Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Menikah Itu Indah. Sampai Tamu Pulang dan Lampu Pelaminan Dipadamkan.

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
  • visibility 159
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada satu pertanyaan yang usianya mungkin lebih tua daripada umur sebagian besar jomlo di negeri ini.

“Kapan nikah?”

Pertanyaan itu aneh. Ia terdengar seperti doa, tetapi sering kali terasa seperti ancaman. Diucapkan sambil tersenyum, tetapi meninggalkan perasaan seperti baru saja gagal memenuhi target hidup yang ditentukan orang lain.

Yang lebih lucu lagi, sebagian orang yang paling rajin bertanya justru sedang sibuk memperbaiki rumah tangganya sendiri. Atapnya bocor, temboknya retak, tetapi masih sempat menunjuk rumah tetangga yang belum dibangun.

Saya memang belum menikah.
Kalimat itu bukan pengakuan yang memalukan. Ia hanya penanda bahwa saya belum sampai di sana. Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang pernikahan.

Sebab hidup ini tidak selalu mengajarkan lewat pengalaman pribadi. Kadang-kadang ia mengajar lewat jendela rumah orang lain.
Dari sepasang mata ini saya melihat rumah-rumah yang berdiri megah dari luar, tetapi di dalamnya penghuni berjalan seperti dua planet yang kehilangan orbit. Mereka tinggal di alamat yang sama, tetapi sudah lama berhenti pulang satu sama lain.
Dari telinga ini saya mendengar begitu banyak cerita.

Ada suami yang setiap pulang membawa lelah, tetapi lupa membawa kasih sayang.
Ada istri yang menerima nafkah, tetapi kehilangan nafkah batin.

Ada pasangan yang begitu sibuk mencari perhatian di luar rumah sampai lupa bahwa orang yang paling haus diperhatikan justru sedang menunggu di ruang tamu.
Ada yang tidur di ranjang yang sama, tetapi mimpinya sudah berbeda alamat.
Dan ada yang setiap hari mengunggah foto keluarga penuh senyum, seolah-olah algoritma media sosial bisa menyembunyikan suara tangisan yang dipelankan di balik pintu kamar.
Kita hidup di zaman ketika pesta pernikahan semakin mewah, tetapi percakapan setelah menikah semakin miskin.

Pelaminan dibuat semegah mungkin, sementara kemampuan meminta maaf justru dibangun seadanya. Undangan dicetak dengan tinta emas, tetapi komitmen ditulis dengan pensil yang mudah dihapus.

Mungkin itu sebabnya banyak anak muda hari ini tidak takut pada pesta pernikahan. Mereka takut pada hari setelah pesta selesai.

Takut ketika gaun pengantin sudah disimpan.

Takut ketika bunga-bunga mulai layu.
Takut ketika tamu pulang.
Karena saat itulah cinta berhenti menjadi dekorasi dan mulai berubah menjadi pekerjaan.

Dan pekerjaan yang bernama rumah tangga tidak pernah mengenal hari libur. Ironisnya, masyarakat sering menganggap jomlo sebagai masalah yang harus segera diselesaikan. Seolah-olah status lajang adalah penyakit yang membutuhkan resep tercepat: menikah.

Padahal, sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa menikah bukan obat untuk kesepian.
Dua orang yang tidak selesai dengan dirinya sendiri hanya akan membangun kesepian dalam ukuran yang lebih besar.

Rumah. Barangkali yang kita butuhkan bukan lebih banyak pesta pernikahan.
Yang kita butuhkan adalah lebih banyak manusia yang selesai berdamai dengan egonya sebelum meminta orang lain hidup bersamanya.

Karena pernikahan bukan sekadar mempertemukan dua orang yang saling mencintai. Ia mempertemukan dua masa kecil, dua luka, dua cara marah, dua cara meminta maaf, dua keluarga, dua kebiasaan, dua ketakutan, dan berharap semuanya bisa hidup di bawah satu atap tanpa saling membakar.

Bukankah itu pekerjaan yang jauh lebih berat daripada memilih gedung resepsi?
Itulah mengapa menikah tidak cukup bermodal rasa berbunga-bunga.
Ia membutuhkan ilmu agar tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.
Ia membutuhkan kedewasaan agar ego tidak selalu ingin menang. Dan di atas semuanya, ia membutuhkan rasa takut kepada Tuhan.

Sebab ketika rasa cinta sedang lelah, ketika sabar mulai menipis, ketika godaan datang mengenakan wajah yang lebih menarik, sering kali yang masih mampu menjaga seseorang tetap pulang bukan lagi perasaan, melainkan kesadaran bahwa ada Tuhan yang menyaksikan setiap pilihan.
Tentu saja, tidak semua rumah tangga berakhir menjadi puing.

Masih banyak pasangan yang membuktikan bahwa cinta bisa bertahan tanpa harus viral.

Mereka tidak sering memamerkan kebahagiaan.

Mereka hanya sibuk menjaganya.
Mungkin memang begitu sifat kebahagiaan.
Ia tidak berisik.
Yang berisik justru keretakan.

Karena itu, jangan mengejek seseorang yang belum berani menikah.

Bisa jadi ia sedang belajar menjadi rumah yang teduh, bukan sekadar orang yang ingin punya alamat.

Sebab membangun rumah jauh lebih mudah daripada membuat seseorang merasa pulang.

Dan pada akhirnya, yang menghancurkan banyak rumah bukanlah badai.
Sering kali, rumah-rumah itu runtuh karena penghuninya lebih sibuk mencari tempat berteduh di luar daripada belajar saling menjadi atap bagi satu sama lain.

Maka lain kali, sebelum bertanya kepada seseorang, “Kapan nikah?”, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih pantas kita ajukan kepada diri sendiri:
“Kalau benar pernikahan adalah sesuatu yang begitu mulia, mengapa begitu banyak orang yang sudah berada di dalamnya justru diam-diam ingin melarikan diri?”
Barangkali, pertanyaan itulah yang lebih mendesak dijawab daripada sekadar memastikan siapa yang paling cepat naik pelaminan.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Fian N selain suka menulis juga suka membaca. Sejak 2018-sekarang sudah menerbitkan beberapa buku puisi dan pengembangan diri. Tahun 2020-sekarang menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pau Cubarsí dan Seni Bertahan yang Nyaris Terlupakan

    Pau Cubarsí dan Seni Bertahan yang Nyaris Terlupakan

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Sepak bola selalu jatuh cinta kepada pencetak gol. Kita mengingat Diego Maradona karena menggiring bola melewati setengah lapangan. Kita mengenang Lionel Messi karena ribuan sentuhan yang membuat hukum gravitasi seolah kehilangan kuasa. Kita memuja Cristiano Ronaldo karena gol-gol yang lahir dari lompatan yang mustahil dilakukan manusia biasa. Jarang sekali kita pulang dari stadion sambil berkata, […]

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.497
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

  • Sudut Pandang: Keringat Ayah Adalah Harapan Kami photo_camera 1

    Sudut Pandang: Keringat Ayah Adalah Harapan Kami

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Desan Viktoria Aso
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Perjuangan seorang ayah petani dalam membesarkan tujuh anak, menghadapi kehilangan, dan menjaga harapan keluarganya.    Oleh: Maria Desan Viktoria Aso   Setiap keluarga memiliki cerita perjuangannya masing-masing. Ada keluarga yang hidup dengan segala kemudahan, tetapi ada juga keluarga yang harus melewati banyak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di balik kehidupan sebuah keluarga, biasanya terdapat sosok […]

  • Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Maxi L. Sawung
    • visibility 341
    • 0Komentar

    Redup Aku akhirnya memilih agar tu(h)an ataupun siapa saja tidak merenggut luka milikku. Beberapa tangan datang mengetuk, beberapa tangan mencoba memeluk tapi tetap aku tutup pintu makam batu itu. Kau pernah sekali atau bahkan berkali-kali dengan buru-buru berlari agar lekas sampai ketika datang melayat lukaku. Sekadar menanyakan perihal masa penyembuhan atau bagaimana dengan bekas luka-luka […]

  • Sudut Pandang: Ka Sinta yang Selalu Ada Untukku

    Sudut Pandang: Ka Sinta yang Selalu Ada Untukku

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Yesi Kristiani
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Oleh: Yesi Kristiani Cerita sederhana tentang seorang kakak yang selalu menjadi bagian penting dalam hidupku. Setiap orang pasti mempunyai seseorang yang berarti dalam hidupnya. Seseorang yang mungkin tidak selalu kita sadari kehadirannya, tetapi selalu ada ketika kita membutuhkannya. Bagiku sosok kakak Sinta sangat berarti dalam setiap perjalanan ku, terutama ketika saya dapat dukungan dari kedua […]

  • Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 553
    • 6Komentar

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus Inspirasi: Kis 6:1-7; I Ptr 2:4-9 ; Yohanes 14:1-12 Malu bertanya sesat di jalan, Rajin bertanya disangka wartawan // Selamat wahai umat beriman. Mari beri senyuman yang menawan. Sakramen Pembaptisan sudah buat kita sejalan dan searah dengan Tuhan. Tor monitor penikmat […]

expand_less