Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

  • account_circle Pater Marsel Koka, RCJ
  • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
  • visibility 157
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Pater Marsel Koka, RCJ

(Pastor dari Konggregasi Rogasionis Hati Yesus Maumere)

Di sela-sela masa akhir liburan, saya berkesempatan mengunjungi kembali sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecil selama enam tahun: SDN Riominsi, yang dahulu kami kenal sebagai SDK Terong Kedong.

Sekolah kecil ini berada di Kampung Latung, Desa Benteng Tawa V, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Letaknya juga jauh dari pusat keramaian dan jauh dari jalan utama.

Namun justru di tempat yang tenang, sepi, dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan itulah tumbuh sebuah lingkungan yang sangat kondusif bagi pendidikan. Di tengah kesunyian alam yang menenangkan, sekolah ini telah menjadi pelita yang menerangi masa depan banyak anak.

Di tempat inilah perjalanan akademik saya dimulai. Di ruang-ruang kelas sederhana saya pertama kali belajar mengenal huruf A, I, U, E, O, mengeja kata demi kata, mengenal angka satu, dua, tiga, dan seterusnya. Dari sinilah langkah-langkah kecil seorang anak mulai diarahkan untuk mengenal dunia yang lebih luas melalui pendidikan.

Hari ini, ketika kembali menapakkan kaki di halaman sekolah ini setelah tiga puluh dua tahun berlalu, hati saya dipenuhi rasa haru dan syukur. Banyak kenangan masa kecil seolah hidup kembali. Saya teringat para guru yang dengan penuh kesabaran dan ketulusan mendampingi kami belajar dan bertumbuh.

Secara pribadi, saya sungguh bersyukur pernah dididik oleh para guru yang penuh dedikasi dan kebijaksanaan: Bapak Guru Alo Rambu, Pak Martinus Dola, Ibu Ros Bebhe, Ibu Mia, Pak Guru Alo Bey, serta para guru lainnya yang kemudian melanjutkan karya pendidikan di tempat ini.

Saya harus jujur mengakui bahws mereka tidak hanya mengajarkan kami membaca dan berhitung, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang hingga kini tetap melekat dalam ingatan.

Sebagai angkatan pertama, saya masih mengingat dengan jelas kondisi sekolah pada masa itu. Kami belajar di ruang kelas yang sangat sederhana, beralaskan tanah dan beratapkan bambu. Fasilitas yang tersedia sangat terbatas.

Namun keterbatasan itu tidak pernah mengurangi semangat para guru untuk mengajar maupun semangat kami untuk belajar. Justru dari kesederhanaan itulah lahir ketekunan, daya juang, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Kini, setelah lebih dari tiga dekade berlalu, saya menyaksikan perubahan yang sungguh luar biasa. Bangunan yang dahulu sederhana dari bambu kini berdiri megah dan membanggakan. Gedung tembok berdiri megah.

Dahulu hanya ada sebuah sekolah dasar, kini telah berkembang hingga memiliki jenjang pendidikan menengah. Perubahan ini mengingatkan saya pada kata-kata filsuf Yunani ternama, Heraklitos: “Tidak ada yang tetap selain perubahan itu sendiri.”

Apa yang dahulu tampak kecil kini telah bertumbuh menjadi sesuatu yang besar. Apa yang dahulu dibangun dengan segala keterbatasan kini berdiri kokoh sebagai simbol harapan bagi generasi-generasi berikutnya.

Namun sesungguhnya, kemegahan sebuah sekolah tidak terutama terletak pada bangunannya. Nilai sejatinya terletak pada manusia-manusia yang dibentuk di dalamnya. Sebab sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu melahirkan pribadi-pribadi yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Dalam konteks itulah saya teringat pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno:
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.”

Di antara para pahlawan itu, para guru memiliki tempat yang istimewa. Mereka mungkin tidak selalu dikenal luas, tetapi melalui tangan dan hati mereka, masa depan bangsa dipersiapkan hari demi hari.

Saya juga teringat kata-kata bijak Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional:
“Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”

Pesan ini mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat. Sekolah, keluarga, dan lingkungan harus berjalan bersama untuk membentuk generasi yang unggul.

Karena itu, saya ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah memungkinkan sekolah ini berkembang dan berdiri kokoh hingga hari ini.

Kepada pemerintah, para tokoh masyarakat, para orang tua, para donatur, dan semua pihak yang telah memberikan perhatian serta dukungan, semoga segala jerih payah yang telah diberikan menjadi berkat bagi banyak generasi.

Kepada para siswa-siswi SD dan SMP yang sedang menempuh pendidikan di tempat ini, teruslah belajar dengan tekun dan jangan pernah takut bermimpi.

Jangan pernah berpikir bahwa keterbatasan tempat menentukan masa depan kalian. Banyak orang berhasil justru lahir dari sekolah-sekolah sederhana di pelosok negeri.

Masa depan ditentukan oleh kemauan untuk belajar, bekerja keras, dan tidak mudah menyerah.
Dan kepada para guru yang saat ini mengabdikan diri di sekolah ini, teruslah menjadi pendidik yang penuh dedikasi, keteladanan, dan komitmen. Tugas seorang guru bukan sekadar mengajar, melainkan menyalakan cahaya pengetahuan dan harapan dalam diri setiap anak.

Akhirnya, saya pulang dari tempat ini dengan hati yang penuh syukur. Tiga puluh dua tahun telah berlalu. Bangunannya telah berubah, wajah sekolahnya telah berubah, dan zaman pun telah berubah.

Namun satu hal yang tidak berubah: rasa hormat kepada para guru dan rasa terima kasih kepada sekolah yang telah menjadi tempat pertama saya belajar mengenal dunia.

Terima kasih, SDK Terong Kedong yang kini telah menjadi SDN Riominsi. Dari tempat yang jauh dari keramaian ini, lahir banyak mimpi, harapan, dan masa depan.

Semoga sekolah ini terus menjadi pelita yang menerangi generasi demi generasi, dan dari Kampung Latung yang tenang ini terus lahir anak-anak yang kelak membawa terang bagi keluarga, masyarakat, Gereja, bangsa, dan dunia.

  • Penulis: Pater Marsel Koka, RCJ
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Di Bawah Lampu Kos, Mimpi Tetap Menyala

    Sudut Pandang: Di Bawah Lampu Kos, Mimpi Tetap Menyala

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Virginia Dedebupu Hanasbey
    • visibility 49
    • 0Komentar

    Kisah mahasiswa yang belajar tumbuh jauh dari rumah Malam telah turun ketika sebagian besar rumah mulai mematikan lampunya. Namun, di sebuah kamar kos yang tidak terlalu luas, cahaya lampu masih menyala. Di atas meja terdapat laptop yang terbuka, beberapa buku kuliah, dan catatan tugas yang belum selesai. Tidak ada suara keluarga yang memanggil untuk makan […]

  • Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Yulius Riba
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Oleh: Yulius Riba Content Creator, Writer, Edukasi Sosial dan Politik.    Pekan ini, potret buram demokrasi kembali muncul dari ruang yang selama ini kita agungkan sebagai benteng nalar yakni kampus. Di Universitas Gadjah Mada, sebuah forum diskusi yang semula dirancang sebagai ruang diskursus publik antara tiga pejabat negara dan mahasiswa berakhir karena tindakan-tindakan yang justru […]

  • Sudut Pandang: Sepuluh Gol dalam Pertandingan yang Katanya Tidak Penting

    Sudut Pandang: Sepuluh Gol dalam Pertandingan yang Katanya Tidak Penting

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Pertandingan perebutan tempat ketiga biasanya diperlakukan seperti acara ramah-tamah setelah pemakaman. Dua tim baru saja gagal mencapai final, lalu diminta kembali memakai seragam, berbaris di lorong stadion, dan menunjukkan semangat untuk memperebutkan medali perunggu. Tidak ada anak kecil yang menempelkan poster di kamar sambil berbisik, “Kelak aku ingin finis ketiga.” Prancis dan Inggris tampaknya memahami […]

  • Siapakah Saya?

    Siapakah Saya?

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 280
    • 0Komentar

    Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tuntutan, banyak orang terjebak dalam rutinitas tanpa sempat berhenti sejenak untuk merenung. Kita sering sibuk mengejar prestasi, memenuhi ekspektasi orang lain, haus akan validasi atau sekadar bertahan dari tekanan sehari-hari, hingga lupa menanyakan hal yang paling mendasar: “Siapakah saya?” Pertanyaan sederhana namun mendalam ini sering kali […]

  • Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Menit ke-67, papan skor menunjukkan Argentina 0, Mesir 2. Lionel Scaloni berdiri kaku di tepi lapangan. Di belakangnya, bangku cadangan Argentina senyap. Di depannya, sebelas pemain Mesir merayakan gol kedua seperti orang yang baru menemukan pintu keluar. Juara bertahan itu sedang dipermalukan oleh tim yang sepanjang laga hanya melepaskan empat tembakan. Kita tahu akhirnya: […]

  • KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Stefen B
    • visibility 293
    • 2Komentar

    Namaku Martina Syukur. Orang biasa memanggilku Tina. Terlahir dari keluarga yang cukup berada dengan penghasilan yang bisa dibilang cukup, membuat aku merasa tak pernah berkekurangan. Semua kebutuhanku selalu terpenuhi. Aku juga memiliki saudara tetapi bukan sedarah. Namanya Tini. Dia adalah gadis kecil yang diadopsi oleh bapak dan mama dari sebuah panti asuhan setahun sebelum aku […]

expand_less