Breaking News
light_mode
Trending Tags

SKENARIO PARIPURNA OLIGARKI: Menanti Pahlawan Keadilan di Balik Kriminalisasi Nadiem Makarim

  • account_circle Mohammad Sjafie Tama
  • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
  • visibility 73
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Mohammad Sjafie Tama

Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini

Ibarat Tubuh, Indonesia sedang disayat-sayat oleh pedang hukum milik kuasa modal. Baru saja dipertontonkan kepada kita, ruang sidang yang seharusnya menjadi altar suci bagi keadilan kini berubah menjadi ruang jagal bagi para inovator dan pengabdi. Tuntutan 18 tahun penjara serta denda Rp 5,6 triliun terhadap Nadiem Makarim adalah serangan brutal terhadap Akal Sehat. Publik marah dalam kebingungan. Kalau Nadiem tak mampu bayar, maka hukuman menjadi 27 tahun. Di ruang sidang muncul angka-angka fantastis tanpa landasan bukti korupsi uang negara yang konkret sepanjang persidangan. Fakta hukum sengaja dikesampingkan demi syahwat menghukum yang melampaui batas nalar manusia sehat.

Tragedi “ruang sidang” kali ini merupakan replika sempurna dari pola penyingkiran yang menimpa Tom Lembong. Rezim hukum saat ini tampak sengaja memelihara ketidakpastian untuk menjinakkan siapapun yang dianggap tidak sejalan. Ibrahim Arief (Ibam), anak muda yang melepaskan kemapanan global demi pengabdian, kini harus membayar mahal idealismenya dengan vonis penjara. Negara sedang mempertontonkan pengkhianatan paling kejam terhadap putra-putri terbaiknya. Pesan yang dikirimkan sangat jelas dan mengerikan, “Kecerdasan dan integritas adalah ancaman bagi kemapanan sistem busuk yang membangkai”.

Anak muda sedang menyaksikan semuanya dengan mata terbuka. Banyak yang mulai bertanya untuk apa sekolah tinggi, membangun inovasi, atau mengabdi kepada negara jika pada akhirnya sistem lebih menghargai kedekatan dengan lingkar kekuasaan dibanding integritas dan keberanian berpikir?

Krisis terbesar Indonesia saat ini tak semata ekonomi, pangan, atau utang negara. Krisis paling berbahaya adalah krisis kepercayaan terhadap arah moral kekuasaan. Bangsa ini perlahan bergerak menuju kebuntuan, arah tak jelas, tujuan bernegara sekadar catatan pidato. Rakyat seakan tanpa perlindungan negara. Rakyat justru merasa sedang diawasi, diatur, dan diarahkan untuk tunduk pada konsorsium kepentingan yang semakin besar.

Horor masa depan bangsa ini dirancang oleh persenyawaan empat pilar kuasa yang bekerja senyap. Mereka adalah Kuasa Modal yang mendikte arah kebijakan, Kuasa Politik yang melegalkan perampokan hak sipil, Kuasa Hukum yang mengkriminalisasi setiap upaya perlawanan, serta Kuasa Senjata yang memastikan tidak ada suara kritis yang berani bangkit. Keempat pilar ini menyatu membentuk skenario yang menghancurkan sendi-sendi demokrasi. Hukum tidak lagi mencari kebenaran material, melainkan sekadar alat transaksi untuk mengamankan aset dan posisi para pemegang otoritas.

Siasat paling busuk telah disiapkan untuk menghadapi gelombang tekanan publik yang mulai membesar. Pimpinan boneka oligarki akan muncul membawa “tongkat sihir” pengampunan saat kedigdayaan konsorsium kuasa mulai terancam. Nadiem mungkin akan diberi keringanan hukuman atau pengampunan sandiwara demi meredam amarah massa. Strategi ini bertujuan menggiring publik pada ucapan terima kasih yang naif, sekaligus membuat masyarakat lupa bahwa di akar rumput, gurita empat pilar kuasa justru semakin kuat dan membesar. “Pahlawan keadilan” akan hadir hanya untuk menutupi borok sistemik yang kian bernanah.

Di balik panggung sandiwara tersebut, negara sedang mengalami militerisasi urusan domestik yang luar biasa masif. Aparatur keamanan yang seharusnya menjadi pelindung kedaulatan dari ancaman luar, kini ditarik menjadi penggerak utama di lapangan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, hingga proyek percetakan sawah. Militerisasi ini membawa risiko eksistensial bagi pertahanan nasional. Tentara yang kehilangan fokus pada fungsi utamanya karena sibuk mengurusi dapur dan proyek ekonomi-politik akan melemahkan kesiagaan kedaulatan. Bayangan menyeramkan muncul ketika negara diserang dari luar, namun kekuatan utama pertahanan justru sedang terlena di antara tumpukan logistik dan administrasi proyek militer berkedok kesejahteraan.

Sejarah menunjukkan satu pola yang selalu berulang. Kekuasaan yang terlalu rapat berpelukan dengan modal akan melahirkan rasa takut terhadap kritik. Rasa takut itu mendorong kebutuhan mengendalikan narasi publik, mengatur loyalitas birokrasi, memperluas instrumen pengawasan, hingga menciptakan efek gentar melalui proses hukum yang dipertontonkan secara dramatis.

Secara sosiologis kita sedang menyaksikan kematian akal sehat secara masif. Jika pola kriminalisasi pengabdian dan militerisasi birokrasi ini terus berlanjut, Indonesia akan segera kehilangan generasi emas yang kompeten. Ketakutan dikriminalisasi akan membunuh setiap benih idealisme anak muda. Bangsa ini sedang berjalan menuju titik nadir di mana rasa malu menjadi warga negara menjadi refleksi paling jujur dari hati yang menyaksikan kehancuran martabat kemanusiaan dan kedaulatan bangsa.

15 Mei 2926

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Rommy Makyn
    • visibility 172
    • 0Komentar

    (Rommy Makyn adalah seorang Frater tingkat 3 di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, keuskupan Larantuka dan mahasiswa prodi Ilmu Filsafat semester 6 di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero-Maumere) Film pada satu sisi berfungsi sebagai media hiburan, dan pada sisi lain sebagai medium refleksi dengan cara sunyi untuk berbicara atas realitas kehidupan manusia dalam […]

  • Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

    Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle John Orlando, S.Fil
    • visibility 242
    • 0Komentar

    Kami terlalu lelah. Kalimat itu tidak lahir dari satu hari yang buruk, melainkan dari bertahun-tahun yang menumpuk dalam diam. Lelah karena harus mengerti sebelum waktunya, lelah karena harus kuat ketika tidak ada pilihan lain, lelah karena tumbuh di antara suara yang selalu lebih keras dari hati kami sendiri. Kami tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana rasanya […]

  • JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan)  Jangan caci-maki Mama Yasinta Moiwend. Jgn rubah konflik vertikal menjadi konflik horizontal antara sesama kita yang sama-sama terjepit. Siapa Mama Yasinta? Mama Yasinta adalah bagian dari masyarakat kecil. Hidupnya hanya di kampung dan hutan-hutan adat di Merauke. Pagi ke kebun, sore pulang bawa sagu. Tanah bagi Mama bukan sertifikat. […]

  • MONIKA DI UJUNG NASIB

    MONIKA DI UJUNG NASIB

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Ando Sola
    • visibility 363
    • 2Komentar

    “Semua mereka melihatku seperti selembar rupiah yang bisa ditukar dengan kehormatan” Pada simpang tiga ujung desa Watu Ngadha, sekelompok anak kompleks duduk lingkar memainkan gitar tua. Mereka menyayikan lagu-lagu nostalgia, sambil menepuk dada dan mengerutkan dahinya. Mereka tenggelam pada setiap syair yang dinyanyikan. Aku tahu mereka sedang bernostalgia dengan masa lalunya. Terdengar beberapa lagu yang […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 437
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

  • Ketika Kamera Menjadi Mimbar: Kritik atas Kecenderungan Propagandis dalam Film seperti Pesta Babi

    Ketika Kamera Menjadi Mimbar: Kritik atas Kecenderungan Propagandis dalam Film seperti Pesta Babi

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle RD. Patris Allegro
    • visibility 231
    • 0Komentar

    Oleh : RD Patris Allegro   Film seperti Pesta Babi tidak boleh dibaca hanya sebagai dokumenter biasa. Ia bukan sekadar rangkaian gambar tentang tanah, masyarakat adat, babi, hutan, proyek negara, dan luka ekologis. Ia adalah sebuah tindakan penafsiran. Kamera tidak pernah hanya melihat; kamera memilih, memotong, mendekatkan, menjauhkan, memberi sunyi, memberi musik, memberi wajah, lalu […]

expand_less