Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Menikah Itu Indah. Sampai Tamu Pulang dan Lampu Pelaminan Dipadamkan.

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
  • visibility 106
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada satu pertanyaan yang usianya mungkin lebih tua daripada umur sebagian besar jomlo di negeri ini.

“Kapan nikah?”

Pertanyaan itu aneh. Ia terdengar seperti doa, tetapi sering kali terasa seperti ancaman. Diucapkan sambil tersenyum, tetapi meninggalkan perasaan seperti baru saja gagal memenuhi target hidup yang ditentukan orang lain.

Yang lebih lucu lagi, sebagian orang yang paling rajin bertanya justru sedang sibuk memperbaiki rumah tangganya sendiri. Atapnya bocor, temboknya retak, tetapi masih sempat menunjuk rumah tetangga yang belum dibangun.

Saya memang belum menikah.
Kalimat itu bukan pengakuan yang memalukan. Ia hanya penanda bahwa saya belum sampai di sana. Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang pernikahan.

Sebab hidup ini tidak selalu mengajarkan lewat pengalaman pribadi. Kadang-kadang ia mengajar lewat jendela rumah orang lain.
Dari sepasang mata ini saya melihat rumah-rumah yang berdiri megah dari luar, tetapi di dalamnya penghuni berjalan seperti dua planet yang kehilangan orbit. Mereka tinggal di alamat yang sama, tetapi sudah lama berhenti pulang satu sama lain.
Dari telinga ini saya mendengar begitu banyak cerita.

Ada suami yang setiap pulang membawa lelah, tetapi lupa membawa kasih sayang.
Ada istri yang menerima nafkah, tetapi kehilangan nafkah batin.

Ada pasangan yang begitu sibuk mencari perhatian di luar rumah sampai lupa bahwa orang yang paling haus diperhatikan justru sedang menunggu di ruang tamu.
Ada yang tidur di ranjang yang sama, tetapi mimpinya sudah berbeda alamat.
Dan ada yang setiap hari mengunggah foto keluarga penuh senyum, seolah-olah algoritma media sosial bisa menyembunyikan suara tangisan yang dipelankan di balik pintu kamar.
Kita hidup di zaman ketika pesta pernikahan semakin mewah, tetapi percakapan setelah menikah semakin miskin.

Pelaminan dibuat semegah mungkin, sementara kemampuan meminta maaf justru dibangun seadanya. Undangan dicetak dengan tinta emas, tetapi komitmen ditulis dengan pensil yang mudah dihapus.

Mungkin itu sebabnya banyak anak muda hari ini tidak takut pada pesta pernikahan. Mereka takut pada hari setelah pesta selesai.

Takut ketika gaun pengantin sudah disimpan.

Takut ketika bunga-bunga mulai layu.
Takut ketika tamu pulang.
Karena saat itulah cinta berhenti menjadi dekorasi dan mulai berubah menjadi pekerjaan.

Dan pekerjaan yang bernama rumah tangga tidak pernah mengenal hari libur. Ironisnya, masyarakat sering menganggap jomlo sebagai masalah yang harus segera diselesaikan. Seolah-olah status lajang adalah penyakit yang membutuhkan resep tercepat: menikah.

Padahal, sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa menikah bukan obat untuk kesepian.
Dua orang yang tidak selesai dengan dirinya sendiri hanya akan membangun kesepian dalam ukuran yang lebih besar.

Rumah. Barangkali yang kita butuhkan bukan lebih banyak pesta pernikahan.
Yang kita butuhkan adalah lebih banyak manusia yang selesai berdamai dengan egonya sebelum meminta orang lain hidup bersamanya.

Karena pernikahan bukan sekadar mempertemukan dua orang yang saling mencintai. Ia mempertemukan dua masa kecil, dua luka, dua cara marah, dua cara meminta maaf, dua keluarga, dua kebiasaan, dua ketakutan, dan berharap semuanya bisa hidup di bawah satu atap tanpa saling membakar.

Bukankah itu pekerjaan yang jauh lebih berat daripada memilih gedung resepsi?
Itulah mengapa menikah tidak cukup bermodal rasa berbunga-bunga.
Ia membutuhkan ilmu agar tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.
Ia membutuhkan kedewasaan agar ego tidak selalu ingin menang. Dan di atas semuanya, ia membutuhkan rasa takut kepada Tuhan.

Sebab ketika rasa cinta sedang lelah, ketika sabar mulai menipis, ketika godaan datang mengenakan wajah yang lebih menarik, sering kali yang masih mampu menjaga seseorang tetap pulang bukan lagi perasaan, melainkan kesadaran bahwa ada Tuhan yang menyaksikan setiap pilihan.
Tentu saja, tidak semua rumah tangga berakhir menjadi puing.

Masih banyak pasangan yang membuktikan bahwa cinta bisa bertahan tanpa harus viral.

Mereka tidak sering memamerkan kebahagiaan.

Mereka hanya sibuk menjaganya.
Mungkin memang begitu sifat kebahagiaan.
Ia tidak berisik.
Yang berisik justru keretakan.

Karena itu, jangan mengejek seseorang yang belum berani menikah.

Bisa jadi ia sedang belajar menjadi rumah yang teduh, bukan sekadar orang yang ingin punya alamat.

Sebab membangun rumah jauh lebih mudah daripada membuat seseorang merasa pulang.

Dan pada akhirnya, yang menghancurkan banyak rumah bukanlah badai.
Sering kali, rumah-rumah itu runtuh karena penghuninya lebih sibuk mencari tempat berteduh di luar daripada belajar saling menjadi atap bagi satu sama lain.

Maka lain kali, sebelum bertanya kepada seseorang, “Kapan nikah?”, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih pantas kita ajukan kepada diri sendiri:
“Kalau benar pernikahan adalah sesuatu yang begitu mulia, mengapa begitu banyak orang yang sudah berada di dalamnya justru diam-diam ingin melarikan diri?”
Barangkali, pertanyaan itulah yang lebih mendesak dijawab daripada sekadar memastikan siapa yang paling cepat naik pelaminan.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Fian N selain suka menulis juga suka membaca. Sejak 2018-sekarang sudah menerbitkan beberapa buku puisi dan pengembangan diri. Tahun 2020-sekarang menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

    Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Halo, teman-teman. Apa kabar? Salam jumpa lagi bersama saya di Ruang Rasa. Pada kesempatan ini saya akan berbagi sebuah tulisan yang saya kembangkan dari salah satu postingan di Facebook. Sebelum teman-teman membaca tulisan di bawah ini lebih lanjut, perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini murni hanyalah respon atas postingan tersebut. Mungkin saja di luar sana […]

  • Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 198
    • 1Komentar

    suka sibuk pagi-pagi sekali di hari minggu, kami ke gereja. seperti orang-orang, kami berpakaian rapi. sebelum keluar pintu rumah, pastikan semua dalam keadaan siap, batin maupun pakaian. di pintu masuk gereja, semua mata mencari sumber bunyi kaki. lihat atas-bawah. di dalam gereja, ekaristi sebentar lagi mulai. masih ada yang sibuk menilai. sebentar sambut hosti, bikin […]

  • INDONESIA DARURAT KEKERASAN FISIK: LOGIKA “DI BAWAH TELAPAK KAKI”

    INDONESIA DARURAT KEKERASAN FISIK: LOGIKA “DI BAWAH TELAPAK KAKI”

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Filmon Hasrin
    • visibility 350
    • 4Komentar

    Sejak Indonesia merdeka pada 1945, harapannya jelas: terbebas dari kekerasan fisik dan konflik bersenjata. Namun, realitas berbicara lain. Kekerasan justru terus hadir dalam berbagai bentuk dan periode. Sejarah mencatat pembunuhan aktivis seperti Tan Malaka, hilangnya Widji Thukul pada era Orde Baru, hingga tragedi kekerasan massal 1965 dan 1998. Peristiwa-peristiwa tersebut bukan sekadar catatan masa lalu, […]

  • Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 217
    • 2Komentar

    Fokus pada satu tujuan. Jangan gegabah dalam memperlakukan sebuah persoalan. Sering kali, manusia terjebak pada rasa ingin lebih akan sesuatu yang masih belum pasti seperti apa akhirnya. Dalam hidup, kita sering tergoda untuk menangani banyak masalah sekaligus. Ada perasaan seolah kita harus selalu produktif, selalu cepat menyelesaikan segalanya, dan selalu tampil prima. Namun, ironisnya, justru […]

  • Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 225
    • 0Komentar

    Kekalahan sering kali menjadi momok yang dihindari dalam dunia sepak bola. Namun, dalam kacamata strategi yang lebih luas, sebuah kekalahan adakalanya bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah bidak yang sengaja digeser demi memenangkan pertempuran yang lebih besar. Sudut pandang inilah yang menyeruak ketika penulis mencermati kekalahan 3-1 PSN Ngada dari Unaaha FC dalam laga pamungkas […]

  • PERMEN: Perjuangan Pengusaha Anggur, Renungan Harian Katolik 06 Mei 2026

    PERMEN: Perjuangan Pengusaha Anggur, Renungan Harian Katolik 06 Mei 2026

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 288
    • 4Komentar

    PERMEN edisi Rabu Paskah ke-5 – 06 MEI 2026 – Perjuangan Pengusaha Anggur Inspirasi: Kis 15:1-6 ; Yohanes 15:1-8 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Penghiburan iman yang mandraguna kita terima dari Yesus sendiri ketika Yesus menggambarkan cinta segitiga antara Manusia, Yesus, dan Bapa-Nya. Allah Bapa digambarkan sebagai pengusaha anggur, Yesus adalah pohon anggur, […]

expand_less