Breaking News
light_mode
Trending Tags

Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
  • visibility 123
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan.

Manusia lahir dengan segudang kemungkinan yang terus diperbarui setiap hari. Setiap pagi membawa kesempatan baru, tetapi juga membuka pintu bagi kekecewaan yang tak pernah kita duga. Kadang hidup datang memeluk dengan kabar-kabar baik yang menghangatkan. Di waktu yang lain, ia menghadirkan kesakitan yang seolah tak pernah benar-benar pergi dari dalam diri.

Dari banyak cerita yang saya dengar, ada begitu banyak orang yang menemukan dirinya berada dalam keadaan yang sulit dipahami. Mereka terus memberi, terus bertahan, terus mengulurkan tangan, tetapi justru menjadi pihak yang paling sering disakiti. Mereka berkorban tanpa banyak menghitung, berharap pengorbanan itu akan dibalas dengan ketulusan yang sama. Namun hidup tidak selalu berjalan setara.

Ada pula mereka yang diam-diam memelihara sakitnya sendiri. Bukan karena menyukai penderitaan, melainkan karena telah terlanjur menyerahkan segalanya: waktu, perhatian, harapan, bahkan sebagian dari dirinya. Mereka tetap tinggal meski hati telah berkali-kali retak. Cinta, pada saat tertentu, memang dapat membutakan. Ia memabukkan, membuat seseorang sulit membedakan antara memperjuangkan dan mempertahankan sesuatu yang sebenarnya telah lama hilang.

Yang menyedihkan, manusia sering memilih berdiam diri dalam kubangan gelap yang diciptakannya sendiri. Bukan karena tidak melihat jalan keluar, melainkan karena takut menghadapi kenyataan bahwa tidak semua yang dicintai ditakdirkan untuk dimiliki. Kita bertahan pada ketidakpastian, memeluk kenangan yang menyakitkan, dan berharap waktu akan mengubah orang lain menjadi seperti yang kita inginkan.

Padahal, mencintai tidak seharusnya berarti kehilangan diri sendiri. Pengorbanan tidak seharusnya menghapus harga diri. Dan kesetiaan tidak seharusnya menjadikan seseorang rela hidup terus-menerus dalam luka.

Pada akhirnya, menjadi dewasa mungkin bukan tentang menemukan cinta yang sempurna, melainkan tentang memiliki keberanian untuk menerima kenyataan: bahwa ada orang-orang yang datang untuk tinggal, dan ada yang hadir hanya untuk mengajarkan kita cara melepaskan. Bahwa tidak semua harapan perlu dipertahankan. Dan bahwa memilih pergi dari sesuatu yang terus melukai bukanlah tanda menyerah, melainkan bentuk paling tulus dari mencintai diri sendiri.

Sebab hati juga berhak beristirahat. Ia tidak diciptakan untuk terus-menerus menunggu kepastian dari mereka yang tak pernah benar-benar berniat menetap. Ia pantas menemukan tempat pulang yang tidak membuatnya merasa harus berjuang sendirian.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Fian N, tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile. Saat ini menjadi teman belajar bagi anak-anak di SMPSK KOTAGOA BOAWAE

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 172
    • 0Komentar

    “Kamu galak seperti macan betina / Barangkali kamu akan gila / Tapi tak akan mati.” Sepenggal dialog tersebut menjadi pembuka yang menggugah dari pertunjukan Maria Zaitun yang dibawakan oleh Bengkel Seni Milenial (BSM), sebuah kelompok teater dari SMK Sura Dewa. Kelompok kecil ini secara konsisten menghidupkan ruang-ruang seni pertunjukan yang kerap sepi apresiasi. Namun, teater […]

  • Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 478
    • 6Komentar

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus Inspirasi: Kis 6:1-7; I Ptr 2:4-9 ; Yohanes 14:1-12 Malu bertanya sesat di jalan, Rajin bertanya disangka wartawan // Selamat wahai umat beriman. Mari beri senyuman yang menawan. Sakramen Pembaptisan sudah buat kita sejalan dan searah dengan Tuhan. Tor monitor penikmat […]

  • Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Marianus Lako
    • visibility 141
    • 2Komentar

    Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan Perjalanan menuju Rindu dan Kenangan Apa itu sebuah kerinduan? Kalau tentang sakit dan pedih yang menyala paling berkaca-kaca tuk menyumbang luka? Apa itu kerelaan? Kalau tentang melepas tapi masih melekat Kalau tentang ikhlas tapi di dada memberat Kalau tentang mengenang tapi selalu merengkuh ketenangan Meo 2026 Gagasan Kesepian Apa pernah […]

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.137
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

  • PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 291
    • 2Komentar

    PERMEN edisi Selasa 5 Paskah – 05 MEI 2026 –  Bekerja Sama dan Sama-Sama Bekerja Inspirasi: Kis 14:19-28 ; Yohanes 14:27-31a Paulus dan Barnabas buat sesuatu yang membuka mata hati penikmat Permen akan pentingnya bekerja dalam tim. Yah, dalam perjalanan misi pewartaan, keduanya mengangkat para penatua jemaat untuk memimpin jemaat kristiani yang mereka dirikan. Mereka […]

  • Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

    Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle John Orlando, S.Fil
    • visibility 230
    • 0Komentar

    Kami terlalu lelah. Kalimat itu tidak lahir dari satu hari yang buruk, melainkan dari bertahun-tahun yang menumpuk dalam diam. Lelah karena harus mengerti sebelum waktunya, lelah karena harus kuat ketika tidak ada pilihan lain, lelah karena tumbuh di antara suara yang selalu lebih keras dari hati kami sendiri. Kami tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana rasanya […]

expand_less