada setiap syair yang dinyanyikan. Aku tahu mereka sedang bernostalgia dengan masa lalunya. Terdengar beberapa lagu yang tak asing di telingaku seperti Anggur Merah, Untuk Sebuah Nama, dan Tak Ingin Sendiri. Ketiga lagu ini sering menjadi penghibur setiap pagi saat ayah sedang menikmati kopi buatan ibu. Karena keseringan ayah memutar lagu kesukaannya ini, aku sampai menghafal beberapa nama penyanyi legendaris pada tahun 90an, ya seperti Pance Pondaag, Nike Ardilla, Elvy Sukaesih, dan Betharia Sonata. Terkadang aku dijahili teman seusiaku karena terlalu jadul dan tidak asyik bergaul dengan anak remaja usia subur. Hingga saat ini usiaku menginjak angka 17 tahun, aku tidak tahu memakanainya sebagai usia manis atau sahabatku Marry biasa menyebutnya sweet seventeen. Kata mereka aku akan memasuki masa remaja yang pastinya seru dan menyenangkan. Mengenal hidup tanpa penderitaan, berteman dengan banyak orang, dan sesekali mencuri ekor mata para lelaki yang lewat di jalan-jalan dan lorong-lorong desa. Ada lagi yang paling asyik, aku akan lebih sering menampilkan diri yang menarik, wajah yang cerah, rambut lembab terurai, bibir yang berminyak dibaluti sedikit gincu berwarna nude. Pada akhirnya orang-orang menyebutnya sebagai masa pencarian jati diri. Ya aku sekarang berada pada masa itu dan sedang menikmatinya sebagai anak sweet seventeen.
Maria Monika Meo, begitu namaku disebut selepas pukul 03.00 subuh pada hari Jumat, 10 Juni 1997. Aku lahir dari pasangan muda Wilhelmina Febrianti Kaju yang selanjutnya kupanggil ibu, dan Fransiskus Bartolomeus Meo sosok ayah yang tak bisa kusamakan dengan ayah dari teman-teman sebayaku atau Marry sobat kecilku itu. Mereka berdua menikah pada usia yang masih sangat muda, dan belum memiliki sebidang tanah untuk membangun rumah sendiri. Sebagaimana adat perkawinan di kampungku, seorang laki-laki harus meninggalkan rumah orangtuanya dan tinggal bersama perempuan pilihannya. Maka dari itu ayahku tinggal bersama ibu sejak mereka menikah pada 15 Agustus 1995. Meskipun sudah menikah dan memiliki seorang anak, ayah belum sama sekali memenuhi janji adatnya saat datang melamar ibu. Uang 200 juta, kuda lima ekor, dan jasa air susu ibu 10 juta masih menjadi beban tanggungan hingga saat ini. Meskipun demikian, komitmen ayah untuk membiayai pedidikanku masih menjadi prioritas pertama. Sedangkan ibuku masih menanggung beban jasa kepada paman-pamannya. Ya status om pada struktur perkawinan adat di kampungku sangat berpengaruh. Bahkan mereka berperan sebagai pengetuk palu keberlangsungan hidup para ponaanya yang mau menikah. Pernah suatu waktu, ayahku mengeluh sendirian dalam kamar karena utang belis yang belum sanggup ia penuhi. Sementara itu, ia harus tunduk pada gengsinya saat bertemu dengan paman-paman ibuku pada setiap acara adat yang dibuat di Sa’o Teda Lewa, rumah adat yang saat ini menjadi atap dan dapur keluarga besar kami.
***
Sejak menikah dengan ibu, ayah memutuskan utuk tinggal bersama ibu di rumah adat. Rutinitas harian di rumah adat memang tidak berbeda jauh dengan orang-orang yang tinggal di rumah biasa. Hanya saja ada beberapa aktivitas yang tidak bisa dilakukan di rumah biasa dan hanya bisa dilakukan di rumah adat. Sebagai tuan rumah dan kepala keluarga yang bertanggungjawab atas kehidupan di rumah adat, ayahku selalu bersikap ramah kepada setiap tamu yang datang apalagi keluarga besar ibuku. Sedangkan ibuku selalu teliti melihat persediaan dapur agar tidak kekurangan sedikipun. Ya risiko tinggal di rumah adat memang sangat besar. Selain menjaga dan merawat rumah, ayah dan ibu harus selalu memperhatikan kebutuhan makan minun di dapur. Apalagi pada masa-masa persiapan acara reba, ka sa’o atau acara-acara adat lainnya. Kadang-kadang ibu harus mengutang di kios mama Rosa kala kopi dan gula habis, atau beras dan minyak tanah habis. Meskipun demikian ibu dikenal sebagai putri sulung yang taat dan rajin. Orang-orang menyebut ibuku ka’e raka ine dongo sa’o. Status ini cukup menarik tetapi sebenarnya menjadi beban terberat bagi ibuku. Ia harus meyakinkan semua anggota suku bahwa sa’o akan baik-baik saja. Menurut kebanyakan orang di kampungku, orang yang tinggal di rumah adat mempunyai risiko dan beban yang berat. Aku berprasangka seolah-olah tidak yakin, tetapi inilah yang menciptakan kisah traumatis dalam hidupku.
Roberto Carolus Sada Wea, pria kelahiran Watu Bena kampung tetangga yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan kios mama Rosa. Aku suka memanggilnya Ema Carlos, dan ini menjadi sapaan kesayangan saat kami bertemu di kios mama Rosa. Mama Rosa selalu setia menyediakan gorengan ubi saat kami bertemu di kiosnya. Aku dan Ema Carlos
sebenarnya sudah menjalani hubungan pacaran selama dua tahun. Kami saling setia dan saling mencintai. Kadang-kadang kami bercerita tentang keluarga besar di sa’o, tentang mantan, tentang belis, dan angapan-anggapan menakutkan jikalau nantinya kami bisa menikah dan hidup bersama. Tentunya perasaan yang paling dominan adalah kecemasan dan ketakutan. Untuk menjauhkan perasaan itu, kadang-kadang kami bercerita dengan mama Rosa. Teman bicara kami ini memang patut diandalkan. Pengertiannya kepada anak muda harus diacungi jempol. Seringkali ia menceritakan masa lalunya bersama mantan suaminya Ema Sebas. Masa lalu yang pahit tidak menjadi alasan untuk tidak ceria dan menari. Ya mama Rosa dikenal sebagai sosok yang suka menari dan membuat lucu. Ia sangat akrab dengan semua orang dan suka menghibur anak muda di kampung yang galau karena putus cinta.
***
Hubunganku dengan Ema Carlos makin hari makin dekat. Kami sering pergi misa sama-sama, sesekali mampir di warung bakso untuk melawan suhu di kampung yang dingin. Aku merasa sangat dicintai dan dihargai. Orang tua Ema Carlos juga sangat baik. Mereka selalu memberikan kasih sayang, yang juga tidak kalah adilnya dengan anak kandung mereka sendiri. Akupun merasa orang-orang di sekitar kampungku sudah mengetahui hubungan kami berdua. Meskipun demikian aku selalu merasa cemas dan takut, kalau-kalau hubungan kami berdua tidak bisa sampai akhir. Apalagi paman-pamanku sangat memperhatikan aku dan sudah mempunyai target tersendiri. Aku membanyangkan jika seandainya Ema Carlos tidak bisa memenuhi permintaan mereka, apa jadinya dengan hubungan kami berdua. Hanya memikirkan ini saja, aku sudah membanyangkan rasa sakit yang akan kualami nantinya. Rasa-rasanya nadi ini pelan-pelan disayat oleh bayangan akan masa depan. Namun dengan tekad dan rasa cinta yang besar aku selalu yakin kalau Tuhan dan orang tuaku selalu berdiri bersamaku.
Malam minggu, di sudut kampung berlangsung hajatan pernikahan mulia. Seperti anak-anak lainnya, aku dan ema Carlos membuat janjian untuk mengikuti pesta pernikahan. Aku menggunakan gaun merah hadiah termahal dari ibu, berdandan rapi dan sangat cantik. Aku belum pernah berdandan seperti ini. Sebetulnya ini adalah caraku memberikan kejutan kepada Ema Carlos. Aku yakin Ema Carlos pasti kaget dan tidak membanyangkan kalau aku bisa berdandan seperti ini. Selama kami berpacaran, Ema Carlos sudah tahu pakaian apa yang sering kukenakan saat pergi misa atau saat jalan-jalan ema Carlos selalu benar menebak pakaian apa yang akan kupakai. Saat ini ema Carlos pasti benar-benar kaget dan tidak percaya. Seperti biasa aku berpamitan dengan ayah dan ibu. Mereka selalu memberikan pesan andalannya, “jangan aneh-aneh, pulang jangan terlalu larut”. Wajah penuh keceriaan mendapatkan izinan dari ayah dan ibu. Aku langsung menelpon ema Carlos untuk menjeputku di simpang tiga ujung desa yang tidak terlalu jauh dari halaman rumahku. Setelah menelpon ema Carlos, aku langsung bergegas ke simpang tiga menuggu ema Carlos dengan hati sedikit gugup bercampur senang. Ah benar saja, ema Carlos nyaris terjatuh dari motor, muka terheran-heran, memaksa untuk tertawapun tidak mampu. Benar ema Carlos akan sangat kaget dengan penampilanku malam ini. Tanpa berkata banyak ema Carlos mempersilahkan aku duduk di belakangnya dan tanganku spontan merangkul pingganya. Kami menikmati perjalanan malam dengan sangat romantis. Ema Carlos mengemudi dengan sangat yakin dan tenang. Ia tahu yang naik di motornya ini adalah pasangan muda yang mempunyai harapan besar untuk masa depan.
***
Kerlap kerlip lampu pesta yang ramai, aku dan ema Carlos tenggelam pada euforia pesta yang dalam. Dunia sepertinya mendukung kemesraan yang tak terbendung. Sesekali aku diajak berdansa dengan dentuman musik timor yang menggoda. Aku merasakan pelukan ema Carlos mendarat hangat di tubuhku. Tangan kanannya merangkul manis di pinggangku, dan tangan kirinya menjulur tegak mengangakat tangan kanan sampai tepat di ujung jari. Sedangkan tangan kiriku terpangku manja di bahu ema Carlos. Kami menikmati pelukan tanpa peduli dengan orang lain. Aku masih ketagihan dengan pelukan semanja ini. Di telingaku terekam jelas hembusan nafas ema Carlos, membuatku semakin yakin kalau malam ini adalah cerita yang paling diingat nantinya. Sesekali pandangan kami bertemu pada senyum yang cukup malu-malu. Kepalaku seakan tak ingin lepas dari bidang dada ema Carlos yang gagah. Aku menikmati irama kaki langkah ema Carlos yang sangat apik dan pelan. Kupastikan langkah ini hanya miliku, tak ada perempuan lain yang bisa menikmati hantaran dansa ema Carlos. Aku semakin bergairah dengan pelukan dekap ema Carlos, aku terbawa situasi kemesraan yang tak terbendung. Tuhan ini adalah malam yang paling nikmat selain malam perjamuan akhir. Kami berdansa lagi tanpa meninggalkan nada terakhir pada lagu dansa timor. Dalam benak hatiku paling dalam, aku merasakan cinta paling nyata. Rangkulan ema Carlos mampu membuang rasa gugup, dan ketakutan pada penilaian orang. Aku hampir lupa, usiaku masih 17 tahun. Aku masih anak-anak, yang harus memikirkan masa depan setelah pesta ini berakhir. Jika saat ini bapa dan mama melihatku, kupastikan ini adalah pesta terakhir. Di tengah dentuman musik pesta, sesekali senyumku mendarat pada kening Carlos. Ia laki-laki yang kuingin peluk sekarang dan tak mau lepas lagi. Rambutnya air tersisir bantal dengan bulu mata tebal. Matanya bulat laksana bulan purnama sempurna. Lehernya berdiri gagah, dengan jakun lancip yang tertanam. Dadanya rata bak sebidang sawah, tampil sangat elegan dan suka mencuri pandangan lawan jenis. Aku ingat salah satu aktor kesukaanku, Jefry Nichol. Ia benar, Carlos mirip dia, tampan elegan dan mempesona. Tetapi aku selalu takut, jika ada perempuan lain yang juga menginginkan Carlos. Jika ada, kupastikan perempuan itu akan kucabik, dan kujambak rambutnya sampai rontok. Carlos milikku, tidak ada yang boleh merebut Carlos dari aku. Tetapi aku yakin Carlos pasti mencintai aku lebih dari perempuan lain. Lagi pula aku dan Carlos sudah membuat sumpah. Sumpah sehidup semati, meski maut memisahkan. Lamunanku terhenti, saat jari telunjuk Carlos mendarat kaget di ujung hidungku. Itu sentuhan manja, menyadarkan aku, sekarang aku di tempat pesta, masih ada lagu dansa yang harus kami selesaikan lagi. Ema Carlos, lelaki yang sedikit bikin kesal tetapi menyiksa rindu kala tiada waktu kami bertemu.
Pukul 01.30 WITA, kami sudah cukup berkeringat bersanding dengan tawaran lagu pesta. Ema Carlos mengebas kemejanya pelan sambil berbisik lembut di telingaku, “kita lanjutkan malam ini di tempat yang lain”. Tak berpikir lama, aku yakin ema Carlos akan memberikan kejutan balasan buat aku. Teriring suasana pesta yang masih membara, aku dan ema Carlos beranjak meninggalkan tempat pesta. Kami meminjam dingin malam menjadikannya alasan kami berpelukan di atas motor. Ah rasa-rasanya angin tak ingin mengganggu kemesraan penuh dahsyat ini. Setelah beberapa jalan dan lorong kami lalui, tibalah kami pada pondok kios tempat favorit pertemuan kami. Tanpa ragu ema Carlos menarik tanganku menunju pondok. Tanpa peduli dengan situasi yang kurang nyaman, bibir kami bertemu pada titik dingin yang sama. Mendaratkan ciuman adalah kerinduan kami tanpa dihakimi orang lain. Aku bukan anak kecil lagi, aku layak menikmati ciuman ema Carlos kekasihku. Semakin kompak kami melawan dingin yang mencekam. Gerakan tangan dan tubuh berirama tanpa batas, aku menikmati garis otot dada dan belahan perut ema Carlos yang terpisah enam petak. Sesekali kudaratkan sentuhan kecil pada tubuh ema Carlos. Tuhan betapa nikmatnya malam ini dengan tubuh yang terbaring gagah di atasku. Malam kian jauh, bulan mulai berpulang pada peraduannya, sedangkan bintang-bintang mulai malu menampakkan lentikan cahayanya. Kabut mendarat kian tebal menutupi atap warung mama Rosa. Dingin makin mencekam, aku masih diguyur kenikmatan badani yang tidak pernah kujumpai sebelumnya. Desahan nafas ema Carlos mengalahkan tiupan angin, masuk hangat di telingaku. Aku pun tidak kalah menyaingi desahan nafas yang hangat itu. Tanganku dicengkram kuat, menempel rapat di dinding warung. Dadaku ditekan lembut tanpa henti, darahku memanas tiba-tiba, merasakan setiap sentuhan bibir ema Carlos. Sesekali rambutku dijambak, gaunku dilepas serentak tersisa kulitku yang bersentuhan langsung dengan kulit ema Carlos yang licin dan berminyak. Kakiku dikangkang, dijelajahi lidah tanpa permisi, ini adalah kenikmatan anak 17 tahun di bawah malam yang kian pekat. Benar saja Carlos adalah laki-laki perkasa, ia menjadi tuan yang tak bisa kusandingi lagi. Ia gagah dan berani, bibirnya seperti kapas mendarat lembut pada setiap sentuhan. Perlahan aku berdesis, “Carlos sayang lakukanlah, sekarang aku di sini, terjadilah padaku menurut kehendak cintamu”. Carlos laki-laki titipan rembulan dari malam yang kian kabut.
***
10 Juni 2024, seisi Sa’o dipenuhi keluarga besar. Aku duduk dengan hati dipenuhi kecemasan yang luar biasa. Telapak tangan mama menyapu pahaku penuh ibah. Di atas kulit wajahnya yang kian keriput, berlinang air mata, mengalir tak henti-hentinya. Aku tahu, sakit hati terbesar seorang ibu adalah melihat anak perempuanya bersedih. Sedangkan ayahku masih tetap dengan wajah garangnya, tatapan itu tak pernah kutemui selama aku hidup. Aku hanya duduk dengan wajah penuh kecemasan. Hatiku hancur berkeping-keping. Beban orang tuaku bertambah lagi, ini lebih berat ketimbang mengurus sa’o. Pada sudut sa’o, Carlos duduk menunduk, menyembunyikan rasa malu yang luar biasa. Kini Carlos terpaku tak sekatapun keluar dari mulutnya. Keyakinanku tentang Carlos sebagai seorang lelaki perkasa jadi hancur berantakan. Ini bukan Carlos yang aku kenal kemarin. Alis matanya yang kemarin mengagumkan kini mulai layu tak lagi gagah seperti kemarin. Carlos sekarang laki-laki yang lemah dan tak berdaya. Di sisi lain, aku melihat bapa dan mama Carlos yang juga menunduk tak berkata apapun. Anak lelaki mereka telah membuat sejarah aib yang buruk. Sebagai laki-laki pertama, Carlos menodai harapan bapak dan mamanya. Hati makin hancur melihat mama Rosa terisak tangis sambil memukul dadanya berulang kali. Mama Rosa pasti sudah tahu, kenikmatan malam itu terjadi di warungnya. Kini warung itu harus ditutup karena aib kotor aku dan Carlos. Atau mungkin, mama Rosa menyesal, kedekatan antara kami menjadi penyebab utama musibah ini. Berulang kali mama Rosa menyebut namaku dan Carlos sambil memukul-mukul kepalanya. Mama Rosa mengalami luka batin yang berat, aku tidak sanggup melihat mama Rosa lagi.
Wajah sangar paman-pamanku menatapku dengan ngeri. Aku merasa bersalah mengelus perutku yang sudah mulai hamil besar pada bulan ke delapan. Tuhan, apakah aku harus mati dahulu untuk membujuk belas kasihan mereka kembali? Aku tidak sanggup memikul titipan kasih yang Engkau sampan di rahimku ini. Nadiku menjadi lemah, tak berdaya. Hasratku lumpuh tak bisa bekata sedikitpun. Ini nasib yang harus kuterima di usiaku yang masih remaja. Dalam benak hati paling dalam, aku memikirkan bagaimana teman-teman sebayaku melihat aku dengan perut mengantongi janin yang mulai terbentuk.
Kupastikan rasa malu menjadi penjara paling kelam dalam hidup ini. Aku bukan lagi wanita perawan kebanggan sa’o Teda Lewa. Bagaimana jadinya jika anak perempuan pertama dalam rumah adat menciptakan aib yang buruk untuk tujuh keturunan kedepan. Ini sudah sangat memalukan, rasa-rasanya hidup ini harus berakhir cepat, kubiarkan aib ini terkubur bersama tanah yang pekat. Memecah keheningan batinku, suara ayah dengan tegas dan berkata lantang, “kita di gha sa’o meze. Da papa utu go magha dhapi ate, ti’i ana kita. Hoga da tau gha susah masa gita na. o, ma’a ana kami, polo apa de supu miu. Miu de wo’o banga, kami we pajo molo miu raba wi modhe, bhai wi tau gami susah. Untuk ja’o ngara ema dadhi, hoga mori zua bodha we waja. Molo gha, me Monika dia da hamil, kena go tagu jawab kami ine ne’e ema. Kami ne’e waka kami, miu ne’e ana miu dhano ne’e waka. Ana kami, ana kami, ana miu, ana miu” (terjemahan: baiklah sekarang kita sudah duduk berkumpul di rumah besar.
Kita duduk menyatukan pikiran dan hati untuk membicarakan persoalan anak kita ini. O anak-anak kami, setan apa yang merasuki kalian. Kalian masih anak kecil, kami menjaga kalian untuk hidup yang baik, bukan untuk buat susah. Saya sebagai ayah kandung, hubungan mereka berdua harus dibatalkan. Baiklah Monika ini sudah hamil, itu tanggung jawab saya dengan istri saya. Kami dengan martabat kami, kalian juga dengan martabat kalian, Kami dengan anak kami, kalian dengan anak kalian). Yaa itu berarti ayah akan membatalkan keberlangsungan hidup kami berdua. Dalam suku kami dikenal dengan istilah waja. Dalam konteks perkawinan, waja merupakan proses pembatalan perkawinan untuk kedua pasangan yang sudah menikah secara adat. Pada praktik lainnya seperti di kampung saya, waja bisa dipakai untuk membatalkan tanggung jawab laki-laki yang telah menodai keperawanan wanita dalam sa’o meze. Bentuk tanggung jawab laki-laki ditunjukan dengan membayar denda adat berupa hewan dan sejumlah uang tunai.
***
Perbincangan uang, babi, dan kuda sudah terlintas cepat di telingaku. Mereka membicarakan uang, kuda dan dan babi sebagai tuntutan untuk ema Carlos dan keluarganya. “molo gha kita sepakat gha, go waja ne’e denda ngata, go jara noa eko lima, doi 250 juta, ne’e ngana wawi eko telu” (terjemahan: baiklah ini kesepakatan kita, waja dengan dendanya, kuda lima ekor, uang 250 juta dan babai berukuran besar tiga ekor), suara saudara mamaku
berstatus om kandung, sontak muncul menerobos kebingungan batinku. Aku tak tahu apakah ema Carlos sanggup memenuhi semua permintaan ini? Aku tidak tahu harus menulis tabir apa lagi di nasibku ini. Aku terpenjara pada hitungan benda-benda materil yang sempat kujumpai di tempat pesta kemarin. “Tuhan inikah nasib perempuan berumur 17 tahun?” Tetapi, itu adalah tuntutan yang harus kuterima, dan ema Carlos harus menanggungnya. Kini dihadapan mataraga aku seperti materi yang bisa ditukar dengan kehormatan.
***
Genap Sembilan bulan, aku tak jumpai wajah tampan ema Carlos. Kudengar ema Carlos telah berangkat ke Jogya, melanjutkan pendidikan SMA. Ia tinggal bersama om kandungnya. Aku di sini baru saja melahirkan anak laki-laki. Anak ini kuberi nama Carlos.
“Semoga hari esok aku masih ada untuk melawan tabir, tanpa kehadiran ema Carlos”
***
Daftar Isitilah
- Watu Ngada : nama sebuah kampung (nama fiktif)
- Sa’o Teda Lewa : nama rumah adat (nama fiktif)
- Reba : acara tahun baru adat dan atau syukuran panen di Bajawa
- Ka Sa’o : acara kenduri dan pesta rumah adat
- ka’e raka ine dongo : istilah untuk menyebutkan perempuan yang tinggal di Sa’o atau kakak perempuan pengganti ibu.
- Sa’o: Rumah adat orang Bajawa
Ando Sola adalah seorang pegiat seni pertunjukan Teater dari Komunitas Teater Pata. Penulis naskah puisi dan sutradara teater.
- Penulis: Ando Sola
- Editor: Fian N

keren cerpennya kk Ando. Cerpen yang mengangkat adat Bajawa yg berhasil menciptakan suasana yang khas melalui deskripsi bahasa daerah, atau kebiasaan masyarakat. Hal ini membuat pembaca merasa “hadir” di tengah budaya tersebut.
22 April 2026 8:38 amBenar, tetapi harus didiskusikan ni cerpen agar bisa lebih sampai lagi.
22 April 2026 8:48 am