Breaking News
light_mode
Trending Tags

SKENARIO PARIPURNA OLIGARKI: Menanti Pahlawan Keadilan di Balik Kriminalisasi Nadiem Makarim

  • account_circle Mohammad Sjafie Tama
  • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
  • visibility 136
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Mohammad Sjafie Tama

Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini

Ibarat Tubuh, Indonesia sedang disayat-sayat oleh pedang hukum milik kuasa modal. Baru saja dipertontonkan kepada kita, ruang sidang yang seharusnya menjadi altar suci bagi keadilan kini berubah menjadi ruang jagal bagi para inovator dan pengabdi. Tuntutan 18 tahun penjara serta denda Rp 5,6 triliun terhadap Nadiem Makarim adalah serangan brutal terhadap Akal Sehat. Publik marah dalam kebingungan. Kalau Nadiem tak mampu bayar, maka hukuman menjadi 27 tahun. Di ruang sidang muncul angka-angka fantastis tanpa landasan bukti korupsi uang negara yang konkret sepanjang persidangan. Fakta hukum sengaja dikesampingkan demi syahwat menghukum yang melampaui batas nalar manusia sehat.

Tragedi “ruang sidang” kali ini merupakan replika sempurna dari pola penyingkiran yang menimpa Tom Lembong. Rezim hukum saat ini tampak sengaja memelihara ketidakpastian untuk menjinakkan siapapun yang dianggap tidak sejalan. Ibrahim Arief (Ibam), anak muda yang melepaskan kemapanan global demi pengabdian, kini harus membayar mahal idealismenya dengan vonis penjara. Negara sedang mempertontonkan pengkhianatan paling kejam terhadap putra-putri terbaiknya. Pesan yang dikirimkan sangat jelas dan mengerikan, “Kecerdasan dan integritas adalah ancaman bagi kemapanan sistem busuk yang membangkai”.

Anak muda sedang menyaksikan semuanya dengan mata terbuka. Banyak yang mulai bertanya untuk apa sekolah tinggi, membangun inovasi, atau mengabdi kepada negara jika pada akhirnya sistem lebih menghargai kedekatan dengan lingkar kekuasaan dibanding integritas dan keberanian berpikir?

Krisis terbesar Indonesia saat ini tak semata ekonomi, pangan, atau utang negara. Krisis paling berbahaya adalah krisis kepercayaan terhadap arah moral kekuasaan. Bangsa ini perlahan bergerak menuju kebuntuan, arah tak jelas, tujuan bernegara sekadar catatan pidato. Rakyat seakan tanpa perlindungan negara. Rakyat justru merasa sedang diawasi, diatur, dan diarahkan untuk tunduk pada konsorsium kepentingan yang semakin besar.

Horor masa depan bangsa ini dirancang oleh persenyawaan empat pilar kuasa yang bekerja senyap. Mereka adalah Kuasa Modal yang mendikte arah kebijakan, Kuasa Politik yang melegalkan perampokan hak sipil, Kuasa Hukum yang mengkriminalisasi setiap upaya perlawanan, serta Kuasa Senjata yang memastikan tidak ada suara kritis yang berani bangkit. Keempat pilar ini menyatu membentuk skenario yang menghancurkan sendi-sendi demokrasi. Hukum tidak lagi mencari kebenaran material, melainkan sekadar alat transaksi untuk mengamankan aset dan posisi para pemegang otoritas.

Siasat paling busuk telah disiapkan untuk menghadapi gelombang tekanan publik yang mulai membesar. Pimpinan boneka oligarki akan muncul membawa “tongkat sihir” pengampunan saat kedigdayaan konsorsium kuasa mulai terancam. Nadiem mungkin akan diberi keringanan hukuman atau pengampunan sandiwara demi meredam amarah massa. Strategi ini bertujuan menggiring publik pada ucapan terima kasih yang naif, sekaligus membuat masyarakat lupa bahwa di akar rumput, gurita empat pilar kuasa justru semakin kuat dan membesar. “Pahlawan keadilan” akan hadir hanya untuk menutupi borok sistemik yang kian bernanah.

Di balik panggung sandiwara tersebut, negara sedang mengalami militerisasi urusan domestik yang luar biasa masif. Aparatur keamanan yang seharusnya menjadi pelindung kedaulatan dari ancaman luar, kini ditarik menjadi penggerak utama di lapangan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, hingga proyek percetakan sawah. Militerisasi ini membawa risiko eksistensial bagi pertahanan nasional. Tentara yang kehilangan fokus pada fungsi utamanya karena sibuk mengurusi dapur dan proyek ekonomi-politik akan melemahkan kesiagaan kedaulatan. Bayangan menyeramkan muncul ketika negara diserang dari luar, namun kekuatan utama pertahanan justru sedang terlena di antara tumpukan logistik dan administrasi proyek militer berkedok kesejahteraan.

Sejarah menunjukkan satu pola yang selalu berulang. Kekuasaan yang terlalu rapat berpelukan dengan modal akan melahirkan rasa takut terhadap kritik. Rasa takut itu mendorong kebutuhan mengendalikan narasi publik, mengatur loyalitas birokrasi, memperluas instrumen pengawasan, hingga menciptakan efek gentar melalui proses hukum yang dipertontonkan secara dramatis.

Secara sosiologis kita sedang menyaksikan kematian akal sehat secara masif. Jika pola kriminalisasi pengabdian dan militerisasi birokrasi ini terus berlanjut, Indonesia akan segera kehilangan generasi emas yang kompeten. Ketakutan dikriminalisasi akan membunuh setiap benih idealisme anak muda. Bangsa ini sedang berjalan menuju titik nadir di mana rasa malu menjadi warga negara menjadi refleksi paling jujur dari hati yang menyaksikan kehancuran martabat kemanusiaan dan kedaulatan bangsa.

15 Mei 2926

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Proyek Food Estate dalam Nalar The Othering of Nature

    Proyek Food Estate dalam Nalar The Othering of Nature

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Benyamin Chintyano Meo
    • visibility 228
    • 0Komentar

    Oleh: Benyamin Chintyano Meo. Mahasiswa IFTK Ledalero Di tengah kecemasan global terhadap krisis iklim dan ancaman kelangkaan pangan, Indonesia mengambil langkah agresif melalui program Food Estate (Lumbung Pangan Nasional). Kebijakan ini digadang-gadang sebagai strategi hulu-hilir untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penanaman komoditas skala industri seperti padi, singkong, jagung, dan tebu. Namun, di balik narasi […]

  • PESTA INTAN, PORSENI, dan KERJA yang TAK SELALU TERLIHAT

    PESTA INTAN, PORSENI, dan KERJA yang TAK SELALU TERLIHAT

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Pesta Intan 75 Tahun SMPSK Kotagoa Boawae. 1 Agustus 1951 – 1 Agustus 2026 Ada peristiwa yang datang setiap tahun. Ada pula peristiwa yang hanya sekali diberi kesempatan untuk dirayakan dalam perjalanan sebuah lembaga. Pesta Intan 75 tahun SMPSK Kotagoa Boawae adalah salah satunya. Ia bukan sekadar sebuah tanggal yang dicetak dalam kalender. Ia adalah […]

  • BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Pater Willy Pala
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Willy Pala Pagi ini, 9 Juli, alarm clock saya berbunyi. Saya bangun seperti biasa. Sebelum masuk sakristi untuk siap misa pagi, saya membuka WhatsApp. Ada satu pesan dari Pater Kimy sejak tadi malam, sekitar pukul sebelas lebih. Pesannya sangat singkat. “Malam nduyo, Br. Leko meninggal.” Saya kaget dan terdiam beberapa saat. Rupanya tadi […]

  • Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

    Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle John Orlando, S.Fil
    • visibility 329
    • 0Komentar

    Kami terlalu lelah. Kalimat itu tidak lahir dari satu hari yang buruk, melainkan dari bertahun-tahun yang menumpuk dalam diam. Lelah karena harus mengerti sebelum waktunya, lelah karena harus kuat ketika tidak ada pilihan lain, lelah karena tumbuh di antara suara yang selalu lebih keras dari hati kami sendiri. Kami tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana rasanya […]

  • KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mataleza
    • visibility 383
    • 0Komentar

    Begitu tenang, membaca sastra adalah menakar keikhlasan. Ikhlas menimbang keadaan berdasakan elemen bahasa yang harus dipahami melalui ruang analisis itu. Hal ini jelas terlihat dan terdengar, ketika orang-orang begitu tabah melipat bahasa sastra ke dalam ruang teduh yang selalu menguji pemahaman. Hal ini senada dengan hasil proses kreatif yang ditunjukkan penulis sastra dan sastrawan Nusa […]

  • Prihartini

    Prihartini

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 534
    • 2Komentar

    Kunang-kunang beterbangan kian kemari, sesekali hinggap di meja makan tua dari kayu mahoni, sesekali mendarat di kepala Prihartini yang tengah tenggelam dalam lamunan. Kesedihan terukir jelas pada wajah mudanya. Matanya merah, serupa tumpahan air sirih pinang di pelataran teras. Tak ada hujan air mata, hanya perih yang melumat habis kesadarannya. Ia seolah meluruh, tak berdaya […]

expand_less