Breaking News
light_mode
Trending Tags

Jejak Sunyi yang Tak Pernah Pergi

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • visibility 1.085
  • comment 6 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada orang-orang yang hidupnya tidak banyak diceritakan, tetapi diam-diam membentuk dunia kecil di sekitar mereka dengan cara yang begitu berarti. Mereka tidak dikenal luas, tidak pula menonjolkan diri, tetapi kehadirannya menjadi akar, menguatkan, menopang, dan memberi kehidupan. Bapak Marianus Meze Ito, yang akrab disapa Marianus Rena, adalah salah satu dari mereka.

Ia lahir pada 10 Juni 1972 di Olakile, dari pasangan (alm) Opa Yohanes Weke dan (almh) Oma Katarina Dheku. Dari kesederhanaan itulah ia tumbuh, belajar, dan membentuk dirinya menjadi pribadi yang teguh, setia, dan penuh tanggung jawab. Hingga akhirnya, pada Sabtu, 28 Februari 2026, ia berpulang ke Pangkuan Ilahi, meninggalkan jejak yang tak kasatmata, tetapi begitu dalam terasa.

Pendidikan terakhirnya adalah SMP, namun hidup memberinya pelajaran yang jauh lebih luas. Ia belajar dari tanah yang diolahnya, dari hewan yang dijaganya, dan dari keluarga yang dicintainya. Sebagai seorang petani, ia menjalani hidup tanpa banyak keluhan. Ia bukan orang yang pandai berbicara panjang lebar, tetapi setiap tindakannya adalah bukti dari ketulusan dan kerja keras.

Sebagai suami dan ayah dari enam orang anak, ia mencintai dalam diam. Ia hadir bukan dengan kata-kata manis, tetapi dengan kesetiaan yang tak pernah goyah. Tanggung jawab baginya bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari dirinya. Setiap kepercayaan yang diberikan kepadanya, ia jaga dan selesaikan dengan sungguh-sungguh. Namun kenangan tentang Bapak Marianus tidak hanya tentang kerja keras dan kesederhanaan. Ia juga hidup dalam momen-momen kecil yang hangat, momen yang kini menjadi harta tak ternilai.

Semasa kecil, ada kenangan yang tak pernah pudar: berjalan bersamanya ke padang untuk menggembalakan kerbau. Di sana, di bawah langit terbuka, ia mengajarkan banyak hal tanpa harus menggurui. Ia mengajak memandikan kerbau di sungai, merasakan dinginnya air yang mengalir, dan bahkan menaiki punggung kerbau, sebuah pengalaman sederhana yang kini terasa begitu berharga. Di padang dan di sungai itulah, hubungan seorang anak dan ayah terjalin dalam diam, dalam kebersamaan yang jujur.

Hari Rabu menjadi hari yang istimewa. Pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari benar-benar terbit, ia akan membangunkan anaknya untuk ikut ke pasar. Dengan langkah pasti, ia berjalan sambil menggiring kerbau yang hendak dijual. Dari belakang, seorang anak kecil mengikutinya, mungkin belum sepenuhnya mengerti arti perjuangan, tetapi perlahan belajar tentang hidup dari setiap langkah ayahnya. Itu bukan sekadar perjalanan ke pasar, tetapi perjalanan memahami arti tanggung jawab dan kerja keras.

Ada pula malam-malam yang dihabiskan di sawah. Dalam kesunyian yang jauh dari keramaian kampung, ia memasak kelapa untuk dijadikan minyak. Api kecil menyala, aroma kelapa perlahan memenuhi udara, dan di situlah kehidupan terasa begitu sederhana namun utuh. Bermalam di sawah bukan sekadar aktivitas, tetapi ruang kebersamaan, tempat di mana kehangatan keluarga terasa tanpa perlu banyak kata.

Di luar itu semua, Bapak Marianus adalah sosok yang tak pernah kehilangan kemampuannya untuk membawa tawa. Dalam berbagai acara kampung, ia sering menjadi sumber keceriaan. Candanya sederhana, tetapi selalu berhasil mencairkan suasana. Ia mengajarkan bahwa hidup, seberat apa pun, tetap membutuhkan ruang untuk tertawa.

Ia juga menjadi bagian dari denyut tradisi. Dalam acara tinju adat, ia tampil sebagai penari. Hentakan kaki dan gerakan tangannya yang teratur bukan hanya gerakan biasa, tetapi seolah menghidupkan semangat di arena. Ia menghadirkan energi, memberi kekuatan, dan menjadi bagian dari ritme kehidupan masyarakatnya.

Kesehariannya tak lepas dari alam. Ia masuk hutan, mendaki bukit, turun ke lembah untuk mencari kerbau, sapi, atau kuda yang hilang. Ia tidak mengenal lelah. Selama yang dicarinya belum ditemukan, ia akan terus berjalan. Dari situ, kita melihat siapa dirinya sebenarnya: seorang yang setia, yang tidak mudah menyerah, dan yang menjalani hidup dengan sepenuh hati.

Kini, langkah itu telah berhenti. Pagi-pagi di hari Rabu mungkin terasa lebih sunyi. Padang, sungai, dan sawah tetap ada, tetapi ada ruang kosong yang tak tergantikan. Namun kenangan tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam cerita, dalam ingatan, dan dalam nilai-nilai yang ia wariskan.

Kesederhanaannya mengajarkan arti cukup. Ketekunannya mengajarkan arti bertahan. Dan cintanya yang sering kali tidak terucap mengajarkan arti memberi tanpa syarat.

Selamat jalan, Bapak Marianus Rena. Terima kasih atas setiap langkah yang pernah kau tempuh, atas setiap pelajaran yang kau tanamkan tanpa kata, dan atas cinta yang kau tunjukkan melalui hidupmu sendiri.

Semoga damai abadi menyertaimu di Pangkuan Ilahi. Dan semoga kami yang ditinggalkan mampu menjaga, merawat, dan meneruskan jejak sunyi yang telah engkau tinggalkan.

Pogopeo, 2026

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Bruno Rey Pantola

Komentar (6)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Prihartini

    Prihartini

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 533
    • 2Komentar

    Kunang-kunang beterbangan kian kemari, sesekali hinggap di meja makan tua dari kayu mahoni, sesekali mendarat di kepala Prihartini yang tengah tenggelam dalam lamunan. Kesedihan terukir jelas pada wajah mudanya. Matanya merah, serupa tumpahan air sirih pinang di pelataran teras. Tak ada hujan air mata, hanya perih yang melumat habis kesadarannya. Ia seolah meluruh, tak berdaya […]

  • PERMEN: Kenaikan Yesus: Jaminan Bagi Gereja, Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan, Edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan, 14 Mei 2026

    PERMEN: Kenaikan Yesus: Jaminan Bagi Gereja, Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan, Edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan, 14 Mei 2026

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 325
    • 5Komentar

    PERMEN edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan 14 Mei 2026 – Kenaikan Yesus: Jaminan bagi Gereja Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan Inspirasi: Kis 1:1-11, Ef 1:17-23, Matius 28:16-20 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Cerita-cerita tetang Yesus yang bangkit dari antara orang mati telah kita terima selama 40 hari. Yesus bangkit yang selanjutnya menampakkan diri, […]

  • Sudut Pandang: Di Kampung itu, Kani Pernah Menjadi Anak-anak

    Sudut Pandang: Di Kampung itu, Kani Pernah Menjadi Anak-anak

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle Monica Cinderela
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Sebuah Feature tentang Kenangan, Kehilangan, dan Kampung Halaman Ada masa ketika sebuah kampung kecil selalu ramai oleh suara anak-anak sejak subuh belum sepenuhnya pergi. Suara sandal berlarian di jalan tanah, tawa yang berderai di halaman rumah, dan bau embun pagi yang bercampur asap dapur nenek — semua itu dulu adalah bunyi sehari-hari yang begitu biasa, […]

  • Nihil Gol Kontra Persinga dan Alarm Bahaya Laskar Jaramasi Menuju Panggung Semifinal

    Nihil Gol Kontra Persinga dan Alarm Bahaya Laskar Jaramasi Menuju Panggung Semifinal

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Keberhasilan PSN Ngada melangkah ke babak semifinal Liga 4 Piala Presiden 2026 dengan status tak terkalahkan di Babak 8 Besar patut diacungi jempol. Hasil imbang 0-0 melawan Persinga Ngawi di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Minggu (5/7), sudah lebih dari cukup untuk mengunci status mereka sebagai jawara Grup B dengan koleksi 7 poin. Berdasarkan hasil tersebut, […]

  • Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Dr. Made Supriatma
    • visibility 207
    • 0Komentar

    Oleh: Dr. Made Supriatma, Peneliti masalah Sosial dan Politik (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Matinya Altruisme? Serangan terhadap film dokumenter Pesta Babi datang dari semua arah. Kemarin, beredar video Mama Yasinta yang mengatakan dia tidak mengijinkan video dirinya dipakai dalam dokumenter ini. Seperti yang dikatakan oleh dua sutradara film ini, kita […]

  • Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Sepak bola bukan sekadar soal siapa yang mencetak gol lebih banyak, melainkan tentang menjunjung tinggi spirit fair play. Laga krusial semifinal Liga 4 Nasional yang mempertemukan Pesik Kuningan dan PSN Ngada di Stadion Sriwedari, Solo, pada Rabu (8/7), seharusnya menjadi panggung pembuktian taktik dan talenta. Namun sayang seribu sayang, sorotan utama justru bergeser dari aksi […]

expand_less