Breaking News
light_mode
Trending Tags

Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
  • visibility 233
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Sekarang, kepalanya sudah pergi.”

Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh.

“Sebentar lagi, Sempati akan memulai hidup tanpa kepalanya. Dia tinggal mengikuti semua petunjuk di kertas. Lima sila tertera jinak beriak. Pasti tak ada hambatan.

  1. Buka lilitan resleting yang melilit jakun.
  2. Ceraikan baut dari mur hingga talak delapan.
  3. Telan dan tahan ludah dalam-dalam.
  4. Tekan kedua tombol penghambat laju aliran darah secara bersamaan.
  5. Pegangi kedua kuping, lalu tarik kepala ke atas dengan keras hingga terlepas.”

Cara yang tidak masuk akal. Apakah ada resleting pada jakun manusia? Apakah ada baut dan mur yang menetap di sana? Yang pasti, tidak! Lalu apa?

Triskaidekaman, setelah berhasil menulis novel debutnya, ‘Panduan Matematika Terapan,’ mencoba kembali hadir dengan eksperimen-eksperimen mutakhir. Sebuah karya fiksi yang serentak ilmiah, baik novel pertama maupun novel keduanya ini, CBTK. Karya fiksi yang hadir dengan cara yang tak lazim seperti pada karya-karya fiksi lainnya. Mencoba mendobrak zona nyaman karya sastra umumnya. Hadir dengan balutan berbeda, dengan kosa kata baru. Pembaca akan dibuatnya terkejut serentak celetuk, ini novel apa? Ngeri ketika membaca secara keseluruhan.

“Uang tak akan pernah cukup. Waktu selalu saja lebih sempit dari pada celana. Tubuh kita pun fana. Bagaimana solusinya? Tebang masalahmu, bebaskan kepalamu. Kepala ialah sumber segala mudarat dan ide keparat.” Hal lain yang menarik di sini adalah, “kepala tak boleh ditaruh di sembarang tempat. Alasannya karena itu kepala, bukan sampah.” Dua hal kontradiksi serentak menimbulkan pemahaman baru. Yang dibebaskan adalah persoalan yang bercokol pada kepala. Tempatkan kepala dan isinya pada tempatnya. Sebab, kebebasan menjadi milik orang yang merdeka, yang berani menyelesaikan persoalan yang selalu dipersoalkan oleh kepala-kepala manusia yang lain.

Novel yang terdiri dari lima bagian ini, dimulai dengan ‘Hilang’. Langkah-langkah awal yang ditempuh untuk melepaskan kepala sampai dengan jaminan yang janggal, penuh tanda tanya. Tidak ada asuransi dan menemukan kematian bila waktunya habis, ini sadis dan miris. Sebuah praktik yang dilarang pemerintah. Tetapi di lain pihak, pemerintah juga menghadirkan persoalan pelik di dalam kehidupan manusia. “Undang-undang dan pemerintahan, sama-sama mencibir. Mudah membubuhkan cap kriminal tetapi selalu kesulitan membersihkannya,….”

Bagian pertama berakhir dengan kehilangan akan siapa diri saya sebenarnya. Apakah kepala adalah sumber segala masalah? Apakah kepala adalah muasal segala persoalan?

“Ada rahasia yang serupa es krim: kita tak pernah rela membagikannya, tetapi sekali saja ketahuan, mau tak mau harus berbagi. Ada juga rahasia yang seperti ciuman: hanya enak didekap berdua, dan orang ketiga hanya akan mengacaukan. Saya tak tahu saya ini orang kedua di rahasia es krim, atau orang ketiga di rahasia ciuman.”

Manusia terjebak dalam rahasia yang diciptakannya sendiri. Memenuhi isi kepala dan berdesakkan di dalamnya. Lamat-lamat, dilema memenuhi ruang berpikir, berbagi atau memendamnya sendirian. Menjadi konsumsi pribadi atau layak dibagi dengan yang lain. Apakah ada yang harus dibuang? Apakah saya harus berlari yang jauh? Menangis yang diam?

Manusia akhirnya memilih untuk membuang semuanya. Menjadikannya sebagai kenangan yang serba salah, penuh dengan penyesalan. Hal itu seperti pertanyaan ini, apa artinya uang ketika bersanding dengan penyesalan?

Kenang, Datang dan Pulang adalah bagian akhir dari novel ini. Ada satu dan bisa jadi banyak hal yang hanya bisa dikenang oleh manusia dan manusia tidak bisa menafikan itu. Hal inilah yang membuat semua itu menjadi kenangan. Manusia tak bisa luput dari kenangan. Sekuat-kuatnya manusia berusaha untuk melupakan semua itu, tetapi ada satu yang tak bisa ditolak, kenangan. Disadari atau tidak, kenangan itu akan datang tiba-tiba tanpa diminta. Sebab, sebagai makhluk pejalan, manusia selalu diingatkan dan ditautkan pertemuan yang sudah dengan pertemuan yang akan. Dan di sana, kenangan kembali memenuhi ruang pertemuan untuk dikenang.

Pada bagian ini, Sempati diingatkan kembali pada masa kecilnya. Persoalan-persoalan kebanyakan yang sering terjadi dalam berumah tangga. Ayahnya yang sakit-sakitan, ibunya yang melacurkan diri kepada lelaki lain demi pemenuhan kebutuhan anaknya.

“Justru kebutuhan anak itu dicukup-cukupkan ibunya yang melacurkan pukas di etalase demi ditendes lelaki yang beredar di distrik merah-merah.”

Hidup yang kompleks dan kian rumit, memaksakan manusia untuk melakukan apa saja sebagai pemenuhan kebutuhan entah itu mendesak atau tidak, satu yang pasti, bahwa apa yang dibutuhkan selalu tersedia. “Padahal, penderitaan itu bisa singkat saja kalau kita sabar sedikit.”

Seperti Datang, manusia pun harus Pulang. Datang membawa lebam pada ingatan kelam. Pulang pada kenang-kenangan. Guratan ingatan masa silam, sebagai pembaca, saya pun bertanya-tanya, apakah ini sebuah novel? Apakah saya sedang hidup tanpa atau dengan kepala? Pertanyaan yang tak mungkin saya jawab di sini jika hanya saya yang membacanya. Setelahnya, kita akan memojokkan keadaan di sekitar yang begitu serakah, kejam, tidak adil dan penuh keegoisan. Merasa muak dengan keadaan diri sendiri. Merasa jijik dengan pengalaman hidup yang dilakoni. Merasa bosan dengan suasana di sekitar. Tetapi, “semuak-muaknya kamu, masih banyak orang yang mau ada di posisi kamu, Sempati,” pukas Jatayu.

Sampai di sini, Triskaidekaman berhasil menggiring pembaca ke dalam cara berpikir yang kompleks. Memenggal kepala adalah membebaskan diri dari segala keruwetan yang itu-itu saja. Kreativitas ditantang dalam menyikapi persoalan. Tidak hanya pandai tetapi harus bijak dalam penyelesaian. Jika kita dengan gampangnya menuruti tanpa filter, maka yang terjadi di sana adalah penyesalan yang menyusup jadi kenangan.

Oleh karena itu, “jika di dunia manusia memarkirkan kendaraannya, di sini manusia akan memarkirkan kepalanya.” bisik Derai Cemara.

Pogopeo, 2026

 

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mataleza
    • visibility 317
    • 0Komentar

    Begitu tenang, membaca sastra adalah menakar keikhlasan. Ikhlas menimbang keadaan berdasakan elemen bahasa yang harus dipahami melalui ruang analisis itu. Hal ini jelas terlihat dan terdengar, ketika orang-orang begitu tabah melipat bahasa sastra ke dalam ruang teduh yang selalu menguji pemahaman. Hal ini senada dengan hasil proses kreatif yang ditunjukkan penulis sastra dan sastrawan Nusa […]

  • AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Aku ingin pamerkan setiap aktivitasku, sejak subuh hingga petang. Supaya mereka tidak mempermainkanku soal waktu, membuatku menunggu, tanpa rasa bersalah, tanpa usaha untuk berbenah. (Ia dan Mereka yang Berisik) Saya membuka tulisan sederhana ini dengan mengutip sebuah pernyataan dalam buku yang berjudul Ambivert. Dan persis buku inlah yang akan saya ulas seringkas mungkin sesuai kapasitas […]

  • Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Yeremias Laba Lein
    • visibility 274
    • 4Komentar

    TAK INGIN SEDANGKAL ITU Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sedangkan mencintaimu saja aku harus menyelam sedalam-dalamnya lautan asmaramu, berenang seluas-luasnya samudra di hatimu, dan melewati pasang surutnya air matamu   Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sebab aku ingin berlayar sejauh mungkin di lautan asmaramu, menjala cinta dan kasih sayang sebanyak mungkin […]

  • BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 383
    • 0Komentar

    01 Mei 2026 Inspirasi: Kis 13:26-33; Yohanes 14:1-6 Β Β Β  Penikmat Permen yang berhikmat dalam Tuhan. Dalam nada syukur penuh iman dan harapan, kita ucapkan selamat Hari Buruh Internasional alias May Day. Bersamaan dengan momen ini, umat Katolik merayakan pembukaan bulan Maria. Tidak sampai di situ, Gereja hari ini merenungkan Firman Suci dari penginjil Yohanes sebagai […]

  • PERMEN Kasih: Hati yang β€œBaku Rapat” Renungan Harian Katolik 8 Mei 2026

    PERMEN Kasih: Hati yang β€œBaku Rapat” Renungan Harian Katolik 8 Mei 2026

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 136
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Jumat Paskah ke-5 – 08 MEI 2026 – Kasih: Hati yang β€œBaku Rapat” Inspirasi: Kis 15:22-31 ; Yohanes 15:12-17 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Yesus titip pesan penting ke setiap sanubari kita: β€œKasihilah seorang akan yang lain”. Bersamaan dengan itu, dalam bacaan Pertama, tindakan kasih coba diterjemahkan oleh Paulus dan mereka […]

  • Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 209
    • 2Komentar

    Fokus pada satu tujuan. Jangan gegabah dalam memperlakukan sebuah persoalan. Sering kali, manusia terjebak pada rasa ingin lebih akan sesuatu yang masih belum pasti seperti apa akhirnya. Dalam hidup, kita sering tergoda untuk menangani banyak masalah sekaligus. Ada perasaan seolah kita harus selalu produktif, selalu cepat menyelesaikan segalanya, dan selalu tampil prima. Namun, ironisnya, justru […]

expand_less