Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Sosok yang Diam-diam Menjadi Kekuatan

  • account_circle Maria Nopianti
  • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
  • visibility 19
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Maria Nopianti

(Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma) 

Di sebuah keluarga pasti memiliki sosok untuk tempat pulang, ada seseorang yang selalu hadir dengan kata-katanya yang lembut, ada juga yang menunjukkan kasih sayang pada anaknya melalui tindakan. Bagiku sosok itu iyalah Umak ba opak (bapak dan mamak), mereka adalah seseorang yang bukan hanya mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata, tapi dari setiap tindakan yang mereka lakukan aku sebagai anak merasakan betapa besar kasih sayang yang mereka berikan kepada keluarga. Dari aku kecil, aku sudah mengenal sosok umak ba opak (mamak dan bapak) sebagai orang yang bekerja keras. Pagi hari mungkin menjadi waktu ketika sebagian orang masih merasakan kehangatan tempat tidur, tetapi opak ba umak (Bapak dan mamak) sudah mempersiapkan diri untuk melakukan aktivitas. Saat mereka sakit dan Wajah mereka kadang terlihat lelah, tetapi mereka tetap berusaha untuk tetap pergi bekerja. Bagi aku sebagai anak rutinitas ini menjadi salah satu bentuk perjuangan yang dulu mungkin tidak sepenuhnya aku pahami.

Sebagai seorang anak, aku hanya melihat hasil dari kerja keras kedua orang tuaku. Ketiak suatu kebutuhan dapat terpenuhi, ketika bisa bersekolah, ketika dapat membeli suatu yang dibutuhkan, semua seperti hal yang biasa. Namun semakin usiaku bertambah, aku mulai memahami bahwa di balik semua itu ada perjuangan yang panjang dari kedua orang tuaku yang mungkin tidak selalu terlihat olehku, baik mereka berangkat kerja saat hari masih subuh dan pulang saat hari sudah sore, atau terjadi sesuatu di tempat mereka bekerja aku sebagai anak tidak pernah tau, mereka tidak pernah menunjukan bahwa mereka menjalankan hari yang berat pada saat itu malah sebaliknya mereka berkata semuanya baik-baik saja.

Perjuangan Umak ba opak (Bapak dan mamak)

Dari sosok Umak ba Opak (Mamak dan Bapak), mereka mengajarkan bahwa kasih sayang tidak selalu harus diucapkan. Ada waktunya kasih sayang hadir dalam bentuk seseorang yang rela merasa lelah demi keluarga nya, ada juga seseorang yang memilih mengutamakan kebutuhan anak-anaknya, dan seseorang yang tetap berdiri ketika menghadapi berbagai persoalan. Opak (Bapak) adalah salah satu orang mengajarkanku arti dari sebuah tanggung jawab. Sebagai seorang kepala keluarga, banyak hal yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan. Tidak hanya untuk dia seorang, tetapi juga untuk kebutuhan keluarga dan masa depan anak-anaknya. Mamak merupakan sosok wanita yang tangguh dia memiliki kesabaran penuh dalam mendidik dan merawat aku beserta saudara dan saudariku tanpa ada rasa mengeluh. Umak (Mamak) memberikan kasih sayang serta perhatian kepada anak anaknya.

Aku sering membayangkan bagaiman rasanya diposisi mamak dan bapak. Yang setiap hari harus memikirkan pekerjaan, kebutuhan dirumah, kebutuhan pendidikan aku dan sudariku, serta berbagai persoalan yang mungkin datang tanpa diduga. Tidak semua persoalan tersebut mereka ceritakan ke pada kami sebagai anak. Terkadang umak opak (mamak bapak) memilih untuk menyimpan sendiri masalah yang terjadi supaya anak-anaknya tetap menjalankan hari denagan tenang. Ada satu hal yang semakin aku sadarai kedua orang tuaku tidak mungkin selalu mengatakan bahwa mereka merasa lelah dengan pekerjaan mereka.

Mereka bisa pulang dengan wajah yang terlihat biasa saja, padahal mereka sepanjang hari dari pagi sampai sore telah menghabiskan tenaga untuk bekerja. Ketika aku bertanya kepada mereka, jawaban mereka hanya bilang tidak apa-apa, sebelumnya aku mungkin tidak terlalu memperhatikan kalimat tidak apa-apa, sekarang aku mulai memaknainya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Jawaban ”tidak apa-apa” bukan berarti semua yang mereka lalui pada hari itu benar benar mudah. Bisa jadi itu cara mamak dan bapak untuk mengatakan bahwa mereka tidak mau aku ikut memikirkan masalah atau beban yang sedang mereka rasakan. Perjuangan kedua orang tuaku dapat terlihat dari hal-hal kecil, ketika memberikan sesuatu kepada aku dan saudara-saudariku, mungkin mereka tidak pernah mengatakan bahwa untuk mendapatkan hal yang kami inginkan mereka harus bekerja lebih keras. Ketika memenuhi kebutuhan sekolah, mungkin mereka tidak menceritakan bagaimana mereka mengatur pengeluaran keluarga. Semua dilakukan dengan sederhana, seolah-olah tidak ada pengorbanan besar di baliknya. Justru karena hal tersebut mereka lakukan tanpa banyak bicara, perjuangan itu terkadang terlambat untuk disadari.

Kasih Sayang yang Tidak Diungkapkan dengan Kata 

Kedua orang tuaku bukan lah sosok yang selalu menunjukan kasih sayang mereka dengan kata kata. Namun, aku belajar bahwa kasih sayang memiliki banyak bentuk. Ada orang tua yang menunjukan perhatian dengan bertanya, ”sudah makan?” ada juga yang mengingatkan agar berhati hati ketika bepergian. Ada mungkin yang terlihat tegas ketika anak melakukan kesalahan. Ada juga yang tidak banyak tanya, tetapi diam-diam selalu memastikan anak-anaknya baik-baik saja.

Bagiku setiap perhatian itu memiliki makna tersendiri. Terkadang aku merasa bahwa orang tuaku terlalu keras atau terlalu banyak memberi nasihat. Namun, setelah semakin dewasa, perlahan muncul pemahaman bahwa di balik ketegasan itu mereka tetap ada kekhawatiran. Orang tuaku ingin anaknya mampu menghadapi dunia yang tidak selalu mudah. Nasehat-nasehat orang tua mungkin terdengar sederhana. Tentang bagaimana menghargai orang lain, bertanggung jawab dengan pilihan yang kita ambil, selalu bekerja keras dan tidak mudah menyerah. Kalimat yang mereka lontarkan mungkin tidak langsung terasa penting ketika di dengarkan. Namun suatu hari ketika mendapat masalah, nasehat mereka bisa muncul kembali dalam ingatan.

Ketika Harus Pergi Merantau dan Menjadi Dewasa 

Setelah menyelesaikan sekolahku di bangku SMK pada tahun 2025, aku meminta izin kepada kedua orang tuaku untuk lanjut berkuliah di Jogja awalnya mereka tidak mengizinkan aku untuk pergi ke  Jogja, karena itu di luar pulau dan jaraknya yang jauh dari rumah. Dari bangku SD sampai bangku SMK aku bersekolah di Kalimantan dan jaraknya tidak jauh dari rumah, karena sebelumnya aku belum pernah merantau mereka Khawatir tidak ada yang Akan menjaga dan melindungiku saat di tempat rantau. Aku meyakinkan kedua orang tuaku supaya memberi izin untuk aku pergi merantau dan belajar mandiri jauh dari orang tua di tanah rantau. Setelah berdiskusi cukup lama untuk meyakinkan Umak ba Opak (mamak dan Bapak) mereka akhirnya memberi izin untuk aku pergi merantau. walaupun memberi izin saat mereka mengantarkan aku ke bandara untuk berangkat ke jogja   mereka tetap khawatir dan sedih karena saya harus pergi merantau dan jauh dari mereka.

Aku menyadari bahwa kedua orang tuaku tidak harus selalu di sampingku untuk selalu jaga dan mengajarkanku sesuatu. Banyak hal yang justru aku pelajari hanya dengan melihat bagaimana mereka menjalankan kehidupan. Aku belajar tentang bekerja keras dari cara mereka bekerja, aku belajar tentang tanggung jawab dari cara mereka memenuhi kewajiban mereka sebagai orang tua. Aku belajar tentang kesabaran dari cara mereka menghadapi masalah, dan kau juga belajar tentang cinta dari cara mereka memberi kasih sayang dan menjaga keluarga tanpa banyak meminta pengharapan ataupun imbalan.

Umak Ba Opak (Mamak dan bapak), Pahlawan yang tidak Selalu Disebut 

Ketika mendengar kata pahlawan mungkin yang terlintas dalam benak kita adalah orang yang memiliki kekuatan super. Tetapi bagiku pahlawan itu adalah Umak ba Opak (Mamak dan Bapak), mereka adalah orang yang mengorbankan semua hal baik waktu maupun tenaga untuk anak-anaknya tanpa meminta imbalan dan pujian sedikitpun. Mereka bekerja banting tulang mati-matian walaupun sedang sakit mereka tetap pergi bekerja supaya dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anaknya, mereka mau anaknya sukses dan hidup lebih nyaman dari mereka.

Umak ba Opak (mamak dan bapak) mungkin bukan orang yang selalu mengungkapkan perasaan ke pada anak-anaknya dengan kata-kata. Namun, melalui perjuangan, perhatian, dan pengorbanan mereka, aku dapat merasakan kasih sayang yang begitu besar. Semakin aku dewasa, aku semakin memahami bahwa banyak hal yang diberikan oleh kedua orang tuaku bukanlah sesuatu yang sederhana. Pendidikan yang bisa di tempuh, kebutuhan yang terpenuhi, dan kesempatan untuk mengejar cita-cita semuanya memiliki cerita perjuangan kedua orang tuaku di belakangnya. Aku mungkin tidak akan pernah mampu membalas seluruh pengorbanan kedua orang tuaku. Apa yang dapat aku lakukan adalah berusaha menjadi anak yang bertanggung jawab, terus belajar, dan berusaha mewujudkan cita-cita yang selama ini diperjuangkan oleh keluargaku.

 

  • Penulis: Maria Nopianti
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Singkirkan dulu euforia kemenangan 2-0 Prancis atas Maroko di laga Piala Dunia dini hari tadi. Ada rangkaian peristiwa penting lain yang lebih menyita perhatian masyarakat, yaitu penggeledahan yang dilakukan Polri ke sejumlah tempat, pernyataan Kejaksaan Agung, dan penjelasan TNI. Peristiwa tersebut, meski penting dan menjadi perhatian publik, sebaiknya dibaca dengan hati-hati. Ini bukan […]

  • Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Ketika seorang bayi perempuan lahir, kalimat pertama yang paling sering terdengar bukan “Semoga ia tumbuh berani.” Bukan pula, “Semoga ia menjadi manusia yang bijaksana.” Yang keluar justru, “Cantik sekali .” Lalu waktu berjalan, dan masyarakat melanjutkan pelajarannya. Perempuan cenderung diajari memakai bedak sebelum diajari berdebat, diajari bagaimana cara duduk anggun sebelum diajari menyampaikan pendapat. Diajari […]

  • Sudut Pandang: Merajut Kemandirian PSN Ngada Lewat Koperasi Suporter

    Sudut Pandang: Merajut Kemandirian PSN Ngada Lewat Koperasi Suporter

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 110
    • 1Komentar

    Oleh: John Lobo Langkah PSN Ngada untuk bertransisi dari klub plat merah yang manja menjadi klub modern yang mandiri adalah keputusan yang strategis demi masa depan sepak bola Nusa Tenggara Timur (NTT). Melegalkan PSN Ngada menjadi badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas (PT) adalah sebuah keharusan agar Laskar Jaramasi bisa bersaing secara profesional di tingkat nasional. […]

  • Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 260
    • 1Komentar

    suka sibuk pagi-pagi sekali di hari minggu, kami ke gereja. seperti orang-orang, kami berpakaian rapi. sebelum keluar pintu rumah, pastikan semua dalam keadaan siap, batin maupun pakaian. di pintu masuk gereja, semua mata mencari sumber bunyi kaki. lihat atas-bawah. di dalam gereja, ekaristi sebentar lagi mulai. masih ada yang sibuk menilai. sebentar sambut hosti, bikin […]

  • BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Zaeni Boli
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Mesti bangga dengan karya sendiri, Produksi sebuah film bukanlah pekerjaan yang mudah dibutuhkan proses yang terkadang membuat kita hampir menyerah namun dengan tekad yang kuat akhirnya mewujud, ya akhirnya di tahun 2026 ini pada Bengkel Seni Milenial ( BSM ) angkatan ke 10 akhirnya mampu memproduksi film pendek yang diberi judul Cinta Jangan Dikejar, Sebuah […]

  • Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 218
    • 0Komentar

    Hari ini adalah hari yang membahagiakan sekaligus mengharukan. Dengan penuh rasa syukur, saya mengucapkan selamat kepada 207 cucu-cucuku yang cantik dan ganteng, Angkatan ke-72 SMPSK Kotagoa Boawae, yang hari ini dinyatakan lulus. Angka 207 ini terasa istimewa. Jika angka nol di tengah dihilangkan, lalu posisi angka 2 dan 7 ditukar, maka akan menjadi 72, sama […]

expand_less