Breaking News
light_mode
Trending Tags

AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
  • visibility 239
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Aku ingin pamerkan setiap aktivitasku, sejak subuh hingga petang. Supaya mereka tidak mempermainkanku soal waktu, membuatku menunggu, tanpa rasa bersalah, tanpa usaha untuk berbenah. (Ia dan Mereka yang Berisik)

Saya membuka tulisan sederhana ini dengan mengutip sebuah pernyataan dalam buku yang berjudul Ambivert. Dan persis buku inlah yang akan saya ulas seringkas mungkin sesuai kapasitas saya. Jujur harus saya sampaikan di sini bahwa saya adalah bagian dari, The Quote Machine: Aku Ingat Kutipan, Tapi Bukan Buku Itu Sendiri. Artinya mereka (pembaca) mengutip kalimat-kalimat terkenal tanpa benar-benar memahami maknanya dalam konteks. Kata-kata itu menjadi hiasan belaka, bukan pemahaman. (Dari Book Shaming Hingga Kutipan Kosong: Mengenali Red Flag Pembaca Buku). Saya menemukan ini di laman Facebook Kak Mamah Suherman.

Mari kita lanjut dengan Ambivert karya Arshy Mentari. Kita perlu berkenalan secara singkat dengan penulis yang satu ini. Perkenalan itu saya kutip secara utuh biodatanya pada bagian tentang penulis yang ada dalam buku ini. Arshy M., Perempuan berdarah Jawa yang lahir di penghujung tahun 1995. Selepas menyelesaikan Pendidikan S-1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ia memutuskan menetap di Kota Pelajar ini dan bekerja pada salah satu Perusahaan pialang. Ambivert menjadi karya pertama gadis kelahiran Cilacap ini yang berhasil diterbitkan secara komersial. Karya yang lahir dari ketertarikan pada membaca, bercerita, dan menerka-nerka perasaan orang-orang di sekitarnya. Secara ringkas, itulah tentang penulis. Selanjutnya, mari kita berkelana dengan isi bukunya melalui, lagi dan lagi ulasan ringkas dari saya.

Blurb dari buku ini jelas-jelas mengangkat isu tentang Perempuan yang tergambar melalui si tokoh Aku. Tentang Perempuan pada umumnya, yang sering kita jumpai dalam kehidupan sekitar. Tentang persahabatannya, percintaan, penolakan, pengkhianatan, serta dilema-dilema yang dihadapi.

Dan hal itu yang memantik saya untuk membeli buku ini. Jujur, sebagai seorang pembaca yang memang jauh dari toko buku, tinggal di salah satu kampung di pelosok NTT, menyebut toko buku, itu sangat-sangat asing. Syukur karena ada toko buku online. Dengan demikian memudahkan saya untuk bisa menemukan buku kesukaan dengan terlebih dahulu memastikan bahwa buku tersebut original. Pada waktu itu, tidak hanya Ambivert yang dibeli, ada beberapa buku dari penerbit yang sama.

Di dalam Ambivert, penulis membaginya menjadi tiga bagian. Ia dan Mereka yang Berbisik, Mengenai Kita, dan Menjadi diri Sendiri. Ini adalah monolog yang menarik. Si Aku bermain-main dengan beragam property yang begitu menakjubkan. Berangkat dari rumah, menjadi anak tengah, pendiam dan selalu menyendiri. Dan ada pernyataan yang menarik di sini yakni, tidak menempuh pendidikan bukan berarti berhenti tentang pemikiran (hal, 9). Saya duduk di depan panggung pementasan monolog ini, saya membayangkan itu. Di dalam pergolakan hidup yang dialami si aku, tentu ada fase di mana ia pernah mengalami krisis saat terpikirkan untuk mengejar karier, membicarakan pernikahan yang berujung pertengkaran, merencanakan insvestasi. Hal ini nyata dalam ungkapan, umur bertambah, tetapi dewasa tak kunjung bertambah. Setiap usia berlalu, selalu ada masalah baru, penyesalan baru. Berulang begitu entah sampai kapan (hal, 9). Ini adalah kenyataan dunia dewasa ini. Banyak sekali krisis-krisis dalam diri yang sering dialami, kebanyakan adalah perempuan.

Saya memberikan tepuk tangan paling kencang, sebentar terdiam, dipukul oleh pernyataan yang menohok. Si aku benar-benar sadar akan realitas yang sedang diakrabinya. Ia berusaha untuk ke luar dari zona tersebut tetapi dijebak oleh kenyataan, membiarkan diri bersedih terlalu lama dengan satu masalah sederhana, patah hati misal, adalah kesulitan luar biasa (hal, 13).

Pernyataan di atas adalah hal yang sering ditemukan di tengah masyarakat kita, khususnya bagi para remaja yang sedang dalam proses menuju dewasa. Mengalami persoalan yang hampir dialami oleh semua umat manusia. Soal patah hati, adalah soal yang biasa tetapi sulit untuk dihilangkan.

Ada bagian lain yang menarik dari buku ini yakni, keterbukaan memang bukan milik semua manusia. Adakalanya seseorang dengan sifat tertutupnya sangat sulit menjawab berbagai pertanyaan yang datang padanya, detail, lengkap bahkan rahasia (hal, 31). Seperti judul buku ini, ketika merujuk pada KBBI Online versi 1.0.0(100) Ambiver(t) adalah orang yang memiliki karakteristik ekstrover dan introver. Ada hal yang memang sulit sekali ditemukan dengan mudah ketika berhadapan dengan orang yang berkarakter seperti ini. Arshy melalui si aku sedang bermain-main dengan dua karakter ini di atas panggung monolog.

Dan sepakat bahwa, dunia ini memang tempatnya mencari. Maka jika sudah merasa menemukan, mungkin itu persinggahan. Bukan pelabuhan. Jangan berhenti karena lupa diri (hal, 107). Manusia sering dengan cepat merasa puas dengan segala pencapaiannya. Semua yang sedang dialaminya, sebentar juga akan lekas, tinggal bekas dalam rupa kenangan.

Sampai pada titik ini, saya menjadi sadar dalam menghadapi kenyataan. Banyak hal-hal tak terduga dialami oleh anak-anak remaja yang kemudian menjadi dewasa dan menua. Saya mungkin tidak mengalami sepenuhnya seperti kisah si aku dalam Ambivert. Jujur, hidup di kampung dan jauh dari persoalan-persoalan perkotaan, khususnya yang dialami para remaja menuju dewasa dan menua, tentunya sangat asyik. Tetapi, pengalaman seperti itu tentunya menarik dan menjadi pelajaran dalam hidup ini. Boleh dikatakan, ada yang kurang selama menikmati kesementaraan ini. Dan tentang cinta, betapa pun kita mencintai seseorang, pada waktunya akan menemukan kekurangan, kesulitan, dan tantangan (hal, 108).   

Adalah hal yang lumrah, yang terjadi pada dewasa ini. Soal jatuh dan patah, menemukan dan setelahnya mengalami kehilangan, tentunya menyakitkan. Ada tantangan yang menguatkan. Ada banyak kejutan yang dialami dan selalu memberi arti.

Pada akhirnya, risalah sederhana dari saya bisa menjadi ruang silang pendapat tentang banyak hal yang dialami oleh Perempuan. Ruang-ruang ekspresif dibatasi dengan dalil lemah dan tidak bisa melakukan hal-hal berat yang dilakukan oleh kaum pria. Ada kelas pemisah yang jelas di sini, perempuan dan lelaki. Karena sistem kelas yang dibangun, ketimpangan pun sering terjadi. Jelas ada korban di sana.

Lalu, kita harus buat apa? Berikan ruang ekpresi sebebas mungkin dalam menyuarakan kegelisahan seperti yang dilakukan Arshy melalui Ambivert. Ya, meskipun ini hanyalah sebuah kisah fiksi, tetapi ada sesuatu yang sudah dipersiapkan dengan matang seperti kata Sapardi Djoko Damono, “Dunia nyata boleh tidak masuk akal, tetapi dunia rekaan harus masuk akal. Dunia nyata lebih tidak masuk akal dibandingkan dunia rekaan. Segala peristiwa di dalam dunia nyata boleh terjadi begitu saja tanpa rancangan pasti sebelumnya, tetapi rangkaian peristiwa dalam dunia rekaan harus diatur sedemikian rupa agar jelas sebab-akibatnya— agar masuk akal.”

Semoga melalu tulisan sederhana ini, semakin banyak orang yang akhirnya membeli buku ini dan membacanya, melihat realitas di sekitar dan menjadi peka terhadap kenyataan yang menyakitkan salah satu pihak.

Berani terlibat dalam tindakan pencegahan jika terjadi kekrasan, apa pun jenisnya jika itu jelas-jelas merugikan. Jangan takut bersuara meskipun sering dibungkam.

Ya, saya minta maaf jika risalah sederhana dan ringkas ini tidak bisa menjawab rasa penasaran teman-teman tentang buku Ambivert ini. Sekali lagi, saya minta maaf. Selamat membaca.

Pondok Baca Mataleza, 2026

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Buah dari Jalan Panjang Sebuah Proses

    Buah dari Jalan Panjang Sebuah Proses

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 195
    • 0Komentar

    Perjalanan SMPSK Kotagoa Boawae dalam mengikuti Turnamen SMATER NDAO CUP merupakan bagian dari proses pembinaan yang panjang, terencana, dan berkesinambungan. Keikutsertaan dalam ajang ini tidak semata-mata dimaknai sebagai upaya untuk meraih kemenangan dalam waktu singkat, melainkan sebagai sarana strategis dalam mengembangkan potensi peserta didik secara utuh, baik dari aspek keterampilan, karakter, maupun mentalitas bertanding. Sekolah […]

  • Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua

    Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Oleh: Aprianus Jebarus, Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari Rumah Di sudut ini hanya ada gumpalan asap yang menepi tanpa arah menemani ingatan yang perlahan menari di bawah langit yang tak lagi biru suaramu mengalun indah dalam imaji merajut kisah menjelma rindu tak berwujud setiap belaian rambut hitammu adalah inspirasi yang mengalun lembut dalam barisan […]

  • PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 228
    • 3Komentar

    Permen edisi SENIN 5 PASKAH – 04 MEI 2026 – Katanya Sama Dengan Nyatanya Inspirasi: Kis 14:5-18 ; Yohanes 14:21-26 Penikmat permen yang berhikmat dalam Kristus. Mari pada hari ini kita mengalamatkan hati dan doa bagi para petugas pemadam kebakaran atas dedikasi mereka. Karena itu, hari ini dunia memberi perhatian khusus bagi mereka dengan merayakan […]

  • Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

    Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Maiton Gurik
    • visibility 212
    • 2Komentar

    Oleh: Maiton Gurik, Pegiat Literasi Papua (Sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Orang Papua tidak membaca buku, berarti kita membiarkan diri kita hanya berjalan dengan satu kaki. Kita hanya mengandalkan pengetahuan yang terbatas, sementara orang lain berjalan sudah sepuluh langkah dengan pengetahuan yang luas, mendalam, dan lengkap. Membaca buku berarti menemukan ide […]

  • Hanya 19 Persen? Jangan Pernah Meremehkan Tradisi Juara PSN Ngada!

    Hanya 19 Persen? Jangan Pernah Meremehkan Tradisi Juara PSN Ngada!

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Rilis persentase peluang juara Liga 4 Piala Presiden 2026 oleh Bola Nusa memantik diskusi menarik di kalangan pencinta sepak bola nasional. Angka-angka yang tersaji bukan sekadar kalkulasi matematis di atas kertas, melainkan cerminan dari peta persaingan yang luar biasa ketat. Namun, di kasta ini, determinasi, mentalitas, dan konsistensi sering kali jauh lebih menentukan ketimbang hitungan […]

  • MONIKA DI UJUNG NASIB

    MONIKA DI UJUNG NASIB

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Ando Sola
    • visibility 394
    • 2Komentar

    “Semua mereka melihatku seperti selembar rupiah yang bisa ditukar dengan kehormatan” Pada simpang tiga ujung desa Watu Ngadha, sekelompok anak kompleks duduk lingkar memainkan gitar tua. Mereka menyayikan lagu-lagu nostalgia, sambil menepuk dada dan mengerutkan dahinya. Mereka tenggelam pada setiap syair yang dinyanyikan. Aku tahu mereka sedang bernostalgia dengan masa lalunya. Terdengar beberapa lagu yang […]

expand_less