Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Banggalah Pada Dirimu Sendiri

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Senin, 28 Sep 2026
  • visibility 61
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Banggalah pada dirimu sendiri bukan karena hidupmu sempurna. Bukan karena semua yang kamu inginkan akhirnya menjadi milikmu. Dan bukan pula karena kamu selalu kuat.

Banggalah karena, setelah sekian banyak hal yang hampir membuatmu menyerah, kamu masih memilih untuk melanjutkan hidup. Ada banyak hal dalam perjalananmu yang tidak pernah diketahui orang lain.

Tentang malam-malam ketika pikiranmu terlalu penuh, tetapi tidak ada tempat untuk meletakkan semuanya. Tentang air mata yang kamu hapus sebelum bertemu orang lain.

Tentang kecewa yang kamu simpan karena tidak ingin menjelaskan terlalu banyak. Tentang kehilangan yang kamu peluk sendirian.

Tentang hari-hari ketika kamu tetap bekerja, tetap tersenyum, tetap berbicara seperti biasa, sementara di dalam dirimu ada bagian yang sedang berjuang keras untuk tidak runtuh.

Orang lain mungkin hanya melihat hasil akhirnya. Mereka melihatmu masih berdiri. Mereka melihatmu masih bekerja. Masih tertawa. Masih hadir untuk keluarga, teman, dan orang-orang yang membutuhkanmu. Tetapi mereka tidak selalu tahu harga yang harus kamu bayar untuk sampai pada titik itu.

Dan mungkin memang tidak semua perjuangan harus diketahui orang lain. Ada peperangan yang cukup menjadi rahasia antara dirimu dan Tuhan. Ada luka yang tidak perlu diumumkan agar menjadi nyata.

Ada keberanian yang tidak membutuhkan tepuk tangan. Kadang-kadang, bertahan hidup bukan tentang melakukan sesuatu yang besar. Kadang bertahan hanya berarti bangun dari tempat tidur ketika hatimu ingin menyerah. Mandi. Makan. Pergi bekerja. Menyelesaikan satu pekerjaan. Menjawab satu pesan. Tersenyum kepada seseorang. Lalu pulang dan mencoba tidur dengan harapan bahwa besok mungkin akan sedikit lebih ringan. Sesederhana itu!

Tetapi justru dalam hal-hal sederhana itulah sering kali keberanian bekerja secara diam-diam. Kita terlalu sering mengukur keberhasilan dari seberapa jauh kita telah berjalan, seberapa banyak yang telah kita miliki, atau seberapa tinggi kita telah mencapai sesuatu.

Padahal mungkin ada ukuran lain yang jauh lebih manusiawi: seberapa banyak badai yang telah kita lewati tanpa kehilangan seluruh cahaya di dalam diri kita. Maka jangan terlalu keras kepada dirimu sendiri hanya karena hidupmu belum seperti yang kamu bayangkan. Kamu tidak terlambat!

Kamu tidak gagal hanya karena jalanmu berbeda. Dan kamu tidak harus selalu terlihat kuat untuk membuktikan bahwa kamu mampu. Ada waktunya untuk berlari. Ada waktunya untuk berjalan. Dan ada waktunya untuk duduk sebentar, menarik napas, lalu mengakui: โ€œAku lelah.โ€

Itu bukan kelemahan. Itu adalah kejujuran. Sebab menjadi manusia bukan berarti selalu mampu. Menjadi manusia berarti mengetahui kapan harus melanjutkan dan kapan harus berhenti sejenak untuk memulihkan diri. Lihatlah dirimu hari ini!

Mungkin kamu belum menjadi seseorang yang dulu kamu impikan. Tetapi kamu juga bukan lagi orang yang dulu pernah begitu takut menghadapi kehidupan.

Ada banyak hal yang telah mengubahmu. Ada kehilangan yang membuatmu lebih menghargai kehadiran. Ada kegagalan yang membuatmu lebih rendah hati. Ada kesepian yang membuatmu belajar mengenal dirimu sendiri.

Ada luka yang mengajarkanmu bahwa tidak semua hal harus dilawan; sebagian hanya perlu diterima, dipahami, lalu perlahan dilepaskan. Dan mungkin, pada akhirnya, kedewasaan bukan tentang menjadi seseorang yang tidak lagi terluka.

Melainkan menjadi seseorang yang tahu bagaimana membawa lukanya tanpa membiarkan luka itu menentukan seluruh hidupnya. Jadi hari ini, sebelum kembali sibuk mengejar sesuatu yang belum ada, berhentilah sebentar.

Pandanglah perjalananmu sendiri. Ingatlah berapa banyak hal yang pernah kamu pikir tidak akan mampu kamu lewati. Namun ternyata kamu melewatinya. Satu per satu. Hari demi hari. Dengan caramu sendiri. Tidak selalu indah. Tidak selalu kuat.

Tetapi nyata. Banggalah pada dirimu. Banggalah pada dirimu yang tetap bertahan ketika tidak ada yang tahu kamu sedang berjuang. Banggalah pada dirimu yang tetap memilih menjadi baik meskipun pernah diperlakukan tidak baik. Banggalah pada dirimu yang masih mampu mencintai setelah pernah kehilangan.

Banggalah pada dirimu yang masih memiliki harapan meskipun hidup pernah mengajarkan begitu banyak alasan untuk kecewa. Dan jika suatu hari kamu kembali merasa tidak cukup, ingatlah ini: Kamu tidak harus membuktikan nilai dirimu kepada seluruh dunia.

Ada perjalanan yang memang hanya perlu kamu pahami sendiri. Ada kemenangan yang tidak perlu dirayakan siapa-siapa. Sebab terkadang kemenangan terbesar dalam hidup bukan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan.

Melainkan ketika kita mampu melewati sesuatu yang dulu kita pikir akan menghancurkan kita. Dan kamu sudah melewati banyak hal. Mungkin belum semuanya. Tetapi cukup banyak untuk membuatmu berhenti sejenak dan berkata kepada dirimu sendiri: โ€œTerima kasih sudah bertahan.โ€ Tidak semua orang tahu betapa berat perjalananmu. Tetapi kamu tahu. Dan mungkin Tuhan juga tahu. Maka untuk hari ini, tidak apa-apa jika kamu hanya berjalan perlahan. Tidak apa-apa jika belum sampai. Tidak apa-apa jika masih belajar. Tidak apa-apa jika sesekali menangis. Kamu masih di sini!

Dan untuk sementara, itu sudah merupakan sebuah alasan yang cukup untuk bangga pada dirimu sendiri.

Fian N,ย selain suka membaca juga suka menulis. Sejak tahun 2020-sekarang menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile. Saat ini menjadi guru di SMPSK KOTAGOA BOAWAE.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL โ€œDILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELISโ€ KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL โ€œDILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELISโ€ KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 801
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada kesempatan pertama, penulis mengapresiasi tulisan yang berjudul โ€œDilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belisโ€ karya Agustinus S. Sasmita. Agustinus mencoba membaca situasi yang sedang terjadi di NTT dengan kacamata yang tajam dan cukup menggugah eksistensi budaya belis. Tulisan ini juga menawarkan sebuah potret nyata yang melankolis mengenai โ€œbeban laki-laki NTTโ€ dalam menghadapi ritual perkawinan […]

  • BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 495
    • 0Komentar

    01 Mei 2026 Inspirasi: Kis 13:26-33; Yohanes 14:1-6 ย ย ย  Penikmat Permen yang berhikmat dalam Tuhan. Dalam nada syukur penuh iman dan harapan, kita ucapkan selamat Hari Buruh Internasional alias May Day. Bersamaan dengan momen ini, umat Katolik merayakan pembukaan bulan Maria. Tidak sampai di situ, Gereja hari ini merenungkan Firman Suci dari penginjil Yohanes sebagai […]

  • BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Pater Willy Pala
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Willy Pala Pagi ini, 9 Juli, alarm clock saya berbunyi. Saya bangun seperti biasa. Sebelum masuk sakristi untuk siap misa pagi, saya membuka WhatsApp. Ada satu pesan dari Pater Kimy sejak tadi malam, sekitar pukul sebelas lebih. Pesannya sangat singkat. “Malam nduyo, Br. Leko meninggal.” Saya kaget dan terdiam beberapa saat. Rupanya tadi […]

  • EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Yohanes Jawang
    • visibility 663
    • 0Komentar

    Budaya merupakan bagian dari aspek kehidupan manusia yang tidak terpisahkan. Budaya juga merupakan bagian dari kreativitas akal budi manusia, yang dijaga terus-menerus, dan bahkan diperbarui seiring berjalannya waktu.ย  Budaya menjadi suatu aspek yang sangat penting dan bahkan mendapat tempat yang sangat penting. Oleh karena itu, budaya tanpa manusia adalah mustahil, sebaliknya manusia tanpa budaya akan […]

  • NADIEM: Siapa yang Order?

    NADIEM: Siapa yang Order?

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Nury Sybli
    • visibility 290
    • 0Komentar

    Rabu, 13 Mei 2026. Pengadilan Tipikor Jakarta berubah jadi panggung absurditas hukum. Mantan Mendikbudristek, dituntut 18 tahun penjara, denda Rp.1 miliar, plus uang pengganti Rp5,6 triliun subsider 9 tahun kurungan. Kalau ditotal, hukumannya seperti ingin mengubur seseorang hidup-hidup: 27,5 tahun. โ€œIni adalah hari yang sangat, sangat, sangat mengecewakan,โ€ kata Nadiem seusai sidang. Dan memang, siapa […]

  • Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Oleh: Fianย N “Lama bersama belum tentu berakhir di pelaminan.” Kita mungkin pernah mendengar ungkapan itu diucapkan dalam berbagai kesempatan. Ada yang menyampaikannya sebagai nasihat, ada pula yang mengatakannya dengan nada getir setelah mengalami sendiri pahitnya perpisahan. Karena terlalu sering terdengar, kalimat itu terkadang dianggap sebagai ungkapan biasa. Padahal, bagi sebagian orang, ia lahir dari pengalaman […]

expand_less