Breaking News
light_mode
Trending Tags

Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
  • visibility 293
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Sekarang, kepalanya sudah pergi.”

Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh.

“Sebentar lagi, Sempati akan memulai hidup tanpa kepalanya. Dia tinggal mengikuti semua petunjuk di kertas. Lima sila tertera jinak beriak. Pasti tak ada hambatan.

  1. Buka lilitan resleting yang melilit jakun.
  2. Ceraikan baut dari mur hingga talak delapan.
  3. Telan dan tahan ludah dalam-dalam.
  4. Tekan kedua tombol penghambat laju aliran darah secara bersamaan.
  5. Pegangi kedua kuping, lalu tarik kepala ke atas dengan keras hingga terlepas.โ€

Cara yang tidak masuk akal. Apakah ada resleting pada jakun manusia? Apakah ada baut dan mur yang menetap di sana? Yang pasti, tidak! Lalu apa?

Triskaidekaman, setelah berhasil menulis novel debutnya, ‘Panduan Matematika Terapan,’ mencoba kembali hadir dengan eksperimen-eksperimen mutakhir. Sebuah karya fiksi yang serentak ilmiah, baik novel pertama maupun novel keduanya ini, CBTK. Karya fiksi yang hadir dengan cara yang tak lazim seperti pada karya-karya fiksi lainnya. Mencoba mendobrak zona nyaman karya sastra umumnya. Hadir dengan balutan berbeda, dengan kosa kata baru. Pembaca akan dibuatnya terkejut serentak celetuk, ini novel apa? Ngeri ketika membaca secara keseluruhan.

“Uang tak akan pernah cukup. Waktu selalu saja lebih sempit dari pada celana. Tubuh kita pun fana. Bagaimana solusinya? Tebang masalahmu, bebaskan kepalamu. Kepala ialah sumber segala mudarat dan ide keparat.” Hal lain yang menarik di sini adalah, “kepala tak boleh ditaruh di sembarang tempat. Alasannya karena itu kepala, bukan sampah.” Dua hal kontradiksi serentak menimbulkan pemahaman baru. Yang dibebaskan adalah persoalan yang bercokol pada kepala. Tempatkan kepala dan isinya pada tempatnya. Sebab, kebebasan menjadi milik orang yang merdeka, yang berani menyelesaikan persoalan yang selalu dipersoalkan oleh kepala-kepala manusia yang lain.

Novel yang terdiri dari lima bagian ini, dimulai dengan ‘Hilang’. Langkah-langkah awal yang ditempuh untuk melepaskan kepala sampai dengan jaminan yang janggal, penuh tanda tanya. Tidak ada asuransi dan menemukan kematian bila waktunya habis, ini sadis dan miris. Sebuah praktik yang dilarang pemerintah. Tetapi di lain pihak, pemerintah juga menghadirkan persoalan pelik di dalam kehidupan manusia. “Undang-undang dan pemerintahan, sama-sama mencibir. Mudah membubuhkan cap kriminal tetapi selalu kesulitan membersihkannya,….”

Bagian pertama berakhir dengan kehilangan akan siapa diri saya sebenarnya. Apakah kepala adalah sumber segala masalah? Apakah kepala adalah muasal segala persoalan?

“Ada rahasia yang serupa es krim: kita tak pernah rela membagikannya, tetapi sekali saja ketahuan, mau tak mau harus berbagi. Ada juga rahasia yang seperti ciuman: hanya enak didekap berdua, dan orang ketiga hanya akan mengacaukan. Saya tak tahu saya ini orang kedua di rahasia es krim, atau orang ketiga di rahasia ciuman.”

Manusia terjebak dalam rahasia yang diciptakannya sendiri. Memenuhi isi kepala dan berdesakkan di dalamnya. Lamat-lamat, dilema memenuhi ruang berpikir, berbagi atau memendamnya sendirian. Menjadi konsumsi pribadi atau layak dibagi dengan yang lain. Apakah ada yang harus dibuang? Apakah saya harus berlari yang jauh? Menangis yang diam?

Manusia akhirnya memilih untuk membuang semuanya. Menjadikannya sebagai kenangan yang serba salah, penuh dengan penyesalan. Hal itu seperti pertanyaan ini, apa artinya uang ketika bersanding dengan penyesalan?

Kenang, Datang dan Pulang adalah bagian akhir dari novel ini. Ada satu dan bisa jadi banyak hal yang hanya bisa dikenang oleh manusia dan manusia tidak bisa menafikan itu. Hal inilah yang membuat semua itu menjadi kenangan. Manusia tak bisa luput dari kenangan. Sekuat-kuatnya manusia berusaha untuk melupakan semua itu, tetapi ada satu yang tak bisa ditolak, kenangan. Disadari atau tidak, kenangan itu akan datang tiba-tiba tanpa diminta. Sebab, sebagai makhluk pejalan, manusia selalu diingatkan dan ditautkan pertemuan yang sudah dengan pertemuan yang akan. Dan di sana, kenangan kembali memenuhi ruang pertemuan untuk dikenang.

Pada bagian ini, Sempati diingatkan kembali pada masa kecilnya. Persoalan-persoalan kebanyakan yang sering terjadi dalam berumah tangga. Ayahnya yang sakit-sakitan, ibunya yang melacurkan diri kepada lelaki lain demi pemenuhan kebutuhan anaknya.

“Justru kebutuhan anak itu dicukup-cukupkan ibunya yang melacurkan pukas di etalase demi ditendes lelaki yang beredar di distrik merah-merah.”

Hidup yang kompleks dan kian rumit, memaksakan manusia untuk melakukan apa saja sebagai pemenuhan kebutuhan entah itu mendesak atau tidak, satu yang pasti, bahwa apa yang dibutuhkan selalu tersedia. “Padahal, penderitaan itu bisa singkat saja kalau kita sabar sedikit.”

Seperti Datang, manusia pun harus Pulang. Datang membawa lebam pada ingatan kelam. Pulang pada kenang-kenangan. Guratan ingatan masa silam, sebagai pembaca, saya pun bertanya-tanya, apakah ini sebuah novel? Apakah saya sedang hidup tanpa atau dengan kepala? Pertanyaan yang tak mungkin saya jawab di sini jika hanya saya yang membacanya. Setelahnya, kita akan memojokkan keadaan di sekitar yang begitu serakah, kejam, tidak adil dan penuh keegoisan. Merasa muak dengan keadaan diri sendiri. Merasa jijik dengan pengalaman hidup yang dilakoni. Merasa bosan dengan suasana di sekitar. Tetapi, “semuak-muaknya kamu, masih banyak orang yang mau ada di posisi kamu, Sempati,” pukas Jatayu.

Sampai di sini, Triskaidekaman berhasil menggiring pembaca ke dalam cara berpikir yang kompleks. Memenggal kepala adalah membebaskan diri dari segala keruwetan yang itu-itu saja. Kreativitas ditantang dalam menyikapi persoalan. Tidak hanya pandai tetapi harus bijak dalam penyelesaian. Jika kita dengan gampangnya menuruti tanpa filter, maka yang terjadi di sana adalah penyesalan yang menyusup jadi kenangan.

Oleh karena itu, “jika di dunia manusia memarkirkan kendaraannya, di sini manusia akan memarkirkan kepalanya.” bisik Derai Cemara.

Pogopeo, 2026

 

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 495
    • 0Komentar

    01 Mei 2026 Inspirasi: Kis 13:26-33; Yohanes 14:1-6 ย ย ย  Penikmat Permen yang berhikmat dalam Tuhan. Dalam nada syukur penuh iman dan harapan, kita ucapkan selamat Hari Buruh Internasional alias May Day. Bersamaan dengan momen ini, umat Katolik merayakan pembukaan bulan Maria. Tidak sampai di situ, Gereja hari ini merenungkan Firman Suci dari penginjil Yohanes sebagai […]

  • BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Pater Willy Pala
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Willy Pala Pagi ini, 9 Juli, alarm clock saya berbunyi. Saya bangun seperti biasa. Sebelum masuk sakristi untuk siap misa pagi, saya membuka WhatsApp. Ada satu pesan dari Pater Kimy sejak tadi malam, sekitar pukul sebelas lebih. Pesannya sangat singkat. “Malam nduyo, Br. Leko meninggal.” Saya kaget dan terdiam beberapa saat. Rupanya tadi […]

  • Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Rommy Makyn
    • visibility 224
    • 0Komentar

    (Rommy Makyn adalah seorang Frater tingkat 3 di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, keuskupan Larantuka dan mahasiswa prodi Ilmu Filsafat semester 6 di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero-Maumere) Film pada satu sisi berfungsi sebagai media hiburan, dan pada sisi lain sebagai medium refleksi dengan cara sunyi untuk berbicara atas realitas kehidupan manusia dalam […]

  • Sudut Pandang: Sosok yang Diam-diam Menjadi Kekuatan

    Sudut Pandang: Sosok yang Diam-diam Menjadi Kekuatan

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Nopianti
    • visibility 31
    • 2Komentar

    Oleh: Maria Nopianti (Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma)ย  Di sebuah keluarga pasti memiliki sosok untuk tempat pulang, ada seseorang yang selalu hadir dengan kata-katanya yang lembut, ada juga yang menunjukkan kasih sayang pada anaknya melalui tindakan. Bagiku sosok itu iyalah Umak ba opak (bapak dan mamak), mereka adalah seseorang yang bukan hanya mengungkapkan perasaannya melalui […]

  • Memelihara Hati di Tengah Arus Digital:  Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    Memelihara Hati di Tengah Arus Digital: Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 506
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba,ย Frater OCD Dunia saat ini telah mengalami transformasi mendasar dalam cara manusia berinteraksi, berpikir, dan memaknai realitas. Bagi generasi Z dan Aplha, ekosistem digital bukan lagi sekadar alat bantu atau saluran komunikasi tambahan, melainkan lingkungan hidup utama tempat identitas dibentuk, relasi dijalin, dan makna kehidupan dicari. Kemudahan konektivitas yang ditawarkan oleh smartphone dan platform […]

  • Puisi-puisi Harsandi Pratama Putra

    Puisi-puisi Harsandi Pratama Putra

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Harsandi Pratama Putra
    • visibility 296
    • 0Komentar

    Kepada Rindu Bernama Kenangan Gigilnya rindu malam ini adalah dingin yang paling menusuk Hujan kenangan datang, membasahi sela-sela ingatan Setelah tak menemukan temu dan pelukan yang hangat Di dada yang sesak ini, setiap sepi datang mengunjungi tubuhku Aku mati-matian menenangkan nyerinya sendirian. 2026 Setiap Malam Kepalaku Penuh Kecamuk Oleh Peperangan Aku ingin reda Dari luka […]

expand_less