Perjalanan ke Nuasele dan Lokapau: Ketika Anak-Anak Smps Katolik Kotagoa Boawae Mengantar Harapan
- account_circle Fian N
- calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
- visibility 83
- comment 2 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sabtu, 15 Agustus 2026 menjadi salah satu hari yang mungkin tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat di tujuh kabupaten di Pulau Flores.
Pukul 05.58 pagi.
Di saat sebagian orang baru saja memulai aktivitas, menyiapkan sarapan, membuka pintu rumah, atau mungkin masih menikmati sisa tidur di akhir pekan, tanah Flores tiba-tiba berguncang begitu kuat. Gempa magnitudo 7,8 SR mengguncang Pulau Flores, dengan pusat gempa berada di Laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Dalam hitungan detik, pagi yang biasa berubah menjadi kepanikan.
Ada korban jiwa. Ada rumah-rumah yang rusak berat, bahkan roboh. Fasilitas umum ikut terdampak. Jalan-jalan terputus dan akses menuju sejumlah wilayah menjadi sulit. Air bersih menjadi persoalan. Di banyak tempat, orang-orang harus meninggalkan rumah dan memilih tidur di luar karena takut gempa susulan. Bencana memang datang dalam waktu yang singkat, tetapi meninggalkan cerita yang panjang.
Sebulan kemudian, dari sebuah sekolah yang juga merasakan dampak gempa itu, muncul sebuah gerakan kecil yang menurut saya sangat berarti. Anak-anak peserta didik SMPSK Kotagoa Boawae mengumpulkan pakaian layak pakai untuk saudara-saudara mereka yang terdampak gempa di Kampung Nuasele, Kecamatan Keo Tengah, dan Kampung Lokapau, Kecamatan Mauponggo.
Mereka sendiri bukan orang-orang yang sepenuhnya berada di luar bencana. Rumah beberapa orang tua mereka juga mengalami kerusakan. Mereka pun mengalami ketakutan dan trauma. Tetapi mungkin justru karena mereka tahu bagaimana rasanya berada dalam situasi itu, mereka memilih untuk melakukan sesuatu.
Tidak banyak yang mereka miliki. Tetapi mereka punya pakaian. Maka pakaian itulah yang mereka kumpulkan. OSIS SMPSK Kotagoa Boawae menjadi penggeraknya. Sedikit demi sedikit pakaian layak pakai berdatangan. Ada baju, celana, jaket, dan berbagai pakaian lainnya. Tumpukan pakaian itu kemudian menjadi lebih dari sekadar barang bekas yang masih layak digunakan.
Ia menjadi tanda bahwa anak-anak sekolah pun bisa belajar tentang kepedulian dengan cara yang sederhana: berbagi apa yang mereka punya.
Jumat, 25 September 2026, perjalanan itu akhirnya dilakukan. Beberapa bapak guru bersama perwakilan OSIS SMPSK Kotagoa Boawae membawa pakaian-pakaian tersebut langsung menuju Kampung Nuasele dan Kampung Lokapau. Perjalanan menuju kedua tempat itu tidak mudah.
Jalan yang berkelok-kelok, menanjak, kemudian kembali menurun. Ada bagian jalan yang terjal dan membuat kendaraan harus berjalan pelan. Sesekali kami harus lebih berhati-hati membaca kondisi jalan.
Bagi saya, perjalanan ini juga menjadi pengalaman pertama menuju Kampung Nuasele. Ada rasa penasaran sepanjang perjalanan.
Seperti apa keadaan di sana? Seberapa besar kerusakan yang ditinggalkan gempa? Dan bagaimana anak-anak menjalani hari-hari mereka setelah bencana? Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika kami tiba.
Saya melihat sendiri rumah-rumah yang hancur. Saya melihat sekolah yang tidak lagi bisa digunakan seperti sebelumnya. Di sana, gempa bukan lagi sebuah berita yang saya baca dari layar telepon. Bukan lagi angka magnitudo yang disebutkan dalam berita.
Gempa memiliki wajah. Ia ada pada dinding rumah yang runtuh. Ia ada pada bangunan sekolah yang hancur. Ia ada dalam cerita orang-orang yang nyaris kehilangan nyawa. Salah satu cerita yang saya dengar bahkan membuat saya terdiam.
Pada saat gempa terjadi, sebuah rumah roboh bersama penghuninya, seorang ibu. Batu bata jatuh menimpa kepalanya. Seorang anak mengalami luka pada bagian kaki akibat tertimpa reruntuhan. Betapa dekatnya bencana dengan kehidupan manusia.
Hanya beberapa detik yang memisahkan antara pulang ke rumah dengan kehilangan tempat tinggal. Antara memeluk keluarga dengan kehilangan orang yang dicintai. Tetapi ada sesuatu yang justru membuat saya terkejut ketika berada di tengah-tengah situasi itu. Anak-anak. Mereka tetap ceria. Mereka menyambut kami dengan wajah yang penuh rasa ingin tahu. Tidak ada kesedihan yang sepenuhnya menguasai wajah mereka. Mereka masih bisa tertawa. Masih bisa bercanda. Masih bisa menjawab pertanyaan.
Di sebuah tempat yang sekolahnya hampir hancur total, anak-anak tetap belajar. Kelas darurat dibuat di rumah warga. Barangkali ruangannya tidak seperti kelas yang selama ini mereka kenal. Tidak ada bangunan sekolah yang kokoh. Tidak ada suasana sekolah seperti sebelum gempa.
Tetapi proses belajar itu masih ada. Dan anak-anak itu masih datang. Bagi saya, pemandangan itu adalah salah satu bagian paling kuat dari perjalanan hari itu. Sebab ternyata, harapan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Kadang-kadang harapan hanya berupa seorang anak yang masih mau datang belajar.
Seorang anak yang masih mau mengangkat tangan ketika ditanya. Seorang anak yang masih tertawa bersama teman-temannya. Seorang anak yang masih percaya bahwa besok akan ada sekolah, akan ada permainan, dan akan ada kehidupan yang berjalan seperti biasa.
Bersama anak-anak di sana, Kaka Cika dan teman-teman OSIS SMPSK Kotagoa Boawae mulai berbincang. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan. Dan anak-anak menjawab dengan begitu aktif. Saya memperhatikan mereka. Ada sesuatu yang sederhana tetapi dalam dari perjumpaan itu. Anak-anak dari Kotagoa datang bukan sebagai orang yang lebih kuat kepada mereka yang lebih lemah.
Mereka datang sebagai sesama anak yang sama-sama pernah merasakan gempa. Mereka datang membawa pakaian. Tetapi sebenarnya mereka juga membawa pesan: Kami tahu kalian mengalami masa yang sulit. Kami tidak bisa menghapus apa yang sudah terjadi, tetapi kami ingin mengatakan bahwa kalian tidak sendirian.
Mungkin pakaian yang kami bawa tidak akan mengembalikan rumah mereka. Tidak akan membangun kembali sekolah mereka. Tidak akan menghapus trauma dari ingatan mereka.
Tetapi kepedulian memang tidak selalu harus menyelesaikan semuanya. Kadang-kadang, kepedulian hanya perlu mengatakan kepada seseorang: Kami masih mengingat kalian.
Dan mungkin itu cukup untuk membuat seseorang merasa sedikit lebih kuat menjalani hari berikutnya.
Dalam perjalanan pulang, saya kembali memikirkan anak-anak tadi. Saya datang ke Nuasele dengan bayangan tentang sebuah kampung yang hancur karena gempa.
Tetapi saya pulang dengan membawa bayangan tentang anak-anak yang sedang berusaha bangkit.
Saya melihat bangunan yang runtuh. Tetapi saya juga melihat kehidupan yang belum runtuh.
Sekolah mereka boleh hancur. Rumah mereka boleh rusak. Ingatan tentang pagi 15 Agustus mungkin masih menyisakan ketakutan.
Namun tawa anak-anak itu memberi saya satu kesadaran sederhana: Manusia memang bisa kehilangan banyak hal, tetapi selama masih ada kemauan untuk belajar, bermain, bertumbuh, dan berharap, kehidupan belum selesai.
Hari itu anak-anak SMPSK Kotagoa Boawae membawa pakaian menuju Nuasele dan Lokapau. Tetapi sesungguhnya, mereka membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari pakaian. Mereka membawa solidaritas. Mereka membawa persaudaraan.
Dan tanpa mereka sadari, mungkin mereka juga sedang belajar satu pelajaran penting tentang kehidupan: Bahwa ketika kita sendiri pernah terluka, bukan berarti kita harus berhenti peduli. Justru dari luka itu, kita bisa belajar mengulurkan tangan kepada orang lain.
Dan di tengah reruntuhan rumah serta sekolah, saya menemukan sesuatu yang masih berdiri tegak: harapan anak-anak.
Fian N, Pondok Baca Mataleza 2026
- Penulis: Fian N
- Editor: Redaksi Mataleza

Terlalu asik 🤟❤️🔥💯
27 September 2026 5:05 amTerima kasih
27 September 2026 6:44 am