Breaking News
light_mode
Trending Tags

Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

  • account_circle Dr. Made Supriatma
  • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
  • visibility 173
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Dr. Made Supriatma, Peneliti masalah Sosial dan Politik

(sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 )

Matinya Altruisme? Serangan terhadap film dokumenter Pesta Babi datang dari semua arah. Kemarin, beredar video Mama Yasinta yang mengatakan dia tidak mengijinkan video dirinya dipakai dalam dokumenter ini. Seperti yang dikatakan oleh dua sutradara film ini, kita tidak tahu apa yang terjadi pada Mama Yasinta di pedalaman Papua sana. Kalau pun Mama Yasinta memilih untuk berbalik posisi, apa yang bisa kita lakukan? Bukankah inti dari film ini adalah bahwa semua orang adalah “agency” atau subyek bagi dirinya sendiri?

Film ini ingin memberikan kesempatan bagi Mama Yasinta dan orang-orang seperti dirinya untuk bisa bersuara. Selama ini mereka tidak punya suara. Film dan kerja-kerja pemberdayaan yang dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil bertujuan untuk memberi kesempatan bagi orang seperti Mama Yasinta bersuara.

Intinya adalah bagaimana orang-orang yang tidak bisa bersuara ini bisa memiliki suara. Orang-orang yang dikalahkan memiliki kekuatan. Dan mereka yang tersingkir, tidak dianggap, memiliki kekuatan supaya juga diperhitungkan.

Kemudian, ada serangan terhadap orang-orang yang membantu mereka yang terpinggirkan ini. Orang yang mencoba menyampaikan suara-suara bisu dan dibisukan ini. Tentu ini klasik: shoot the messenger! Hantam mereka yang menyampaikan pesannya.

Serangan terhadap orang-orang yang membantu Mama Yasinta dan komunitasnya ini sangat marak akhir-akhir ini. Tidak saja dia datang dari para influencer atau buzzer. Ia juga datang dari Jendral, pejabat, hingga uskup agung!

Salah satu yang klasik adalah seperti yang dikatakan oleh Kasad Jendral Maruli Simanjuntak. “Bikin film kan mahal? Dari mana uangnya?”

Si uskup agung, yang tampak sekali belum menonton filmnya tapi sudah berkomentar, juga menanyakan hal yang sama. Siapa yang memberi dana? Bahkan lebih dari Kasad yang militer, uskup agung ini bertanya jangan-jangan film ini bertujuan untuk melepas Papua dan menyerahkannya kepada satu negara adidaya.

Para buzzer pun sibuk mengulik berbagai data dan berusaha menghubungkan film dengan konspirasi dana asing. Tujuannya jelas: bahwa film ini adalah bagian dari konspirasi dan pembuatnya adalah antek-antek asing.

Serangan terhadap the messenger ini tentu bertujuan untuk mengaburkan message yang ingin disampaikan. Artinya, serang pembawa pesannya supaya pesannya itu sendiri tidak sampai.

Dalam pengertian ini, semua messengers seperti para sutradara, kru film, orang-orang yang ada di film, semua mereka adalah bagian dari konspirasi asing ini.

Mama Yasinta dalam hal ini hanya alat. Sebelum ini Mama Yasinta sangat aktif menyuarakan hak-hak masyarakat adat. Dia ke Jakarta untuk ikut gugatan masyarakat sipil atas Proyek Strategis Nasional. Dia bahkan ada di Jayapura saat launching film Pesta Babi ini.

Namun kemudian dia berbalik arah. Para buzzer beramai-ramai mengunggah video bahwa sekarang dia mendukung PSN di Merauke!

Sekali lagi, sejauh ini kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Mama Yasinta. Namun apapun posisi Mama Yasinta sekarang, apakah itu akan menghapus malapetaka ekologis, sosial, dan ekonomi yang diakibatkan oleh PSN?

Satu persoalan yang selalu menggoda pikiran saya adalah mengapa selalu saja kerja-kerja seperti ini, yang berusaha memberikan hak kepada mereka yang dihilangkan haknya, suara kepada mereka yang dibisukan, tongkat kepada mereka yang dilumpuhkan, selalu berusaha dijatuhkan oleh soal uang? Siapa yang mendanai proyek ini? Ah, ini pasti bagian dari skema menjatuhkan Indonesia!

Ini terjadi karena, menurut saya, mereka tidak memiliki argumen apa pun untuk menunjukkan yang sebaliknya. Fakta di lapangan bicara kuat sekali: ribuan bulldozer dan puluhan ribu tentara diterjunkan untuk menggusur hutan-hutan dan penduduk yang ada di dalamnya.

Kemudian, mengapa mereka sangat terobsesi pada uang? Pada siapa yang mendanai? Sederhana saja menurut saya: mereka memang beroperasi di wilayah itu.

Sistem sosial dan politik kita sangat transsaksional. Orang memilih karena bansos atau amplop. Orang menjabat karena mampu menyediakan uang. Bahkan orang menjadi tentara atau polisi karena membayar. Untuk naik jabatan juga harus membayar.

Di negeri kita ini tidak ada altruisme – orang yang rela berkorban untuk orang lain tanpa mengharap balasan apa pun. Para agamawan rajin menyerukan ini – demi surga. Para pejabat khususnya di masa Orde Baru rajin berujar “tanpa pamrih” yang lebih berlaku untuk orang lain bukan diri sendiri.

Film kan mahal, siapa yang bayar? Itu pertanyaan seorang jendral yang kekayaannya sangat fantastis. Dan para buzzer yang jelas dibayar itu berusaha membongkar siapa yang mendanai film ini.

Bahkan pertanyaan itu keluar dari uskup mandagi, uskup agung! Mandagi pernah marah-marah karena kalangan gereja-gereja Kristen dan Katolik di Papua menyerukan ketidaksetujuan terhadap PSN. Dia bilang, PSN memberikan pekerjaan untuk orang Papua. Supaya orang Papua bisa makan nasi. Tidak ada dalam pikiran si uskup ini bahwa makan sagu, patatas, atau keladi itu sama terhormatnya dengan makan nasi. Mandagi pun otak dan pemikirannya sama seperti mereka yang terobsesi dengan uang ini. Pada 2021, dia menerima Rp 2,4 milyar dari anak perusahaan Korindo group. Dan, perusahaan yang dimaksud juga ada dalam film Pesta Babi.

Jadi, demikianlah saudara-saudara. Hidup sosial, politik, dan bahkan keagamaan kita diatur oleh pemikiran transsaksional yang sama. Diatur oleh keserakahan yang sama. Bajunya saja yang berbeda-beda: safari putih pejabat, seragam militer, dan jubah uskup!

Sehingga ketika ada orang-orang yang mau bertindak altruistik, untuk mereka itu anomali. Bahkan ancaman atas stabilitas uang yang menjadi dunia mereka. Sehingga mereka melihat dunia yang penuh konspirasi: ada kekuatan asing yang ingin menguasai kekayaan yang dalam pikiran serakah mereka adalah monopoli mereka. Saya percaya, altruisme tidak mati. Anda yang nobar dan diskusi Pesta Babi, Anda yang menyuarakan ketidakadilan yang dialami Andrie Yunus, Anda yang berdiri bersama orang-orang yang digusur, dan lain sebagainya menunjukkan itu.

Terakhir, saya menonton wawancara uskup mandagi (cari sendiri online) di mana dia mendoakan mereka yang mengkritik dirinya dan keuskupan yang dia pimpin. “Supaya kita bersama masuk surga,” katanya. Yakin mau berbagi surga dengan orang seperti uskup mandagi? Saya sih pilih masuk neraka

25 Mei, 2026

  • Penulis: Dr. Made Supriatma
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan)  Jangan caci-maki Mama Yasinta Moiwend. Jgn rubah konflik vertikal menjadi konflik horizontal antara sesama kita yang sama-sama terjepit. Siapa Mama Yasinta? Mama Yasinta adalah bagian dari masyarakat kecil. Hidupnya hanya di kampung dan hutan-hutan adat di Merauke. Pagi ke kebun, sore pulang bawa sagu. Tanah bagi Mama bukan sertifikat. […]

  • Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Yeremias Laba Lein
    • visibility 277
    • 4Komentar

    TAK INGIN SEDANGKAL ITU Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sedangkan mencintaimu saja aku harus menyelam sedalam-dalamnya lautan asmaramu, berenang seluas-luasnya samudra di hatimu, dan melewati pasang surutnya air matamu   Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sebab aku ingin berlayar sejauh mungkin di lautan asmaramu, menjala cinta dan kasih sayang sebanyak mungkin […]

  • Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Oleh: Filemon Pandu Wimastha (Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende)  Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. […]

  • PERMEN: Pesona Roh Kudus Dalam Komitmen Misioner, 11 Mei 2026

    PERMEN: Pesona Roh Kudus Dalam Komitmen Misioner, 11 Mei 2026

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 291
    • 11Komentar

    PERMEN edisi Senin Paskah ke-6 – 11 Mei 2026 – Pesona Roh Kudus dalam Komitmen Misioner Inspirasi: Kis 16:11-15; Yohanes 15:26-16:4a   Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Paulus begitu semangat untuk mencari dan menemui para pengikut Kristus. Hari-hari ini kita mendengar kisahnya bahwa Paulus ke sini-lah, ke sana-lah; ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, Makedonia-lah, […]

  • 𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Novel Mahar Gading telah resmi dipublikasikan pada Kamis (02/07/2026). Novel ini ditulis oleh Pion Ratulolly yang merupakan nama pena dari Muhammad Soleh Kadir. Novel ini berisi kisah asmara antara Arakian Sabon Ama dan Mutiara Belaon Bur’an. Kisah asmara keduanya harus berbenturan dengan tuntutan adat berupa mahar gading. Di sinilah pergulatan kisah keduanya mengalami konflik yang […]

  • Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan. Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia. Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai. Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang […]

expand_less