Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Menikah Itu Indah. Sampai Tamu Pulang dan Lampu Pelaminan Dipadamkan.

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
  • visibility 153
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada satu pertanyaan yang usianya mungkin lebih tua daripada umur sebagian besar jomlo di negeri ini.

“Kapan nikah?”

Pertanyaan itu aneh. Ia terdengar seperti doa, tetapi sering kali terasa seperti ancaman. Diucapkan sambil tersenyum, tetapi meninggalkan perasaan seperti baru saja gagal memenuhi target hidup yang ditentukan orang lain.

Yang lebih lucu lagi, sebagian orang yang paling rajin bertanya justru sedang sibuk memperbaiki rumah tangganya sendiri. Atapnya bocor, temboknya retak, tetapi masih sempat menunjuk rumah tetangga yang belum dibangun.

Saya memang belum menikah.
Kalimat itu bukan pengakuan yang memalukan. Ia hanya penanda bahwa saya belum sampai di sana. Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang pernikahan.

Sebab hidup ini tidak selalu mengajarkan lewat pengalaman pribadi. Kadang-kadang ia mengajar lewat jendela rumah orang lain.
Dari sepasang mata ini saya melihat rumah-rumah yang berdiri megah dari luar, tetapi di dalamnya penghuni berjalan seperti dua planet yang kehilangan orbit. Mereka tinggal di alamat yang sama, tetapi sudah lama berhenti pulang satu sama lain.
Dari telinga ini saya mendengar begitu banyak cerita.

Ada suami yang setiap pulang membawa lelah, tetapi lupa membawa kasih sayang.
Ada istri yang menerima nafkah, tetapi kehilangan nafkah batin.

Ada pasangan yang begitu sibuk mencari perhatian di luar rumah sampai lupa bahwa orang yang paling haus diperhatikan justru sedang menunggu di ruang tamu.
Ada yang tidur di ranjang yang sama, tetapi mimpinya sudah berbeda alamat.
Dan ada yang setiap hari mengunggah foto keluarga penuh senyum, seolah-olah algoritma media sosial bisa menyembunyikan suara tangisan yang dipelankan di balik pintu kamar.
Kita hidup di zaman ketika pesta pernikahan semakin mewah, tetapi percakapan setelah menikah semakin miskin.

Pelaminan dibuat semegah mungkin, sementara kemampuan meminta maaf justru dibangun seadanya. Undangan dicetak dengan tinta emas, tetapi komitmen ditulis dengan pensil yang mudah dihapus.

Mungkin itu sebabnya banyak anak muda hari ini tidak takut pada pesta pernikahan. Mereka takut pada hari setelah pesta selesai.

Takut ketika gaun pengantin sudah disimpan.

Takut ketika bunga-bunga mulai layu.
Takut ketika tamu pulang.
Karena saat itulah cinta berhenti menjadi dekorasi dan mulai berubah menjadi pekerjaan.

Dan pekerjaan yang bernama rumah tangga tidak pernah mengenal hari libur. Ironisnya, masyarakat sering menganggap jomlo sebagai masalah yang harus segera diselesaikan. Seolah-olah status lajang adalah penyakit yang membutuhkan resep tercepat: menikah.

Padahal, sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa menikah bukan obat untuk kesepian.
Dua orang yang tidak selesai dengan dirinya sendiri hanya akan membangun kesepian dalam ukuran yang lebih besar.

Rumah. Barangkali yang kita butuhkan bukan lebih banyak pesta pernikahan.
Yang kita butuhkan adalah lebih banyak manusia yang selesai berdamai dengan egonya sebelum meminta orang lain hidup bersamanya.

Karena pernikahan bukan sekadar mempertemukan dua orang yang saling mencintai. Ia mempertemukan dua masa kecil, dua luka, dua cara marah, dua cara meminta maaf, dua keluarga, dua kebiasaan, dua ketakutan, dan berharap semuanya bisa hidup di bawah satu atap tanpa saling membakar.

Bukankah itu pekerjaan yang jauh lebih berat daripada memilih gedung resepsi?
Itulah mengapa menikah tidak cukup bermodal rasa berbunga-bunga.
Ia membutuhkan ilmu agar tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.
Ia membutuhkan kedewasaan agar ego tidak selalu ingin menang. Dan di atas semuanya, ia membutuhkan rasa takut kepada Tuhan.

Sebab ketika rasa cinta sedang lelah, ketika sabar mulai menipis, ketika godaan datang mengenakan wajah yang lebih menarik, sering kali yang masih mampu menjaga seseorang tetap pulang bukan lagi perasaan, melainkan kesadaran bahwa ada Tuhan yang menyaksikan setiap pilihan.
Tentu saja, tidak semua rumah tangga berakhir menjadi puing.

Masih banyak pasangan yang membuktikan bahwa cinta bisa bertahan tanpa harus viral.

Mereka tidak sering memamerkan kebahagiaan.

Mereka hanya sibuk menjaganya.
Mungkin memang begitu sifat kebahagiaan.
Ia tidak berisik.
Yang berisik justru keretakan.

Karena itu, jangan mengejek seseorang yang belum berani menikah.

Bisa jadi ia sedang belajar menjadi rumah yang teduh, bukan sekadar orang yang ingin punya alamat.

Sebab membangun rumah jauh lebih mudah daripada membuat seseorang merasa pulang.

Dan pada akhirnya, yang menghancurkan banyak rumah bukanlah badai.
Sering kali, rumah-rumah itu runtuh karena penghuninya lebih sibuk mencari tempat berteduh di luar daripada belajar saling menjadi atap bagi satu sama lain.

Maka lain kali, sebelum bertanya kepada seseorang, “Kapan nikah?”, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih pantas kita ajukan kepada diri sendiri:
“Kalau benar pernikahan adalah sesuatu yang begitu mulia, mengapa begitu banyak orang yang sudah berada di dalamnya justru diam-diam ingin melarikan diri?”
Barangkali, pertanyaan itulah yang lebih mendesak dijawab daripada sekadar memastikan siapa yang paling cepat naik pelaminan.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Fian N selain suka menulis juga suka membaca. Sejak 2018-sekarang sudah menerbitkan beberapa buku puisi dan pengembangan diri. Tahun 2020-sekarang menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Rommy Makyn
    • visibility 217
    • 0Komentar

    (Rommy Makyn adalah seorang Frater tingkat 3 di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, keuskupan Larantuka dan mahasiswa prodi Ilmu Filsafat semester 6 di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero-Maumere) Film pada satu sisi berfungsi sebagai media hiburan, dan pada sisi lain sebagai medium refleksi dengan cara sunyi untuk berbicara atas realitas kehidupan manusia dalam […]

  • PERMEN: Perjuangan Pengusaha Anggur, Renungan Harian Katolik 06 Mei 2026

    PERMEN: Perjuangan Pengusaha Anggur, Renungan Harian Katolik 06 Mei 2026

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 360
    • 4Komentar

    PERMEN edisi Rabu Paskah ke-5 – 06 MEI 2026 – Perjuangan Pengusaha Anggur Inspirasi: Kis 15:1-6 ; Yohanes 15:1-8 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Penghiburan iman yang mandraguna kita terima dari Yesus sendiri ketika Yesus menggambarkan cinta segitiga antara Manusia, Yesus, dan Bapa-Nya. Allah Bapa digambarkan sebagai pengusaha anggur, Yesus adalah pohon anggur, […]

  • Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Dr. Made Supriatma
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Oleh: Dr. Made Supriatma, Peneliti masalah Sosial dan Politik (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Matinya Altruisme? Serangan terhadap film dokumenter Pesta Babi datang dari semua arah. Kemarin, beredar video Mama Yasinta yang mengatakan dia tidak mengijinkan video dirinya dipakai dalam dokumenter ini. Seperti yang dikatakan oleh dua sutradara film ini, kita […]

  • Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 278
    • 0Komentar

    Boawae, 2 Juni 2026– Suasana penuh haru dan syukur mewarnai acara pengumuman kelulusan siswa kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan orang tua siswa menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada pihak sekolah atas keberhasilan anak-anak mereka menyelesaikan pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Pertama. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa sekolah tidak hanya menjadi […]

  • Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Beny K. Harman
    • visibility 327
    • 0Komentar

    Oleh: BennyĀ K. Harman Ketika aparat bergerak cepat membubarkan diskusi dan melarang pemutaran film Pesta Babi, Kolonialisme di Jaman Kita, sebuah pesan benderang sedang dikirimkan oleh penguasa kepada rakyatnya: kalian boleh hidup di negara ini, tapi kalian tidak boleh berpikir. Pelarangan massal terhadap film ini bukan sekadar tindakan sensor birokratis yang kolot. Ini adalah ekspresi ketakutan […]

  • Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 284
    • 2Komentar

    “Sekarang, kepalanya sudah pergi.” Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh. “Sebentar lagi, Sempati […]

expand_less